Hari ini tidak ada jadwal kuliah. Jam sudah menunjukkan angka 12 dan sesuai janji, Xavielle baru saja tiba di rumah Quin.
"Permisi Nyonya, saya Xavielle. Saya temannya Quin," sapa Xavielle pada seorang wanita dan itu adalah mommy Quin.
"Oh! Kau sudah datang. Sebentar ya, Quin sedang di atas. Kau masuklah dulu ke ruangan itu," suruh Mommy Quin menunjuk sebuah ruangan VIP. Mereka akan mengerjakan tugas di salah satu ruang VIP restoran ini.
Xavielle mengikuti arahan Mommy Quin sementara Mommy Quin memanggil anak gadisnya.
TOK.. TOK.. TOK..
Xavielle mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang diketuk dan kepala Quin menyembul seperti orang yang sedang mengintip. Xavielle tertawa dengan tingkah konyol Quin. Quin masuk dengan langkah ringan dan bersenandung riang.
"Kukira kau tidak akan datang," tuduh Quin memicingkan matanya.
"Bagaimana mungkin aku tidak datang kalau kau akan memasak untukku," jawab Xavielle membuat senyum Quin mengembang dan mengangguk.
"Ingin makan sekarang? Kau sudah sarapan?" tanya Quin.
"Nanti saja. Aku baru saja sarapan tadi. Kau?" tanya Xavielle balik.
"Tentu saja sudah! Mana tahan perut ini tidak makan setelah satu malaman," omel Quin menepuk perut datarnya dengan bibirnya yang maju beberapa senti.
Mereka mengeluarkan buku-buku dan laptop sebagai sarana mereka untuk melakukan tugas. Ada beberapa yang menurut mereka sulit, tapi kerja sama otak mereka sangat hebat sehingga kesulitan itu terpecahkan. Tidak terasa sudah hampir satu jam mereka mengerjakan tugas itu dan masih setengah saja yang selesai. Quin mengambil inisiatif untuk membuat makanan karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
Menunggu Quin menyiapkan makanan, Xavielle lanjut mengerjakan tugas mereka sesekali tersenyum geli. Xavielle merasa dirinya memang sudah gila gegara Quin.
Sekitar hampir setengah jam, Quin kembali dengan berbagai hidangan menggugah selera di tangannya. Menu makan siang yang dibuat Quin ada 4 macam sudah termasuk minum dan dessert.
Scotch Egg, telur rebus dengan saus tomat. Beef Welington, steak sapi fillet yang ditutup pate kemudian dimasukkan ke dalam pastel. Fish and Chips, menu ikan dan keripik kentang disajikan dengan kacang polong dan diberi garnish menawan sebagai snack. Terakhir, lemonade watermelon dan eton mess sebagai dessert.
"Ayo makan dulu. Aku yakin kau pasti lapar." Xavielle mengangguk dan menggeser tugas-tugas mereka menjauh.
Xavielle terpana dengan makanan yang disajikan Quin dan tergoda dengan visual makanannya. "Woah~ kau yang membuat ini semua Quin?" tanya Xavielle tak percaya.
"Tentu saja! Cobalah!" Xavielle mengambil garpu dan pisunya lalu mencicipi masakan Quin. Xavielle membulatkan matanya terkejut dengan bibirnya yang terus mengunyah.
"Bagaimana? Bagaimana? Enak kan?" selidik Quin sedikit khawatir Xavielle tidak menyukai masakannya.
Xavielle menatap Quin dengan jempol yang diancungkan. "Gila! Ini enak sekali!"
Quin mengusap dadanya lega dan tertawa. "Kukira kau akan mencampakkan makanannya ke tempat sampah karena tidak enak."
"Tapi, kau tak makan?" tanya Xavielle bingung karena porsi makanan yang dibawa Quin cuma untuk satu orang kecuali snack, minum dan dessert.
Quin menggeleng. "Sudah, aku sudah makan tadi sekalian memasak," ucapnya.
"Mengapa tak makan bersama saja?" Xavielle menatap Quin yang sedang meminum lemonadenya.
Quin menyengir. "Aku tadi sudah lapar." Xavielle tidak bisa untuk tidak tertawa melihat wajah Quin yang menyengir dan itu terlihat sangat lucu.
"Baiklah. Terimakasih untuk makanannya. Menunggu aku makan, kau pahamilah tugas itu, sudah kuselesaikan." Quin terkejut.
"Benarkah? Kau sudah menyelesaikannya?" Xavielle mengangguk.
"Kau yang terbaik Xavielle!" Quin fokus memperhatikan tugas-tugas itu. Xavielle merasa makan siangnya kali ini sangat indah. Dimasakkan makanan yang enak dan didepannya terdapat pemandangan gadis cantik. Xavielle meminum lemonadenya sambil memperhatikan wajah Quin yang terfokus pada laptop dengan mata yang tak berkedip.
