Quin kembali ke kampus setelah sakit selama 3 hari. Tetapi mommy Quin tetap membuatkan nasi setengah bubur untuk sarapan, makan siang dan malamnya. Mommy Quin juga melarang untuk melakukan pekerjaan berat selama seminggu ini seperti membantu di restoran.
Seperti biasa, Quin berjalan memasuki kampusnya dengan senyum ceria. Semua orang di kampus senang melihat kembalinya Quin. Mereka merasa sedikit sedih mengetahui Quin sakit dan sepi tidak melihat Quin si gadis ceria ini.
Dia menyapa setiap orang yang melihat, memanggil atau tersenyum ke arahnya. Sedangkan di lobby, sudah ada Xavielle yang sedang memperhatikan dan menunggu gadisnya agar bisa bersama ke kelas.
Xavielle ikut tersenyum melihat gadisnya sudah kembali ceria di sana. Quin yang melihat eksistensi Xavielle langsung berlari semangat ke arah pria itu. Xavielle yang melihatnya tertawa dan bersiap menangkap Quin, sebab dia tau Quin tidak bisa mengerem tubuhnya.
"Hihihihi~" Quin terkikik sendiri setelah tubuhnya berada di pelukan Xavielle.
"Senang heum?" tanya Xavielle mencubit gemas pipi Quin yang sudah mulai sedikit berwarna. Quin mengangguk beberapa kali dengan antusias lalu saling bergandeng tangan menuju kelas.
Xavielle membuka pintu kelas dan terdengar suara ledakan confetti oleh teman-temannya saat Quin masuk. Quin terkejut namun tidak bisa menahan bahagianya. Mereka menyambut kedatangan Quin setelah sakit kemarin.
Mata Quin berbinar senang melihat confetti yang berterbangan di atasnya sambil menerima beberapa hadiah kecil dari teman-temannya. Quin memeluki teman-temannya dan mengucapkan terimakasih. Xavielle memilih bergabung bersama temannya dan memandang Quin dari tempatnya.
"Sepi sekali memang rasanya kelas ini tanpa Quin."
"Benar. Dia selalu saja tersenyum, sangat senang melihat senyumannya."
"Dia juga sangat cantik. Segar rasanya melihatnya kembali."
"Lelahku bahkan hilang setelah melihat senyumannya."
"Rinduku juga terobati setelah melihatnya sembuh."
Xavielle berdecak sebal mendengar gumaman teman-temannya ini. Xavielle dengan gerakan yang sangat cepat menyentik kening kelima temannya seperti yang sering dilakukannya pada Louis.
"Aww s**t! Xavielle!" pekik teman-teman Xavielle kesakitan.
"Sekedar mengingatkan, gadis yang kalian bicarakan itu sudah ada yang punya dan mengingatkan lagi yang punya itu aku!" tegas Xavielle mengingatkan.
"Ya kami tau itu!"
"Kami merelakan Quin untuk kau miliki, harusnya kau juga berbaik hati membiarkan kami mengaguminya!"
"Iya. Kau pelit sekali!"
Teman-teman Xavielle mengomel karena larangan Xavielle mengagumi gadisnya. Mereka berhenti mengomel setelah menyadari kedatangan Quin yang tersenyum indah memandang Xavielle.
"Dia seperti bidadari dari kayangan."
"She's like an angel!"
"Tidak akan ada kata bosan melihat dirinya."
Quin tertawa mendengar gumaman teman-teman William. Sedangkan Xavielle memutar bola matanya malas. Sudah berapa kali Xavielle bilang kalau Quin itu miliknya!
"Terimamasih," cicit Quin tersenyum malu. Teman-teman Xavielle mengangguk dengan senyum bodoh mereka menurut Xavielle.
Xavielle merangkul bahu Quin mendekat ke tubuhnya dan memandang tajam teman-temannya. "She's mine!" tegas Xavielle sekali lagi lalu membawa Quin ke tempat duduk mereka.
"You're mine baby," bisik Xavielle pada Quin. Quin mendongak dan tersenyum manis.
"Yes I know," ucap Quin mendayu di telinga Xavielle.
Teman-teman Xavielle menganga tidak percaya dengan sifat posesifnya Xavielle. Tapi mereka juga tidak mempersalahkan itu, sebab jika mereka jadi pasangannya Quin, pasti akan bersikap begitu juga. Quin bahaya untuk pria.
Ah! Semenjak mereka berpacaran, Xavielle meminta Quin untuk duduk di sampingnya yang memang kosong. Quin merasa tidak enak pada Carla namun Carla tidak mempersalahkan itu. Carla juga sudah tidak dikucilkan lagi oleh sekitarnya. Carla juga sudah diterima oleh teman-teman sekitar dan itu semua berkat sikap tegas Quin.
'Hadiah terbesar dalam hidup ini adalah persahabatan dan semua orang pasti mendapatkan itu. Tetapi hanya karena dia itu seorang yang nerd, dia tidak mendapatkan hadiah itu? Bukankah kita juga sama dengannya? Kita berasal dari pencipta yang sama. Pasti akan terasa sangat menyedihkan saat semua keberhasilan dan kebahagiaan yang didapat, terlewati tanpa ditemani oleh orang-orang tersayang. Pernahkah kita memikirkan perasaannya? Pernahkah kita berpikir untuk sekali saja bagaimana berada di posisinya? Oleh karenanya, semoga kata-kata Quin tadi bisa menumbuhkan pikiran teman-teman dan berhenti untuk menjauhi Carla. Carla orang yang baik dan sama seperti kita, cuma Carla lebih suka penampilan yang berbeda dari kita. It's okay right?'
