“Masih saja cemberut padahal operasi rekonstruksi aorta tadi pagi sukses besar,” cetus dr. Archard Swastika sembari menyandarkan punggungnya santai di kursi berbusa empuk.
Tawa lepas dokter spesialis bedah anak yang akrab disapa Archi itu bergaung renyah, menyemarakkan ruang kerja Kepala Departemen Bedah Toraks Kardiovaskular (BTKV) yang biasanya berudara terlampau dingin dan kaku. Archi meletakkan dua cangkir kopi beraroma sangrai kental yang baru dibelinya dari kafe lantai dasar ke atas meja kerja kayu jati milik Bhaska.
Bhaska sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor tipis di depannya. Jemarinya yang panjang menekan tombol mouse dengan ritme konstan, berpura-pura sibuk meneliti medical record pasien diseksi aorta pascaoperasi.
“Kalau kamu ke sini cuma mau menghabiskan stok kopi dan mengganggu jam kerjaku, pintu keluar ada di sebelah kiri,” gumam Bhaska dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Archi terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di atas meja. “Kaku sekali, Dokter Bhaska Danudirdja. Aku ke sini mau memberikan selamat, sekaligus membahas kinerjamu hari ini. Tepatnya, kinerja timmu di Ruang OK 4.”
“Kinerja timku selalu sesuai standar tinggi rumah sakit ini,” sahut Bhaska datar.
“Oh, aku tahu itu. Tapi yang menarik perhatianku bukan cuma standar tinggimu,” Archi mengambil cangkir kopinya, menyesapnya perlahan sebelum melanjutkan dengan nada jenaka. “Tapi scrub nurse barumu itu. Siapa namanya? Suster Kalanya, kan?”
Buku-buku jari Bhaska yang memegang mouse mendadak memutih. Tekanan jarinya begitu kuat hingga sendi tangannya menegang, namun ia berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap tanpa ekspresi.
“Kenapa dengan perawat baru itu?” tanya Bhaska, berusaha membuat nada suaranya terdengar seolah ia tengah mendiskusikan hal yang paling tak penting di dunia.
“Dia luar biasa cekatan, Bhas,” puji Archi tulus, matanya berkilat kagum. “Aku sempat berdiri sebentar di balik kaca lantai atas sebelum jadwalku sendiri dimulai. Respon tangannya cepat sekali. Dia bahkan sudah menyodorkan klem vaskular sebelum kamu menyuarakan perintah secara lengkap. Ritme kerjanya seolah sudah menyatu dengan gerakan jemarimu.”
Bhaska terdiam sejenak. d**a pria itu berdenyut aneh mendengar pujian yang dilayangkan pada mantan istrinya. “Dia perawat bersertifikasi internasional. Hal seperti itu sudah seharusnya menjadi standar minimum di ruang bedah saya.”
“Jangan terlalu kaku begitu, lah. Selain sangat kompeten, dia juga sangat cantik, bukan?” provokasi Archi halus, mengamati reaksi sahabatnya dengan cermat. “Parasnya anggun, auranya tenang tapi tegas. Luar biasa anggun untuk ukuran perawat bedah yang baru kembali dari luar negeri.”
“Di ruang operasi, saya menilai kompetensi teknis medis, bukan paras wajah,” sergap Bhaska menohok. Suaranya sedikit menajam.
“Ah, masa?” Archi menyeringai, memajukan tubuhnya. “Padahal tadi aku dengar dari anak-anak perawat, kamu habis membentaknya di ruang evaluasi? Kamu membuat perawat sehebat dan secantik itu hampir terpojok.”
“Saya hanya menegaskan prosedur keselamatan pasien!” tegas Bhaska, akhirnya menghentikan ketikan jarinya dan menatap lurus iris mata Archi. “Tangan perawat itu sempat bergetar di tengah prosedur kritis. Di ruang bedah vaskular, kelalaian kecil bisa berakibat fatal.”
“Bergetar dua milimeter setelah menahan retractor berat selama dua jam penuh itu hal yang sangat manusiawi, Bhas,” pangkas Archi santai. “Kamu yang terlalu berlebihan menuntut kesempurnaan. Atau ... ada alasan lain kenapa kamu begitu sensitif kalau berurusan dengan Suster Kalanya?”