'Bagaimana bisa wajah alaminya terlihat sangat cantik?' batin Xavielle.
Quin menaikkan pandangannya membalas tatapan Xavielle lalu menunjuk laptopnya. "Aku sudah paham dan aku sudah menghapalnya." Xavielle menatap Quin tak percaya.
"Seriously?" Quin mengangguk pasti. Xavielle menyuruh Quin menjelaskan tugas itu tanpa melihat layar laptop. Quin menjelaskan dengan sangat baik dan lancar.
Xavielle bertepuk tangan setelah Quin selesai menjelaskan. "Woah~ kau jenius Quin!" Quin tersenyum lebar mencicitkan kata terimakasih.
Quin menawarkan Xavielle untuk mencicipi eton messnya. Lagi dan lagi Xavielle terdiam dengan rasa yang melebur di lidahnya.
"Wah.. Sepertinya kau pandai memasak Quin. Lihatlah, ini sungguh enak!" ucap Xavielle.
"Beruntung kau menyukainya," balas Quin tersenyum manis. William membalas senyuman Quin hingga mereka bertatapan untuk beberapa detik.
Xavielle :
Aku berjalan-jalan disekitar restoran mengamati designnya yang sangat cantik. Siang ini, restoran tampak tidak terlalu ramai. Kulihat mommy Quin yang sedang duduk di sebuah meja dan segera kuhampiri.
"Permisi Nyonya," sapaku sopan.
"Oh! Xavielle kan?" Aku mengangguk dan duduk di sebelah mommy Quin setelah dipersilahkan.
"Apa tugas kalian sudah selesai?" tanya Mommy Quin membuka pembicaraan.
"Sudah Nyonya. Quin juga sangat pandai sehingga tidak terlalu kesulitan mengerjakannya," jelasku tersenyum ramah.
"Jangan panggil aku Nyonya. Panggil aku Aunty saja," perintah Mommy Quin membuatku mengangguk ragu.
"Ah! Apa kau sudah makan siang tadi?" tanya Aunty sedikit tersentak takut aku belum makan karena ini sudah jam sore.
"Sudah Aunty, tadi Quin yang memasakkannya dan itu sungguh enak!" jawabku apa adanya. Kami baru saja mengenal dan aku merasa nyaman berbincang dengan mommy Quin. Aku bahkan tidak merasakan canggung untuk menceritakan sesuatu atau melemparkan candaan. Perbincangan kami berhenti saat Quin datang menghampiri kami dengan 2 paper bag berwarna pink dan menyerahkannya padaku.
"Apa ini?" tanyaku bingung.
"Ini, aku memasak sedikit untukmu dan keluargamu mungkin?" ucap Quin setengah bertanya.
"Tidak perlu repot-repot Quin," ucapku tidak enak.
Mommy Quin tersenyum. "Tidak apa, Quin tidak merasa repot kok, ya kan sayang?" Quin mengangguk polos.
"Kalian lanjutlah bicara, Mom akan kebelakang dulu." Tinggal Quin dan aku di sana. Aku tersenyum dan mengusak pelan rambut Quin.
"Terimakasih Quin!" ucapku tulus.
"Sama-sama," cicitnya malu.
'Menggemaskan sekali!' jeritku dalam hati.
Setelah itu aku pamit pulang pada mommy dan daddy Quin. Satu lagi, semua makanan yang kumakan tadi gratis. Mommy dan daddy Quin melarangku membayar. Sudah makan enak gratis, dapat makan malam gratis pula itu.
Quin mengantarku sampai ke depan. Aku berbalik ke arahnya yang tersenyum padaku.
"Hati-hati di jalan Xavielle~" Aku mengangguk. Tidakkah pemandangan kami ini seperti sepasang pengantin dimana sang istri yang mengantar suaminya pergi bekerja? Cuma bedanya ini sudah sore dan kami bukan sepasang suami istri dan bukan sepasang kekasih atau mungkin belum menjadi?
"Aku pulang," kataku sambil mencubit gemas kedua pipinya yang memerah lalu masuk ke dalam mobil.
"Malam ini sepertinya aku mimpi indah," gumamku tersenyum sendiri.
( >ωωgrilled dover sole, ikan dover yang dikuliti dan dibersihkan disajikan dengan kentang, daun mint dan bayam.
Dan bangers and mash, sosis daging yang disajikan diatas mash potato lalu disiram dengan brown sauce. Bangers and mash ini makanan buatan Quin tadi sore.
Mereka akan memulai makan saat Raja dan Ratu memulai makan mereka dan akan berhenti saja Raja dan Ratu selesai makan.
"Siapa yang memesan bangers and mash?" tanya Mommy bingung karena Mommy yang memesan makanan apa yang harus dimasak oleh chef istana.
