Yang Elena ingat, dirinya melebur bersamaan dengan rasa sakit yang tak bisa ia tahan, seolah seluruh tubuhnya hanya didominasi dengan rasa pilu yang luar biasa. Lalu kini ia terbangun di sebuah ruangan terbuka, seperti ruang tamu, ia pernah melihatnya di bumi. Oh, tunggu, jadi ia benar-benar dilempar ke bumi. Kini Elena menyadari bahwa dirinya berada di atas sofa abu-abu yang sangat empuk, namun tak lebih empuk dari sofa miliknya di Olympus.
Elena mencoba bangkit, tubuhnya masih terasa pilu terutama di bagian pinggangnya. Ia menyadari sesuatu yang janggal di sini, seingatnya sebelum ia dilempar oleh Zeus, ia masih mengenakan pakaian para dwi, kain putih yang tampak seksi itu kini telah berubah menjadi pakaian tidur bermotif boneka beruang berwarna merah jambu. Oh sial, Elena benci warna ini. Ia lantas menyentuh kepalanya dan tak temukan perhiasan kepalanya.
"Oh sial, benar-benar sial!" gerutunya. Elena menurunkan kakinya, dan—
Dugh!
"Aw!" Elena meringis ketika kakinya memukul sebuah peti kayu yang berada di bawahnya. Ia terheran-heran untuk sesaat.
"Aku kira kau sudah mati, Ele."
Elenaa mengenali suara itu. Kepalanya menoleh guna mencari presensi tersebut dengan yang agak, ehm! seksi. Sejenak Elena menelan air liurnya dan menatap lelaki itu dengan tatapan penuh penilaian. Elena memindai tubuhnya mulai dari atas rambut sampai bawah, sandal rumahannya. Elena nyaris tak mengenali pemuda ini untuk sesaat, kini lelaki itu seolah diberkati untuk menjadi pria terseksi di dunia. Namun, Elena masih bimbang, katakan bila Elena salah duga jika lelaki itu adalah anaknya Apollo.
"Lucca?" Elena meyakinkan. Lelaki itu mengangguk, menaruh kedua lengannya di masing-masing saku celana. "Kapan terakhir kali aku melihatmu? Dulu kau cuma bocah ingusan yang masih bersekolah."
Lucca tertawa. "Hei, hei, itu sudah lama sekali. Waktu itu usiaku baru delapan belas tahun, sekarang aku sudah berusia dua puluh delapan tahun. Sepuluh tahun terlewati dan aku lebih tua darimu lima tahun, tolong hormati aku."
Elena mencebik. "Secara teori, aku sudah berusia ratusan tahun. Bahkan jika kau sudah kakek-kakek dan kulitmu berkeriput pun, aku tidak akan menghormatimu. Aku ini seorang dewi, Dewi Elena!"
"Kau bukan seorang dewi lagi sekarang, coba saja gunakan kekuatan dewimu."
"Peduli setan, aku terlahir sebagai dewi, bukan seorang demigod sepertimu. Tetap saja, kau harus menghormatiku. Meski aku tak lagi memiliki kekuatan sebagai dewi, aku memiliki kekuatan sebagai seorang penyihir." Elena menarik satu sudut bibirnya kala temukan raut wajah Lucca berubah pasi.
"Oh, ternyata kau masih bermain dengan sihir, pantas saja Zeus tak segan-segan melemparmu dengan menghilangkan kekuatanmu sebagai seorang Dewi," Lucca menendang lirih peti kayu yang ada di hadapannya. "Kau jatuh di perkemahan blasteran dengan peti ini. Menandakan sang dewi yang sudah mati."
Elena terdiam sejenak. "Ada yang melihatku?"
"Tidak, karena aku sudah menunggumu di sana. Jadi begitu kau jatuh dari langit, aku langsung membawa ke apartemenku," jelas Lucca.
Lelaki itu pergi ke suatu tempat tanpa menunggu reaksi Elena. Dan kembali dengan sebuah kotak obat-obatan. Namun sebelum itu, Lucca menatap peti kayu tersebut, ketika matanya menyala biru, peti itu lenyap seketika. Elena tak terkesima dengan hal itu, itu adalah hal yang paling biasa baginya.
Lucca duduk di samping Elena dan meletakkan kotak tersebut di atas meja. "Aku tahu sejak tadi kau menahan sakit di pinggangmu." Lelaki itu menyingkap baju samping Elena.
"Hei, apa-apaan kau?!" Elena menepis lengan Lucca dan menatap lelaki itu tak suka. "Kau tidak bisa menyentuh seorang dewi seenaknya."
"Ini bukan tubuh seorang dewi lagi." Lucca menekan luka bekas panahan sesuatu.
"AH SIALAN LUCCA! KENAPA KAU MENEKANNYA?!" Pekik Elena dan meringis kesakitan. Seumur hidup Elena tak pernah merasa sesakit ini. "Sialan, kenapa tubuh manusia lemah sekali, sih?"
Lucca tertawa, namun ia bungkam sebab Elena menatapnya dengan bengis, tatapan seseorang yang bakal menjadikan tubuhmu babak bundas. "Ada yang lebih lemah dari pada tubuh manusia, Elena."
"Apa?"
"Hati manusia."