Ryan melirik pergelangan kakinya yang dibalut. 'Aku tidak bisa pergi hari ini. Kakiku cedera dan aku belum siap menempuh perjalanan. Lagi pula, kenapa penjelasan harus menunggu sampai aku pulang? Apa ada sesuatu yang tidak bisa Ayah katakan lewat telepon?'
'Aku tidak bilang ada sesuatu yang buruk. Aku hanya merasa lebih baik menjelaskannya langsung.'
'Kalau begitu, jelaskan bagian yang bisa Ayah jelaskan sekarang. Ayah pernah tinggal di sana. Itu fakta. Apakah Ayah tinggal bersama pemilik rumah?'
Hening kembali terdengar. Ryan menunggu beberapa saat, lalu mengulang pertanyaannya dengan lebih perlahan.
'Ryan, aku belum siap menjawab semua itu.'
Afif menulis kalimat tersebut tanpa menambahkan kesimpulan. Ryan melihat catatan kecil itu, lalu melanjutkan.
'Ayah, aku tidak menelepon untuk bertengkar. Aku ingin tahu apa hubungan Ayah dengan rumah itu dan perempuan yang mengirim surat warisan. Kalau Ayah belum siap menjawab, katakan apa yang perlu ditunggu dan kapan kita bisa melanjutkan.'
'Jangan melakukan apa pun di rumah itu dulu,' jawab ayahnya. 'Jangan mengubah barang-barang di sana. Pulanglah secepatnya, nanti kita bicara.'
'Aku tidak mengubah barang. Tapi aku tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja. Surat itu menyebutkan rumah dan kebun sebagai warisan. Aku perlu tahu apakah suratnya benar dan siapa yang mengirimnya.'
Ayahnya tidak menanggapi bagian tentang surat. Ia hanya mengulang agar Ryan pulang. Afif menulis bahwa pertanyaan tentang pengirim surat belum dijawab. Ia tidak menunjukkan catatan itu kepada Ryan sampai ayahnya berhenti berbicara.
Ryan merasakan kesal naik ke dadanya, tetapi ia menahannya. 'Aku tidak akan memaksakan diri berjalan dengan kaki seperti ini. Aku juga tidak akan membuang surat atau mengubah rumah. Tapi aku tidak mau pulang hanya untuk menerima penjelasan yang ditunda lagi.'
'Bukan begitu maksudku.'
'Kalau bukan, tolong jelaskan apa maksud Ayah.'
Panggilan terdengar berdesis. Sinyal melemah, lalu suara ayahnya terputus sesaat. Ryan menunggu sampai sambungan kembali jelas. Ia tidak mau kehilangan jawaban hanya karena mereka saling memotong.
'Ayah pernah tinggal di rumah itu,' kata Ryan. 'Itu yang sudah Ayah akui. Aku akan mengirim foto potret nanti kalau sambungannya baik. Tapi sebelum itu, aku ingin kita sepakat bahwa percakapan berikutnya harus jujur. Jangan menyuruhku pulang tanpa memberitahu apa yang sedang Ayah khawatirkan.'
'Aku mendengar kamu,' jawab ayahnya. 'Aku perlu waktu untuk memikirkan cara menjelaskannya.'
'Berapa lama?'
'Beri aku sampai menjelang siang. Aku akan menelepon lagi.'
Ryan menatap Afif. Temannya mengangkat dua jari, menandakan bahwa ia mencatat janji itu. 'Baik. Menjelang siang. Kalau Ayah tidak bisa menjelaskan semuanya, jelaskan apa yang sudah Ayah tahu dan apa yang belum. Aku tidak akan meminta jawaban yang Ayah tidak punya.'
Ayahnya tidak langsung menjawab. 'Jaga kakimu. Jangan pergi ke kebun.'
'Aku sedang istirahat. Tapi aku tetap perlu mengetahui rumah ini.'
'Ryan—'
Panggilan terputus. Ryan menatap layar yang menunjukkan sinyal hilang. Ia tidak tahu apakah ayahnya sengaja mengakhiri panggilan atau jaringan yang memutusnya. Afif menuliskan waktu berakhir dan memastikan bahwa ia mendengar janji untuk menelepon sebelum tengah hari. Mereka tidak menyimpulkan lebih jauh.
'Setidaknya sekarang kita tahu Ayah pernah tinggal di sana,' kata Afif.
'Dan dia meminta aku pulang sebelum menjelaskan surat.'
'Pertanyaan tentang pemilik rumah tidak dijawab.'
Ryan mengangguk. Ia meminta Afif membaca kembali catatan, memastikan tidak ada kata-kata yang tertukar. Mereka membedakan pengakuan yang pasti dari jawaban yang menghindar: ayah pernah tinggal di rumah No. 13; ia ingin Ryan pulang sebelum menjelaskan; ia akan menelepon lagi sebelum tengah hari. Soal surat warisan masih terbuka.
