Kau tahu? mencari Hugo bukanlah suatu hal yang mudah. Jika sedang tidak dibutuhkan, lelaki itu biasanya muncul di mana-mana, tetapi jika sedang dibutuhkan begini, mencari Hugo seperti mencari sebutir gula di pasir pantai. Namun rupanya Hugo baru saja pulang dengan Aphrodite dari taman buatannya. Jadi ketika Aphrodite masuk lebih dahulu dan Hugo berdiri di depan kastil, Elena langsung memanggilnya.
“Kau sejak tadi mencariku?”
Elena tak bergeming. “Kau bisa ikut aku ke kamarku?” Mengamati jika raut Hugo berubah aneh, Elena mendesis, “Jangan memikirkan hal aneh, cuma ingin mencoba sesuatu.”
“Sesuatu seperti apa?”
Elana tak menjawab dan kembali ke kamarnya. Ia mempersilakan Hugo duduk di atas ranjangnya. Tumben sekali, biasanya, memasuki kamar Elena saja Hugo tidak diperbolehkan.
“Hugo, aku ingin mencoba ramuan baru,” ujar Elena selagi berdiri di hadapan lelaki itu.
“Ramuan seperti apa?” Hugo mengernyit. “Apa itu hal baru yang ka pelajari dari Krystal juga? Elana, aku sudah bilang padamu untuk berhenti menemuinya. Aku tidak bisa selalu berbohong pada yang lain ketika kau turun ke bumi untuk menemuinya. Apa kau pikir aku bercanda saat bilang bahwa Zeus bisa saja mengutukmu?”
“Itu sebabnya!” Elena ikut duduk di samping Hugo. “Jika ramuan dan mantraku berhasil, Zeus lah yang akan aku kutuk lebih dulu!”
“Kau bercanda, kau tidak akan bisa melakukan itu. Lagi pula aku tidak bisa membantumu lagi jika kau dikutuk.”
“Kau harus membantuku, aku akan mengatakan padanya jika Hugo lah yang selama ini membantuku menemui Cassandra Krystal.”
Hugo tampak tak habis pikir dengan Elena. Namun bukan Elena jika tak memanfaatkan segala hal dengan baik. “Ya sudah ramuan seperti apa yang kau buat?”
Tampak secercah senyuman dari Elena sebelum ia mengatakan, “Kalau berhasil kau akan menjadi sekecil semut, tetapi tenang, kau akan kembali ke semula lagi, kok. Hm, sebenarnya ini menguntungkan untukku dan untukmu. Jika kita bisa berubah menjadi kecil, bukankah akan lebih muda untuk bersembunyi?”
“Kau? Kau akan bersembunyi dari siapa?”
“Astaga, apa kau tidak tahu? Jika kau sekecil semut, kau bisa menyelinap ke kamar Aphrodite, bukan?”
Hugo berdecak. “Intinya untuk sebuah keburukan, begitu? tidak bisakah kau membuat hal-hal menjadi lebih baik, Elena?”
“Ayolah, Hugo. Ada apa denganmu? Mengapa kau menjadi sok baik begini? Padahal banyak sekali dewa dewi yang selalu berbuat semaunya. Mereka ini selalu rakus, bukan? Mereka juga egois. Sudah menikah tetapi berselingkuh, tidak setia. Apa kau tidak tahu peperangan terjadi karena siapa? Karena mereka sendiri yang selalu merasa kurang dan menginginkan segalanya.”
Di sela Elena mengomel, Hugo perlahan terseyum dan tertawa simpul. “Kau ini membicarakan siapa? Bukannya kau juga demikian? Kau mengaku akan menjadi penguasa dan mengalahkan Dewa Zeus.” Hugo menarik napas, lalu embuskan lagi. “Meski itu tidak mungkin, sih.”
“Ah, terserah lah, intinya aku hanya menginginkan hal baru, kau jadi mau membantuku tidak?”
“Berapa lama?”
“Apanya?”
