“Detak jantung pasien naik seratus empat puluh kali per menit, tensinya terus merosot!”
Suara teknisi anestesi memecah kesunyian dingin di Ruang OK 4. Cahaya terang lampu operasi menyinari meja bedah stainless steel, membiaskan atmosfer mencekam yang membuat seluruh tim medis menahan napas.
Di luar ruangan, Kalanya terus menggosok jemari dan lengannya dengan cairan antiseptik di bawah kucuran air kran otomatis. Gerakannya terukur, ritmis, dan presisi—mengikuti standar prosedur sterilisasi tertinggi yang telah menjadi kebiasaannya selama lima tahun di Jerman. Namun, di balik ketenangan geraknya, jantung Kalanya berdegup jauh lebih kencang dibanding grafik monitor EKG di dalam sana.
Derap langkah kaki yang tegas terdengar mendekati area scrubbing.
Sesosok pria bertubuh jangkung berhenti tepat di bak cuci tangan sebelah kanan Kalanya. Pria itu menyalakan air, mengulurkan kedua tangannya yang berotot dengan gerakan tenang namun mengintimidasi. Bau sabun antiseptik yang familier menguar di udara.
Kalanya melirik tipis dari sudut matanya. Seketika itu juga, jemarinya membeku di bawah kucuran air.
dr. Bhaskara Nalendra Danudirdja berdiri di sana.
Pria itu mengenakan scrub hijau gelap, menyingsingkan lengan bajunya hingga memperlihatkan urat-urat tegas di lengan bawahnya. Garis rahangnya semakin tajam, dengan beberapa helai rambut hitam yang mencuat dari balik topi bedahnya. Bhaska mematikan kran air dengan siku, lalu meraih tisu steril untuk mengeringkan tangannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kalanya.
“Bagaimana kondisi diseksi pasien?” tanya Bhaska datar, ditujukan pada Suster Ratna yang berdiri tegang di ambang pintu.
“Robekan pada aorta ascender sudah mencapai belasan sentimeter, Dokter,” jawab Suster Ratna cepat. “Tim perfusionist sudah siap menyambungkan mesin bypass.”
“Bagus. Saya tidak mau ada penundaan satu detik pun,” balas Bhaska dingin. Pria itu membuang tisu bekas ke tempat sampah medis dengan gerakan efisien, lalu mendorong pintu swing otomatis menggunakan punggungnya untuk masuk ke ruang OK 4.
Kalanya menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menguasai gemuruh di dadanya. Kamu profesional, Kalanya. Kamu di sini untuk menyelamatkan nyawa pasien, bukan untuk masa lalu, batinnya menegaskan. Ia menyusul masuk ke dalam ruangan steril yang dingin menusuk tulang.
Di dalam ruangan, dua perawat asisten dengan sigap membantu Bhaska mengenakan gaun bedah steril dan sarung tangan karet. Bhaska membiarkan dirinya dilayani dalam diam, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan citra CT scan toraks pasien.
Kalanya melangkah mendekati meja instrumen utama. Tangan luwesnya mulai memeriksa set instrumen bedah vaskular khusus yang telah ditata dengan rapi.
“Suster asisten utama mana?” tanya Bhaska, suara beratnya teredam masker hijau yang menutupi separuh wajahnya.
“Suster Laras sedang memegang kendali mesin perfusionist, Dokter,” sahut Suster Ratna dari sudut ruangan. “Untuk scrub nurse utama, kita didampingi Suster Kalanya. Beliau spesialis bedah toraks senior rujukan dari Jerman.”
Langkah kaki Bhaska yang hendak mendekati meja operasi terhenti seketika.
Pria itu membalikkan badan secara perlahan. Di atas masker bedahnya, sepasang mata tajam beriris pekat itu kini terkunci lurus pada wajah Kalanya. Pendar matanya begitu dingin, tajam, dan sarat akan keterkejutan yang langsung disembunyikan di balik ketenangan yang diperhitungkan.
Ruang operasi mendadak hening seketika. Suara bising mesin pendingin udara seolah menguap, menyisakan ketegangan yang pekat dan mencekik di antara mereka berdua.
Kalanya membalas tatapan itu. Ia tidak menunduk, tidak juga mengalihkan pandangannya. Di balik masker steril yang membungkus wajahnya, Kalanya tegak berdiri memamerkan postur perawat profesional yang siap menjalankan tugas.
“Siapa nama kamu?” tanya Bhaska rendah. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membekukan udara di dalam ruangan.
“Kalanya Swastika, Dokter,” jawab Kalanya tenang dan lugas. Suaranya tidak bergetar sama sekali, menutupi badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. “Saya bertugas sebagai scrub nurse utama Anda hari ini.”
“Nama kamu tidak ada di daftar tim utama pagi ini,” cecar Bhaska dengan nada menuntut penjelasannya.
“Saya diutus Suster Ratna untuk menggantikan perawat sebelumnya karena penanganan kasus cito ini butuh keahlian vaskular khusus,” sahut Kalanya tanpa goyah.
“Kamu yakin bisa menangani ritme kerja saya?” potong Bhaska cepat.
“Saya di sini untuk bekerja secara profesional sesuai kualifikasi medis saya, Dokter,” tegas Kalanya.
“Kualifikasi Jerman tidak selalu menjamin kesiapan mental di meja bedah saya,” cetus Bhaska dingin, melangkah satu tapak lebih dekat ke area meja steril.
