Rian bekerja seperti orang kesurupan selama tiga hari.
Tugasnya sederhana di atas kertas: cari tahu siapa di balik developer bernama PT Cakra Nirwana Propertindo, perusahaan yang tiba-tiba menawar tanah Q&Q dengan harga dua puluh persen di atas pasaran. Di atas kertas, sederhana. Di lapangan, perusahaan itu adalah matryoshka—perusahaan di dalam perusahaan di dalam perusahaan, setiap lapisnya semakin buram.
"Gue benci perusahaan cangkang," gerutu Rian di ruangan Nathan, dengan tumpukan print-out struktur kepemilikan yang sudah penuh coretan. "Orang yang bikin beginian pasti orang yang nggak pernah merasa cukup."
"Hasilnya?" Nathan memutar kursi rodanya menghadap jendela.
"Cakra Nirwana dimiliki tujuh puluh persen oleh PT Arunika Holding. Arunika dimiliki oleh konsorsium kecil. Dan salah satu nama di konsorsium itu—" Rian meletakkan satu kertas di meja Nathan, jarinya mengetuk satu nama yang dilingkari spidol merah, "—adalah Handoko Wirya."
Nathan mengenal nama itu. Semua orang di bisnis properti Jakarta mengenalnya. Handoko Wirya, pemilik grup properti yang lima tahun terakhir selalu muncul di setiap proyek besar yang diincar Rajendra—menawar lebih tinggi, menggerogoti dari samping, kalah beberapa kali tetapi tidak pernah mundur. Bukan musuh bebuyutan; lebih seperti bayangan yang tidak sopan.
"Tapi Handoko nggak mungkin tau soal Bapaknya Bang Andi di Tasik," kata Nathan, lebih pada dirinya sendiri. "Itu informasi kecil. Informasi kampung. Orang selevel dia nggak nyentuh info kayak gitu kecuali ada yang nyodorin."
"Dan gue udah nyari siapa yang nyodorin." Rian menyodorkan kertas kedua. "Ada satu perantara yang ngenalin Cakra Nirwana ke Bapaknya Bang Andi. Orangnya kerja freelance, nyambungin jual beli tanah, namanya Andra. Gue telpon, pura-pura jadi calon pembeli lain. Dia cerita panjang lebar. Dan dia nyebut satu nama yang ngasih dia lead ini."
Nathan menunggu.
"Sam," kata Rian. "Kakaknya Stephanie."
Ruangan itu hening beberapa detik.
Nathan tidak terkejut. Sejak kalimat "disuap" terlepas di ruang rapat dulu, ia sudah menaruh Sam di daftar pendek itu. Tetapi tidak terkejut bukan berarti tidak sakit. Lelaki itu sudah mendapatkan kesempatannya—Stephanie masih mengizinkannya menemui Kirana, masih memanggilnya kakak, masih berharap ada sisa keluarga yang bisa diselamatkan. Dan Sam membalasnya dengan menjual informasi yang menyakiti orang-orang yang pernah menolong adiknya.
"Motifnya apa?" tanya Nathan. "Duit, pasti. Tapi kenapa Q&Q? Q&Q nggak ada urusannya sama Rajendra."
Rian mengangkat bahu. "Mungkin bukan soal Q&Q-nya. Mungkin soal siapa yang kerja di situ."
Nathan menatapnya. Dan perlahan, gambar itu tersusun sendiri: Qiandra kehilangan tempat kerjanya yang tujuh tahun. Qiandra kehilangan jangkarnya. Qiandra terluka—dan satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah Nathan dengan uangnya. Peran pahlawan. Peran yang akan mengikat Qiandra lebih dalam pada Nathan, dan menjauhkannya dari... apa? Dari kemerdekaannya? Atau—
"Bukan buat nyakitin Qiandra," kata Nathan pelan. "Tapi buat maksa gue gerak. Kalau gue beli tanah itu dengan harga yang mereka patok, Cakra Nirwana dapet untung besar dari flipping. Dan Sam dapet jatah dari Andra. Q&Q cuma pion."
