Tatapan Pak Erte masih terasa menusuk ketika Ryan dan Afif melangkah menjauhi rumah itu. Peringatan tentang nyawa mereka menggantung di udara pagi yang lembap. Ryan ingin menoleh dan bertanya apa yang sebenarnya disembunyikan lelaki itu, tetapi ia ingat bagaimana percakapan mereka berakhir. Pak Erte sudah menunjukkan bahwa ia tidak akan memberi jawaban. Memaksa sekarang hanya akan membuat mereka berdebat di halaman orang lain, sementara kaki Ryan masih nyeri dan mereka belum tahu jalan pulang yang pasti.
Afif berjalan setengah langkah di sampingnya, tidak mendahului. Sebelum mereka mencapai pagar, ia menoleh sebentar ke arah rumah. Bu Erte berdiri dekat pintu, sementara suaminya tidak tampak lagi. Afif mengangkat tangan sebagai pamit. Perempuan itu membalas dengan anggukan kecil, tidak mengatakan apa-apa. Sikapnya berbeda dari tatapan suaminya, tetapi Afif tidak berani menafsirkannya sebagai tanda bahwa mereka aman. Bisa saja ia hanya ingin menjaga kesopanan.
'Jangan kita bahas di sini,' bisik Ryan. 'Kita sudah mendengar peringatannya. Kita pulang dulu.'
Afif mengangguk. 'Kalau salah satu dari kita melihat sesuatu yang aneh, siulkan kode kita. Jangan langsung percaya pada suara yang memanggil nama.'
Mereka mengulang kode itu dengan pelan, memastikan jumlah dan jeda siulan tetap sama seperti yang mereka pakai saat tersesat. Ryan meniupnya sekali. Afif menjawab dengan pola balasan yang telah mereka sepakati. Suara pendek itu terasa sederhana, tetapi setidaknya mereka memiliki cara untuk mengenali satu sama lain tanpa harus mendekat atau menjawab panggilan yang belum pasti.
Mereka melewati pagar dan menyusuri jalan yang tadi membawa mereka ke rumah Pak Erte. Pagi sudah terang. Hujan malam sebelumnya meninggalkan genangan di bagian jalan yang cekung, dan daun-daun basah menunduk di atas kepala mereka. Cahaya matahari menembus sela pepohonan, cukup untuk melihat jalur tanah tanpa bantuan senter. Ryan menapak hati-hati. Setiap kali kaki kanannya menyentuh bagian jalan yang keras, nyeri dari pergelangan menjalar ke betis.
Afif memperhatikan langkahnya. 'Kita berhenti sebentar kalau sakitnya bertambah.'
'Aku masih bisa jalan,' jawab Ryan, meski suaranya terdengar lebih tegang daripada yang ia inginkan. 'Tapi jangan cepat-cepat.'
'Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita jalan sesuai kemampuan kaki itu.'
Mereka tidak berjalan beriringan rapat sepanjang waktu. Afif mengambil posisi di sisi yang lebih rata, sementara Ryan memakai tongkat kecil yang ia pungut dari tepi jalan sebagai tumpuan. Ia tidak ingin menyebutnya tongkat karena merasa itu akan membuat dirinya tampak lebih lemah, tetapi menyangkal rasa sakit juga tidak mengubah keadaan. Ia menyesuaikan pijakan, lalu menunggu Afif memastikan jalur di depan tidak tertutup lumpur.
Di sebuah tikungan, mereka berhenti dan melihat kembali ke arah rumah Pak Erte. Dari sana atapnya masih terlihat di balik pohon, tetapi halaman dan jendela kamar tamu tak lagi tampak. Ryan merasa seperti masih ada mata yang mengikuti mereka. Ia mengalihkan pandangan sebelum perasaan itu berubah menjadi alasan untuk kembali.
'Menurutmu peringatannya soal apa?' tanya Afif.
'Entah. Bisa jadi ia memang tahu sesuatu tentang rumah No. 13. Bisa juga ia sengaja membuat kita takut supaya pergi.'
'Kalau dia mengusir kita, kenapa membiarkan kita tetap tinggal?'
Ryan menggeleng pelan. 'Itu yang belum kita pahami. Mungkin dia ingin kita pergi sendiri. Mungkin ada alasan yang tidak mau ia jelaskan. Kita jangan menyimpulkan dulu.'
Mereka melanjutkan perjalanan dengan jarak yang tetap dekat. Jalan menurun sedikit, kemudian berbelok ke arah pepohonan yang lebih jarang. Ryan mulai mengenali beberapa bentuk yang ia lihat kemarin: batang gandaria besar, batu pipih di tepi jalur, dan sebuah akar yang melintang rendah. Ia menyebutkan satu demi satu kepada Afif. Temannya mengulangnya, bukan karena perlu menghafal nama pohon, melainkan agar mereka sama-sama menyimpan urutan tanda.
