Menurut informasi dari pusat meteorologi, hari ini akan hujan deras diiringi petir. Semua orang berjaga-jaga membawa payung dan segera pulang agar tidak terjebak banjir atau pohon tumbang.
Sama halnya dengan Xavielle dan Quin, setelah kelas berakhir mereka selalu jalan bergandengan tangan. Xavielle menawarkan Quin untuk pulang bersamanya, cuma Quin selalu menolak tawaran Xavielle. Quin mengatakan Xavielle adalah pacarnya bukan sopirnya. Quin tidak ingin orang berpikir Quin berpacaran dengan Xavielle agar dapat hidup mewah seperti orang kaya.
"Quin, setelah pulang dari sini, tetap di rumah dan jangan keluar-keluar lagi. Hari ini akan ada hujan deras diiringi petir. Jadi, tetaplah di kamar dan jangan berpikiran untuk mandi hujan!" perintah Xavielle. Xavielle tau gadisnya ini sangat suka hujan, tapi takut dengan petir.
Quin mengangguk dan menghormat. "Xavielle juga~" kata Quin pelan. "Tentu saja Tuan Puteri!"
Setelah melihat Quin semakin menghilang dari pandangannya, barulah Xavielle masuk ke dalam mobilnya.
Memang benar! Hujan deras saat ini mengguyur kota ini. Angin kencang berhembus melayangkan semua benda-benda ringan di jalanan serta pohon-pohon melambai kencang.
Quin tipe orang yang penurut. Oleh karenanya dia hanya membantu restoran tanpa pergi kemana pun seperti yang dikatakan Xavielle.
Namun, dia sedikit selera melihat hujan yang terus berjatuhan membayangkan dirinya di tengah-tengah hujan itu. Quin juga memperhatikan taman belakang rumahnya pasti menyenangkan bermain disana. Quin memperhatikan langit, petirnya terkadang saja kuat.
Quin :
"Bermain sekali tak apa kan?" gumamku mengigiti kecil bibirku. "Pasti tak apa," putusku berlari mencari mommy.
Ku peluk mommy dari belakang dan bermanja disana. "Ada apa sayang?" tanya Mommy.
"Mom~ Quin mau main hujan," bisikku meminta izin.
Mommy menggeleng. "No sayang. Nanti kau sakit. Naiklah ke kamarmu, istirahat. Tidurmu akan semakin nyenyak diiringi suara hujan."
Bibirku manyun beberapa cm. Aku tau mommy pasti tidak mengizinkannya.
"Mom~" rengekku.
"No sayang," final Mommy pergi meninggalkanku. Tak mau menyerah, kucari daddy dan mencoba meminta izin. Dan sama saja, daddy menyuruhku tidur di kamar. Aku pergi dengan kaki yang dihentakkan.
'Bagaimana kalau main diam-diam?' batinku berseru senang. "Tentu saja!" pekikku pelan. Kulihat orang mommy lagi sibuk di depan. Dengan cepat kubuka pintu taman belakang dan kututup balik dengan sangat pelan. Aku berjalan hingga ke tengah taman. Kurentangkan tanganku menikmati hujan membasahi tubuhku.
"Akhirnya!!!!" sorakku berputar-putar disana. Kupandangi senang semua bunga yang kutanam bersama mommy. Aku bermain hampir sekitar setengah jam mungkin, hingga mommy datang membuka kasar pintu taman.
"Quin! Mommy sudah bilang jangan main hujan!" pekik Mommy. Aku hanya menunduk karena tau mommy pasti marah denganku. Seorang karyawan datang ke arahku dengan sebuah payung membawaku berteduh.
Mommy menatapku dengan tajam dan tangan menggantung di pinggangnya. Mommy pasti menahan amarahnya.
"Mommy," ucapku pelan.
"Apa yang Mommy katakan? Bukankah Mommy menyuruhmu tidur di kamar?" tanya Mommy dengan nada rendah.
"M-maafkan Quin Mom," gumamku takut. Mommy membuang mukanya tak ingin menatapku.
"Mom~" Daddy datang melihat kami. Daddy juga sama, daddy pasti marah, tapi daddy menyuruhku untuk membersihkan diri dan memakai pakaian hangat sedangkan daddy pasti sedang meredakan amarah mommy.
Kuikuti perintah daddy tak ingin melawan. Kududukkan diriku di ranjang menikmati hangatnya selimut ini. Kulihat handphoneku dan ternyata ada pesan dari Xavielle. Aku merasa bersalah melanggar ucapannya.
"Maafkan aku," lirihku. Tak lama, aku merasakan akibat dari hujan itu. Bersinan berulang kali menyerangku. Hidungku sudah memerah dan sedikit panas. Kepalaku sedikit berkunang. Kurebahkan diriku agar bangun nanti bisa lebih segar.
