Hari ini, semua mahasiswa akan mempresentasikan tugas yang kemarin diberikan oleh Mrs. Corina. Quin juga sudah mengatakan pada mommy dan daddynya kalau dia akan sedikit terlambat pulang sebab ada presentasi.
Kelas itu tiba-tiba menjadi hening karena banyak yang merasa gugup dan khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan menjebak yang pasti akan ditanyakan oleh Mrs. Corina.
Xavielle menoleh ke arah Quin yang duduk disampingnya tampak tenang saja padahal seharusnya Quin merasakan hal sama seperti mahasiswa lainnya kaeena ini pertama kalinya bagi gadis itu.
"Kau tak gugup Quin?" bisik Xavielle penasaran.
Quin menoleh dan menggeleng. "Tidak, kalau kita gugup dan khawatir deluan, presentasinya pasti tidak akan berjalan lancar," bisik Quin balik membuat Xavielle membenarkan perkataan Quin.
Xavielle kagum melihat Quin, di usianya masih begitu muda tapi dia seorang pekerja keras dan berpikiran dewasa. Xavielle membalas senyum Quin dan mengusap lembut rambutnya.
Mereka mendengarkan penjelasan dari kelompok lain dan sedikit menerka-nerka bagaimana tipe pertanyaan yang diajukan nanti. Saatnya kelompok terakhir maju dan itu kelompok Xavielle dan Quin. Mereka maju dengan penuh percaya diri dan secara perlahan memulai presentasinya.
Xavielle dan Quin secara bergantian menjelaskan materinya dengan sangat profesional. Mereka menguasai materi dan melakukan interaksi dengan pendengar sehingga ruangan kelas yang tadi sudah lelah menjadi hidup kembali akibat candaan yang dilontarkan. Tibalah saatnya Mrs. Corina mengajukan pertanyaannya. Quin dan Xavielle sedikit terdiam mendengar pertanyaannya karena tidak menyangka level kesulitan pertanyaan itu. Quin dan Xavielle meminta waktu diskusi selama satu menit sedangkan siswa lain mulai bertanya-tanya apakah mereka mampu menjawab pertanyaan sulit itu karena Xavielle dan Quin terkenal pandai di kelasnya.
Xavielle secara perlahan menjawab pertanyaan Mrs. Corina. Quin disampingnya ikut menimpali sehingga jawaban mereka bisa sempurna. Mrs. Corina berdiri dari duduknya dan bertepuk tangan diikuti oleh mehasiswa lain sambil bersorak. Quin dan Xavielle tersenyum senang karena kerja sama mereka membuahkan hasil yang sangat bagus.
"Kalian yang terbaik! Terimakasih untuk jawaban sempurnanya! Silahkan tutup presentasinya dan kembali ke tempat," puji Mrs. Corina.
Xavielle dan Quin kembali ke tempat duduk mereka diiringi bisikan-bisikan kagum yang lain.
'Wah.. Mereka hebat sekali!"
'Mereka sangat serasi rupanya!'
'Benar! Sama-sama pandai, sama-sama cantik dan tampan!"
'Aku akan jadi pendukung mereka mulai dari sekarang. Mereka couplegoal!' Dan banyak bisikan lainnya yang kagum dan mendukung mereka kalau jadi kekasih.
"Quin~" bisik Xavielle mengangkat tangannya. Quin menoleh dan dengan semangat menepukkan tangannya di telapak Xavielle. High-five.
( >ωωωω< ✿)
Ratu Victoria terus saja tersenyum hingga dia sampai di Ethereal Palace. Suaminya, Raja Keenan, berkerut bingung karena istrinya terus saja tersenyum. Saat ditanya, Ratu hanya tertawa dan menggeleng hingga saat mereka sudah kembali ke kamar dan saling berbaring berhadapan di atas ranjang, barulah sang Ratu membuka suara.
"Aku mempunyai cucu baru," kata Ratu senang. Dahi Raja semakin mengerut.
"Apa maksudmu cucu baru? Xavielle? Louis? Irene?" tanya Raja bingung.
Ratu menggeleng. "Tidak, kau ingat gadis yang diceritakan Xavielle semalam? Dan gadis yang memasakkan makanan enak semalam?" Raja mengangguk. Tentu saja dia ingat. Masakannya sangat lezat, Raja juga berpikir gadis itu sangat menarik.
"Quin cucu baruku! Tadi aku menemuinya dan memintanya memanggilku grandma. Dia terus menolak hingga akhirnya dia mau! Dia juga memasakkanku makanan yang sangat lezat! Oh My God!" seru Ratu semangat. Raja pun tertawa, sudah lama sekali sejak dia melihat istrinya ini bersemangat saat mereka sudah beranjak tua.
"Aku jadi penasaran bagaimana sosok asli Quin yang bisa membuat istriku ini kembali bersemangat dan membuat cucu tertuaku tertarik padanya," ucap Raja sembari menghayalkan bagaimana sosok Quin itu.
Ratu tersenyum. "Kalau ada waktu lagi, mari kita jumpai dia!" seru Ratu yang diangguki Raja. Setelahnya mereka berbincang-bincang kecil hingga kantuk menghampiri mereka.