Mata Bhaska berkilat berbahaya. “Apa maksudmu?”
“Ya, tidak ada apa-apa,” jawab Archi polos, berpura-pura tidak berdosa. “Hanya saja, aneh melihatmu begitu emosional menangani satu perawat baru. Biasanya kamu tidak peduli kalau ada asisten yang bikin salah sedikit, paling cuma kamu ganti minggu depannya tanpa perlu panggil ke ruang evaluasi khusus.”
“Dia perawat utama untuk kasus-kasus kompleks selama satu bulan ke depan,” kelit Bhaska beralasan. “Saya harus memastikan dia benar-benar siap dan tidak menjadi mata rantai terlemah di tim saya.”
“Lagipula, kamu kan kenal dia bukan cuma dari berkas pendaftaran?” goda Archi memancing.
“Maksudmu apa, Archi?” desis Bhaska kian tajam.
“Ya siapa tahu kalian pernah ketemu pas simposium internasional di Eropa dulu,” sahut Archi mengedikkan bahu santai. “Reaksi kalian berdua pas berhadapan itu beda sekali, Bhas. Ada tegang yang bukan cuma urusan atasan dan bawahan.”
“Jangan berspekulasi yang tidak-tidak,” potong Bhaska cepat. “Fokusku cuma operasional departemen.”
“Baguslah kalau begitu,” Archi mengangguk-angguk kecil, seolah menerima alasan itu. “Berarti kamu tidak keberatan dong kalau aku membawa Suster Kalanya masuk ke dalam lingkaran pergaulan kita di RS Sentra Mulia ini?”
Alis tebal Bhaska bertaut rapat. “Maksudmu?”
“Malam ini kan anak-anak Departemen Bedah Anak dan BTKV mau mengadakan makan malam santai di restoran dekat rumah sakit untuk menyambut staf baru,” Archi tersenyum lebar, menatap Bhaska dengan tatapan jahil yang disengaja. “Aku berniat mengundang Suster Kalanya secara pribadi. Kebetulan, aku butuh berkenalan lebih dekat dengannya. Siapa tahu dia tertarik untuk ikut menangani kasus bedah vaskular anak bersamaku.”
“Kalanya itu staf medis BTKV, Archi. Rotasinya diatur oleh departemenku,” potong Bhaska cepat dengan nada dingin yang kian menusuk.
“Tapi proyek bedah vaskular anak minggu depan butuh integrasi dua tim, Bhas,” balas Archi santai. “Dia punya latar belakang perawat anestesi dan bedah anak waktu di luar negeri. Bukankah lebih efisien kalau aku mulai menjalin komunikasi yang baik dengannya dari sekarang?”
“Komunikasi profesional bisa dilakukan di jam kerja, di ruang diskusi resmi, bukan di meja makan restoran!” tegas Bhaska.
“Aduh, Bhas, kamu ini kaku sekali. Makan malam santai itu cara paling cepat memecah ketegangan antar-staf,” Archi terkekeh sembari memainkan cangkir kopinya. “Apalagi Kalanya kelihatannya tipe wanita yang butuh suasana hangat setelah dipojokkan habis-habisan oleh atasannya yang dingin seperti es.”
Bhaska memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja jati. “Jangan gunakan proyek medis sebagai alasan untuk motif pribadimu.”
“Lho, kenapa tidak?” tantang Archi halus. “Kalau bisa menyelam sambil minum air, kenapa harus dipersulit? Lagipula, apa salahnya aku mencoba mendekati perawat serba bisa sepertinya?”
Atmosfer di dalam ruang kerja berukuran empat kali empat meter itu mendadak menjadi sangat pekat dan berat. Bhaska menyandarkan badannya ke kursi, menatap sahabatnya dengan tatapan dingin menusuk.
“Urusan interaksi antar-departemen harus melalui persetujuan Kepala Bangsal,” ujar Bhaska rendah dan sarat ancaman.
“Aku cuma mengajak makan malam santai, Bhas, bukan memindahkan status kepegawaiannya,” Archi tertawa kecil melihat reaksi kaku sahabatnya. “Apalagi dia janda muda tanpa anak, kan? Dari berkas SDM yang aku baca sepintas, statusnya single. Rasanya sah-sah saja kalau aku mencoba mendekatinya secara pribadi di luar jam kerja.”
