Tepat ketika surya berpamitan hendak menyelam, Elena pergi menemui Hugo. Namun ia menunggu sebuah momentum ketika purnama tepat berada di atas kepalanya, ia akan menjalankan misi pembunuhan pertamanya sebab yang kemarin itu,
Gagal?
“Oh tidak, jelas tidak. Kegagalan adalah bagian dari sebuah rencana juga." Elena tersenyum seraya menyisiri rambut panjang berwarna ungunya di depan cermin ajaibnya yang telah ia benarkan. Hari ini Elena tampil dengan cantik dan memukau. Ia mengenakan kain beraroma cinta berwarna merah.
"Kau merahasiakannya? Kau sulit ditebak. Rencana apa yang akan kau lakukan setelahnya?" tanya cermin tersebut.
"Tentu saja itu rahasia, bodoh!" Elena mengejek. Ia baru saja selesai menyisiri rambutnya. Tangannya meraih sebuah kalung berbandul permata bulan sabit yang berwarna merah gelap. Ia lantass memasangkannya dan kembali ajukan tanya, "Bagaimana dengan kalung baruku? aku membuatnya dengan campuran permata Red Moon."
"Kau menawan. Meski terlihat menawan setiap hari, namun kali ini lebih menawan dengan kalung tersebut."
Elena memicingkan matanya. "Sial, jadi kau menganggap kalung ini lebih menawan dariku?"
Jiakalau Elena bisa mendengar suara batin si cermin, pastilah dia bakal mengatakan, "Tentu saja aku serba salah, lawan bicaraku adalah wanita." Kendati tentu saja suara yang keluar adalah permintaan maaf. "Maaf, bukan maksudku begitu. Kau dan kalung itu cocok. Kalung itu bahkan tak terlihat menarik jika bukan kau yang mengenakannya. Kau semakin terlihat cantik jelita dan menawan setiap hari."
Elena berdecak, matanya berlentera merah. "Sial sekali kau bilang kalung milikku tak menarik," ujarnya lalu membalikkan badan dan merebahkan diri di atas ranjang.
Elena menatap langit bertabur bintang. "Sebentar lagi bulan tepat berada di atas kepalaku."
"Kalau kau terus merebahkan diri seperti itu, bulan tidak berdiri di atas kepalamu, tetapi menggantung di atas wajahmu." Kelemahan si cermin adalah, karena ia selalu merespons ucapan Elena sekalipun Elena tak pernah memintanya.
Ah, iya, benar. Kalian jelas ingin tahu dari mana cermin tersebut berasal. Singkat cerita, seribu tahun yang lalu, cermin itu adalah anak dari Dewa Hermes dan seorang manusia setengah iblis. Hermes tak mengakui Azure karena ia memiliki darah iblis. Azure juga pernah menjadi mata-mata antara iblis dan dewa, yang dikutuk oleh Zeus menjadi abu karena sudah melewati batas dan selalu membuat perselisihan. Abu itu juga dicuri oleh Krystal dan ia jadikan sebagai alat yang berguna.
Cermin tersebut bernama Azure, cermin dengan kekuatan magis terkuat yang dirawat oleh Cassandra Krystal dan disucikan kembali, kendati ya, kau tahu, itu sama sekali bukan tugas Krystal. Bagaimana mungkin seorang penyihir bisa menyucikan hal yang seharusnya dilakukan si malaikat? Namun Cassandra melakukannya, ia adalah puan sihir terhebat yang pernah Elena kenal. Krsytal tak memiliki alasan untuk memberikan cermin itu untuk Elena, ia hanya ingin melakukannya, meski sebenarnya Elena juga bisa mendapatkannya sendiri. Namun pemberian Krystal adalah hal terhebat yang tak akan pernah dilakukan Zeus sekalipun. Itu sebabnya Elena semakin tertarik dengan ilmu sihir yang ia pelajari sejak kecil. Meski ia ditentang seluruh Dewa dan Dewi, namun Elena memilih apa yang tidak dipilih para Dewa.
"Aku tidak memintamu berbicara!" Elena bangkit, duduk dan menatap cermin tersebut dengan geram.
"Maaf karena sudah berbicara."
"Aku tidak memintamu untuk meresponsku lagi!"
"Tetapi kau berbicara, kau bilang aku harus selalu sigap menjawab."
"Aku berbicara dengan diri sendiri! tidak denganmu! Ah, sial, harus aku katakan berapa kali lagi sampai cermin bodoh itu mengerti?" gumamnya sengit. Ia lantas berdiri dan mendekat pada Azure.
