“Bhaska ada di dalam, kan?”
Suara derap langkah sepatu hak tinggi dr. Aurelia Syahrazad menggema tegas di sepanjang lorong poliklinik VIP, memotong kesibukan siang para perawat yang bertugas. Dokter spesialis anestesi berparas jelita itu berjalan anggun mengenakan jas putih yang terpotong rapi, memegang sebuah tas kertas berlogo restoran Jepang terkemuka di tangannya.
Sebagai putri tunggal dari salah satu direktur mitra bisnis utama Danudirdja Group, kehadiran Aurelia selalu berhasil mencuri perhatian. Keanggunan natural dan aura aristokrat yang terpancar darinya membuat siapa pun tahu bahwa ia berada di strata yang berbeda.
“Ada, Dokter Aurelia. Dokter Bhaska baru saja selesai memeriksa pasien terakhir,” sahut perawat jaga di pos depan dengan sungkan.
Aurelia tersenyum tipis, mengangguk singkat sebelum melangkah santai menuju ruang kerja Kepala Departemen BTKV. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk dengan keakraban yang tampak sangat alami.
“Aku tahu kamu pasti belum sempat makan siang,” puji Aurelia manis, meletakkan tas kertas yang dibawanya ke atas meja kerja Bhaska. “Bento set dari restoran langganan mama. Aku minta chef-nya kurangi kadar garamnya khusus untukmu.”
Bhaska menghentikan ketikannya di papan ketik, mendongak menatap wanita cantik di hadapannya. Raut wajahnya yang kaku sedikit melunak, meski tetap terjaga dalam batas profesionalisme yang dingin.
“Kamu tidak perlu repot-repot membawakan makan siang ke sini, Aurel,” ujar Bhaska datar. “Aku bisa pesan sendiri lewat kantin dokter.”
“Repot dari mana? Aku sekalian lewat setelah selesaikan prosedur epidural di ruang bersalin,” balas Aurelia santai, menarik kursi di depan meja Bhaska dan duduk dengan posisi anggun. “Lagipula, kalau tidak aku yang mengawasi, kamu pasti cuma minum kopi hitam dan makan sandwich dingin dari minimarket.”
Bhaska menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Terima kasih. Tapi jadwal tindakan sore ini cukup padat, aku tidak punya banyak waktu untuk makan santai.”
“Cuma butuh lima belas menit, Bhas,” selak Aurelia lembut, membuka kotak bento dan menyusunnya rapi di atas meja kayu jati milik Bhaska. “Makanlah sedikit. Jangan buat dokter anestesimu ini pusing kalau tensimu mendadak drop di kamar operasi nanti.”
“Setiaku pada protokol kesehatan diri sendiri masih cukup bagus,” gumam Bhaska tipis sembari merapikan dokumen di sisi meja.
“Bagus di atas kertas, tapi praktiknya selalu nol besar kalau sudah berhadapan dengan pisau bedah,” goda Aurelia tertawa renyah. “Kamu selalu lupa waktu kalau sudah di kamar operasi.”
“Itu dedikasi, Aurel, bukan kelalaian,” tangkas Bhaska pelan.
“Dedikasi yang menyiksa diri sendiri,” tukas Aurelia sambil menyodorkan sepasang sumpit steril. “Cobalah satu potong daging gulung ini. Mama sendiri yang berpesan supaya kamu menghhabiskannya.”
Pada saat yang bersamaan, Kalanya berjalan melintasi lorong poliklinik VIP dengan setumpuk berkas rekam medis pasien di pelukannya. Langkah kakinya mendadak tertahan tepat di depan ruang kerja Bhaska. Pintu kayu tebal itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah terbuka beberapa sentimeter yang memperlihatkan pemandangan di dalam ruangan secara jelas.
Mata Kalanya terpaku pada sosok wanita yang berdiri begitu dekat di samping kursi Bhaska. Aurelia terlihat sangat cantik, anggun, dan penuh percaya diri. Senyum renyah yang terpancar dari wajah dokter anestesi itu, berpadu dengan cara bicaranya yang luwes dan penuh perhatian, memancarkan pesona seorang wanita karir dari keluarga terpandang.
Kalanya memperhatikan bagaimana Aurelia merapikan letak kotak makan di meja Bhaska dengan gestur yang sangat familiar dan tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara Bhaska, meski tidak menunjukkan ekspresi berlebihan, menerima perhatian itu tanpa ada penolakan atau dinding pertahanan seperti yang selalu pria itu tampilkan di hadapannya.
Pemandangan yang sangat serasi, bisik hati Kalanya pahit.
Sensasi dingin mendadak menjalar cepat di balik d**a Kalanya. Insecurity masa lalu yang dulu pernah menghancurkan rasa percaya dirinya kini kembali mencubit hatinya dengan sangat tajam. Rasa tak berdaya yang dahulu sering ia rasakan saat masih menjadi istri Bhaska—perasaan bahwa dirinya selalu kurang, tidak cukup pantas, dan tidak sepadan untuk bersanding dengan penerus keluarga Danudirdja—kini bangkit kembali meremukkan hatinya.
