Kelas sudah berakhir dan Carla mengatakan kalau dia ingin ke restoran milik Quin. Quin tentu dengan senang hati membawa Carla. Mereka berbincang cukup banyak hingga seorang pria menghampiri mereka.
"Permisi Nona-nona," sapa pria itu. Quin dan Carla menoleh bingung sebab mereka tidak mengenalnya.
"Ada apa?" tanya Quin ramah.
"Saya Alvin. Boleh saya bergabung dengan kalian?" tanya Alvin tersenyum ramah. Quin dan Carla sedikit aneh sebenarnya cuma ya terakhir mereka mengangguk ragu.
Ternyata Alvin adalah pria yang diam-diam menyukai Quin. Quin hanya menanggapi itu dengan senyuman. Alvin pria yang sangat banyak bicara sehingga sedari tadi hanya dia yang bercerita sedangkan Quin dan Carla mendengar dengan baik. Quin merasa sedikit tidak nyaman dengan Alvin. Quin merasa Alvin adalah p****************g yang sedang menggodanya.
Carla pamit terlebih dulu sebab dia mendapat telepon oleh mommynya. Tinggallah Quin dan Alvin. Quin ingin sekali pergi dari situ, cuma takut merasa tidak enak pada Alvin.
Jadi, Quin tetap duduk disana sesekali menjawab pertanyaan Alvin. Mereka menikmati makan siang bersama dengan paksaan Alvin. Quin makan dengan tenang tanpa menghuraukan tatapan Alvin.
Quin dikejutkan dengan ibu jari Alvin yang menyentuh sudut bibirnya mengusap sisa makanan yang menempel. Quin memegang sudut bibirnya dan menatap Alvin.
"Maaf, tadi ada sisa makanan yang menempel, aku hanya membantu membersihkan," jelas Alvin membuat Quin menggumamkan kata terimakasih.
Mereka tidak tahu kalau sedari tadi ada tiga pasang mata yang menatap mereka. Dan salah satu dari 3 pasang mata itu menatap dengan tajam. Mereka, orangtua Quin dan Xavielle. Xavielle sudah dari tadi disana sejak Alvin meminta bergabung dengan Quin.
Xavielle juga sering datang ke restoran sehingga dia menjadi sangat dekat dengan orangtua Quin. Orangtua Quin juga sangat menyukai Xavielle yang sangat sopan dan menjaga Quin dengan baik.
Darah Xavielle mendidih melihat pemandangan dimana Alvin mengusap sudut bibir Quin. Ingin rasanya Xavielle mencincang kecil tangan Alvin menggunakan pedangnya lalu memberinya pada anjing kesayangan grandmanya.
"Lancang sekali pria itu!" geram Xavielle. Orangtua Quin yang berada disampingnya tersenyum geli. Mereka tahu Xavielle menyukai anak gadis mereka karena Xavielle secara diam-diam mengakui perasaannya pada mereka. Orangtua Quin sangat kaget tapi mereka mempersilahkan Xavielle untuk mendekati Quin dan mempercayakan Quin pada Xavielle sebab mereka yakin Xavielle cocok untuk anak mereka. Lagipula semua keputusan ada di tangan Quin.
"Jumpai mereka Xavielle. Quin tampak tidak nyaman dengan pria itu," ucap Mommy Quin tersenyum. Daddy Quin mengangguk dan menepuk pelan punggung Xavielle. Xavielle mengangguk dan berjalan menghampiri Quin dan Alvin.
"Quin," panggil Xavielle membuat Quin dan Alvin menoleh cepat.
"Xavielle!" seru Quin senang hingga berdiri dari duduknya. Xavielle mendekat dan memandang wajah Quin dengan pandangan lembut menghiraukan tatapan bingung Alvin.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Quin membalas pandangan Xavielle. Xavielle menarik pinggang Quin mendekat ke arahnya.
"Merindukanmu?" bisik Xavielle menggoda di samping kepala Quin. Quin tersenyum malu berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah padahal Xavielle melihat itu.
"Ekhem," dehem Alvin menyadarkan Quin dan Xavielle kalau ada dia disana. Quin dan Xavielle menoleh secara bersamaan.
