Keseharian Elena sebagai manusia perlu diperhatikan dan diawasi dengan ketat atau kau akan melihat dia melakukan sesuatu yang buruk dengan sihirnya yang menurutnya menyenangkan. Contoh saja ketika Lucca menemani Elena untuk membeli beberapa pakaian, ia menyihir sebuah gaun yang dikenakan seorang wanita menjadi kain sutra yang tembus pandang (tentu saja kain yang cuma membalut tubuhnya dan memiliki sobekan panjang di bagian pahanya) yang seperti para dewi kenakan. Gadis itu menjerit karena malu dan terkejut sebelum akhirnya ia berlari dan kainnya tersangkut di mana-mana hingga nyaris menyaksikan pakaian dalamnya saja. Tak sampai di sana, korban Elena juga membuat isi toko mall tersebut jadi kacau balau. Manekin berjatuhan karena tertabrak dan ada beberapa yang kepalanya lepas, menggelinding, hingga membuat beberapa anak kecil menangis histeris.
Elena tertawa puas ketika melihat hiburan tersebut. Sementara Lucca melepas jasnya guna menutupi tubuh korban Elena. Begitu Lucca kembali, Elena tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di belakang untuk melanjutkan perjalanan.
"Kau lihat anak kecil yang menangis hanya karena kepala patung itu terlepas?" Elena tertawa. "Anak itu pasti trauma. Ah iya, Lucca. Kau bilang kelemahan manusia ada pada hatinya, aku rasa kau salah. Mereka lemah dalam segala hal. Mereka cuma bisa berteriak dan berlari-lari seperti orang gila."
"Itu bukan hal yang menyenangkan, Elena!" sergah Lucca. "Kau tidak bisa seenaknya melakukan sihir di bumi. Mereka tak percaya dengan magis, Ele."
"Apa mereka seorang muggle?" Elena menghentikan langkahnya. "Aku tidak peduli, ayo lanjutkan membeli pakaian untukku."
Elena lantas berjalan ke sebuah brand toko yang terkenal di New York. Gadis itu masih mengenakan baju tidur dan sedang memilih-milih pakaian ditemani oleh manajer toko tersebut. Lucca menunggu di sofa tunggu dan melihat-lihat majalah mereka. Tak lama, sofa kosong di sampingnya terisi. Lucca menengok dan mendapati Elena sedang duduk dengan tatapan kecewa. Sementara itu, di sampingnya berdiri manajer toko tersebut.
"Ada apa? tidak ada yang cocok denganmu?" Lucca bertanya.
"Anu, dia ingin baju para dewi. Aku tidak paham, Sir," manajer toko tersebut bersuara dengan raut cemas. Mungkin ini pertama kali baginya melayani seseorang dengan permintaan paling aneh.
Mengerti akan situasi, Lucca menatap Elena dengan pasrah. Menarik napas panjang, mengeluarkan dengan pelan, Lucca tak pernah merasa dipermainkan seperti ini. "Demi Zeus, kita sudah menjelajahi semua toko di mall ini, dan sudah enam mall di setiap kota yang kita datangi sejak tadi pagi. Jika kau tidak membeli apapun di toko ini, enyah dari hadapanku dan aku tidak akan pernah mengurusmu. Kau tidak akan kuuzinkan tinggal di apartemenku, aku tidak peduli jika kau tidur di jalanan atau di mana pun. Aku akan melepas tanggung jawabku tak peduli jika Zeus melemparku ke kerak neraka." Lucca bangkit dan hendak pergi meninggalkan Elena, namun Elena lebih dulu berjalan cepat dan mengambil apapun yang ada di hadapannya.
"Dasar lelaki tukang merajuk!" gerutu Elena.
Gadis itu pergi keluar toko dengan menenteng semua pakaian tanpa melepas hanger dan tanpa membayar seperti pencuri terang-terangan. Lucca menepuk jidatnya dan mendesah pasrah. Ia menghampiri Elena dan menarik kerah belakang pakaian si gadis. "Bayar dulu, Ele!"
Elena berjalan mundur karena kerah belakangnya ditarik dan mereka tiba di depan kasir. Elena meletakkan semua pakaian tersebut di meja dan memperhatikan Lucca yang mengeluarkan black card-nya.
"Apa itu? Itu seperti kartu judi yang sering dimainkan manusia, bukan?" tanyanya.
"Huh?" Lucca sempat membeo sebelum menyadari bahwa Elena memang tak awam dengan hal ini. "Ini kartu untuk membayar apapun yang kau ambil dari toko ini. Tidak hanya pakaian, ketika seseorang berjualan dan kau membelinya, kau perlu menggunakan uang."
"Apa hubungannya kartu judi itu dengan uang? Kenapa kau tidak memberinya uang dan malah memberinya kartu judi?"
Tolong hitung sudah berapa kali Lucca bersabar. "Elena, ini bukan kartu judi. Ini kartu ATM, ATM itu singkatan dari Automated Teller Machine. Jadi jika kau punya banyak uang, kau bisa menyimppannya di bank dan kau bisa mengambilnya dengan kartu ini. Tidak hanya mengambil, kau juga bisa membayar menggunakan kartu ini selagi kau memiliki saldo." Lucca menjelaskan dengan sabar, sementara manajer toko memandang mereka dengan heran.
"Oh, begitu. Kalau begitu buatkan untukku."
"Kau memiliki uang?"
Elena lupa. Di dunia, ada istilah mengais untuk makan. Dan cara untuk mendapatkan uang adalah bekerja. Elena tidak bisa bekerja, kehidupannya hanya dipenuhi dengan belajar, membaca buku dan sihir. "Oh Zeus, mengapa dia melemparku ke bumi tetapi tidak memberiku banyak sekali uang? Aku ini seorang dewi, aku kaya, tetapi kenapa di bumi aku jadi miskin sekali? aku membenci situasi ini. Aku membenci kehidupan di bumi," racaunya. Ia lantas menatap Lucca sekali lagi. "Cepat beri aku uang yang banyak, Lucca. Nanti aku akan memberimu kesempatan b******a denganku."
Lucca menggelengkan kepalanya, ia melanjutkan transaksi dan mengetikkan pin. Ketika manajer toko memberikan black card-nya pada Lucca, Elena merebutnya dan keluar dari toko. Sekali lagi, Lucca menarik napas panjang. "Kau akan mati jika benda itu sampai hilang!"
Sementara si manajer toko yang sedari tadi penasaran pun akhirnya bertanya, "Maaf, Sir. Maaf jika aku lancang menanyakan ini, dia cantik dan tidak terlihat seperti gadis desa, tetapi dia agak—" si manajer toko menghentikan ucapannya. "Dia berasal dari mana?"
Lucca menatapnya dan tersenyum simpul. "Dia dari planet lain. Ingat-ingat wajahnya, jika kau bertemu dia di mana pun, putar arah dan menjauh darinya. Kau mengerti? Itu pun jika kau ingin jiwamu tetap waras."
Manajer toko tersebut berdiri tegang dan mengagguk kaku. "Mengerti, Sir."