“Sedang memikirkan apa sampai teh hangatmu dibiarkan dingin begitu, Kal?”
Suara lembut Laras memecahkan kesunyian ruang istirahat perawat lantai tiga. Kalanya tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada bulir-bulir gerimis yang membasahi kaca jendela, membiarkan uap panas dari cangkir keramik di genggamannya perlahan menghilang tertiup angin pendingin udara.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang sejak konfrontasi panas dengan Bhaska di ruang evaluasi sejam yang lalu.
“Hanya lelah, Ras. Operasi tadi lumayan menguras tenaga,” ujar Kalanya pelan. Ia memutar cangkirnya, menatap cairan teh herbal yang warnanya makin pekat.
Laras berjalan mendekat membawa wadah plastik berisi kue bolu kukus dan meletakkannya di atas meja kayu. “Jangan bohong padaku. Operasi tadi memang berat, tapi raut mukamu setelah keluar dari ruang evaluasi itu beda. Kamu kelihatan seperti baru saja melihat hantu.”
Kalanya tersenyum tipis, sebuah sunggingan bibir yang dipaksa agar Laras tak perlu merasa terlalu cemas. “Bukan hantu. Cuma omelan dokter spesialis yang ekspektasinya terlalu tinggi.”
“Dokter Bhaska memang keterlaluan kalau bicara,” celetuk Laras sambil mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Kalanya. “Tapi, Kal ... cara dia menatapmu tadi, lalu reaksimu saat dia menyebut masa lalu ... kalian berdua sebenarnya punya cerita apa di luar rumah sakit ini?”
Kalanya terdiam. Kata 'masa lalu' yang diucapkan Laras seolah membuka kotak pandora yang telah ia kunci rapat-rapat selama lima tahun terakhir.
“Cerita lama yang sudah mati, Ras. Enggak perlu dibahas lagi,” cetus Kalanya pelan.
“Mana bisa dibilang mati kalau tatapan matanya ke kamu tadi malam masih penuh emosi begitu?” tembak Laras penasaran. “Sejak kamu datang sebagai scrub nurse baru, dr. Bhaska yang biasanya dingin datar langsung berubah agresif tiap ada kamu.”
“Dia cuma meragukan kapasitas kerjaku,” kelit Kalanya.
“Kal, aku ini sudah lima tahun kerja di RS Sentra Mulia,” balas Laras mantap. “Aku tahu bedanya dokter yang marah karena kesalahan teknis medis dengan pria yang marah karena luka lama. Kalian dulu punya hubungan spesial, kan?”
Kalanya menghembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Pandangannya menerawang pada rintik hujan.
Lima tahun lalu, segalanya sangat berbeda. Kalanya memejamkan mata sejenak, dan ingatan itu berputar tanpa bisa ia cegah.
Masa awal pernikahan mereka membayang begitu hangat di kepalanya. Ia masih ingat betul bagaimana Bhaska muda—yang saat itu baru menyelesaikan pendidikan residensinya—akan menyeduhkan teh chamomile hangat setiap kali Kalanya terbangun di tengah malam karena kelelahan belajar. Ia ingat tawa renyah pria itu di dapur kontrakan kecil mereka, tatapan matanya yang penuh rasa kagum, dan janji-janji manis tentang masa depan yang akan mereka bangun bersama.
“Kita tidak butuh rumah mewah atau kemewahan lainnya, Kal,” bisik Bhaska malam itu, mengusap lembut jemari Kalanya di bawah pendar lampu kamar yang remang. “Cukup kamu, aku, dan impian kita. Itu sudah lebih dari cukup.”
Namun, kehangatan itu hancur berkeping-keping begitu keluarga besar Danudirdja campur tangan.
Bagi keluarga bangsawan medis ternama itu, Kalanya yang hanya seorang putri perawat desa tak pernah dianggap pantas bersanding dengan putra mahkota mereka. Tekanan mental, sindiran halus yang merendahkan dalam setiap pertemuan keluarga, hingga ancaman terselubung untuk menghancurkan karier Bhaska jika pria itu tetap mempertahankannya, perlahan menggerogoti pernikahan mereka.
Sampai akhirnya, sebuah kesalahpahaman fatal yang dirancang dengan rapi memaksa Kalanya mengambil keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya, pergi tanpa meninggalkan jejak.
“Kalanya? Kamu melamun lagi?” panggil Laras sambil menepuk pelan bahunya.
Kalanya tersentak, menghembuskan napas berat untuk mengusir bayangan-bayangan memilukan itu dari benaknya. “Maaf, Ras. Aku cuma ... kepikiran banyak hal.”