Aku tidur hampir 3 jam dan bukannya tambah segar, aku malah tambah lemas. Aku berusaha melawan semua rasa lemas itu, tapi tubuhku tak sanggup. Kupaksa lagi tubuhku ke ruang makan karena sudah waktunya makan malam. Disana sudah ada mommy sedangkan daddy mungkin lagi mandi. Mommy pasti masih marah padaku. Kepalaku terus berdenyut.
"Mom~ kepala Quin sakit," lirihku. Mommy berbalik melihatku khawatir, tapi setelahnya berpaling lagi dariku.
"Kau sendiri yang membuat dirimu sakit. Jadi jangan merengek!" ucap Mommy datar. Aku menunduk dalam tanpa sadar menangis mendengar mommy tak peduli denganku dan juga menahan sakit kepalaku.
"Ada apa?" tanya Daddy yang baru saja tiba di ruang makan. Aku menggeleng pelan dan tidak merengek pada daddy. Aku kembali bersin untuk beberapa kali membuat daddy mendekatiku.
"Kenapa Quin? Kau sakit?" tanya Daddy mengelus kepalaku. Aku menggeleng namun isakanku membuat daddy curiga. Daddy mensejajarkan dirinya denganku dan mengusap pipiku.
"Kau demam tinggi Quin!" pekik Daddy. Aku terus menggeleng padahal kepalaku sangat sakit terus bergerak. Mommy tetap menghiraukan. Daddy menyuruhku untuk makan lalu setelahnya minum obat. Biasa kalau aku sakit, mommy pasti akan memanjakan diriku, mengusap kepalaku, tapi sekarang mommy benar-benar marah. Kami makan dengan tenang hingga makanan kami habis. Daddy memaksaku meminum obat karena aku sungguh membenci obat.
"Minum obat itu kalau ingin cepat sembuh! Jangan merengek kalau itu salah sendiri!" kata Mommy pedas.
"Sayang!" tegur Daddy pada mommy. "Jangan hiraukan Mommymu sayang. Minumlah obatmu lalu tidur heum?" Kuminum obat itu dengan penuh paksaan hingga obat itu tertelan sempurna di perutku.
"Daddy, jangan marah lagi sama Quin. Quin salah," lirihku dengan isakan. Daddy mengangguk dan memelukku erat. Kuhampiri mommy yang sedang duduk menonton TV dengan duduk disebelahnya.
"Mommy," panggilku semakin mendekat ke arah mommy. Mommy hanya diam terfokus pada TV. Tak tahan lagi, kupeluk erat mommy dari samping dan kuletakkan kepalaku di bahunya menangis keras.
"Mom~ Quin salah. Quin minta maaf. Quin tak akan mengulanginya lagi. Mommy~ Mommy~" gumamku berulang mengucapkan kata maaf.
"Mommy melarangmu karena kau bisa sakit karena hujan itu sangat deras itu. Mommy dan daddy paling benci kalau kau sakit tapi kau sendiri yang membuat tubuhmu sendiri sakit," bisik mommy. Aku mengangguk berulang dan tanpa henti mengucapkan maaf.
Tangan mommy terangkat memelukku balik dan menciumi pelipisku. "Jangan menangis lagi, kepalamu akan semakin sakit," kata Mommy.
"Maafkan Quin Mom~" Mommy mengangguk.
"Mommy memaafkanmu sayang. Mommy juga minta maaf sudah menghiraukanmu." Aku sedikit tersenyum, akhirnya mommy mau memaafkanku.
"Mana yang sakit heum?" tanya Mommy pelan. Kutunjuk kepalaku yang terus berdenyut dilanjuti bersinan berulang kali. Mommy beranjak mengambil beberapa obat flu dan sakit kepala. Daddy tadi hanya memberiku obat demam.
"Minum obat ini lagi sayang," perintah Mommy. Aku memandang horor obat itu. Padahal tadi aku sudah meminumnya sagu dan sekarang harus minum lagi.
"Ayo sayang, biar Quin cepat sembuh. Setelah ini istirahat," ucap Mommy membantuku meminum obat.
"Mommy temani Quin tidur?" pintaku. Mommy mengangguk.
Mommy yang menemaniku tidur sambil mengompres keningku dengan pereda demam yang dilengketkan di keningku dan mengurut lembut kepalaku yang sakit. Setiap satu jam mommy akan mengecek suhu tubuhku yang tetap 39°C tanpa ada perubahan. Mommy memberiku teh madu hangat dicampur perasan lemon dan pahit menjalari lidahku saat minuman itu masuk.