"Itu dari teman Xavielle, Mom. Tadi Xavielle melakukan tugas di rumahnya dan dia memasakkan Xavielle makan siang dan itu sungguh enak. Dia juga membungkuskan makananan ini untuk kita," jelasku lebar.
"Dia tahu kau seorang Pangeran, Xavielle?" tanya Grandma khawatir. Aku menggeleng.
"Dia bahkan mengira Mary adalah mommyku dan menyapanya dengan sebutan nyonya," jelasku lagi mengingat kejadian lucu itu.
Mommy tersenyum. "Benarkah? Siapa dia? Sepertinya dia sangat menarik."
Aku terkejut. Mommy juga berpikiran yang sama denganku. "Benarkan Mom?! Dia sangat menarik. Sangat!"
"Apa dia seorang wanita? Siapa namanya?" tanya Grandpa dan aku tau dia menggodaku.
"Ya, dia seorang wanita. Namanya Queenaia Charlotte Lafaisha Oswald." Baru saja aku menyebut namanya, semua membuka suara mengatakan namanya sangat indah. Dipikir-pikir, benar sekali. Nama Quin memang indah seperti orangnya?
"Apa kau menyukainya?" selidik Daddy memicingkan matanya. Aku hanya mengangkat acuh bahuku tak ingin menjawab. Kami mencicipi makanan dan dibuat Quin. And as expected! Kami semua seperti terkesiap dengan rasa masakan Quin.
"Oh My God! Ini sangat enak!" seru Mommy.
"Benar. Ini sangat nikmat. Gadis itu pandai sekali memasak," sahut Grandma yang langsung kami setujui.
"Sampaikan terimakasih kami padanya Xavielle," perintah Grandpa.
( >ωωdinner, kami berbincang-bincang sebentar lalu setelahnya kembali ke kamar. Senyum dari tadi tidak luntur dari bibirku kembali membayangkan indahnya satu hari ini bersama Quin. Tiba-tiba saja aku ingin mendengar suaranya. Aku teringat aku tadi sudah bertukar nomor dengannya. Kuambil iphoneku berencana untuk menelepon Quin.
"Xavielle!" soraknya saat suara penghubung operator mati. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Sepertinya dia juga lagi senang sepertiku.
"Ada apa? Sepertinya kau lagi senang?" tanyaku penasaran.
"Aku kan selalu senang," gumamnya.
"Ya kau benar. Kau selalu tersenyum. Apa rahangmu tidak pegal tersenyum terus Quin?"
"No!!! Tidak pegal. Aku suka tersenyum. Hihihi~" jawabnya diiringi kikikannya. "Kau juga harus banyak-banyak tersenyum Xavielle sebelum Raja Keenan mengeluarkan peraturan dilarang tersenyum!" perintahnya. Aku terdiam dan tak lama tawaku meledak. Dia sedang mengatakan grandpaku mengeluarkan peraturan larangan tersenyum. Kalau terjadi bukankah itu konyol sekali?
"Berhenti tertawa Xavielle!" pekiknya malu. Ada-ada saja gadis ini.
"Baiklah-baiklah. Aku akan mengikuti perintahmu untuk tersenyum. Tapi saat bersamamu saja bagaimana?" tanyaku menggoda. Quin sedikit terdiam.
"Emm.. Senyum itu untuk semua orang Xavielle!" omelnya kesal. "Tapi baiklah, lama kelamaan kau akan sering tersenyum."
"Jadi, apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku sambil memperbaiki posisiku agar berbaring nyaman.
"Aku sedang berbaring di tempat tidur dan berbicara denganmu sambil bernafas. Kau?" jawabnya diakhir kata bertanya kembali.
"Sama, aku juga lagi berbaring di tempat tidur sambil mendengar suaramu. Dan apa-apaan itu bernafas Quin? Semua manusia yang hidup juga pasti bernafas," kataku sedikit tertawa.
Quin tertawa dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.
"Quin, keluargaku mengatakan terimakasih untuk makan malamnya yang sangat nikmat," ucapku menyampaikan apa yang dikatakan grandpa.
"Woah~ Syukurlah mereka suka!" pekiknya senang. "Aku tadi sempat khawatir kalian tidak menyukainya," lanjutnya lalu tergantikan dengan suara menguap Quin. Aku terkekeh. 'Mengantuk rupanya,' batinku.
"Tidurlah Quin," suruhku lembut yang dijawab gumaman tak jelas.
"Good nite Quin," tutupku
"Good nite too Xavielle~" jawabnya mendayu lembut. Setelahnya kami sama-sama mematikan sambungan teleponnya.
"Dipastikan 100% aku mimpi indah! Nite Quin," monologku dengan semangat menjumpai Quin di alam mimpi.