Mereka berdiri di tengah area terbuka dan melihat sekeliling. Satu jalur naik ke arah rumah Pak Erte. Jalur lain menuju pepohonan rapat, sementara jalan yang mereka gunakan melengkung di sepanjang sungai. Mereka mengamati letak matahari dan mencocokkannya dengan arah kedatangan tadi. Ryan menyadari jalur di kanan memang menuju bagian desa yang lebih terbuka.
Ia menulis keputusan itu di buku: sungai berada di sisi kiri saat mereka tiba; ambil kanan pada pertigaan; jangan menyeberang melalui jembatan kayu. Afif menambahkan bahwa jalur roda dari arah sungai berakhir di tikungan yang sama. Catatan itu memberi mereka kepastian kecil bahwa mereka tidak sedang mengulang lingkaran yang sama.
Mereka memilih jalan kanan dan melangkah berdampingan. Beberapa saat kemudian, suara kendaraan terdengar dari kejauhan. Tidak ada kendaraan yang tampak, tetapi bunyi mesin menandakan mereka semakin dekat ke bagian desa yang dihuni. Afif menoleh kepada Ryan. 'Kita sudah berada di jalur yang benar.'
Ryan membalas dengan siulan pendek. Afif menjawab. Mereka terus berjalan tanpa tergesa-gesa. Sungai tertinggal di belakang, dan ketegangan semalam tidak hilang begitu saja. Namun kini mereka punya tanda yang nyata untuk menjelaskan bagaimana pulang. Kaki Ryan masih sakit, tetapi mereka tidak lagi berjalan tanpa arah.
Jalan yang mereka pilih berangsur berubah dari tanah liat menjadi permukaan yang lebih keras. Pepohonan mulai renggang, memperlihatkan kebun-kebun kecil dan pagar kayu di sisi jalan. Mereka tidak melihat banyak orang, tetapi tanda kehidupan mulai muncul: sebuah ember di dekat sumur, jemuran yang masih basah, dan suara ayam dari balik pagar. Ryan berjalan perlahan, mengingat setiap penanda yang mereka lewati.
Afif menjaga sisi jalan yang lebih tinggi. Setiap kali Ryan harus melewati genangan, ia lebih dahulu memeriksa bagian yang padat dengan tongkat. Mereka tidak membicarakan hantu atau suara gamelan. Pikiran mereka masih menyimpannya, tetapi yang dibutuhkan saat itu adalah kembali ke rumah No. 13 dengan aman dan memastikan kaki Ryan tidak bertambah parah.
Di depan sebuah pagar bambu, mereka menemukan cabang jalan yang bercabang tiga. Ryan berhenti. Ia mengenali bentuk pohon di ujung kiri, tetapi tidak yakin apakah sebelumnya mereka melewatinya dari arah yang sama. Ia membuka buku catatan dan melihat tanda sungai serta patok kayu. Afif memperhatikan posisi matahari, lalu menunjuk cabang yang menuju lereng rendah.
'Kalau kita mengikuti arah sungai dari tadi, jalur ini seharusnya membawa kita ke jalan yang kita lalui saat datang,' katanya. 'Tapi kita belum boleh memastikan sebelum melihat tanda berikutnya.'
Ryan setuju. Mereka mengambil jalur itu beberapa meter, lalu melihat batu pipih yang pernah mereka catat. Batu itu berada di sisi kanan, dengan bekas lumut membentuk garis gelap. Ryan merasa lega karena tanda tersebut cocok. Mereka tidak sedang berputar tanpa ujung. Jalan yang mereka tempuh memang menyambung ke rute awal.
Afif berjongkok sebentar dan melihat jejak tanah di sekeliling batu. Ada beberapa tapak yang tertimpa hujan. Sulit membedakan jejak mereka sendiri dari jejak lain. Ia tidak menyentuh apa pun. 'Kita tidak perlu mencari tahu siapa yang lewat. Yang penting jalurnya sama.'
'Benar. Jangan membuat kesimpulan dari tanah yang sudah rusak.'
