Afif menyiapkan air bersih dan kain untuk membantu Ryan merawat pergelangan kakinya. Mereka tidak memiliki perlengkapan medis lengkap, jadi ia membersihkan bagian yang terkena lumpur dan memasang balutan ringan agar kaki itu tidak banyak bergerak. Ryan menahan rasa perih ketika kain menyentuh kulit. Ia tidak membiarkan Afif menekan bagian yang bengkak.
'Kalau nyerinya makin parah, kita cari pertolongan,' kata Afif. 'Jangan sok kuat.'
'Aku tidak akan berjalan ke mana-mana dulu.'
Mereka memindahkan kursi lebih dekat ke meja agar Ryan tidak perlu berdiri. Afif mengisi dua gelas air. Sesudah itu ia memeriksa jendela dan pintu yang terlihat dari ruang tengah. Ia tidak membuka semuanya. Ia hanya memastikan kait yang mereka pakai masih berada di tempatnya dan tidak ada kaca pecah atau tanda kerusakan baru.
Ryan mengeluarkan ponsel untuk melihat apakah ada sinyal. Hanya satu garis muncul lalu hilang. Ia tidak mencoba menelepon siapa pun. Setelah malam yang panjang, baterainya juga hampir habis. Afif menyambungkan ponsel mereka ke pengisi daya dan menyimpan kabel agar tidak menghalangi jalan. Keduanya sepakat menghemat daya sampai jaringan tersedia.
Mereka kembali membahas ancaman Pak Erte, kali ini dengan suara yang lebih tenang. Ryan menyebutkan kata-kata lelaki itu tepat seperti yang ia ingat. Afif mencatatnya, lalu membedakan antara kalimat yang benar-benar diucapkan dan dugaan mereka tentang maksudnya.
'Dia bilang tidak menerima pendatang dan meminta kita pergi,' kata Afif. 'Lalu dia bilang kita sudah diperingatkan soal nyawa.'
'Berarti ada dua hal yang kita tahu. Dia tidak menginginkan kita di sini dan dia menganggap ada bahaya.'
'Tapi belum tentu dia ingin membantu. Bisa saja peringatan itu bagian dari usahanya mengusir kita.'
Ryan mengangguk. 'Kita tidak boleh menganggap dia jujur hanya karena mengatakan bahaya. Kita juga tidak boleh menuduh tanpa bukti.'
Ryan meminta Afif menceritakan kembali apa yang ia ingat tentang malam di rumah Pak Erte. Afif bercerita tentang suara di balik pintu, gagang yang bergerak, dan sosok yang menyerupai Ryan di hutan. Ia tidak menambah apa-apa di luar yang ia lihat. Ryan mendengarkan tanpa menyela, lalu menceritakan udara dingin dan perasaan seolah ada yang menyentuh pundaknya. Ia tidak melihat Pak Erte di belakangnya; ia hanya menghubungkan sentuhan itu dengan firasatnya sendiri. Mereka sepakat menulisnya sebagai pengalaman Ryan, bukan bukti bahwa Pak Erte masuk ke kamar.
Mereka kemudian membandingkan cerita tentang tempat tidur. Afif ingat ia berbaring di dipan dekat jendela dan terbangun ketika Ryan memanggilnya. Ryan mengingat dirinya merebahkan badan di dipannya sendiri, lalu membuka mata di tempat tidur Afif. Tidak ada yang ingat berjalan atau saling memindahkan. Mereka menulis dua versi itu secara terpisah, tanpa memutuskan bahwa salah satu pasti benar. Hal itu membuat kejadian tersebut terasa lebih nyata, sekaligus lebih sulit dijelaskan.
'Kalau kita mencampur ingatan, nanti kita sendiri tidak tahu mana yang benar-benar kita alami,' kata Afif. 'Kita simpan masing-masing dulu.' Ryan setuju. Mereka menandai waktu yang masih bisa mereka sepakati: suara percakapan dan ayam terdengar setelah fajar, lalu Pak Erte mengajak mereka sarapan. Soal bagaimana mereka berpindah tempat tetap menjadi pertanyaan terbuka.
Ryan tidak merasa jawaban itu membuat rumah Pak Erte lebih aman. Namun, setidaknya kini mereka tidak saling menuduh atau mengarang penjelasan untuk menutup bagian yang kosong. Jika nanti ada informasi baru, mereka bisa kembali membaca catatan dan membandingkannya. Afif menaruh buku tersebut di meja, di samping sketsa jalur pulang.
