Usai menghabiskan ice cream, Elena kembali melanjutkan perjalanan. Sementara surya nyaris berada di kaki langit, kendati begitu, tetap saja Lucca tak mampu menghentikan gadis itu. Ini semua karena black card yang ada pada tangannya yang selalu Elena banggakan.
"Ini benda ajaib," katanya
Lucca tak menjawabnya dan membiarkan Elena berkeliling di mall. Ia tetap harus mengawasi gadis itu demi kedamaian di bumi.
"Apa yang ingin kau cari, sih?" Lucca akhirnya bersuara, ia mensejajari gadis itu yang sedang berjalan bak orang tanpa dosa.
"Pakaian, tentu saja."
"Namun kau sudah membelinya, Elena. Hari semakin gelap dan kita harus pulang," ajak Lucca.
"Ah, benar. Bisakah aku membeli rumah mengunakan ini? tempatmu tak terlalu nyaman untukku karena kau cuma punya satu kamar yang menurutku terlalu kecil."
"Kecil kau bilang?'' Lucca sampai berjengat sebab tersentak dengan perkataan gadis itu. Bagaimana mungkin ada seseorang yang mengtakakn jika kamarnya terlalu kecil padahal ia telah membeli apartement elit di daerah tersebut. "Rupanya kau tak bisa menilai sebuah apartemen."
"Aku tidak peduli, aku ingin membeli sebuah kota dengan kartu ini. Bisakah, Lucca?" Elena berhenti dan menatap Lucca serius.
Menarik napas dalam, Lucca menatap Elena setengah ingin menendang gadis itu kembali ke Olympus. "Tahu tidak kalau kehidupan di Olympus dan bumi berbeda, apa kau tidak mengerti bagaimana sulitnya hidup di bumi? kota tidak bisa dibeli semudah itu."
"Kau tampaknya paham benar jika hidup di bumi sangat menyulitkanmu, lantas mengapa kau tidak mati saja?"
"Karena kami masih memiliki harapan untuk hidup lebih baik. Lagi pula kesulitan yang manusia hadapi adalah karena pilihannya sendiri, mereka yang menentukan jalannya, Elena." Lucca melanjutkan langkah.
Mengikuti si pria, Elena lantas menyahut, "Lantas mengapa manusia suka sekali mengeluhkan keadaan hidup yang sulit dijalani. Mengapa manusia suka sekali hal bodoh? jika mereka lelah, berhenti. Jika mereka tak sanggup, mati." Elena mendadak membeku di tempat. "Apa mereka juga takut kematian?"
"Jangan banyak tanya, cepat beli apa lagi yang kau inginkan dan pulang. Aku sudah lelah dan merindukan ranjangku."
"Kenapa kau harus merindukan ranjang? Kau kan sudah biasa tidur seharian dan tidak pernah bertemu denganku, seharusnya kau merindukanku lebih banyak dari pada ranjangmu. Kau tidak tahu, Lucca? aku ini seorang dewi yang sudah pantas dirindukan banyak manusia."
"Tidak, terima kasih. Rasanya aku perlu mencusikan diri jika merindukan gadis sepertimu." Lucca menatap manik ungu Elena. "Ah, benar. Kau sudah membeli banyak baju, jadi besok aku akan membawamu untuk bersekolah di universitas terbaik dan kau harus belajar banyak hal tentang manusia."
"Hei, aku ini seorang dewi yang paling mengerti manusia," Elena membantah.
"Tidak, kau dewi yang tidak pernah mengurusi dan melihat keadaan manusia, yang kau urusi hanyalah dirimu, Hugo, dan sihirmu itu," ujar Lucca.
Elena menatap Lucca dengan bengis. "Hei, ku iingatkan sesuatu padamu jika aku sangat membenci nama itu. Hugo Diamond, kemana pun dia berada pasti akan aku kejar."
"Kau gila, Elena."
"Memang, tetapi aku akan puas jika sudah memastikan apakah lelaki itu benar-benar penyap? sepertinya belum, aku yakin ada beberapa dewa yang membantunya."
"Mengapa kau yakin sekali?" Lucca menatap Elena dengan penasaran.
"Karena tidak mungkin para dewa tidak mengerti soal sikapku terhadap Hugo. Aku tahu ada beberapa yang mengerti jika kelak aku akan menyingkirkan Hugo."
"Jadi kau benar-benar menyingkirkannya, ya?"