Saat itu, semua teman-teman Quin merenungi perkataan Quin. Mereka juga membenarkan perkataan Quin, jika kita yang berada di posisi orang yang dikucilkan itu pasti akan sangat menyedihkan. Mulai dari situ, satu per satu dari mereka mulai menerima Carla, mengajaknya bicara dan sudah tidak memandang Carla sebelah mata. Carla sangat-sangat berterimakasih pada Quin dan Quin juga bahagia Carla mulai memiliki banyak teman.
Waktu itu, Quin sudah berpacaran dengan Xavielle. Xavielle memeluk Quin dengan erat karena dia juga merasa sangat bangga dengan pikiran dewasa gadisnya ini. Gadisnya tampak sangat lucu, menggemaskan dan polos, tetapi Quin mempunyai pemikiran yang luas dan dewasa.
Meski pun duduk bersama, Quin dan Xavielle selalu menjaga profesionalitas saat kelas berlangsung. Mereka akan bertindak layaknya mahasiswa yang lain mengesampingkan status pacaran mereka, namun terkadang Xavielle akan terus memandangi Quin jika dia merasa bosan dengan pelajarannya dan sifat posesif Xavielle yang tetap tidak hilang walau kelas berlangsung.
"Seperti kebiasaan kita setiap tahun, universitas akan menggelar acara fashion show yang akan di sponsori oleh designer ternama negara ini. Oleh karenanya, silahkan tentukan siapa yang akan menjadi wakil dari kelas kita ini," ucap Mrs. Corina.
Semua siswa sibuk berunding siapa yang akan menjadi perwakilan kelas kecuali Xavielle dan Quin yang sibuk dengan dunia mereka. Mereka saling memandang dengan Xavielle meletakkan wajahnya di meja memandang wajah Quin dari samping. Quin menusuk-nusuk pelan jari lentiknya di hidung Xavielle berharap itu mengeluarkan suara seperti boneka-boneka pajangan.
"Baiklah. Quin yang terpilih menjadi perwakilan kelas kita," putus Mrs. Corina setelah mengumpulkan voting terbanyak dan semua siswa memilih Quin. Pilihan mereka tidak salah.
Quin dan Xavielle menoleh bingung pada Mrs. Corina dan teman-temannya. Quin menolak dan terus menolak namun sia-sia. Mrs. Corina telah memutuskannya dan Quin pun pasrah dan berkata akan melakukan yang terbaik. Xavielle juga tidak melarang Quin untuk menjadi perwakilan kelas.
( >ωω'oh! They're very romantic!'
"Dan yang mendapat posisi satu serta peran penting saat acara nanti adalah Queenaia Charlotte Lafaisha Oswald dari jurusan Hukum Ethereal," seru seorang juri dari atas panggung.
Quin sontak melepaskan pelukannya dan memandang Xavielle tak percaya. Xavielle tersenyum dan mengangguk kemudian mengecup sekilas kening Quin. "Selamat baby," bisik Xavielle. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak. Quin yang merasa sangat bahagia hanya bisa tersenyum dan membungkuk mengucapkan rasa terimakasih.
Quin masih belum percaya dia berhasil melewati test itu dan tidak mengecewakan sekitarnya. Quin terus tersenyum hingga tanpa sadar Quin menjinjitkan kakinya untuk mengecup sekilas bibir Xavielle lalu setelahnya menenggelamkan wajah di d**a Xavielle karena malu.
Xavielle tentu saja terkejut. Ini pertama kalinya Quin yang menciumnya duluan. Terlanjur gemas, Xavielle memeluk erat Quin dan wajahnya mendekati wajah Quin menciuminya asal sampai Quin kegelian.
"Aku tau kau akan berhasil," ucap Xavielle saat mereka berjalan bersama keluar gerbang. Quin menoleh dan mengangguk tertawa.
"Sekarang pulanglah. Banyak istirahat dan jangan melakukan pekerjaan apapun, kau mengerti?" perintah Xavielle membingkai wajah Quin. Quin mengangguk lagi dan pergi meninggalkan Xavielle setelah mereka berpelukan. Xavielle akan memasuki mobilnya setelah melihat gadisnya menghilang dari pandangannya dan itu sudah kebiasaannya.
( >ωω'Apa grandma mengetahui hubunganku dengan Quin?' batin Xavielle berbicara.
"Emm, m-masih grandma. Ada apa?" tanya Xavielle penasaran.
Ratu tersenyum dan menggeleng. "Bagaimana keadaannya? Apa saja yang dilakukannya?" tanya Ratu lagi. Xavielle sedikit bingung, cuma dia tetap saja menjawabnya.
"Dia baru sembuh dari sakitnya selama 3 hari dan tadi hari pertamanya masuk. Dia juga lulus test sebagai pemeran utama saat Hemelse Fashion Show nanti," jelas Xavielle diam-diam tersenyum mengingat gadisnya itu.
"Benarkah? Wah, gadis itu sangat hebat. Dia pantas mendapatkan peran itu sepertinya," seru Ratu semangat dan Xavielle menganggukinya.
"Ada apa Grandma? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Quin?" tanya Xavielle tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Ratu tertawa dan menggeleng. "Just asking boy," jawab Ratu dan lanjut menikmati biscuit chocolatenya.