Dahulu, Kalanya selalu merasa menjadi titik lemah dalam kehidupan Bhaska yang sempurna. Dan kini, melihat sosok Aurelia yang berdiri tegak di samping Bhaska, Kalanya menyadari betapa jauhnya perbedaan kelas di antara mereka. Aurelia adalah gambaran sempurna dari pasangan yang seharusnya dimiliki oleh Bhaska, berpendidikan tinggi, berasal dari latar belakang keluarga elit, dan diterima dengan tangan terbuka oleh lingkaran sosial keluarga Danudirdja.
“Sudah lama sekali ya, Bhas, kita tidak makan bersama seperti dulu waktu di rumah mamamu?” terdengar suara Aurelia menerobos celah pintu yang terbuka.
“Jadwal kita berdua sama-sama padat sejak masuk rumah sakit ini,” sahut Bhaska dari dalam.
“Padat atau kamu yang sengaja menghindar?” cetus Aurelia diiringi tawa kecil yang terdengar sangat akrab. “Tante Sukmawati bahkan bilang minggu lalu kamu cuma pulang lima belas menit untuk ganti baju.”
“Pekerjaan di departemen sedang banyak,” jawab Bhaska singkat.
“Alasan klasik khas Bhaska Danudirdja,” goda Aurelia gemas. “Tapi setidaknya siang ini kamu harus menghabiskan makanan ini. Aku tidak mau menerima penolakan.”
Di balik celah pintu, Kalanya meremas berkas di pelukannya kian erat, berusaha menekan sesak yang tiba-tiba memenuhi tenggorokannya. Ia tahu betul, dirinya tidak lagi memiliki hak untuk merasa cemburu atau terluka. Hubungan mereka telah lama mati dan terkubur. Namun, menyaksikan betapa mudahnya Bhaska berdampingan dengan wanita yang begitu sepadan dengannya tetap saja menghantam ulu hatinya tanpa ampun.
“Suster Kalanya?” suara teguran dari seorang staf perawat di belakangnya membuat Kalanya tersentak kaget.
“Ah, iya,” sahut Kalanya cepat, buru-buru memalingkan wajahnya dari celah pintu yang terbuka.
“Ada rekam medis pasien rujukan dari kamar operasi tiga yang dicari dr. Archi,” ujar perawat itu sopan.
“Oh, ini ... berkasnya ada padaku. Aku akan mengantarnya sekarang,” balas Kalanya dengan suara yang agak bergetar.
“Suster Kalanya tidak apa-apa? Wajah Suster kelihatan agak pucat.”
“Aku tidak apa-apa, cuma agak lelah karena operasi pagi tadi. Terima kasih sudah mengingatkan,” tangkas Kalanya mengumbar senyum tipis yang dipaksakan.
Tanpa menoleh lagi, Kalanya mempercepat langkah kakinya, meninggalkan lorong VIP itu seolah-olah ia tengah melarikan diri dari bayangan masa lalunya sendiri. Ia berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, kembali menuju pos perawat BTKV dengan d**a yang masih bergemuruh hebat.
Sementara itu, di dalam ruang kerja yang tenang, Bhaska baru saja memindahkan kotak makanan yang dibawakan Aurelia ke tepi meja tanpa menyentuhnya sama sekali.
“Aurel, sekali lagi terima kasih. Tapi lain kali kamu tidak perlu membawa makanan ke ruanganku seperti ini,” kata Bhaska tegas, menetapkan batasan yang jelas. “Staf rumah sakit bisa salah paham melihat keakraban kita di lingkungan kerja.”
“Salah paham bagaimana, Bhas?” Aurelia tertawa kecil, menganggap remeh teguran Bhaska. “Semua orang di rumah sakit ini juga tahu kalau keluarga kita sudah dekat sejak lama. Papaku dan ayahmu itu mitra bisnis utama, tidak ada yang aneh kalau kita akrab.”
“Tetap saja, di sini kita bekerja profesional sebagai dokter spesialis, bukan sebagai representasi keluarga,” potong Bhaska dingin.
“Kenapa kamu jadi secenderung ini membatasi diri, Bhas?” selidik Aurelia dengan alis sedikit terangkat. “Dulu waktu di RS Sentra Utama kita juga sering makan bersama dan tidak ada yang keberatan. Ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Tidak ada,” elak Bhaska cepat. “Aku cuma ingin menjaga suasana kerja tetap kondusif, terutama di departemen baru ini.”
“Kamu terlalu serius, Bhas. Sekali-sekali santai sedikit tidak akan meruntuhkan reputasimu sebagai Kepala Departemen,” ujar Aurelia mengibaskan tangannya pelan.
“Prinsipku tidak berubah, Aurel,” jawab Bhaska menatap lurus.
“Baik, baik. Aku paham dedikasimu yang kaku itu,” selak Aurelia menyerah santai. “Tapi untuk urusan di luar rumah sakit, kamu tidak bisa mengelak lagi.”
Aurelia berdiri dari kursinya, melangkah mendekati posisi duduk Bhaska. Tanpa ragu, wanita itu mengulurkan tangannya dan memegang lengan jas putih Bhaska dengan gestur manis yang penuh arti.
Aurelia menatap lurus mata Bhaska, lalu menyunggingkan senyum anggun yang sarat akan maksud terselubung.
“Tante Sukmawati bilang, minggu ini kita harus makan malam keluarga bareng, Bhas.”