Kalimat Archi bak menyulut api dalam sekam di dalam d**a Bhaska. Darahnya mendidih seketika. Bayangan Archi duduk berdua dengan Kalanya, tertawa bersama, atau bahkan menyentuh jemari wanita yang pernah mengisi seluruh hidupnya itu membuat rahang Bhaska mengeras hebat.
“Aku menyarankanmu untuk membatalkan niat konyolmu itu, Archi,” desis Bhaska penuh tekanan.
“Kenapa?” tantang Archi santai, menopang dagunya dengan sebelah tangan. “Ada aturan rumah sakit yang melarang sesama dokter spesialis mengajak perawat makan malam?”
“Ini soal etika dan profesionalisme kerja!” tegas Bhaska, suaranya kini bergetar menahan amarah yang hampir meledak. “Kalanya baru satu hari bertugas di sini. Dia masih dalam masa adaptasi intensif di departemenku. Jangan mengacaukan fokus kerjanya dengan hal-hal tak penting seperti ajakan makan malam pribadi!”
“Kamu takut dia makin nyaman berteman denganku daripada berurusan sama dokter galak seperti kamu?” sindir Archi makin gencar.
“Aku cuma memikirkan reputasi tim bedahku!” tangkis Bhaska sengit.
“Kalanya sudah dewasa, Bhas. Dia tahu mana batas pekerjaan mana urusan personal,” balas Archi santai. “Kenapa justru kamu yang pusing memikirkan ajakan makan malamku?”
“Karena aku atasan langsungnya!” gertak Bhaska menepuk meja.
“Dia juga bukan anak kecil yang butuh perlindungan berlebihan dari atasan,” Archi membalas tenang tanpa mengalihkan pandangannya. “Kalau dia setuju ikut, kamu mau melarangnya pakai alasan apa? Alasan kedinasan? Di luar jam operasional rumah sakit?”
Bhaska terdiam, giginya bergemelutuk rapat. Ia tahu persis Archi benar secara formal, namun naluri kepemilikannya yang terkubur bertahun-tahun seolah bangkit membakar logisnya.
“Aku tidak suka ada dinamika personal yang mengganggu performa tim di kamar operasi,” desis Bhaska tajam. “Jika kamu membuat fokusnya terpecah, aku tidak ragu mencoret namamu dari daftar konsultan bedah anak di kasus vaskular berikutnya.”
Archi menggeleng pelan, berpura-pura terkejut. “Ancaman yang cukup kejam untuk seorang sahabat lama. Hanya karena seorang perawat baru, Dokter Bhaska yang rasional sampai tega mengorbankan kerja sama tim?”
“Ini demi efisiensi kerja!” tangkis Bhaska sengit, dadanya naik turun menahan gumpalan kekesalan.
“Fokus kerja atau ketenangan hatimu yang terganggu, Bhas?” potong Archi cepat, menatap langsung ke dalam manik mata Bhaska yang membara.
Bhaska menarik napas panjang melalui hidung, mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di atas meja kayu. “Jaga batasanmu, Archi. Tetaplah profesional dan jangan mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan motif pribadimu yang tidak berguna.”
Ruangan hening sejenak. Hanya terdengar deru pendingin udara yang berembus pelan di sudut plafon.
Archi tidak tampak takut atau terintimidasi sedikit pun. Sebaliknya, senyum tipis yang penuh arti justru mengembang di bibirnya. Dokter spesialis bedah anak itu perlahan berdiri dari kursinya, merapikan jas putih dokternya yang agak kusut.
Ia mengambil cangkir kopinya yang tinggal separuh, lalu berjalan santai menuju pintu keluar ruang kerja Bhaska.
Di depan pintu kayu tebal itu, Archi menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Bhaska yang masih duduk kaku dengan rahang menegang keras.
Archi tersenyum jahil, memberikan sebuah pandangan yang seolah sanggup menelanjangi seluruh kebohongan di hati sahabatnya.
“Aneh ya, Bhas ...” bisik Archi pelan namun terdengar sangat jelas di tengah kesunyian ruangan. “Tatapan kamu ke perawat baru itu bukan tatapan benci, tapi tatapan orang yang belum move on.”