Aku tertidur hanya sejenak dan bangun setiap satu atau dua jam sekali karena flu yang menyumbat pernafasanku dan rasa pening yang mendera. Aku terus merintih sakit sedangkan mommy disampingku terus menenangkanku dan membuatku nyaman hingga tak lama akhirnya aku bisa tertidur dengan lelap.
Kubuka mataku pelan dan kamarku masih gelap, hanya ada sedikit sinar yang menembus tirai kamarku. Kugerakkan kepalaku ke samping dan merintih merasa pening itu belum sepenuhnya hilang. Kulihat jam yang menggantung menunjukkan angka 9.
'Aku bolos kuliah jadinya,' batinku kesal. Kulirik pintu yang mengeluarkan suara decitan. Mommy dan daddy masuk membawa nampan diikuti seorang pria tinggi. Xavielle? Aku terkejut tentu saja. Aku bahkan berencana menyembunyikan hal ini dari Xavielle.
"Mom~" rintihku. Mommy berjalan mendekat dan kembali mengecek suhu tubuhku. Setelah beberapa detik termometer itu berbunyi dan mommy melihat angka yang keluar disana.
Mommy memandang daddy dan Xavielle dengan gelengan. "38,5," lirih Mommy. Mommy membuka sebuah bungkusan di atas meja dan mengganti kompresan di kepalaku.
"Tidurmu nyenyak sayang?" tanya Mommy lembut.
"Sedikit Mom. Terimakasih sudah menjaga Quin," ucapku pelan hampir mirip bisikan. Mommy mengangguk dan setelahnya, mommy dan daddy meninggalkanku dengan Xavielle sebab mereka akan membuka restoran. Mommy dan daddy pergi setelah mengecup pelipisku.
Ruangan sunyi setelah mommy dan daddy pergi. Tidak ada yang mengeluarkan suara diantara kami. Xavielle tetap berdiri seperti posisi semulanya dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Kupandang wajah Xavielle dengan perasaan bersalah. Xavielle membalas pandanganku dengan tatapan datar. Xavielle pasti marah.
"X-xavielle," lirihku memaksa mengeluarkan suara.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanyanya datar. Ini pertama kalinya aku mendengar Xavielle bicara sedingin itu padaku. Kugigit kuat bibirku menahan isakan.
"Maafkan aku," lirihku lagi dengan suara serak.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk tetap di kamar? Bukankah aku sudah mengatakan jangan berpikiran untuk bermain hujan? Apa kau tidak mendengarnya?" geram Xavielle. Aku tak menjawab dan terus mengeluarkan air mata berusaha menahan isakan agar tidak keluar.
Tak kuat lagi menahan, kugigit kuat jariku agar isakan itu tidak keluar, tapi sia-sia. Isakanku terus keluar tak karuan. Aku bahkan menangis keras menutup erat mataku dan menggigit kuat jariku. Kurasakan seseorang duduk di sampingku dan itu pasti Xavielle.
"Quin? Quin?" Xavielle berusaha menghentikan tangisku dengan menarik lepas jariku yang berbekas gigitanku dan mengusapnya pelan. Xavielle mendekat ke wajahku mengusap air mata yang terus mengalir. Xavielle mengusap kelopak mataku agar tidak terpejam kuat.
"Quin, berhenti menangis. Mana yang sakit heum? Beritahu aku. Jangan menangis baby, buka matamu. Ayo, lihat aku. Quin, sayang," bujuk Xavielle pelan. Dengan sangat perlahan, pejaman di mataku mengendur dan terbuka melihat Xavielle di depan mataku. Aku masih segugukan melihatnya. Aku takut, Xavielle pasti marah. Aku tau aku salah.
"Xavielle, jangan marah. Quin salah. Quin tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan Quin. Maaf, jangan marah. Quin takut. Quin mohon," gumamku kembali menangis. Xavielle menarikku ke dalam pelukannya dan kurasakan dia mengangguk.
"Tidak sayang. Aku tidak akan marah lagi. Berhentilah menangis, nanti kepalamu makin sakit heum? Aku tidak akan marah lagi. Jangan takut baby," bisik Xavielle mengecupi kepalaku. Kira-kira hampir 10 menit aku berhasil menghentikan tangisku yang hanya tersisa segugukan. Xavielle mengusap air mata di wajahku dan mengusap kepalaku lagi.
"Maafkan aku," gumamku lagi. Xavielle mengangguk beberapa kali. Xavielle memberiku minum lalu menyuapiku bubur dengan sangat sabar. Aku hanya sanggup menghabiskan setengah bubur itu karena lidahku memang sangat pahit. Lalu Xavielle kembali membantuku minum obat.
