Afif berhenti menulis sebentar, lalu menambahkan: ayah meminta surat dan foto tidak dikirim; ia tidak memastikan pernah membaca surat yang sama. Ryan menyadari bahwa ayahnya mungkin benar-benar membutuhkan waktu, tetapi semakin banyak bagian yang ditahan, semakin besar pula kecurigaannya. Ia tidak ingin menuduh, namun juga tidak akan mengubah jawaban samar menjadi kepastian.
'Kalau kita bertemu, Ayah mau menjawab semua pertanyaanku?' tanya Ryan.
'Aku akan menjelaskan apa yang bisa kujelaskan.'
'Bukan itu yang kutanyakan. Aku meminta kita bicara jujur, termasuk kalau Ayah tidak tahu atau belum mau menjawab.'
Ayahnya terdiam. 'Aku akan berusaha.'
Ryan mendengar bunyi kecil di seberang, seperti kursi bergeser. 'Ayah sedang di mana?'
'Di rumah.'
'Bisa bicara lebih lama sekarang?'
'Tidak. Aku ada urusan sebentar lagi.'
Ryan menatap Afif. Temannya hanya menulis bahwa ayahnya menyebut ada urusan, tanpa menebak apakah itu alasan sungguhan. Ryan merasa ingin menahan panggilan agar mendapat jawaban, tetapi ia tidak mau memaksa percakapan ketika ayahnya sudah menyatakan tidak bisa melanjutkan.
'Baik. Tapi kita perlu menentukan waktu berikutnya.'
'Aku akan menghubungimu lagi setelah aku memeriksa beberapa hal.'
'Kapan?'
'Aku belum tahu. Nanti aku kabari.'
Ryan menghela napas. 'Ayah bilang akan menghubungi lagi, tapi belum memberi waktu. Aku akan menunggu sampai sore. Kalau belum ada kabar, aku akan mengirim pesan untuk meminta jadwal yang pasti.'
'Aku mengerti.'
Panggilan berakhir beberapa menit kemudian. Ryan tidak langsung meletakkan ponsel. Ia menatap salinan surat yang terbuka di meja. Kata 'warisan' tetap sama, tetapi sekarang ia tahu ayahnya pernah melihat dokumen yang mirip. Itu belum menjawab siapa pengirimnya atau mengapa Ryan dipilih.
Afif membaca ulang catatannya. 'Yang pasti: Ayah mengakui pernah tinggal di sana. Dia pernah melihat dokumen yang mirip, tapi belum memastikan suratmu sama. Dia meminta kamu pulang dan menunda penjelasan.'
'Dan dia meminta kita jangan mengirim fotonya.'
'Ya. Kita ikuti itu dulu, tapi salinan tetap kita simpan.'
Ryan memeriksa suratnya tanpa menyentuh lipatan yang rapuh. Ia tidak akan menyembunyikan dokumen itu atau mengubahnya. Afif menaruh catatan panggilan terpisah dari surat. Mereka kini memiliki beberapa hal yang bisa ditanyakan lagi dengan tepat, bukan hanya firasat.
'Aku akan minta waktu yang pasti sore nanti,' kata Ryan. 'Sebelum itu, kita tidak perlu menghubungi siapa pun lagi.'
Afif setuju. Ia menutup buku catatan, lalu membantu Ryan menata bantal agar kakinya tetap terangkat. Percakapan itu tidak memberi jawaban tentang surat, tetapi menunjukkan bahwa ayah Ryan mengenal rumah tersebut dan menghindari beberapa pertanyaan. Ryan menunggu tanpa menganggap diam sebagai jawaban.
Setelah panggilan berakhir, Ryan meminta Afif membacakan catatan yang mereka buat. Ia ingin memastikan kata-kata ayahnya tidak berubah karena perasaan kecewa. Afif membuka halaman pertama dan menyebutkan tiga hal: ayah Ryan pernah tinggal di rumah No. 13; ia pernah melihat dokumen yang mirip, tetapi tidak memastikan surat warisan itu sama; dan ia meminta Ryan pulang sebelum memberikan penjelasan lebih jauh.
'Tambahkan juga bahwa dia belum mau kita kirimi foto,' kata Ryan.
Afif menulisnya sebagai permintaan, bukan larangan yang berlaku selamanya. 'Kamu setuju menunggu sampai pembicaraan berikutnya?'
'Untuk sementara. Aku ingin melihat apakah dia akan benar-benar memberi jadwal dan bicara. Kalau terus menunda, kita harus mencari jalan lain.'
