“Suhu pasien sudah turun ke tiga puluh dua derajat, aliran bypass penuh!”
Suara perfusionist yang memantau panel instrumen terdengar konstan, menyatu dengan irama mesin Heart-Lung Machine yang resmi mengambil alih seluruh sirkulasi darah dan fungsi paru-paru pasien. Di dalam Ruang OK 4, atmosfer terasa begitu dingin dan pekat, seolah udara di sekitar meja bedah terkunci dalam tekanan tinggi.
“Sternum saw,” minta Bhaska singkat, mengulurkan telapak tangannya tanpa berpaling sedetik pun dari bidang operasi.
Sebelum gema suaranya habis di udara, Kalanya sudah meletakkan gergaji tulang khusus itu tepat di atas telapak tangan kanan Bhaska. Posisinya begitu presisi hingga Bhaska tidak perlu menggeser cengkeramannya sedikit pun untuk langsung bekerja.
Garis d**a pasien terbuka rapi. Kalanya bergerak secepat kilat meraih retractor untuk membuka lapangan pandang bedah, disusul kassa steril bertekanan untuk menahan pendarahan tepi jaringan. Gerakannya begitu tangkas, mengalir tanpa henti, persis seperti tarian yang telah dilatih ribuan kali.
“Suction,” titah Bhaska pendek.
Satu detik. Kalanya memosisikan ujung penyedot cairan tepat dua sentimeter di samping jaringan aorta yang membengkak kebiruan, menyedot genangan darah yang berisiko menutupi pandangan dokter utama.
“Kamu bergerak terlalu cepat, Suster,” celetuk Bhaska dingin, matanya yang tajam tetap berfokus pada robekan halus di dinding pembuluh darah utama.
“Saya menyesuaikan dengan kecepatan aliran darah yang tersisa di katup, Dokter,” balas Kalanya lugas. “Robekan aorta ascender-nya melebar ke arah arcus. Kalau kita terlambat dua milimeter saja memasang klem, arteri karotis pasien bisa tersumbat.”
Bhaska tidak membalas. Namun, gerakan jemarinya yang terampil makin menjadi-jadi dalam memasang benang monofilamen. Ia bekerja dengan tingkat presisi ekstrem—sebuah kombinasi kecepatan luar biasa dan perhitungan dingin yang hanya dimiliki oleh segelintir dokter bedah jantung di dunia.
“Klem DeBakey,” pinta Bhaska.
Kalanya menyodorkan instrumen berujung bengkok itu sebelum Bhaska sempat mengulurkan tangannya sepenuhnya.
“Saya belum selesai menyebutkan ukurannya,” gumam Bhaska dengan nada datar yang menusuk.
“Ukuran medium dua belas sentimeter adalah satu-satunya pilihan yang pas untuk sudut anatomi pasien saat ini, Dokter,” jawab Kalanya tanpa keraguan. “Kecuali kalau Anda ingin merusak jaringan di sekitarnya.”
Beberapa perawat asisten yang berdiri di sekeliling meja operasi menahan napas. Belum pernah ada perawat asisten baru—bahkan perawat senior sekalipun—yang berani memotong atau mendahului pemikiran dr. Bhaska di tengah tindakan kritis.
“Bagus kalau kamu merasa lebih tahu dari saya,” sinis Bhaska pendek. Tangannya langsung menyambar klem tersebut dan memasangnya pada pangkal aorta dengan satu gerakan mantap.
“Laju pompa mesin stabil di empat koma dua liter per menit!” seru Laras dari balik meja kendali perfusion. “Tekanan arteri terkontrol!”
“Pertahankan,” sahut Bhaska tegas. “Kita masuk ke tahap rekonstruksi dinding pembuluh darah. Ambil bovine patch.”
Kalanya meraih potongan jaringan sintetis steril dari wadah larutan khusus, memotongnya dalam bentuk elips dengan ukuran beberapa milimeter menggunakan gunting jaringan, lalu menyerahkannya bersama needle holder yang sudah terpasang benang jahit super tipis.
“Berapa milimeter presisi potongannya?” tanya Bhaska tiba-tiba sambil memiringkan kepala.
“Empat milimeter di sisi melengkung, enam milimeter di bagian tengah. Pas untuk menutupi defek,” jawab Kalanya lugas.
“Jangan membuat asumsi ukuran tanpa mengukur ulang dengan penggaris bedah,” tegur Bhaska tajam.
“Saya sudah mengukurnya dengan mata telanjang dan skala visual sebelum memotong, Dokter. Hasilnya akan pas,” balas Kalanya tanpa sedikit pun gestur ragu.
“Perhatikan posisi clamp sekunder di sebelah kiri,” potong Bhaska, tak mau kalah. “Pastikan sudutnya empat puluh lima derajat.”
“Sudah tepat di sudut empat puluh lima derajat sejak sepuluh detik lalu, Dokter,” sahut Kalanya tenang.
“Lampu operasinya geser lima derajat ke kiri,” perintah Bhaska tanpa menoleh.
Perawat sirkuler segera maju untuk menggeser gagang lampu bedah. Namun, perubahan sudut pencahayaan itu mendadak memantulkan kilatan cahaya tajam pada cairan darah di dalam rongga d**a pasien.
“Pendarahan!” teriak Dokter Anestesi tiba-tiba ketika alarm monitor berbunyi makin intens. “Tekanan darah balik melonjak! Ada robekan sekunder di jaringan bawah klem!”
Cairan merah pekat mendadak menyembur tipis dari celah jahitan yang belum sempurna. Dalam hitungan detik, rongga d**a pasien tergenang darah, menutup seluruh bidang pandang tindakan.