Afif mengambil makanan yang masih tersimpan di ransel. Mereka makan sedikit sambil duduk di ruang tengah. Setelah selesai, Afif membereskan bungkus makanan dan Ryan meletakkan gelas di meja. Percakapan mereka beralih ke hal praktis: berapa lama kaki Ryan perlu diistirahatkan dan apa yang bisa mereka lakukan tanpa meninggalkan rumah.
Setelah makan, Ryan melihat ke arah tangga. Potret yang mereka temukan masih berada di tempatnya. Dari ruang tengah, wajah ayahnya pada foto itu tampak setengah tertutup bayang-bayang. Ryan merasa ada pertanyaan lain yang perlu diajukan kepada ayahnya, tetapi ia terlalu lelah dan kakinya masih berdenyut. Ia menyimpan ponsel di samping buku catatan, lalu beristirahat sejenak.
'Kalau kita ingin memahami rumah ini, kita harus memisahkan fakta dari rasa takut,' katanya. 'Aku tahu siapa yang ada di potret itu. Aku tahu surat menyebutkan rumah dan kebun ini diwariskan. Tapi aku belum tahu kenapa.'
Afif mengikuti arah pandangnya ke tangga. 'Dan kita belum tahu siapa yang menugaskan Pak Malik menjaga rumah, atau kenapa Pak Erte ingin kita pergi.'
'Semua itu perlu ditanyakan. Tapi satu-satu.'
Di luar, matahari naik semakin tinggi. Halaman No. 13 terlihat biasa, dengan rumput basah dan beberapa daun berserakan. Rumah itu tidak tampak seperti tempat yang baru saja menyaksikan kejadian mengerikan. Justru ketenangan itu terasa ganjil. Ryan memperhatikan jendela kamar yang pernah menampilkan wajah seorang perempuan. Kacanya hanya memantulkan pepohonan.
Afif menutup buku itu dengan hati-hati. 'Kita berhasil kembali ke sini bersama. Kita juga akan mencari jawaban bersama.'
Ryan mengangguk. Kakinya masih sakit, ancaman Pak Erte belum terjelaskan, dan potret ayahnya menunggu di atas tangga. Namun pagi itu, setidaknya mereka tidak lagi tersesat.
Ryan meletakkan ponselnya di atas meja, di samping buku catatan. Satu garis sinyal muncul cukup lama untuk mencoba menelepon. Ia mengangkat pandangan kepada Afif, yang duduk di kursi seberang.
'Aku mau menelepon Ayah. Kamu boleh mendengar, tapi aku akan bertanya dulu apakah ia keberatan kalau pengeras suara dinyalakan.'
'Baik. Aku akan mencatat jawaban yang benar-benar ia ucapkan, bukan menebak maksudnya.'
Ryan menekan nomor ayahnya. Nada sambung terdengar dua kali sebelum panggilan diangkat. Suara di seberang terdengar lelah, tetapi jelas.
'Ryan? Kamu baik-baik saja?'
'Aku bersama Afif. Kami sudah kembali ke rumah No. 13. Kakiku masih terkilir, jadi aku sedang istirahat. Aku ingin bicara tentang potret yang kami temukan di tangga.'
Ayahnya terdiam beberapa detik. Ryan menunggu, lalu berkata, 'Afif ada di sini. Boleh aku memakai pengeras suara supaya kami tidak kehilangan bagian pembicaraan karena sinyal?'
'Boleh,' jawab ayahnya. 'Asal jangan kirimkan pembicaraan ini kepada siapa pun.'
Ryan menekan tombol pengeras suara. Afif menggeser buku catatannya lebih dekat, kemudian menulis waktu panggilan. Ia tidak merekam suara. Ryan meletakkan ponsel di atas meja agar keduanya bisa mendengar.
'Ayah mengenali potret itu?' tanya Ryan.
'Aku pernah tinggal di rumah itu,' jawab ayahnya akhirnya. 'Sudah lama sekali. Aku tidak menyangka kamu menemukan fotonya.'
Kening Ryan berkerut. 'Ayah pernah tinggal di rumah No. 13?'
'Ya.'
'Kenapa Ayah tidak pernah bercerita?'
'Waktu itu kamu masih kecil. Aku pikir tidak ada gunanya membicarakan hal lama.'
'Itu bukan jawaban untuk sekarang. Aku sudah dewasa, dan rumah itu diwariskan kepadaku. Aku perlu tahu kenapa.'
Ayahnya menarik napas. 'Kamu sebaiknya pulang ke kota dulu. Kita bicara langsung setelah kamu pulang.'