“Memikirkan apa? Soal rumah sakit ini, atau soal keluargamu?” tanya Laras jeli, memotong sepotong bolu kukus dan menyodorkannya pada Kalanya. “Ayo dimakan dulu. Gula darahmu bisa drop kalau cuma minum teh hangat.”
Kalanya menerima kue itu dengan canggung. “Ibu dan Bapak di kampung tidak tahu kalau aku bertugas di RS Sentra Mulia, Ras.”
Laras membelalakkan mata. “Maksudmu? Mereka sama sekali belum kamu beri tahu kalau kamu satu rumah sakit lagi dengan dr. Bhaska?”
Kalanya menggeleng pelan, rasa bersalah mendadak menindih dadanya. “Aku tidak berani bicara. Ibu punya riwayat hipertensi, dan Bapak ... Bapak paling sakit hati kalau mengingat bagaimana keluarga Danudirdja memperlakukan kami dulu. Kalau sampai mereka tahu aku bekerja di bawah pengawasan Bhaska, mereka pasti akan menyuruhku keluar hari ini juga.”
“Kenapa tidak jujur saja dari awal sebelum kamu terima kontrak di sini?” tanya Laras prihatin.
“Karena aku menyembunyikan kenyataan ini demi kebaikan mereka, Ras,” jawab Kalanya lirih. “Keluargaku sudah cukup menderita lima tahun lalu. Aku tidak mau membuat Ibu kepikiran lagi sampai sakitnya kumat.”
“Tapi kamu tidak bisa menyembunyikan ini selamanya, Kal,” tegur Laras prihatin. “Dunia medis di kota ini sempit. Apalagi kamu dan dr. Bhaska berada di departemen yang sama.”
“Aku tahu,” bisik Kalanya lirih. “Aku hanya ingin memantapkan posisiku dulu di sini. Aku butuh pekerjaan ini, Ras. Gaji dan tunjangan di rumah sakit ini sangat cukup untuk biaya hidup dan sekolah ...”
Kalanya menggantungkan kalimatnya. Ia hampir saja menyebut nama yang selalu ia jaga kerahasiaannya dari siapapun di lingkungan kerja barunya.
“Sangat cukup untuk biaya hidupmu dan siapa?” sergap Laras menangkap keraguan di nada suara sahabatnya.
Kalanya menatap Laras ragu. Di rumah sakit ini, ia dikenal sebagai janda muda tanpa anak yang fokus mengejar karier setelah menyelesaikan pendidikannya di Jerman. Tak ada satu orang pun yang tahu rahasia terbesar yang ia bawa pulang ke Indonesia.
“Anakku,” aku Kalanya akhirnya dengan suara teramat pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar.
Laras melotot, memajukan badannya. “Kamu ... kamu punya anak?”
Kalanya mengangguk. Senyum tulus dan hangat mendadak terbit di wajahnya yang lelah saat membayangkan wajah mungil itu. “Namanya Andra. Usianya empat tahun.”
“Tunggu ... empat tahun?” Laras berhitung cepat di dalam kepalanya, mata belalaknya makin melebar saat menyadari rentang waktu tersebut. “Kalanya ... jangan bilang kalau Andra itu—”
“Andra anakku dengan Bhaska,” potong Kalanya cepat sebelum Laras menyelesaikan kalimatnya. “Tapi Bhaska tidak tahu. Tidak boleh ada satu orang pun di rumah sakit ini yang tahu, Ras. Tolong.”
Laras menutup mulutnya dengan kedua tangan, tampak sangat syok. “Astaga, Kal ... Kamu membesarkan anak seorang Danudirdja sendirian selama lima tahun ini?”
“Aku membesarkan anakku sendiri, Ras. Tanpa bantuan sepeser pun dari keluarga itu,” tegas Kalanya dengan nada penuh kebanggaan sekaligus luka. “Maka dari itu aku harus bertahan di rumah sakit ini. Aku tidak boleh lembek atau terlihat lemah di depan Bhaska. Karierku di sini adalah masa depan Andra.”
“Bhaska benar-benar tidak tahu kalau dia punya anak?” desak Laras belum percaya.
“Tidak. Dan dia tidak perlu tahu,” tegas Kalanya dingin. “Keluarganya sudah membuangku. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Andra.”
Laras menatap sahabatnya dengan tatapan iba bercampur kagum. Ia menggenggam erat tangan Kalanya yang terasa dingin. “Kamu wanita hebat, Kal. Sungguh. Tapi kamu juga manusia, punya batas kemampuan untuk menahan beban.”