"Ada apa Tuan?" tanya Xavielle pura-pura tidak tahu.
"Dia Alvin, Xavielle. Dia tadi meminta bergabung denganku dan Carla tapi Carla sudah deluan pulang," jelas Quin pelan.
"Aku sudah tahu dan bisakah anda tidak menganggu Quin lagi Tuan?" pinta Xavielle sopan.
"Apa maksudmu? Kau siapa? Kau bahkan bukan siapa-siapa! Jadi jangan sok mengaturku dan Quin! Lancang sekali kau!" oceh Alvin tidak senang dengan pandangan remeh.
Xavielle memandang Alvin tajam. Emosinya ingin meledak namun Xavielle merasakan Quin mengelus lembut di tangannya entah disadari Quin atau tidak.
"Quin gadisku, Tuan. Jadi kau pasti sudah bisa tau bukan aku siapanya?" jawab Xavielle dengan seringaian di sudut bibirnya melihat wajah pucat Alvin.
"Xavielle~" gumam Quin yang dia juga terkejut dengan pengakuan Xavielle.
Alvin tertawa remeh. "Kau bahkan tidak cocok menjadi pacarnya! Hanya aku yang cocok! Aku ini kaya dan tampan. Bagimana bisa Quin memilihmu!? Pasti dia memilihku!"
"Kau terlalu cerewet untuk kategori pria!" sindir Xavielle. "Quin bahkan membenci pria cerewet." Xavielle tertawa sumbang. "Pergilah sebelum aku menghabisimu, gadis!" perintah Xavielle datar. Pria itu pergi dengan tatapan tajam melihat Xavielle. Quin sedikit takut melihat tatapan itu, sedangkan Xavielle membalas tatapannya dengan remeh.
Xavielle membawa Quin ke taman belakang setelah pria itu pergi.
"Mengapa kau mengatakan begitu Xavielle?" tanya Quin bingung. Xavielle hanya tersenyum dan tangannya menggenggam erat tangan Quin. Quin menunduk melihat genggaman tangan mereka.
"Quin~" panggil Xavielle membuat Quin mendongakkan wajahnya. Xavielle memandang dalam wajah Quin.
"Quin, aku mencintaimu," ungkap Xavielle tulus. Tubuh Quin tersentak dan bola matanya membesar.
"A-apa-"
"Aku tau kau pasti tidak percaya, tapi aku mencintaimu," potong Xavielle.
"Tapi, kenapa bisa aku? Aku bahkan tidak kaya dan tidak sepadan denganmu Xavielle," lirih Quin sedih.
Xavielle tersenyum hangat. "Aku tidak membutuhkan wanita kaya dan sepadan denganku. Aku tertarik padamu sejak pertama kali kau datang ke kelas dengan sifat ceria dan senyum menggemaskanmu juga kepandaian, kerja keras, dan masakanmu. Aku tidak peduli kau tidak kaya atau tidak sepadan denganku. Aku hanya mencintaimu karena kau Quin," jelas Xavielle membuat Quin meneteskan air matanya terharu. Xavielle mengusap lembut air mata Quin.
"Would you be my girlfriend?" tanya Xavielle tersenyum lembut. Quin terdiam sejenak dan Quin memang tidak menyangkal kalau ada benih cinta dihatinya untuk Xavielle. Quin dengan pelan mengangguk ragu membalas Xavielle. Xavielle tersenyum lebar tapi rasanya dia ingin menggoda Quin.
"Kau tak menjawab? Kau tak ingin?" tanya Xavielle dengan nada sedih. "Baiklah. Terimakasih," lanjut William hendak melepaskan tangannya dari pinggang dan pipi Quin.
"Hey! Aku sudah mengangguk dan aku ingin menjadi pacarmu! Jadi jangan pergi!" pekik Quin kembali menarik tangan William. William tertawa lebar dan menarik Quin dalam pelukannya.
"Sekarang, kau Quin gadis Xavielle," bisik Xavielle memperjelas. Quin mengangguk semangat. Xavielle melepaskan pelukannya dan mengusap sudut bibir Quin bekas pria gila tadi.
"Jangan biarkan pria lain menyentuhmu lagi, baby," perintah Xavielle. Quin mengangguk.
