Afif tidak langsung mengikuti jalur itu. Ia memperhatikan tanah di sekitar akar pohon. Ada bekas sepatu yang tercampur jejak lumpur, sebagian mengarah ke sungai dan sebagian ke jalur naik. Sulit mengetahui mana jejak mereka sendiri. Ia tidak mencoba menarik kesimpulan dari bentuk yang kabur.
'Kita tandai saja cirinya,' katanya. 'Pohon bercabang patah, sungai di kiri, batu pipih di bawah. Kalau nanti harus kembali, kita punya patokan.'
Ryan mengeluarkan buku catatan kecil dari saku ransel. Kertasnya lembap di bagian pinggir, tetapi masih bisa dipakai. Ia menulis tiga tanda itu dengan singkat, lalu membuat garis kasar yang menunjukkan posisi sungai dan cabang jalan. Afif menambahkan arah matahari dan perkiraan waktu berjalan. Mereka bukan sedang membuat peta sempurna. Catatan itu hanya cara agar pengalaman semalam tidak berubah menjadi ingatan yang bercampur dengan ketakutan.
Mereka menaiki cabang yang ke kanan. Tanahnya lebih tinggi dan tidak selembek jalur tepi sungai. Di sepanjang jalan, beberapa pohon tumbuh berjajar, dengan ruang yang cukup untuk melihat ke depan. Ryan berhenti setiap kali ada bagian menurun tajam. Ia meletakkan tongkat, lalu memindahkan berat tubuh pelan-pelan. Afif tidak menariknya tanpa diminta. Ia hanya menawarkan lengan, dan Ryan menerima saat pijakannya terasa goyah.
'Pergelanganmu makin bengkak?' tanya Afif.
Ryan melihat ke bawah. 'Sedikit. Kalau sampai rumah, aku kompres dan istirahat. Jangan ajak aku jalan lagi hari ini.'
'Tidak ada yang mengajakmu ke mana-mana. Kita perlu cari jalan pulang saja.'
Percakapan itu membuat Ryan tersenyum tipis. Di rumah Pak Erte, ia terus menahan diri agar tidak tampak takut. Bersama Afif, ia bisa mengakui rasa sakit tanpa perlu menjadikannya bahan olok-olok. Ia juga tahu Afif sedang lelah, meskipun temannya berusaha menutupinya dengan bicara.
Mereka menemukan patok kayu tua di sisi jalan. Tulisan di atasnya sudah pudar dan sebagian tertutup lumut. Ryan menyentuh permukaannya, tetapi tidak mencoba mengikis lumut. Mereka tidak tahu apakah patok itu menandai batas kebun atau arah desa. Afif mencatat bentuknya sebagai tanda tambahan. Tidak jauh dari patok, jalan kembali bercabang. Salah satu jalur tampak lebih lebar dan memiliki bekas roda, sementara yang lain menyempit ke antara pepohonan.
Ryan mengingat keterangan Pak Malik. 'Kita ikuti jalur yang lebih lebar dulu. Kalau ternyata salah, kita kembali ke patok ini.'
'Setuju. Jangan bikin pilihan tanpa titik balik.'
Mereka meniup kode siulan sebelum meneruskan langkah. Ryan memulai, Afif menjawab. Pagi itu, setiap balasan menjadi pemeriksaan sederhana bahwa mereka masih bersama. Mereka tidak menemukan sesuatu yang baru di sepanjang jalur, tetapi langkah mereka tidak lagi dilakukan secara membabi buta. Kini mereka tahu tempat mereka berhenti semalam, cabang yang harus diikuti, serta tanda untuk kembali jika jalan melebar ke arah yang salah.
Jalan lebar itu menjauh dari tepi sungai untuk beberapa ratus langkah. Suara air berangsur tertinggal, sementara sela pepohonan menunjukkan atap-atap jauh. Ryan tidak mempercepat langkah. Ia menunggu sampai Afif memastikan jalur di depan tetap terbuka. Setelah memutari bukit rendah, jalan itu berbelok lagi ke arah suara air. Jalan pulang masih belum jelas seluruhnya, tetapi untuk pertama kalinya sejak hujan turun, mereka merasa mampu membaca arah tanpa dikejar sesuatu dari belakang.
Di ujung lengkungan itu, jalur lebar yang mereka pilih turun ke tanah datar dekat aliran sungai. Dari sana, mereka melihat dua cabang yang bertemu. Cabang pertama memotong aliran lewat jembatan kayu rendah, sedangkan cabang kedua mengikuti tepi sungai. Ryan berhenti di tempat yang tidak licin dan membuka catatannya. Ia mengingat Pak Malik menyebut setelah sungai ada pertigaan dan mereka harus belok kanan. Tidak ada petunjuk apakah yang dimaksud menyeberangi sungai atau berjalan di sisinya.