"Cerdas," kata Rian, tidak kagum, hanya muak.
"Nggak cerdas. Cuma licik." Nathan memutar kursinya kembali ke meja. "Licik itu ngandelin orang lain nggak mikir. Cerdas itu ngandelin orang lain mikir bareng. Beda jauh."
Di Q&Q sendiri, tiga hari itu berjalan seperti di dalam kapal yang tahu akan karam. Pelayanan tetap berjalan—pelanggan tidak perlu tahu apa-apa—tetapi di sela-sela pesanan, di dapur, di belakang kasir, semua orang membicarakan hal yang sama.
"Gue udah lirik warung Padang di sebelah pasar," kata Wawan murung. "Mereka lagi cari orang. Tapi gajinya turun tiga ratus."
"Loe mau pindah?" tanya Kristian, suaranya naik.
"Gue mau makan, Kris. Bedain."
Feli, yang mendengar itu, langsung menyerobot ke antara mereka. "Nggak boleh ada yang pindah duluan. Kita bertahan bareng-bareng sampai Bang Andi bilang tutup. Kita udah kayak keluarga di sini."
"Keluarga juga bisa bubar kalau gentengnya dijual," kata Elli, yang tentu saja mengutip entah dari mana.
Qiandra tidak banyak bicara selama tiga hari itu. Ia melayani pelanggan, tersenyum, mengantar makanan, tetapi kepalanya bekerja terus. Feli sempat mendekatinya di dapur dan bertanya dengan suara berbisik, "Suami loe kan kaya. Nggak bisa dia beli aja tanahnya?"
"Bisa," jawab Qiandra. "Tapi kalau dia yang beli tanpa mikir bareng kita, warung ini selamat, tapi harga dirinya mati. Gue nggak mau gitu."
"Muluk," kata Feli, tapi ia mengangguk. Ia sudah cukup lama mengenal Qiandra untuk tahu bahwa muluk kadang hanyalah kata lain dari bertahan.
Malamnya, Nathan menyampaikan semuanya ke Qiandra di teras—tempat mereka sekarang sering duduk setelah makan malam, kebiasaan baru yang dimulai sejak malam Subagio datang.
Qiandra mendengarkan tanpa memotong. Ketika nama Sam disebut, ia menutup matanya sebentar.
"Stephanie baru aja mulai bangun lagi," katanya pelan. "Kirana baru tiga bulan. Dan kakaknya jual kita semua lagi."
"Makanya gue nggak akan gerak sendiri." Nathan menatapnya. "Janji kita: nggak ada yang mutusin sendiri. Jadi sekarang gue nanya loe. Apa yang harus kita lakuin?"
Qiandra berpikir lama. Angin malam menggerakkan pucuk-pucuk pohon di cluster itu.
"Pertama, kita kasih tahu Stephanie," katanya akhirnya. "Dia berhak tahu kakaknya ngapain aja. Kedua, kita temuin Sam. Bukan buat berantem. Buat ngasih dia kesempatan terakhir buat milih jadi orang atau jadi penjual."
"Dan Q&Q?"
"Q&Q kita selamatin." Qiandra menatapnya. "Tapi bukan dengan cara kalian yang lama. Nggak ada yang nawar-nawar diam-diam. Kita datang ke Bapaknya Bang Andi, terang-terangan, dan kita tawarin harga yang adil. Kalau perlu kita lawan penawaran mereka secara terbuka."
Nathan menatap istrinya, dan tersenyum. "Loe tau nggak, loe makin mirip pengusaha?"
"Gue nikah sama Rajendra. Mau nggak mau nular."
Di dalam rumah, Bi Umi mendengar tawa mereka dari dapur dan menggeleng-geleng pelan sambil tersenyum. Rumah ini sudah lama tidak tertawa. Sekarang ia tertawa hampir setiap malam, dan Bi Umi mulai khawatir ia akan terlalu manja dengan kebahagiaan.
Tetapi besok adalah hari untuk bertemu Stephanie.
Dan Stephanie tidak akan senang mendengar berita tentang kakaknya.
…