"Setelah ini, jangan pernah merasa canggung lagi padaku heum?"
Quin mengangguk. "Tentu saja!" cicitnya.
"Kau milikku," bisik Xavielle lalu mengecup sekilas bibir merekah Quin. Quin yang terkejut hanya tersenyum menunduk malu. Pipinya memerah terasa sangat panas.
"Jangan sembunyikan pipi meronamu yang menggemaskan Quin," goda Xavielle.
"Xavielle~ berhenti menggodaku," rengek Quin menenggelamkan wajahnya di d**a Xavielle. Mereka berpelukkan untuk beberapa saat hingga muncullah orangtua Quin dengan tepuk tangan dan di belakangnya ada karyawan membawa beberapa hidangan ringan.
Xavielle dan Quin terkejut hanya bisa tersenyum.
"Anak Mommy sudah besar rupanya," ucap Mommy Quin memeluk anak gadisnya.
"Akhirnya kau mengungkapkan perasaanmu Xavielle," ucap Daddy Quin bangga dengan Xavielle. Daddy Quin merasa Xavielle seorang yang bertanggung jawab. Sore ini mereka habiskan duduk di taman dengan menikmati hidangan ringan tadi.
Xavielle membawa Quin bersandar di d**a bidangnya saat orangtua Quin sudah kembali ke dalam. Quin merasa sangat tegang, ini pertama kalinya dia melakukan hal yang menurutnya romantis seumur hidupnya. Xavielle mengusap pelan lengan Quin agar gadis itu tenang.
Xavielle menurunkan pandangannya ke arah Quin, dilihatnya mata gadis itu sayu-sayu mengantuk ingin tertidur. Xavielle tersenyum geli dan Xavielle membantu Quin agar dapat menjumpai mimpinya. Dielusnya lembut kepala Quin sesekali mengecup puncak kepala Quin. Dan benar saja, dalam hitungan menit gadis itu tertidur lelap di pelukan Xavielle dengan tangannya melingkar sempurna di perut sixpack Xavielle.
Xavielle berencana memandangi gadisnya ini dulu sebelum membawanya masuk.
"Pasti Tuhan sedang senang saat menciptakanmu Quin," gumam Xavielle terus memandangi gadisnya hingga sedikit menurun dan mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu.
Xavielle menggendong Quin ala bridal style ke dalam kamarnya setelah permisi dengan orangtua Quin. Xavielle meletakkan Quin dengan sangat lembut dan menarik selimut hingga perut gadis itu. Xavielle duduk di pinggir ranjang mengelus pipi gadisnya.
"Aku mencintaimu," bisik Xavielle lalu pergi meninggalkan Quin setelah mengecup manis keningnya.
( >ωω< ✿)
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan semua itu berlalu dengan sangat cepat hingga saat ini hubungan Xavielle dan Quin sudah diketahui seluruh penjuru kampus. Hubungan mereka yang sudah jalan 10 bulan setiap hari menjadi perbincangan hangat semua mahasiswa. Banyak wanita yang merasa sedih sebab Xavielle milik Quin, begitu pula banyak pria yang patah hati sebab Quin milik Xavielle. Namun begitu, semua orang sangat mendukung hubungan mereka. Tidak ada yang membenci hubungan mereka.
Xavielle pun bersyukur akhirnya gadis yang sejak awal sudah membuatnya sangat tertarik dengan Quin dan lambat laun dia menyadari itu adalah cinta. Sedangkan Quin yang awalnya hanya merasa kagum saja, mulai merasa sangat nyaman dan berdebar jika bersama Xavielle apalagi dengan sikap lembut pria itu.
Xavielle juga tampaknya berubah menjadi sedikit posesif terhadap Quin semenjak Quin menjadi gadisnya.
Cuma, Xavielle tidak memberitahu keluarga kerajaan bahwa dia sudah mempunyai seorang gadis. Xavielle merasa biarlah mereka jalani dan kalaupun kerajaan tau, biarlah mereka tau dengan sendirinya untuk saat ini sampai Quin tau siapa Xavielle sebenarnya. Padahal Xavielle tidak tau kalau grandmanya sendiri sudah sangat menyukai Quin bahkan meminta Quin memanggilnya grandma.