“Standar yang saya pelajari di Munich mencakup toleransi tekanan tinggi di bawah situasi paling kritis sekalipun,” balas Kalanya tenang, menatap lurus ke iris mata hitam pria itu. “Anda bisa membuktikannya sendiri sepanjang tindakan ini berlangsung.”
Bhaska terdiam sejenak, menimbang setiap kata yang diucapkan wanita di hadapannya. “Berapa lama kamu menangani kasus diseksi aorta selama di Jerman?”
“Lebih dari empat puluh kasus dalam dua tahun terakhir, Dokter. Mayoritas tipe A dengan robekan ekstensif,” jawab Kalanya tanpa keraguan sedikit pun.
“Suster Laras, bagaimana persiapan kanulasi pada mesin bypass?” tanya Bhaska tiba-tiba, mengalihkan pandangannya ke arah tim perfusionist tanpa melepas ketegangan di wajahnya.
“Kanula arterial dan vena sudah terpasang rapi, Dokter! Suhu mesin priming sudah stabil di tiga puluh tujuh derajat,” jawab Laras dari balik konsol mesin jantung buatan.
“Dokter Anestesi, bagaimana kedalaman pembiusan?” lanjut Bhaska melontarkan pertanyaan beruntun.
“Pasien sudah teranestesi penuh, hemodinamik dibantu obat inotropik dosis sedang. Kita harus segera membuka d**a pasien sebelum robekannya makin parah,” sahut Dokter Anestesi dengan raut tegang.
Bhaska menghembuskan napas berat dari balik maskernya, lalu kembali menatap Kalanya. “Persiapkan set sternal saw dan klem aorta terbesar. Saya tidak mau menunggu begitu pendarahan dibuka.”
“Set bedah sternotomi sudah siap di baki sebelah kanan Anda, Dokter. Klem Satinsky dan DeBakey dalam posisi siap pakai,” potong Kalanya cepat sebelum Bhaska selesai memberikan instruksi lengkap.
Tatapan Bhaska menyipit tipis. Ada riak keterkejutan kecil yang melintas di matanya saat menyadari betapa cepat dan presisinya Kalanya membaca alur penanganan tanpa perlu diperintah dua kali.
“Bagaimana dengan benang suture monofilamen ukuran 4-0 dan 5-0?” tanya Bhaska menguji ketelitiannya.
“Sudah terpasang di needle holder masing-masing. Bovine pericardial patch untuk rekonsolidasi dinding aorta juga sudah disiapkan dalam larutan steril,” sahut Kalanya lugas.
“Bagus. Jangan sampai ada gerakan yang tidak perlu di meja instrumen,” tegas Bhaska penuh nada peringatan.
“Setiap instrumen berada tepat di posisi yang paling efisien untuk jangkauan tangan Anda, Dokter,” jawab Kalanya lugas. “Anda tidak akan kehilangan waktu satu detik pun.”
“Kita buktikan itu sekarang,” balas Bhaska dingin.
Bhaska menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Tatapannya seolah menelanjangi seluruh benteng pertahanan yang telah dibangun Kalanya selama lima tahun terakhir. Namun, kedipan monitor EKG yang makin tidak teratur memaksa pria itu menarik kembali fokus medisnya.
“Kita mulai operasinya sekarang,” perintah Bhaska dingin seraya berbalik menghadapi tubuh pasien yang telah ditutupi duk steril. “Tekanan darah pasien makin tidak stabil. Jangan ada yang membuat kesalahan.”
“Baik, Dokter,” sahut seluruh tim di ruangan itu serempak.
Kalanya mengambil posisi berdiri tepat di sisi kanan meja operasi, berhadapan langsung dengan Bhaska di seberangnya. Hanya dipisahkan oleh tubuh pasien dan tumpukan kain steril, jarak mereka kini tak sampai satu meter. Bau parfum kayu yang biasa dipakai Bhaska dahulu seolah samar-samar masih tercium di antara aroma antiseptik yang tajam.
“Scalpel nomor sepuluh,” minta Bhaska tajam, mengulurkan telapak tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan karet steril di atas d**a pasien.
Kalanya bergerak tanpa ragu. Jemarinya yang terampil meraih gagang pisau bedah stainless steel dari atas baki. Dengan gerakan refleks yang sempurna dan presisi, ia meletakkan gagang pisau itu tepat di telapak tangan Bhaska, memastikan posisi bilahnya menghadap ke arah yang benar untuk sayatan pertama.
“Ukurannya tepat?” tanya Bhaska singkat tanpa menoleh.
“Satu titik lima sentimeter, sesuai standar presisi sayatan Anda, Dokter,” sahut Kalanya cepat.
Sensasi gesekan singkat antara sarung tangan mereka mengirimkan sengatan yang tak kasat mata.
Bhaska menerima pisau bedah itu, namun ia tidak segera menorehkannya ke kulit pasien. Pria itu menahan tangannya di udara selama satu detik, lalu perlahan mengangkat pandangannya. Matanya mengunci iris mata Kalanya sekali lagi di atas meja operasi.
Dengan suara berbisik yang begitu rendah namun sangat dingin dan menohok di balik maskernya, Bhaska berkata, “Saya tidak tahu RS Sentra Mulia mempekerjakan perawat yang suka melarikan diri dari tanggung jawab.”