“Cuci tanganmu sampai bersih, Kal. Jangan sampai sisa antiseptiknya bikin kulitmu iritasi,” tegur Laras seraya memutar kran air bertekanan tinggi hingga terbuka penuh di area de-scrubbing.
Kucuran air deras mengalir membasahi kedua tangan Kalanya yang terasa kaku. Rasa dingin alkohol dan antiseptik menusuk ke pori-pori kulitnya, tetapi tak ada yang lebih membekukan daripada rasa malu yang membakar dadanya saat ini. Bayangan teguran keras Bhaska di depan seluruh tim operasi masih terngiang jelas di telinganya.
“Pasien sudah stabil dan langsung dibawa ke ruang ICU,” ujar Suster Ratna yang muncul dari balik pintu swing, memegang lembar catatan medis. “Tindakan rekonstruksi aortanya sukses besar.”
Kalanya mengeringkan tangannya dengan kain steril, membuangnya ke tempat sampah medis, lalu kembali melangkah masuk ke Ruang OK 4. Operasi besar itu telah usai. Tubuh pasien yang sebelumnya diambang kematian kini telah dipindahkan dengan aman. Namun, tugas Kalanya belum selesai.
Dengan tangan yang masih dingin, ia mulai mengumpulkan klem vaskular, scalpel, dan pinset dari atas meja stainless steel. Ia menyusun instrumen-instrumen tajam itu satu per satu ke dalam wadah sterilisasi dengan gerakan sangat teratur.
“Kamu enggak apa-apa, Kal?” tanya Laras pelan sambil membantunya merapikan sisa kassa steril. “Dr. Bhaska memang terkenal sekejam itu kalau di meja operasi. Omongannya jangan dimasukkan ke hati.”
Kalanya tersenyum tipis di balik masker yang sudah diturunkannya ke leher. “Aku enggak apa-apa, Ras. Yang penting pasiennya selamat.”
“Tapi teguran tadi sungguh keterlaluan,” cetus Laras bersimpati. “Kamu sudah kerja luar biasa bagus mengimbangi ritme bedah vaskular dia.”
“Saya hanya melakukan tugas sesuai standar medis,” sahut Kalanya datar, menahan gejolak emosi di dalam dadanya. Ia tidak ingin memperlihatkan kerapuhan sedikit pun di depan rekan kerjanya.
“Standar medismu emang tinggi banget, tapi di mata dr. Bhaska, standar orang lain selalu kelihatan kurang,” bisik Laras menggeleng lemah. “Seluruh perawat di sini paham betul kok tabiat dia.”
“Atmosfer kerjanya memang menuntut ketelitian penuh, Ras. Saya paham,” balas Kalanya mencoba realistis.
“Beda, Kal. Cara dia mendikte kamu tadi itu terasa ada dendam pribadi,” seloroh Laras jeli. “Kamu merasa begitu juga enggak, sih?”
Kalanya tersentak pelan, namun bergegas menyembunyikan keterkejutannya dengan merapikan baki instrumen. “Mungkin itu cuma gaya kepemimpinannya saja.”
Pintu Ruang OK 4 mendadak terbuka kembali. Seorang perawat sirkuler melongokkan kepala. “Suster Kalanya?”
Kalanya menoleh. “Iya?”
“Dokter Bhaska minta Anda segera ke ruang evaluasi bedah di sebelah meja konsul. Sekarang juga,” ujar perawat itu sebelum kembali menutup pintu.
Laras menatap Kalanya dengan raut khawatir. “Mau aku dampingi, Kal?”
“Enggak usah, Ras. Ini cuma evaluasi rutin pasca-operasi,” tolak Kalanya halus. “Aku bisa atasi sendiri.”
Kalanya merapikan seragam scrub-nya, menegakkan punggung, dan melangkah keluar dari ruang operasi. Koridor lantai tiga terasa lengang. Langkah kakinya bergaung pelan di atas lantai vinil steril saat ia berjalan menuju ruang evaluasi khusus bedah.
Ia mengetuk pintu kayu tebal itu dua kali, lalu mendorongnya masuk tanpa menunggu jawaban.
Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa berudara dingin menusuk. Bhaska berdiri membelakangi pintu, menatap papan pancar radiologi yang menampilkan hasil foto rontgen toraks pasien. Ia sudah melepas gaun bedahnya, kini hanya mengenakan seragam scrub hijau gelap yang mencetak tegap bahunya.
“Tutup pintunya,” perintah Bhaska tanpa membalikkan badan.
Kalanya menutup pintu hingga terdengar bunyi klik halus. “Ada yang perlu dievaluasi dari tindakan tadi, Dokter Bhaska?”
Bhaska berbalik perlahan. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di d**a, menatap Kalanya dengan pandangan menilai yang sangat tajam.
“Catatan performa kamu di Ruang OK 4 tadi jauh dari kata memuaskan,” buka Bhaska langsung tanpa basa-basi.
Kalanya menahan napas sejenak, mengumpulkan seluruh ketenangannya. “Bisa Anda jelaskan di bagian mana performa saya yang dianggap tidak memuaskan, Dokter?”
“Responmu lambat di sepuluh menit pertama,” cecar Bhaska dingin. “Dan kamu memperlihatkan ketidakstabilan fisik saat pendarahan sekunder terjadi.”
“Saya merespon setiap permintaan instrumen kurang dari dua detik, Dokter,” sahut Kalanya tegas, menatap lurus iris mata pekat pria itu. “Dan mengenai getaran halus di tangan saya, itu adalah reaksi fisiologis normal setelah menahan retractor berat selama dua jam penuh tanpa jeda. Tidak ada satu pun prosedur medis yang terabaikan.”