Ryan menarik salinan surat mendekat. Ia membacanya lagi, perlahan, tanpa mengisi bagian yang tidak tertulis. Surat itu menyebutkan rumah dan kebun, nama penerima, serta keterangan bahwa keduanya diberikan kepadanya. Ia tidak menyimpulkan siapa perempuan yang mengirimnya atau apakah semua urusan dokumen telah selesai. Ayahnya mungkin mengenal surat sejenis, tetapi itu belum cukup untuk mengesahkan atau menolak isi surat tersebut.
Afif menunjuk daftar pertanyaan di buku catatan. 'Kita perlu memisahkan pertanyaan keluarga dari pertanyaan dokumen. Ayahmu mungkin bisa menjelaskan kenapa pernah tinggal di sana, tapi soal keabsahan surat mungkin harus diperiksa melalui orang yang memahami dokumen.'
'Betul. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu apakah Ayah mengenali perempuan yang mengirimnya.'
'Dan apakah dia tahu kenapa rumah itu diberikan kepadamu.'
Ryan menambahkan dua butir tersebut. Ia juga menulis pertanyaan tentang potret: kapan foto itu diambil, siapa saja yang tinggal di rumah saat itu, serta mengapa potret diletakkan di tangga. Ia sadar tidak semua jawaban harus datang dari ayahnya. Namun, ayahnya adalah orang pertama yang mereka tahu pernah tinggal di sana, jadi ia perlu mendengar keterangannya sebelum bertanya kepada orang lain.
Kaki Ryan berdenyut ketika ia menggeser duduk. Afif segera mengingatkannya untuk tidak bangkit. Ryan membetulkan posisi bantal di bawah betisnya, lalu memeriksa balutan yang dipasang tadi. Kainnya masih bersih. Ia tidak membuka balutan sendiri, hanya memastikan bahwa tidak ada darah atau lumpur yang merembes.
'Kalau Ayah menelepon lagi, jangan sampai kamu lupa istirahat karena sibuk bertanya,' kata Afif.
'Aku bisa bertanya sambil duduk.'
'Bisa. Tapi kalau sakitnya bertambah, kita berhenti. Tidak ada jawaban yang lebih penting daripada menjaga kakimu.'
Ryan mengangguk. Ia tidak suka merasa dibatasi, tetapi tahu temannya benar. Perjalanan pagi tadi sudah cukup berat. Ia tak ingin memaksakan diri lalu kehilangan kemampuan untuk bergerak ketika mereka benar-benar membutuhkan bantuan.
Sinyal pada ponsel kembali muncul satu garis. Ryan mengetik pesan singkat kepada ayahnya: ia menunggu panggilan sesuai janji, dan bila belum bisa menjawab semua pertanyaan, ia ingin tahu kapan mereka dapat membicarakannya lagi. Ia membaca pesan itu kepada Afif sebelum mengirim. Kalimatnya tidak menuduh dan tidak mengancam.
Ayahnya membalas beberapa menit kemudian: 'Aku sedang memeriksa sesuatu. Aku akan menghubungimu lagi setelah siang.' Tidak ada penjelasan tentang apa yang sedang diperiksa. Ryan meletakkan ponsel dan menahan diri agar tidak bertanya melalui pesan. Ia telah meminta waktu yang jelas, dan ayahnya memberikan perkiraan. Kini ia akan menunggu sampai batas itu.
Afif mencatat balasan tersebut. 'Ini lebih pasti daripada ‘nanti aku kabari’, tapi belum menjawab apa yang sedang dia periksa.'
'Kita catat begitu saja. Mungkin dia benar-benar sedang mencari sesuatu.'
'Mungkin. Tapi kita belum tahu.'
Mereka mengisi waktu dengan memeriksa perlengkapan yang sempat basah. Afif mengeluarkan jas hujan dari tas dan menggantungkannya di tempat yang terkena udara. Ryan hanya membantu dengan menunjuk barang yang perlu dikeluarkan. Mereka menemukan senter dengan baterai lemah dan mengisinya. Tidak ada barang yang hilang. Ransel Afif tetap tertutup rapat, dan tidak ada benda asing di antara pakaian mereka.
Ryan teringat kepala yang jatuh dari ransel pada hari pertama. Ia meminta Afif memastikan tas itu tidak memiliki sobekan baru. Afif memeriksa jahitan luar tanpa membongkar seluruh isinya. Tidak ada kerusakan yang tampak. Mereka tidak menemukan alasan untuk menghubungkan kejadian itu dengan perjalanan semalam, tetapi Ryan mencatatnya sebagai peristiwa terpisah yang masih belum dapat dijelaskan.
'Kalau kita menulis semua kejadian dalam satu halaman, nanti rasanya seperti semuanya pasti berhubungan,' kata Afif. 'Lebih baik satu catatan untuk rumah, satu untuk perjalanan, satu lagi untuk orang-orang yang kita temui.'