"Bulan purnama sudah berada di atas kepalamu—"
"Diam sial—" Elena terdiam, ia mendongak dan menatap bulan sudah berada di atas kepalanya. Satu seringaian muncul. Ia beranjak dari kamarnya dan pergi ke kamar Hugo.
Ramuan yang Elena buat saat purnama semerah darah kemarin sudah ia bagi dengan berbagai macam bentuk. Sebuah bubuk untuk segelas minuman, anggur hijau, parfum, dan sebuah kalung berbandul bunga.
Elena mengerti jika segelas minuman dengan ramuan yang ia buat saja sudah bisa memusnahkan Hugo setidaknya seribu tahun, namun Elena ingin membuat Hugo merasakan sakit yang mencabik-cabik tubuhnya seperti halnya seorang manusia ketika dicabut nyawanya. Bahkan jila perlu, Elena ingin membuat Hugo merasakan rasa sakit yang berkali-kali lipat seperti yang dirasakan manusia.
"Oh, menakjubkan, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia," ujar Elena ketika ia telah berada di depan pintu Hugo Diamond.
Elena ingin masuk, namun Hugo lebih dulu membuka pintu dan mendadak berkata, "Aku tidak salah dengar? Apa yang membuatmu begitu bahagia? Kau membayangkan hidup bersamaku selamanya?" Kendati setelahnya Hugo terpaku di tempat. Menelan saliva kala memindai tubuh Elena mulai dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Ia mengenakan kain yang beraroma cinta yang manis serta intim. Leher jenjang, b*******a yang terlihat mengetat di balik kain, pinggul ramping serta b****g yang berisi, dengan kain sutra yang memiliki sobekan sampai sebatas bagian intimnya, cukup membuat Hugo terbelalak dan merasa panas dingin.
Elena mengernyit. "Kau mendengarnya?"
Hugo cuma mengendikkan bahu, ia segera memutus penalaram liarnya. Serta ia enggan menjawab pertanyaan retorik. Sementara itu Elena agak tercekat, padahal perlu ratusan lantai sebelum ia sampai ke tempat Hugo. "Wah, pendengaranmu semakin tajam, rupanya."
"Alih-alih semakin tajam, kenapa kau tidak menyebut pendengaranku ini bagus, telinga emas atau semacamnya?"
Elena cuma menanggapinya dengan decakan muak. "Aku ingin masuk."
"Ya, tentu saja. Silakan masuk, Penyihirku yang cantik." Hugo lantas memberi jalan untuk Elena memasuki wilayahnya.
Elena tersentak dan menengok ke belakang. "Tumben sekali mau memanggilku penyihir, bukankah kau sejak awal selalu melarangku untuk melakukan ini?"
"Karena kau bilang sedang bahagia. Lantas apa? mau kupanggil Dewiku?" Hugo menaikkan alisnya guna menggoda si gadis.
"Tutup mulutmu sebelum aku tebas semua gigimu, Dewa Jelek."
Hugo menutup pintu tersebut. Ia membiarkan Elena duduk di sofa berbulunya, sedangkan ia berada di samping gadis itu. "Tumben sekali."
"Kenapa?" tanya Elena denga nada dingin serta datarnya.
"Memakai pakaian seperti itu, kau tidak takut ada Dewa yang menerobos masuk ke kamarmu dan b******a denganmu?"
Elena cuma menarik satu sudut bibirnya. "Jadi kau mengakui kemolekan tubuhku?"
Hugo berdecak, ia mengalihkan pandang. "Aku cuma tidak siap menerima kabar tiba-tiba kau melahirkan seorang anak. Kau lebih menggairahkan daripada Aphrodite, bisa tidak jaga sedikit tubuhmu?"
"Kau bicara apa, sih? Tidak ada yang berani menyentuhku—"
"Tanpa campur tangan Zeus, maksudmu? Jika dia menyuruhmu untuk menikah dan memiliki anak, kau tidak akan bisa menolaknya, bukan? Sehebat apapun kau di mataku, di mata Zeus kau tetap cucunya yang tak bisa melakukan apapun selain membuat onar."
Manik Elena menajam, menatap Hugo dengan sengit. Hugo mengingatkan Elena pada kejadian lampau, saat Elena disuruh menikah dengan Dewa yang sangat ia benci sebab Dewa itu terlalu lemah baginya. Lalu tanpa pikir panjang, Elena meminta Hugo agar b******a dengannya, untuk mematahka hati Dewa lemah itu sekaligus sebagai alasan penolakan.