'Kalau kita menyeberang, kaki ini bisa makin parah,' kata Ryan. 'Kita cari dulu jalur yang aman.'
Afif setuju. Mereka tidak ingin membuat keputusan hanya karena ingin segera keluar dari hutan. Jembatan itu tampak masih utuh, tetapi permukaannya gelap dan basah. Beberapa bilah papan tidak rata. Ryan dapat saja melewatinya dengan bantuan Afif, tetapi risiko terpeleset terlalu besar. Mereka memeriksa jalur di sisi sungai lebih dahulu. Di sana terdapat bekas tapak sepatu dan jalur tanah yang naik ke bukit kecil.
Afif memperhatikan arah aliran. 'Kalau kita ikuti sungai, mungkin bertemu jalan desa dari sisi lain.'
'Bisa jadi. Tapi kita tidak tahu berapa jauh. Kita ikuti sampai ada tanda yang lebih jelas, lalu kembali kalau tidak menemukan jalur.'
Mereka berjalan sejajar dengan sungai. Sesekali, Ryan berhenti untuk memberi waktu pada kakinya. Afif membiarkan jeda itu berlangsung tanpa mendesak. Mereka menyimpan air minum dan tidak menghabiskan bekal. Ketika menemukan batu besar dengan lumut di bagian utara, Ryan menambahkan tanda itu ke catatan. Ia menggambar sungai sebagai garis berkelok dan menandai arah mereka dengan panah.
Tidak lama kemudian mereka menemukan jejak roda yang menyeberangi jalur tanah. Jejaknya baru, mungkin berasal dari kendaraan roda dua yang melintas sebelum hujan. Ryan memeriksa permukaan tanah tanpa mendekat ke tepi yang lembek. Jejak itu bergerak menjauh dari sungai ke arah barat. Ia tidak tahu apakah jalur tersebut menuju rumah Pak Erte atau desa yang mereka cari. Namun, setidaknya jalur itu membuktikan ada orang yang memakai rute tersebut.
'Kita ikuti sebentar,' katanya. 'Kalau jalan makin sempit, kita putar balik.'
Afif melihat bekas roda, kemudian pepohonan di sekitarnya. 'Aku akan tetap di sampingmu. Jangan berdiri di bagian yang turun ke sungai.'
Mereka berbelok mengikuti jejak roda. Jalan itu sedikit menanjak. Ryan menggunakan tongkatnya lebih sering, dan sekali ia harus berhenti karena nyeri menusuk hingga membuat lututnya lemas. Afif segera menopang lengannya, tetapi tidak menariknya berdiri sampai Ryan mengangguk. Mereka duduk di batang kayu yang kering, memeriksa pergelangan tanpa membuka balutan seadanya yang mereka buat malam sebelumnya. Tidak ada luka baru, hanya bengkak dan sakit.
'Seharusnya aku tidak memaksakan lari semalam,' kata Ryan.
'Waktu itu kamu mendengar aku berteriak.'
'Aku tahu. Tapi sekarang aku harus lebih hati-hati.'
'Dan aku juga tidak seharusnya berjalan mengikuti sosok yang wajahnya mirip kamu. Kita sama-sama bikin keputusan buruk karena panik.'
Ryan menarik napas panjang. 'Yang penting kita tahu sekarang apa yang harus dilakukan kalau itu terjadi lagi. Kode siulan dulu. Tetap pada jalur. Jangan mengejar sesuatu sendirian.'
Afif mengangguk. Mereka mengulang aturan itu tanpa mengubahnya menjadi janji muluk. Tidak ada cara yang menjamin mereka bebas dari gangguan, tetapi mereka bisa mengurangi peluang terpisah. Setelah beristirahat, mereka berdiri pelan. Ryan menguji pijakan sebelum menumpukan berat tubuh sepenuhnya.
Jejak roda membawa mereka ke sebuah tikungan. Dari sana terlihat jalan setapak yang lebih rata dan sebuah penanda batu di sisi kiri. Ryan mengenali batu itu sebagai tanda yang mereka lewati di awal perjalanan menuju rumah Pak Erte. Ia membandingkannya dengan catatan sederhana. Garis jalan dan posisi sungai cocok. Mereka telah kembali ke jalur yang dikenal, tetapi harus memilih arah yang benar.
Afif menunjuk jalur ke kanan. 'Kalau menurut petunjuk Pak Malik, setelah sungai kita belok kanan. Ini mungkin pertigaan yang dimaksud.'
'Ya, tapi kita pastikan dulu tidak ada cabang lain.'