Setelahnya, Xavielle membawaku duduk di atas pangkuannya dengan posisi berhadapan. Xavielle menarikku agar bersandar di d**a bidangnya dengan tanganku melingkari lehernya yang bersandar di headboard. Xavielle memeluk punggung ku dengan sangat erat lalu menciumi pelipisku.
"Quin, jangan ulangi lagi heum? Kau tau betapa khawatirnya kami mengetahui kau sakit? Jadi, jangan ulangi dan jangan sakit lagi sayang," bisik Xavielle tepat di telingaku.
Aku mendongakkan kepalaku dan melihatnya dengan pandangan menyesal. "Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Xavielle tersenyum hangat dan kembali membawa tubuhku lebih dekat.
"Xavielle~ Lidahku sangat pahit," aduku disusul dengan bersinan.
"Itu karena demam tinggimu sayang. Minumlah teh ini, lalu istirahat kembali biar kau cepat sembuh. Aku membenci gadisku berwajah pucat tak berwarna dan tak bersemangat seperti biasanya."
Xavielle membaringkanku dengan sangat lembut membawaku masuk ke dalam dekapannya menjadikan tangannya yang satu sebagai bantalku dan satunya lagi mengelus lembut kepala dan pipiku. Sedangkan aku, aku semakin mendekat ke arahnya sesekali menyusup lebih dalam mencari kehangatan tubuh Xavielle.
"Ini sungguh hangat," gumamku pelan. "Xavielle jangan tinggalkan aku kalau aku tidur ya? Xavielle jangan pergi," pintaku dengan suara yang hampir hilang sebab kantuk mulai mendera gegara elusan-elusan lembut Xavielle.
"Tentu saja. Aku akan tetap disini," bisik Xavielle mengecupku sekilas. Lalu setelahnya, aku langsung menjumpai mimpiku. Tidurku yang tak nyenyak semalam tergantikan sekarang.
( >ωω< ✿)
Aku tertidur cukup lama sampai aku melewatkan makan siangku. Kurasakan pelukan hangat mendekapku. Xavielle benar-benar disini sampai aku terbangun.
"Sudah bangun?" tanya Xavielle pelan. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis dilanjutkan dengan bersinan. Xavielle kembali mengecek suhu tubuhku.
"Masih 38,5." Xavielle kemudian mengganti pengompres yang lengket dikeningku dengan yang baru. Aku tersenyum melihat Xavielle yang sangat lembut dan sabar menjagaku.
"Kenapa tersenyum heum?" tanyanya memainkan rambutku. Aku menggeleng pelan. Xavielle bangkit dan mengambil nampan yang sudah ada bubur dan obat.
"Makan dulu Quin. Kau melewatkan waktu makan siangmu," kata Xavielle menyendokkan bubur ke mulutku. Aku memandang bubur itu tanpa minat. Bibirku terkatup rapat agar makanannya tidak masuk ke mulutku. Kupandang Xavielle dan menggeleng pelan.
"Quin, kau harus makan biar bisa minum obat. Demammu masih tinggi," bujuk Xavielle.
Aku menggeleng. "Aku tidak selera. Pahit," aduku.
"Itu karena demammu baby, makan dulu lalu minum obat biar cepat sembuh dan lidahmu tidak pahit," bujuknya lagi. Aku tetap menggeleng semakin merapatkan selimut ke bibirku. Xavielle meletakkan kembali bubur itu ke nampan dan mendekatiku.
"Quin ingin makan apa? Ada yang Quin inginkan? Mc Donald? French fries? Pizza?" Aku terdiam. Benar! Aku ingin makanan yang lain. Mataku berbinar dan kunaikkan pandanganku ke arah Xavielle. Xavielle menaikkan sebelah alisnya.
"Quin mau roti," bisikku.
"Roti? Roti apa?" tanyanya.
"Melon bread." Xavielle mengangguk dan memintaku menunggu sebentar sementara dia pergi membelinya.
Sekitar 10 menit, Xavielle tiba, dengan segera kulahap habis semua roti yang dibawa Xavielle.
"Pelan-pelan Quin, aku tidak akan mencurinya darimu," tegur Xavielle yang kubalas cengiran. Setelahnya Xavielle membantuku meminum obat dan menonton sebentar. Tak lama aku kembali tidur lagi setelah makan malam buatan mommy disuap Xavielle dan meminum obat. Aku sudah tidur namun sayup-sayup masih kudengar percakapan Xavielle dengan mommy dan daddy yang mengucapkan terimakasih sebab sudah menjagaku dengan sangat baik dan demamku juga sedikit menurun.
Xavielle mengecup keningku lembut dan membisikkan, "Get well very soon babe." Lalu keluar dari kamarku.