Ryan menyandarkan punggung dan mengangkat kakinya ke atas bantal. Panggilan itu tidak memberi banyak jawaban, tetapi mengubah satu hal: ayahnya tidak lagi bisa mengatakan bahwa ia tidak mengenal rumah itu. Ryan meminta Afif menyimpan catatan, lalu menunggu sampai sinyal muncul lagi agar dapat mengirim foto potret tanpa tergesa-gesa. Menjelang siang nanti, mereka akan meminta percakapan yang lebih jelas.
Panggilan berikutnya datang sebelum tengah hari. Ryan sedang duduk dengan kaki terangkat ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nama ayahnya pada layar dan memberi isyarat kepada Afif. Mereka sudah menyiapkan buku catatan, salinan surat warisan, dan foto potret. Afif bertanya apakah Ryan ingin pengeras suara dinyalakan lagi. Ryan menjawab ya, lalu mengangkat panggilan.
'Aku sudah bisa bicara sebentar,' kata ayahnya. 'Bagaimana keadaanmu?'
'Masih sakit, tapi aku sudah membersihkannya dan beristirahat. Aku tidak keluar rumah. Ayah bilang mau bicara sebelum siang.'
'Aku ingat.'
Ryan menyalakan pengeras suara. 'Aku ingin menyampaikan isi surat yang membuatku datang ke sini. Surat itu menyebut rumah No. 13 dan kebunnya sebagai warisan untukku. Ada nama perempuan yang mengirimnya, tapi aku tidak mengenalnya. Aku juga menemukan potret Ayah di tangga. Aku ingin tahu kenapa semua itu berkaitan.'
Afif menulis inti percakapan, tidak setiap kata. Ia sudah memberi tahu Ryan bahwa ia akan mencatat hal-hal penting. Ayah Ryan kembali menghela napas sebelum menjawab.
'Aku pernah tinggal di rumah itu, seperti yang kukatakan tadi. Tapi aku tidak tahu apakah surat itu benar-benar cukup untuk menetapkan hak atas rumah dan kebun.'
'Kalau Ayah tidak tahu, kita bisa memeriksa dokumennya. Tapi Ayah tahu siapa yang mengirimnya?'
'Aku belum mau membicarakan nama orang lain lewat telepon.'
Ryan terdiam. 'Aku tidak meminta Ayah menyebarkan nama itu. Aku bertanya karena surat tersebut ditujukan kepadaku dan sekarang aku berada di rumah yang Ayah kenal.'
'Ryan, dengarkan Ayah. Pulanglah dulu. Jangan tinggal di sana lebih lama.'
'Ayah belum menjawab kenapa.'
'Aku ingin memastikan kamu aman.'
'Kalau Ayah khawatir, jelaskan bahayanya. Aku tidak akan bisa menjaga diri kalau Ayah hanya menyuruhku pergi.'
Ada jeda panjang. Afif mencatat bahwa ayah Ryan kembali meminta ia pulang, tetapi tidak menyebutkan bahaya tertentu. Ryan melihat temannya, lalu meneruskan dengan suara lebih tenang.
'Aku tidak akan menyentuh kebun atau mengubah isi rumah. Aku dan Afif tetap bersama. Tapi aku tidak bisa menjanjikan akan pergi sebelum tahu apa yang sedang terjadi. Kaki ini juga belum memungkinkan untuk perjalanan jauh.'
'Ayah tidak menyuruhmu pergi sendirian. Minta Afif mengantarmu.'
'Aku tetap tidak akan berangkat hari ini. Aku perlu istirahat dan mendengar penjelasan yang sebenarnya.'
Ryan mengambil salinan surat dari meja. Ia membacakan bagian yang menyebut pemberian rumah dan kebun. Ia tidak membacakan alamat lengkap atau nomor dokumen ke pengeras suara; ia hanya menyebut kalimat utama dan tanggal yang tertera. Ayahnya tidak menyangkal bahwa kalimat itu terdengar familiar. Namun, ia tidak menjelaskan apakah pernah melihat surat tersebut sebelumnya.
'Apakah Ayah pernah membaca surat seperti ini?' tanya Ryan.
'Aku mungkin pernah melihat dokumen yang mirip, sudah lama.'
'Mirip bagaimana?'
'Aku tidak ingat dengan jelas.'
Ryan mengerutkan kening. Jawaban itu terlalu umum untuk membantunya. 'Ayah mengenali suratnya atau tidak?'
'Aku tidak bisa memastikan hanya dari kalimat yang kamu bacakan.'
'Kalau aku kirim foto surat dan potret, Ayah bisa melihatnya.'
'Jangan kirim dulu. Simpan baik-baik sampai kita bicara langsung.'