Elena meninggalkan Lucca yang membawa banyak paper bag di belakangnya. Ia berhenti di depan kedai ice cream dengan semua rasa dan porsi besar lalu memakannya di salah satu tempat kosong. "Well, setidaknya makanan di bumi beraneka ragam dan enak-enak," ujarnya seraya mencicipi semua rasa tersebut.
"Kau terlihat sangat rakus," protes Lucca. "Orang-orang mulai memperhatikanmu, Ele." Lucca melirik pada orang-orang yang lewat di sampingnya dan menatap mereka dengan takjub karena memesan banya sekali ice cream. Beberapa ada yang abai, beberapa ada yang berkomentat macam-macam, tak jarang ada yang tertawa dan memotret mereka. Namun untuk poin terakhir itu, Lucca sangat tidak menyukainya. Jeja digital dan internet sudah terlampau sangat canggih. Bahkan kau makan banyak ice cream dipinggir kedai saja kau bisa mendadak terkenal dan dibicarakan banyak orang. Lucca tak ingin itu terjad pada Elena Blezinsky, bukan karena rasa pedulinya, ia hanya tak mau repot jika Elena sudah mengenal sosial media dan bangga menjadi terkenal. Lucca tak bisa membayangkan perilaku Elena yang akan membuat masyarakat jadi resah. Jadi di sana, di bawah mejanya, Lucca menjentikkan jemarinya dan fitur kamera orang-orang yang merekamnya mendadak hilang dari ponsel mereka, juga sebagian file mereka rusak karena energi magis— yang ternyata Elena juga melakukan hal yang sama. Hantaran kekuatan magis Elena membuat file mereka rusak dan hanya berisi film horor yang akan meneror mereka.
Lucca terbengong kala melihat Elena dengan telapak tangannya yang sedang melakukan magis. Bukan soal itu, tetapi ketika beberapa orang mulai bericara ponsel mereka aneh dan banyak sekali file yang rusak dan tergantikan dengan teror. Lucca membatin dalam hati, "Dia bahkan lebih menyeramkan daripada Hacker."
"Aku tahu jika mereka memperhatikanku, aku tahu siapa saja yang menatap padaku dan memikirkanku. Maka aku bisa saja mengirim sihirku pada mereka," lanjut Elena dan kembali menghabiskan ice creamnya. "By the way, Lucca. Mengapa tinggal di bumi membuatku jadi mudah lapar?"
"Karena kau manusia." Sekali lagi, Lucca menegaskan.
Lantas seraya menghabiskannya, Elena memandangi black card milik Lucca dengan takjub. Ia tak mengerti mengapa benda simpel ini begit berguna di bumi. Sementara Lucca tak lengang memperhatikan Elena yang sedang memegangi harta benda miliknya yang paling berharga. "Elena, biar aku menyimpannya."
"Jangan banyak omong, Lucca. Aku mendengar informasi dari seseorang kenalanku, pokoknya kau tidak akan mengenalnya. Mereka bilang sudah sepatutnya seorang wanita menyimpan uang lelakinya."
"Mencurigakan, kau baru tinggal sehari di bumi. Siapa orang yang kau kenal itu?"
Elena menatapnya dengan malas. "Kau kira manusia yang kukenal di bumi hanya kau saja? Aku mengenal banyak sekali demigod, bahkan sebelum kau lahir, aku sudah mengerti banyak informasi dari mereka. Aku ini seorang dewi, jangan meremehkanku."
Oh, pantas saja. "Dewi mana yang mengatakan black card adalah kartu judi?" Lucca menatapnya dengan tatapan mengejek. "Lagi pula, aturan bahwa wanita yang memegang harta lelaki itu salah. Meski lelaki bekerja, seorang wanita yang mengatur keuangannya, namun bukan berarti si wanita bisa seenaknya menggunakan uang tersebut, mereka harus mengelola bersama dan tak ada yang boleh disembunyikan. Dan, ingat, itu jika mereka sudah menikah dan berumah tangga, tidak bisa sembarangan."
Elena mendengarkannya dengan cermat. Ia lalu menimpali, "Ternyata mencari duit tidak susah, aku hanya perlu menikahi lelaki sepertimu, kan? Kau masuk kriteriaku." Sekali lagi, Elena menatap Lucca dengan saksama. "Aku tidak peduli dengan sikapmu, selama kau tampan dan banyak uang, ayo menikah," ujarnta enteng, seolah hal tersebut awam untuk dikatakan.
Sementara di hadapannya, Lucca tertohok dan tersedak ice cream. "Jadi kau menikah hanya untuk uang?"
Elena mengangguk cepat. "Tentu saja, begitu caraku mencari uang, bukan?"
"Kau tahu tidak? Orang-orang bisa menganggapmu murahan, Ele," ujar Lucca dengan hati-hati.
"Siapa yang peduli? Yang penting aku mendapatkan uang dan mereka hanya bisa menatapku iri, kan? Mereka tidak bisa membeli apapun yang bisa aku beli, wajar jika mereka akan selaku sirik padaku. Jangan macam-macam dengan seorang dewi."
"Terus saja kau ungkit-ungkit dirimu yang seorang dewi!" Lucca menela salivanya getir, ia tak bisa mengendalikan kesabarannya lagi untuk saat ini. "Elena, aku rasa kau perlu dididik dari awal lagi. Kau perlu mengetahui bagaimana kehidupan sebagai manusia. Aku berniat untuk mendaftarkanmu kuliah di jurusan psikologis dan mengikuti pelajaran bagaimana caranya menjadi seorang manusia."