"Itu pertama kalinya bagiku," ujar Elena. Ia masih mengingat jelas saat Hugo menyentuhnya, melumat serta menekannya, Elena nyaris saja menangis. Namun setidaknya ia bisa mempercayai Hugo, hanya lelaki itu tiket kebebasannya. "Aku sudah tidak perawan, kau mengambilnya."
"Perawan?" Hugo terbahak.
"Tetapi itu bukan pertama kalinya bagimu, bukan?" Elena memojokkan Hugo. "Kau pernah melakukannya untuk Aphrodite."
Hugo tercengang. "Jadi kau tahu? Apa kau yang mengancamnya juga? pantas saja sejak itu dia membiarkanmu melakukan apapun yang kau suka."
"Dewa Dewi memang suka memanfaatkan keadaan dan mengadu domba, bukan?" Elena mengernyih. "Kau juga menikmatinya, tuh. Sudah sejak lama kau menginginkan tubuhku, kan?"
Wajah Hugo kali ini semerah tomat yang baru saja direbus. Ia cuma memalingka wajah dan bangkit untuk mengambil minum. "Kau mau minum apa?" tawarnya tanpa menatap ke arah lawan bicara.
"Seolah kau punya segalanya, anggur saja." Elena menarik senyum mirignya. Kesempatan yang bagus, bukan?"
Ketika Hugo tiba dengan dua minuman anggur di atas meja, Hugo pergi untuk mengambil sesuatu. Di saat itu lah, Elena menaruh serbuk ramuannya ke dalam minuman Hugo, mengaduk seraya membacakan mantranya, “Sepanas surya di atas kepalamu. Biru yang tenang kini mendidih. Bulan purnama menjemput merahnya. Hugo yang malang, Diamond yang tak berlentera. Elena yang kuat mempesona, Blezinsky yang diberkati menguasaimu.”
Hugo datang membawa anggur hijau, Elena membelalakan matanya. "Tidak, tidak, letakkan anggur hijau itu lagi. Aku tak sudi memakannya darimu."
Hugo terpaku di tempat. Tak lama, Elena menjulurkan tangannya dan mengeluarkan anggur hijau miliknya melalui sihirnya.
"Oh, oke." Hugo lantas tetap membawa anggur hijau tersebut dan menaruhnya di hadapan Elena. "Aku juga tidak sudi memakan anggur sihirmu."
"Sial," rutuk Elena.
"Makan milikku, maka aku juga akan memakan punyamu. Kita bertukar makanan," usul Hugo.
"Bukankah seharusnya kau memberikanku daging Rusa yang dipanggang dengan lezat karena aku sudah memberimu anggur hijau istimewa? Apa kau tida tahu cara bertukar makanan? Saling bertukar anggur? Astaga! itu sama saja," gerutu Elena.
"Kau ini banyak mau sekali." Hugo lantas meletakkan anggurnya di hadapan Elena dan ia mulai memakan anggur milik Elena.
Terus, makan sampa habis. Bukankah anggur milikku terlalu lezat? batin Elena.
"Hugo," Elena memangil. Ia teringat sesuatu, lantas mengeluarkan kalung berbandul bunga yang sudah ia siapkan. "Kau tahu aku tidak pernah melakukan ini, bukan? Anggap saja permintaan maaf untuk yang kemarin karena sudah—"
"Bemar, kau bakan tak pernah meminta maaf atau berterima kasih. Sekarang kau membuatkanku kalung? Oh, well, sungguh mengesankan."
"Tidak, bukan soal aku yang hendak menyelakaimu. Kau pantas mendapatkan itu, lagi pula kau juga membuat tubuhku sakit. Aku mencuri bunga itu dari kebun cintamu dengan Aphrodite."
Hugo mengernyit. "Jadi kau mau meminta maaf untuk kesalahan yang mana?"
"Yang terakhir saja."
"Oh, yang mencuri bunga. Kenapa untuk yang itu? Padahal kesalahan besarmu selama ini banyak sekali, kenapa kau tidak sekalian meminta maaf untuk semuanya."
Elena mendecakkan lidah, ia sudah bersiap ingin menghantam Hugo membentur apapun lagi, namun ia tahan. "Kau tahu. Aku. Tidak. Akan. Pernah. Melakukan. Itu," katanya dengan suara rendah dan penuh penekanan.
Hugo seketika menjadi orang paling bodoh. "Ah, iya, kau benar. Meminta maaf sama sekali bukan dirimu." Hugo mengambil kalung tersebut dan memakainya. "Aku akan menerima permintaa maafmu dengan memakainya. Omong-omong, ini sangat tidak cocok untukku."