Mereka berjalan lagi hingga bertemu jalan yang lebih lebar. Dari kejauhan, mereka melihat atap rumah Pak Malik, tetapi tidak tampak orang di halaman. Ryan ragu apakah mereka perlu mampir untuk memberi tahu bahwa mereka sudah kembali. Mereka telah meminta arah sehari sebelumnya dan Pak Malik memberi petunjuk tanpa menjelaskan hal lain. Sikap tertutup penjaga itu membuat Ryan enggan memulai percakapan saat masih kelelahan.
'Kita tidak perlu masuk,' kata Afif. 'Kalau dia bertanya, kita bisa menjawab nanti. Sekarang kita pulang dan beristirahat.'
Ryan mengangguk. Mereka menghindari halaman rumah itu tanpa bersembunyi. Tidak ada alasan untuk menyelinap, tetapi mereka juga tidak perlu membuka percakapan baru saat sedang lelah. Ryan tetap memperhatikan pintu dan jendela. Tidak terlihat siapa pun.
Jalur menuju No. 13 kembali melewati kebun dan pohon gandaria. Ryan mengenali batang besar yang mereka lihat sejak awal kedatangan. Ia menunjuk dahan patah yang tadi mereka catat dari sisi lain. Dari sudut ini, rumah No. 13 belum kelihatan, tetapi ia tahu mereka semakin dekat. Afif meniup kode siulan. Ryan menjawab, lalu mereka melanjutkan langkah.
Ketika rumah akhirnya tampak di balik pepohonan, Ryan merasa bahunya sedikit mengendur. Bangunannya tetap berdiri dengan jendela tertutup. Tidak ada sosok yang terlihat di balik kaca. Ia tidak langsung berlari menuju pintu; kaki yang cedera melarangnya melakukan gerakan mendadak. Afif memeriksa halaman dari tepi jalur, kemudian menunggu Ryan sampai di sampingnya.
'Tidak ada yang berubah dari luar,' kata Afif.
'Belum tentu di dalam,' jawab Ryan. 'Kita periksa bersama.'
Mereka memasuki halaman dengan langkah lambat. Ryan memegang kunci, sementara Afif tetap berada di sisi kirinya. Sebelum membuka pintu, mereka berhenti dan mendengarkan. Tidak ada suara dari dalam selain bunyi angin yang menyentuh daun. Ryan membuka kunci dan mendorong pintu sedikit. Engselnya mengeluarkan derit yang sama seperti sebelumnya.
Afif masuk lebih dulu hanya beberapa langkah, kemudian menunggu Ryan. Mereka tidak berpisah untuk memeriksa ruangan. Keduanya melihat ruang tengah, meja, dan tangga. Tidak tampak benda yang dipindahkan. Pintu-pintu di lantai bawah tetap tertutup. Ryan mengunci pintu setelah mereka masuk, lalu menyimpan kunci di tempat yang disepakati.
'Rumah ini terasa sama,' kata Afif. 'Tapi aku tidak mau menganggap semuanya aman hanya karena tidak ada yang terlihat.'
'Kita juga tidak perlu menganggap semua yang kita alami terjadi karena satu penyebab. Kita catat dulu apa yang kita tahu.'
Ryan duduk perlahan di kursi dekat ruang tengah. Kaki kanannya mulai terasa panas dan berdenyut. Afif mengambil bantal kecil dan meletakkannya di bawah betisnya. Ryan membuka buku catatan, lalu menambahkan urutan dari sungai ke pertigaan dan dari patok kayu ke jalan utama. Ia menulis bahwa mereka pulang bersama dan tidak menyeberangi jembatan.
Mereka belum menjawab ancaman Pak Erte, belum memahami sikap Malik, dan belum mengetahui siapa gadis dalam potret. Tetapi satu hal sudah berubah: jalan pulang kini dapat mereka jelaskan dengan tanda nyata, bukan hanya ingatan yang kabur oleh hujan dan rasa takut. Ryan menutup buku catatan. Ia perlu merawat kakinya sebelum memikirkan hal lain.