Hari ini, hari ke-2 Quin sakit. Demamnya masih belum juga turun, malah akan tambah naik lagi saat malam menyambut. Hari ini juga Quin akan bolos kuliah lagi.
Pagi tadi, Xavielle juga bolos kuliah dan memilih menjaga Quin sampai siang, sebab siang hingga malam nanti mungkin, Xavielle ada urusan di militernya dulu bersama kakeknya, sang Raja. Oleh karena itu Xavielle memilih bolos agar bisa melihat Quin di paginya.
Untuk makan siang ini, Quin meminta mommynya untuk tidak membuat bubur. Quin gadis yang membenci bubur. Jadi, hanya nasi yang hampir menjadi bubur atau bisa dikatakan setengah bubur. Mommy Quin masuk ke dalam kamar Quin diikuti seorang wanita.
"Quin~" panggil Mommynya menyadarkan Quin yang sedang berbaring membelakangi pintu. Quin menoleh dan terkejut dengan wanita di samping mommynya.
"Grandma~" lirih Quin. Ya. Itu Ratu Victoria, grandmanya William dan grandmanya Quin juga.
Ratu sangat merindukan Quin makanya dia datang, tapi begitu tiba, dia mendapat kabar buruk dari orangtua Quin, kalau cucunya itu sedang sakit. Ratu mengatakan ingin melihat kondisi Quin dan disinilah dia sekarang.
Ratu berjalan mendekati Quin dan duduk disebelahnya. Quin berusaha bangkit dari tidurnya untuk menunduk, namun Ratu menahannya. Walaupun Quin memanggilnya grandma, dia tetap Ratu bukan.
"Tetaplah berbaring sayang. Jangan paksa tubuhmu untuk bangkit," larang Ratu mengelus lengan Quin. Quin tersenyum dan menuruti perintah grandmanya.
"Bagaimana kabar Grandma?" tanya Quin pelan.
"Baik sayang. Kabar Grandma baik. Kenapa kau bisa sakit?" tanya Ratu khawatir mengusap pengompres di kening Quin.
"Quin nakal grandma. Tidak mau mendengar omongan orangtuanya yang melarangnya main hujan kemarin makanya bisa sakit," sahut Mommy seperti mengadu karena mommynya tau kalau Quin tidak akan menjawab. Ratu mengalihkan pandangannya dari mommy Quin dan menatap Quin terkejut. Yang ditatap hanya menyengir kuda.
"Anak nakal! Kenapa masih mau main hujan kalau sudah dilarang heum?" omel Ratu menepuk pelan paha Quin.
Sebelum menjawab, Quin bersin beberapa kali ke arah bantalnya. "Quin suka hujan Grandma~" ucap Quin polos. Ratu yang tadinya ingin mengomel sedikit lagi, batal karena tidak menyangka ucapan polos cucunya ini. Mommy Quin mendekat dan seperti biasa mengecek suhu tubuh Quin dan hasilnya masih sama.
"Berapa suhu tubuh cucuku?" tanya Ratu ingin tahu. Mommy memandang Ratu dengan pandangan sayu dan menggeleng. "38. Sudah sedikit menurun." Mommy juga kembali mengganti kompresan Quin dan menyuruhnya untuk makan.
"Quin, ayo makan dulu lalu minum obat," ucap Mommy membantu tubuh lemas Quin bangkit dari berbaringnya.
Ratu meminta agar dia yang menyuapi Quin. Mommy Quin menolak karena lagi-lagi mana mungkin seorang Ratu menyuapi anak mereka. Tapi Ratu balik membalas kalau Quin adalah cucunya.
Bukannya ingin bersikap tidak sopan, Ratu dengan cepat merampas mangkuk makanan Quin dan tersenyum ke arah mommy Quin. Mommynya hanya tertawa dan mengangguk mengalah.
Quin yang tau kalau grandmanya yang akan menyuapinya, dengan cepat Quin membuka mulutnya. Mommy Quin mendapat panggilan dari suaminya untuk menjaga restoran sebentar oleh karenanya mommy Quin turun meninggalkan Quin dan grandmanya.
"Kenapa tidak makan bubur sayang? Ini masih setengah bubur," tanya Ratu penasaran.
Quin menggeleng. "Quin tidak suka bubur Grandma," cicit Quin tersenyum malu setelah dia selesai menelan makanannya. Ratu tertawa lepas dan mencubit gemas pipi Quin.
Quin sudah menghabiskan setengah dari makanannya. "Grandma~ perut Quin sudah tidak muat lagi," adu Quin manja memegangi perutnya. Ratu mengangguk dan menyuruhnya untuk meminum obat. Lagi-lagi Quin meminum obat itu dengan penuh paksaan. Dia sungguh tidak kuat obat-obat bulat itu tertelan begitu saja, tak lupa dengan rasa pahit yang membekas di lidahnya.
Dan tidak tau kenapa, setiap dia selesai meminum obat, pasti disusul dengan bersinan yang berulang-ulang. Seperti saat ini, dia langsung membalikkan tubuhnya ke arah bantal dan bersin di sana hingga hidungnya memerah.