Mereka tiba di sebuah cabang jalan yang kemarin sulit terlihat karena kabut dan hujan. Kali ini garisnya jelas. Satu jalur menuju ke arah rumah Pak Erte, sedangkan jalur lain membelok ke bawah, tempat suara air terdengar. Ryan berhenti sebelum memilih. Ia menatap arah aliran air, kemudian mengingat petunjuk Pak Malik: lurus sampai sungai, lalu belok kanan. Tanpa peta dan tanpa penanda, satu ingatan yang tepat lebih berguna daripada berjalan cepat.
'Ini seharusnya jalan ke sungai,' katanya. 'Kita cek dulu, lalu cari pertigaan yang dibilang Pak Malik.'
Afif meniup kode pendek. Ryan membalas. Mereka memastikan suara itu terdengar jelas di antara pepohonan, lalu turun perlahan ke jalur yang lebih rendah. Tidak ada bayangan yang menyusul dari tikungan. Tidak ada suara yang menyebut nama mereka. Namun, keduanya tidak menganggap pagi yang terang sebagai jaminan bahwa segala sesuatu telah selesai.
Di bawah, jalan mulai melebar dan tanahnya lebih padat. Ryan berhenti lagi untuk mengatur napas. Kakinya berdenyut, tetapi ia masih bisa berdiri. Afif mengeluarkan sebotol air dari ransel dan menyerahkannya. Ryan minum sedikit, lalu menyimpan botol itu kembali agar mereka tidak kehabisan sebelum tiba di rumah.
'Jangan memaksakan diri hanya karena ingin cepat sampai,' kata Afif.
Ryan mengangguk. 'Kita pulang bersama. Itu saja yang penting sekarang.'
Mereka melanjutkan langkah ke arah suara sungai. Di belakang, rumah Pak Erte tertutup pepohonan. Di depan, jalur yang mereka cari mulai tampak. Ryan belum tahu apakah ancaman itu akan terbukti, tetapi kini ia dan Afif sepakat untuk tidak membiarkan ketakutan memisahkan mereka lagi.
Jalur menuju sungai ternyata lebih lebar daripada jalan kecil yang mereka lalui semalam. Tanahnya masih basah, tetapi bekas roda terlihat di beberapa bagian. Ryan memperlambat langkah agar tidak terpeleset. Tongkat kayu yang ia pakai menekan tanah sebelum kakinya berpijak. Afif berjalan sedikit di depan, lalu menunggu setiap kali jalur berbelok. Mereka menjaga jarak yang cukup dekat untuk saling melihat, tetapi tidak sampai menghalangi langkah Ryan.
Setelah beberapa menit, suara air terdengar semakin jelas. Ryan mengenali bunyi itu sebagai aliran yang mereka lewati sebelum tersesat. Ia berhenti di antara dua pohon dan memperhatikan letak batang-batang di seberang. Semalam ia tak sempat mengamati dengan baik. Pikirannya hanya tertuju pada hujan, senter yang mati, dan hilangnya Afif dari pandangan. Sekarang, ia memaksa diri membaca tempat itu seperti membaca lahan: arah tanah menurun, jejak aliran air, serta bekas pijakan di tepi.
'Kalau ini sungai yang sama, pertigaan harusnya tidak jauh,' katanya.
Afif melihat ke kanan dan kiri. 'Aku ingat kita sempat berhenti di bawah pohon besar. Tapi setelah itu kita berjalan sendiri-sendiri.'
'Berarti kita cari pohon itu dari sisi jalan ini. Jangan menyeberang sebelum yakin.'
Mereka menyusuri tepi sungai. Airnya tidak terlalu tinggi, tetapi arusnya keruh oleh tanah yang terbawa hujan. Ryan melihat beberapa ranting tersangkut di batu dan mencatat bahwa jalur semalam berada di sisi yang sama dengan mereka sekarang. Ia tidak ingin menyeberangi aliran tanpa alasan. Dengan kaki terkilir, melompat dari batu ke batu hanya akan menambah risiko.
Afif menunjuk batang pohon yang besar. Kulitnya kasar dan salah satu dahannya patah, menyisakan bekas cerah. Ryan mengenalinya. Mereka pernah berteduh di bawah pohon itu ketika hujan mulai turun. Ia mendekat beberapa langkah, lalu berhenti. Dari sana, sebuah jalur kecil tampak menanjak ke kanan.
'Ini tempat kita berhenti,' kata Ryan. 'Dahan patah itu masih sama. Jalan ke kanan mungkin cabang yang disebut Pak Malik.'