“Menjadi kecil, ck!” Hugo berdecak. “Kau bilang jika berhasil aku akan menjadi sekecil semut, kan? Berapa lama? Dan, ah, tunggu, kau punya penawarnya?”
Elena tampak bimbang mengatakannya. “Tentu saja ada, tetapi kalau penawarnya gaal dan kalau Dewa Zeus tidak mau membantuku, paling lamanya sekitar seratus tahun.”
“Tidak sudi.”
“Aku bercanda, paling lama satu tahun, tetapi bila Zeus mau membantuku, mungkin satu hari saja?” Elena tampak berpikir, ia sendiri tak yakin.
“Kau sendiri tidak yakin, jadi bagaimana jika ramuanmu hanya omong kosong? Gagal, maksudku.”
“Ya ... paling kau akan mati.” Elena mengernyih.
“Hah! Meski aku hidup lagi, kau pikir mati itu tidak sakit?” Hugo nyaris bangkit, namun Elena menahannya.
“Sakitnya cuma seperti sambaran petir, daripada kau mati kutombak, pilih mana? Toh, Aku punya ramuannya untuk membangkitkanmu lagi, kok. Tenang saja, tidak usah cerewet. Kau tinggal berdiri di atas gunung dan aku akan membacakan mantranya.”
“Jadi aku harus mendaki gunung dan kau akan membunuhku di sana, begitu?”
“Tidak, tidak. Tidak begitu, kalau aku berniuat membunuhmu, pasti sudah kulakukan sejak kau dilahirkan.”
Sejenak Hugo tampak berpikir, ia pada akhirnya setuju, namun, tentu tidak semudah itu. “Apa yang akan aku dapatkan setelah itu?”
“Katakan saja, apa yang kau inginkan.”
“Berkencan dengan dua puluh gadis cantik.”
Elena nyaris tersedak liurnya sendiri. “Cuma dua puluh? Okay, kecil sekali, terlaku mudah bagiku.”
“Yang seperti Dewi Aphrodite atau paling tidak sepertimu.” Hugo menjeda, mendekatkan wajahnya ke telinga Elena. “Tetapi yang baik dan penurut, aku tidak suka yang pemarah dan jahat sepertimu.”
“Ah sial, kau banyak mau.” Elena memicing. “Aku tidak jahat, kau tahu? Aku cuma kurang baik saja.”
Hugo terbahak. “Ya Ampun, sama saja. Lagi pula memang benar, sih. Kau tidak jahat, cuma kekurangan kasih sayang saja.”
Kau tahu? lelucon tentang kekurangan kasih sayang sama sekali tidak membuat Elena tertawa. Kendati Hugo pernah bilang jika Elena tak memiliki perasaan yang suci yang mampu membuat seseorang merasakan empati, namun bukan berarti Elena tak bisa merasakan emosi. Kendati yang selalu ia rasakan hanya perasaan marah, kecewa, cemburu dan semacamnya, Elena tetap mampi bersikap rasional. Ia bisa menilai mana yang pantas dijadikan lelucon dan mana yang tidak, well, meski sebenarnya hal tersebut bukan hal yang patut dibanggakan. Namun barangkali Hugo Diamond menyadari raut wajah Elena yang masam dan tak tertarik dengan lelucon sarkasnya, Hugo mendadak diam, menarik napas dan meminta maaf kepada Elena.
Kau tahu disebut apa Elena oleh Dewa Zeus? Dewi Pembalasan, tidak, bukan Dewi Keadilan, Elena merasa tak pantas dinobatkan sebagai Dewi Keadilan ketika ia sendiri tak memiliki emosi yang seimbang. Benci dsn cinta, suka dan duka. Elena hanya merasakan hal-hal negatif. Jadi ketika Hugo telah menyadari bahwa perkataannya lagi-lagi melukai orang lain, Elena berniat melempar Hugo ke dinging kamarnya sampai tubuh itu retak. Namun belum sempat mantra terucap, Hugo dengan gesit memeluk Elena dan dalam satu hentakan cepat, Elena juga ikut terlempar ke dinding bersamanya.