“Aku tidak punya pilihan lain selain jadi kuat, Ras.”
“Punya,” pangkas Laras tegas. “Pilihanmu sekarang adalah fokus. Ingat tujuan utamamu kembali ke kota ini. Kamu di sini untuk memantapkan karier vaskularmu, membuktikan kapasitasmu, dan yang paling penting, membesarkan Andra. Jangan biarkan masa lalumu dengan dr. Bhaska mengacaukan konsentrasi kerjamu.”
Kalanya menatap mata Laras, mencari pilar kekuatan di sana. “Bagaimana kalau dia terus mengusikku seperti tadi?”
“Lawan dengan profesionalisme,” jawab Laras mantap. “Di ruang operasi, kamu adalah perawat asisten bersertifikasi internasional, bukan mantan istrinya. Kalau dia menekanmu secara pribadi, tegaskan batasanmu. Jangan tunjukkan kalau kamu masih terpengaruh oleh keberadaannya.”
“Bagaimana kalau dia makin sengaja mencariku di luar jam operasi?” cemas Kalanya.
“Tolak dengan alasan tugas medis,” pangkas Laras lugas. “Ada aku yang bakal bantu pasang badan kalau dia mulai bertindak keterlaluan.”
Kata-kata Laras meresap perlahan ke dalam sanubari Kalanya. Sahabatnya benar. Ia bukan lagi Kalanya yang lugu lima tahun lalu, wanita muda yang mudah goyah dan menangis saat diintimidasi. Ia kini seorang ibu, seorang profesional yang telah ditempa oleh kerasnya hidup di negeri orang.
“Terima kasih, Ras,” bisik Kalanya tulus. “Aku butuh mendengar itu.”
“Sama-sama. Sekarang habiskan kuemu, lalu kita kembali ke bangsal sebelum Suster Ratna mencari kita,” ujar Laras terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.
Kalanya mengangguk, baru saja hendak mengambil potongan bolunya ketika ponsel di dalam saku seragam scrub-nya bergetar hebat. Ia merogoh sakunya dan melihat layar ponsel yang menyala.
Nama 'Ibu' tertera di sana.
Kalanya segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. “Halo, Assalamu’alaikum, Bu?”
“Wa’alaikumsalam, Kal,” suara ibunya terdengar dari seberang telepon, diiringi latar belakang suara riuh khas pedesaan. “Kamu lagi sibuk, Nak?”
“Enggak, Bu. Kalanya baru selesai operasi dan lagi istirahat sebentar di ruang perawat,” jawab Kalanya lembut, berusaha membuat suaranya terdengar sebahagia mungkin. “Ibu dan Bapak sehat di kampung?”
“Alhamdulillah sehat, Kal. Bapakmu baru pulang dari sawah,” sahut Ibunya. Namun, nada suara sang ibu mendadak berubah agak ragu dan cemas. “Kal ... Ibu sebenarnya menelpon karena Andra.”
Jantung Kalanya serta-merta berdesir aneh. “Andra kenapa, Bu? Dia sakit? Panasnya naik lagi?”
“Bukan, Nak. Andra sehat kok, tadi makan lahap juga lalapannya banyak,” ujar Ibunya mendesah pelan. “Cuma ... dari sore tadi anakmu ini rewel sekali. Dia tidak mau tidur kalau tidak memegang foto lama yang kamu simpan di lemari.”
Kalanya menahan napas. Foto lama? Foto apa yang tertinggal di lemari kampung?
“Foto masa lalu yang ada kamu dan Bhaska,” bisik Ibunya ragu. “Ibu lupa menguncinya tadi siang.”
Darah Kalanya seakan berhenti mengalir seketika. “Ibu ... Andra lihat foto itu?”
“Dia ambil sendiri dari tumpukan berkasmu, Kal,” lanjut ibunya dengan nada yang makin membebankan d**a Kalanya. “Ibu sampai bingung menenanginya. Andra terus-menerus menanyakan hal yang sama dari tadi sambil menunjuk wajah Bhaska.”
“Andra tanya apa, Bu?” bisik Kalanya, suaranya mendadak bergetar kencang.
Di seberang telepon, suara gemericik hujan di rumah kampung terdengar samar, sebelum ibunya menyampaikan kalimat yang seketika membekukan seluruh aliran darah Kalanya,
“Dia terus-menerus menanyakan kapan kamu pulang, dan kapan dia bisa bertemu dengan Papa-nya seperti anak-anak yang lain.”