"Tentu saja, karena sebenarnya kalung itu lebih pantas dipakai seorang wanita. Kau terlihat aneh mamakai itu."
"Terlihat semakin indah, bukan?"
"Tidak sama sekali, terlihat lebih memuakkan," respons Elena dingin.
Hugo tersenyum, ini adalah Elena yang ia kenal. "Lantas kenapa kau memberikan ini padaku untuk permintaan maaf?"
"Hanya ingin membuatmu terlihat lebih jelek dari biasanya. Kenapa?"
"Ya ampun, padahal sebiji anggur saja sudah cukup bagiku, kalau itu darimu," godanya. Hugo lantas meminum anggur yang sudah diberi ramuan oleh Elena.
"Sebiji anggur? Kau menyepelakan Elena yang cantik, kaya, bahkan sinar rembulan dan matahari pun iri melihatku. Aku bahkan bisa memberiu kebun anggur, kalau mau. Tapi aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk itu dan aku tidak ingin berbagi kekayaan dengamu. Jadi itu saja sudah lebih dari kelewatan cukup."
Hugo benar-benar meloloskan tawa renyah. "Kau bahkan memberikanku kalung bunga dengan mencuri bunganya di kebun milikku. Kau benar-benar pelit dan kurang ajar."
"Lantas apa? aku harus membeli bunga itu pada Aphrodite atau aku harus menanamnya sendiri? Meminta maaf tidak harus menjadikanku bangkrut, bukan?" Elena mendengus. Ia menatap Hugo yang lagi-lagi meminum anggyr tersebut sampai habis.
"Bagaimana anggur buatanku, Elena? Aku tidak menyangka rasanya bakal seenak ini." Hugo memandang takjub cangkir emasnya yang telah kosong.
Elena cuma mengangguk-angguk. "Suatu kehormatan untukmu, setidaknya kau memiliki satu keistimewaan, membuat anggur yang lezat. Kendati sebenarnya anggur itu jadi lebih enak karena aku di sini."
Ucapan Elena jelas menyiratkan makna, namun Hugo tak menyadari itu dan cuma memakluminya. "Apa? Karena anggur itu juga terpesona denganmu atau karena kekuatan sihirmu, huh?"
"Dua-duanya." Elena tersenyum. Senyum yang sangat berbeda di mata Hugo. Tak lama, Hugo merasakan tubuhnya agak memanas. Mendapati reaksi tersebut, Elena bertanya. "Ada apa?"
"Tidak, aku hanya agak mengantuk dan pusing saja. Kau punya penawar untuk rasa sakitku?" Hugo bertanya tanpa menaruh sedikit saja curiga. "Aku akan membelinya, aku tidak akan membuatmu jatuh miskin, tenang saja."
Elena mengangguk-angguk. Ia memetik anggur hijau di hadapan Hugo yang sudah dicampur dengan ramuannya. "Aku sudah bilang padamu anggur ini spesial. Habiskan saja anggurnya."
Tanpa pikir panjang, Hugo menghabiskan semua anggur tersebut seperti biasanya. Rasa anggur itu jelas lebih enak dari biasanya, juga memberikan pereda nyeri pada sakit kepala Hugo untuk sementara saja, sebab malam nanti ramuannya baru akan bereaksi.
Hugo tersenyum pada Elena ketika merasakan panas serta nyeri kepalanya menghilang. "Terima kasih, aku merasa lebih baik, Elena."
"Apa aku bilang, anggur itu sangat spesial bukan?"
Hugo mengangguk. Ia sama sekali tak pernah menaruh curiga pada Elena. Sejak awal Elena memang sudah menyiapkan rencana ini dengan matang. Sebagai seorang penyihir, ia harus pandai memanipulasi keadaan, membuat si korban membutuhkanmu dan mempercayaimu dalam sekejap, kemudian biarkan sihir yang menjalankan aksinya.
"Aku percaya padamu, Elena." Senyum Hugo lebih tulus dari biasanya, namun Elena memiliki keganjilan pada sorot mata Hugo yang sulit dimengerti.
"Aku sudah menyelesaikan tugasku dengan baik, izinkan aku keluar." Elena berdiri, berjalan menuju keluar dan Hugo mempersilakannya.
Begitu Elena sudah bebas dari wilayah Hugo, ia menyihir pintu masuk wilayah Hugo agar tidak ada yang memasukinya sampai Hugo benar-benar lenyap dari kehidupannya.
Sejak awal, Elena tak peduli dengan konsekuensi yang akan ia terima.
x x x x
To be continued...