“Reaksi fisiologis?” potong Bhaska dengan nada menyindir. “Kamu mencari pembenaran atas kelemahan fisikmu di depan tim medis?”
“Itu fakta medis, Dokter. Saya menahan regangan jaringan tanpa henti agar posisi pembuluh darah utama pasien tidak bergeser,” balas Kalanya lugas.
Bhaska melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. “Di ruang bedah toraks kardiovaskular saya, reaksi fisiologis seperti itu adalah celah bahaya! Kalau kamu tidak sanggup menahan beban fisik di meja operasi, jangan mengambil posisi sebagai scrub nurse utama.”
“Saya memiliki kualifikasi resmi dan sertifikasi spesialisasi bedah vaskular tingkat lanjut dari Munich,” balas Kalanya tanpa gentar. “Suster Ratna menugaskan saya karena reputasi dan rekam jejak kerja saya, bukan karena belas kasihan.”
“Rekam jejak?” Bhaska terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang sama sekali tidak tersirat kelucuan. “Kamu bangga dengan rekam jejakmu di luar negeri setelah melarikan diri begitu saja?”
Dada Kalanya berdenyut nyeri mendengar kalimat itu, namun wajahnya tetap terpasang tanpa ekspresi. “Kita sedang membicarakan evaluasi operasional rumah sakit hari ini, Dokter Bhaska. Jangan campur adukkan profesionalisme kerja dengan hal lain.”
“Profesionalisme?” potong Bhaska, suaranya meninggi satu nada, dipenuhi tekanan emosional yang tertahan. “Kamu bicara soal profesionalisme di depan saya? Orang yang pergi tanpa sepatah kata pun lima tahun lalu, tiba-tiba muncul di ruang operasi saya dan menuntut diperlakukan secara profesional?”
“Apa hubungannya masa lalu lima tahun lalu dengan tindakan rekonstruksi aorta pasien hari ini?” cecar Kalanya menuntut jawaban.
“Hubungannya sangat besar!” bentak Bhaska pelan namun penuh penekanan. “Cara kamu memotong percakapan saya di meja operasi, cara kamu merasa paling tahu ukuran instrumen ... itu bentuk keangkuhanmu yang tidak berubah sama sekali!”
“Saya bertindak cepat demi efisiensi waktu operasi pasien yang hampir kehabisan darah!” sahut Kalanya, napasnya mulai naik turun membendung amarah. “Jika saya harus menunggu Anda menyebutkan setiap detail instrumen secara teknis, pasien itu mungkin sudah tidak tertolong!”
“Saya dokter utamanya, Kalanya! Saya yang memegang tanggung jawab penuh atas nyawa pasien di meja bedah itu, bukan kamu!” tegas Bhaska menohok.
“Dan saya perawat asisten utama Anda yang bertugas memastikan setiap keputusan medis Anda tereksekusi tanpa penundaan!” balas Kalanya menyejajarkan ketegasan suaranya.
“Saya berada di RS Sentra Mulia karena kontrak kerja medis yang sah!” tegas Kalanya lagi, memajukan tubuhnya satu tapak. “Saya bertindak sebagai perawat pendamping, dan Anda adalah dokter bedahnya. Di dalam gedung ini, hubungan kita sebatas itu.”
“Kamu pikir kamu bisa membatasi segalanya dengan mudah, Kalanya?” cecar Bhaska menohok. “Kamu pikir kamu bisa bersembunyi di balik gelar spesialis dan seragam hijau ini?”
“Saya tidak pernah bersembunyi!” sahut Kalanya lugas. “Saya membangun karier saya dari bawah di negeri orang, bekerja belasan jam sehari untuk membuktikan kapasitas saya sebagai tenaga medis yang handal. Kalau Anda meragukan kemampuan saya hari ini hanya karena sentimen pribadi, silakan ajukan surat keberatan resmi ke bagian SDM!”
“Kamu pikir SDM akan menolak surat keberatan dari Kepala Departemen Bedah Toraks?” gertak Bhaska sinis.
“Lakukan saja kalau Anda merasa punya alasan medis yang objektif,” tantang Kalanya tanpa keraguan sedikit pun di matanya. “Tuliskan di laporan bahwa saya dikeluarkan karena tangan saya bergetar dua milimeter saat menahan pendarahan kritis yang berhasil Anda jahit!”
Bhaska menatapnya lekat-lekat, matanya berkilat memancarkan kemarahan, kerinduan, dan rasa sakit yang bercampur aduk secara intens. Ruangan itu kembali hening, menyisakan deru pendingin udara yang berembus pelan.
“Kamu tidak berubah,” gumam Bhaska rendah. “Selalu merasa paling benar dan selalu punya alasan untuk membenarkan tindakanmu.”
“Saya hanya mempertahankan martabat dan kapasitas kerja saya,” jawab Kalanya dingin. “Jika evaluasi medis untuk tindakan diseksi aorta tadi sudah selesai, saya mohon izin kembali ke area sterilisasi.”
Kalanya berbalik, hendak melangkah menuju gagang pintu untuk mengakhiri perdebatan yang makin menyiksa batinnya itu.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh logam pintu, Bhaska bergerak cepat. Langkah kaki pria itu tak terdengar saat ia memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Kalanya, mengunci jalur keluar wanita itu.
Jarak mereka kini begitu dekat. Kalanya bisa merasakan hembusan napas hangat Bhaska yang terengah pelan.
Bhaska menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga pandangan mata mereka terkunci rapat.
Dengan suara berbisik yang begitu rendah, serak, dan menusuk langsung ke relung d**a Kalanya, Bhaska berkata, “Lima tahun hilang tanpa kabar, dan kamu muncul kembali di sini seolah tidak pernah menghancurkan hidup saya?”