Ratu memandang Quin sedih. "Lain kali jangan main hujan lagi sayang. Lihat! Kau jadi demam tinggi, flu, wajahmu menjadi sangat pucat dan tubuhmu lemas tak bertenaga seperti biasanya. Grandma membenci semua itu. Grandma sedih melihat cucunya sakit. Grandma ingin cucunya ini tetap sehat, semangat dan ceria seperti biasanya. Bukan berbaring di sini sayang," ucap Ratu mengelus rambut Quin dengan sangat lembut. Mata Quin berkaca-kaca sebab terharu dengan ucapan grandmanya yang notabene seorang Ratu, seorang penguasa dan bukan grandma kandungnya, tapi bisa sangat menyayanginya.
Quin tersenyum haru dan mengangguk. "Quin akan cepat sembuh Grandma. Quin tidak akan membuat Grandma sedih lagi. Quin menyayangi Grandma seperti Grandma Quin sendiri."
"Grandma juga sangat menyayangi Quin seperti cucu grandma sendiri," balas Ratu tersenyum hangat. Quin bangkit dan memeluk erat grandmanya. Mereka tertawa haru dengan suasana ini.
"Sekarang, Quin istirahatlah biar obatnya cepat bereaksi. Grandma akan pulang sebentar lagi karena ada urusan." Quin mengangguk dan mengambil posisi nyaman untuk tidur. Tangan Quin menggengam erat tangan Ratu yang satu, sedangkan tangan yang lain mengelus lembut rambut Quin membantunya cepat terlelap.
Tak butuh waktu lama sang Ratu berhasil membuat cucunya terlelap. Ratu tersenyum dan dengan perlahan melepaskan tangannya dari genggaman erat Quin.
"Cepat sembuh sayang, Grandma akan berdoa agar bayi Grandma ini cepat sembuh," bisik Ratu di telinga Quin dan mengecup kepalanya kemudian pergi meninggalkan kamar Quin setelah mematikan lampu kamar itu.
( >ωωωω< ✿)
Di sisi lain, Xavielle yang tengah bersandar di headboard berencana untuk menelepon gadisnya. Xavielle juga mengkhawatirkan Quin dan sangat ingin menjumpainya sekarang, tapi tidak mungkin. Xavielle mencoba untuk terus menelepon Quin namun tidak diangkat. Xavielle beralih menelepon mommy Quin dan untungnya diangkat.
"Halo Aunty?" sapa Xavielle saat suara operator hilang.
"Xavielle? Ada apa?" tanya Mommy Quin pelan. "Oh, mau tau tentang keadaan gadismu ya?" goda mommy Quin dan tertawa.
"Iya Aunty," jawab Xavielle tertawa. "Maaf mengganggu malam-malam Aunty. Tadi Xavielle telepon Quin tapi tidak diangkat," lanjut Xavielle.
"Tidak apa sayang. Quin masih sama, namun demamnya sudah turun menjadi 38. Sebentar ya Aunty lihat Quin," kata Mommy Quin di sebrang sana menuju kamar Quin. Mommy Quin melihat Quin sudah tertidur pulas.
"Xavielle, Quin sudah tidur," bisik Mommy Quin berusaha tidak membuat suara ribut agar tidak membangunkan Quin.
"Oh, baiklah Aunty. Apa dia sudah makan?" tanya Xavielle.
"Sudah, Quin makan dengan baik dan Quin juga sudah meminum obatnya," jelas Mommy Quin. Xavielle lega mendengar penjelasan auntynya.
"Mom~" Xavielle mendengar lirihan gadisnya di sana dengan suara serak.
"Yes baby? Mommy disini. Ingin bicara dengan Xavielle? Mommy sedang bicara dengan Xavielle," tanya Mommy Quin membuat Xavielle berdebar menunggu suara Quin. Quin mengangguk senang dan mommy Quin menyerahkan teleponnya.
"Halo," sahut Quin pelan.
Xavielle tersenyum senang, setidaknya rindunya terobati dengan suara Quin.
"Sudah merasa lebih baik sayang?" tanya Xavielle. Quin hanya bergumam dan menggeleng padahal Xavielle tidak mengerti apa yang dikatakannya sebab Xavielle juga tidak dapat melihat gelengan Quin.
"Quin rindu Xavielle~" gumam Quin dengan nada yang manja.
Xavielle tersenyum lebar. "Aku lebih merindukanmu baby~" balas Xavielle membuat Quin tertawa senang.
"Besok aku akan datang, jadi tunggu aku," janji Xavielle.
Quin menggangguk. "Tapi Xavielle jangan bolos kuliah. Selesai kuliah baru datang ya," pinta Quin dan Xavielle menurutinya.
"Baiklah. Sudah malam, lanjutlah istirahat," perintah Xavielle.
"Iya, Xavielle juga istirahat," balas Quin dengan sangat pelan karena kantuk mulai menjemputnya.
"Tentu sayang. Good nite and get well soon baby," ucap Xavielle dan tak mendapat jawaban sebab Quin sudah tertidur.
Xavielle mendengar suara tawa mommy Quin. "Quin sudah tidur Xavielle," sahut mommy Quin disana.
Xavielle tertawa. "Baiklah Aunty. Besok Xavielle akan datang. Aunty juga istirahatlah. Selamat malam," balas Xavielle.
"Baik sayang. Selamat malam," ucap Mommy Quin memutuskan sambungan dan memperbaiki selimut Quin lalu kembali ke kamarnya.