“Suction ekstra! Kassa steril tiga lembar, sekarang!” seru Bhaska, suaranya tetap terkontrol meski otot rahangnya mengetat keras. “Pegang retractor-nya lebih kuat, Kalanya! Jangan biarkan jaringannya bergoyang!”
“Tekanan darah pasien makin anjlok!” potong Dokter Anestesi panik. “Sembilan puluh per lima puluh!”
“Tambahkan epinefrin dua miligram, percepat aliran bypass!” perintah Bhaska cepat. “Kalanya, tahan posisi kassa di sisi kanan arteri!”
“Sudah ditahan dengan tekanan konstan, Dokter,” sahut Kalanya, napasnya teratur meski seluruh tubuhnya dalam kondisi tegang maksimal.
Kalanya menarik retractor dengan sekuat tenaga untuk menahan dinding d**a pasien tetap terbuka lebar. Ketegangan ekstrem yang telah berlangsung selama hampir dua jam, ditambah suhu ruangan yang dingin menusuk tulang dan tekanan intimidatif yang terpancar dari sosok Bhaska di hadapannya, mulai menggerogoti ketahanan fisiknya.
Otot lengan Kalanya terasa tegang dan kaku. Ketika ia mengulurkan klem vaskular tambahan untuk menahan titik pendarahan baru, ujung instrumen stainless steel di jemarinya mendadak menunjukkan getaran halus.
Hanya getaran sangat tipis—kurang dari dua milimeter—namun di mata seorang dokter bedah serba sempurna seperti Bhaska, kesalahan kecil itu terlihat sangat mencolok.
Bhaska berhenti menyahit selama sepersekian detik. Matanya menatap tajam ke arah jemari Kalanya yang terbungkus sarung tangan karet steril.
“Kenapa instrumenmu bergoyang?” desis Bhaska, suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman yang sanggup membekukan darah siapa pun di ruangan itu.
Kalanya mengetatkan giginya di balik masker, memetakan kembali seluruh sisa tenaganya untuk menstabilkan genggaman. “Instrumen siap di posisi, Dokter. Silakan lanjutkan penjahitan.”
“Saya tanya kenapa tangan kamu gemetar, Kalanya?” cecar Bhaska tanpa mengalihkan pandangannya dari jari-jemari wanita itu. “Kamu panik?”
“Saya tidak panik,” tegas Kalanya, menatap lurus balik ke iris mata pekat Bhaska. “Pendarahan aktif harus segera ditangani. Fokus pada pasien Anda, Dokter.”
“Bagaimana saya bisa fokus kalau asisten saya tidak stabil?” sergah Bhaska menohok.
“Gemetar tipis karena kelelahan otot tidak mengurangi presisi letak klem ini satu milimeter pun,” balas Kalanya membela profesionalismenya. “Silakan jahit sekarang sebelum pasien kehabisan darah.”
“Jangan mengajari saya kapan harus menjahit!” gertak Bhaska.
Bhaska mendengus dingin. Dengan kecepatan yang sulit dipercaya, jemari pria itu menorehkan tiga jahitan cepat mengelilingi robekan sekunder, menarik benang dengan sentakan presisi, dan mengikatnya erat. Dalam kurun waktu kurang dari empat puluh detik, semburan darah pekat itu terhenti total. Medan operasi kembali bersih dan terkendali.
Seluruh tim medis di dalam ruangan menghela napas lega. Dokter Anestesi mengusap keringat di dahinya, sementara angka-angka pada monitor hemodinamik perlahan kembali melandai ke batas aman.
Namun, atmosfer di meja operasi bukannya mencair, melainkan makin membeku.
Bhaska meletakkan needle holder-nya ke atas baki instrumen dengan dentang halus yang menggema keras di tengah kesunyian ruangan. Ia tidak langsung melanjutkan tindakan penutupan. Pria itu berdiri tegak, menegadahkan kepalanya, lalu memusatkan seluruh perhatiannya pada Kalanya.
“Tindakan rekonstruksi aorta ini membutuhkan akurasi tingkat tinggi,” kata Bhaska, suaranya terdengar dingin dan memotong sunyi di depan seluruh tim operasi yang mendadak membisu. “Satu getaran kecil dari tangan asisten bisa merobek jaringan arteri pasien yang serentan kertas.”
Kalanya tetap berdiri tegar di posisinya, meski jantungnya bergemuruh hebat di balik gaun bedah hijau yang ia kenakan. “Saya memahami risiko medisnya, Dokter Bhaska.”
“Kalau kamu memang memahaminya, kamu tidak akan membawa amaturisme ke dalam ruangan ini,” potong Bhaska menusuk, tanpa memberi ruang sedikit pun bagi Kalanya untuk membela diri. “Di ruang bedah saya, tidak ada tempat untuk perawat yang fisiknya lembek atau mentalnya gampang goyah.”
Laras dan Suster Ratna saling melempar pandangan tegang dari sudut ruangan, tak berani menyela sepatah kata pun.
“Saya bekerja sesuai standar terbaik dan keselamatan pasien tetap terjaga,” sahut Kalanya pelan namun penuh penekanan.
“Keselamatan pasien terjaga karena saya mengambil alih situasi dengan cepat, bukan karena tanganmu yang bergoyang itu,” potong Bhaska dingin.
Bhaska maju satu langkah lebih dekat ke tepi meja bedah. Pandangannya menghujam lurus ke arah kedua tangan Kalanya yang kini terkepal erat di atas baki instrumen.
Dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung intimidasi yang begitu pekat dan menohok, Bhaska berkata, “Kalau jemari Anda tidak bisa stabil, keluar dari ruangan saya sekarang juga, Nareswari.”