“Aku sudah tahu kau akan melakukan ini,” ujar Hugo ketika ia mengeratkan dekapannya saat Elena berusaha untuk melepaskan diri. “Kau akan tetap begini?”
“Lepaskan!”
Elena terus mengelak, namun dekapan Hugo terasa begitu erat dan semakin membuat tubuhnya sulit terlepas. Elena juga merasakan tubuhnya yang sakit karena terpental ke tembok. Jadi demi mempertahankan energi tubuhnya, Elena membiarkan Hugo memeluknya. Toh, ini terakhir kalinya.
“Kau tahu mengapa aku memelukmu?” Suara Hugo terdengar jelas di samping telinganya.
“Aku tidak suka percakapan basa-basi. Katakan saja, apa kau ingin aku mati?”
“Ingin kau mati? tidak, tuh. Aku hanya ingin kau ikut merasakan sakitnya tubuh ini terpental.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba menghancurkanku? Kau selalu memiliki kesempatan untuk membuatku kesakitan, bahkan jika kau benar-benar akan membunuhku, Aphrodite akan membantumu dan siap dihukum untuk menggantikanmu.”
Hugo tertawa. “Begitu, kah? Ternyata kau ini memang benar dilahirkan tanpa aura positif, ya? Cara berpikirmu selalu saja negatif—”
“Karena aku tidak suka hidup di jalan yang penuh harapan. Hugo, aku tidak suka memanipulasi kepalaku. Ketika aku tahu bahwa akan berakhir menyedihkan, untuk apa aku berpikir hal-hal baik?”
“Elena, kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya hidup dengan memikirkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Kau tidak akan pernah mengerti jika tidak mencoba untuk menjadi baik.”
Kali ini Elena yang terbahak. “Jadi kau juga mengakui bahwa aku ini tidak baik? Kalau begitu, mengapa sampai saat ini kau masih saja membantuku?”
“Untuk meyakinkan dirimu, meski aku pernah mengatakan jika kau tidak bisa berempati, tidak bisa merasakan sebuah cinta, setidaknya dengan adanya aku di sinu, aku ingin menyadarkanmu,” Hugo mengeratkan dekapannya, menyingkirkan helai rambut Elena yang menutupi telinganya. Setengah berbisik, Hugo berkata, “Elena, meski kau tidak mengerti apa itu cinta, tidak mampu merasakan bagaimana cinta yang bergelayut di jantungmu, bukan berarti cinta tak pantas ada di hidupmu. Kau harus tahu satu hal ini, tidak semua hal buruk dibalas dengan kejahatan, sama seperti ketika kau membeciku, bukan berarti aku harus balas membencimu.”
Elena terpaku di tempat. Tangannya terkepal erat. Napasnya mendadak terasa lebih sesak, bahkan rasanya melebihi rasa sakit serta serag ketika ia dan Hugo terlempar dan membentur dinding.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Hal baik pantas berada di kehidupan siapa pun. Aku yakin, semua dewa atau dewi selalu mengharapkan hal-ha baik, bahkan manusia di bumi juga demikian. Mereka yang berbuat jahat pun pada akhirnya mengharapkan hal-hal baik. Karena mereka ingin merasakan kebahagiaan. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa kau berhak mendapat kebahagiaan itu.”
“Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau berbicara panjang lebar begini hanya karena ingin membuatku mengerti jika hal baik berhak dirasakan siapapun.”
Hugo mengelus punggung Elena. “Tidak tahu ada apa denganku, tetapi memang sepertinya aku perlu memberitahumu hal ini secara langsung. Ini momen yang sangat langka, ketika aku berbicara serius dan kau mau mendengarkanku.”
Elena menyunggingkan senyum, ia berbicara dalam benak, ‘Karena aku menganggap ini adalah pesan kematian, pesan sebelum kau lenyap dari hadapanku.’