Ryan menyukai gagasan itu. Ia memberi judul pada tiga bagian: rumah dan penampakan, jalur desa, serta keterangan Pak Malik dan Pak Erte. Ia tidak mengisi bagian yang belum memiliki bukti. Panggilan ayahnya ia letakkan di bagian terpisah, karena ia belum tahu apakah masa lalu keluarga menjelaskan kejadian gaib.
Waktu bergerak perlahan. Mereka tidak meninggalkan rumah dan tidak membuka pintu untuk memeriksa halaman. Afif memasak makanan sederhana dengan perlengkapan yang mereka bawa, sementara Ryan tetap duduk. Mereka makan bergantian mengambil piring supaya kaki Ryan tidak perlu menapak. Tidak ada pembicaraan baru yang muncul, tetapi suasana lebih tenang daripada malam sebelumnya.
Selepas siang, Ryan memeriksa ponsel lagi. Belum ada panggilan. Ia tidak merasa lega atau lebih curiga; ia hanya menunggu waktu yang dijanjikan. Afif menutup buku catatan dan meletakkannya di dekat Ryan. Jika ayahnya menelepon, mereka sudah siap mendengarkan. Jika tidak, Ryan akan meminta kepastian sekali lagi.
Ryan melihat daftar pertanyaan yang tersusun rapi. Sebelumnya, ia merasa harus mengetahui semuanya sekaligus. Sekarang ia tahu setidaknya urutan yang perlu ditempuh: dengarkan ayahnya, jaga surat, lalu minta bantuan untuk memeriksa dokumen bila perlu. Ia belum memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap rumah. Ia hanya tidak ingin memilih berdasarkan ancaman atau rasa takut.
Ponsel bergetar. Nama ayahnya muncul di layar. Ryan memberi isyarat kepada Afif agar membuka catatan, lalu menerima panggilan. Kali ini ia tidak akan membiarkan percakapan berakhir hanya dengan perintah untuk pulang.
Panggilan berikutnya masuk setelah tengah hari. Ryan menyalakan pengeras suara setelah ayahnya menyetujuinya, lalu memberi tanda kepada Afif untuk mulai mencatat. Sambungan kali ini terdengar lebih stabil, dan Ryan ingin memakai kesempatan itu untuk meminta penjelasan tentang bahaya yang disebut ayahnya.
'Ayah sudah sempat memeriksa sesuatu?' tanyanya.
'Aku sedang mencoba mengingat urutannya. Tapi ada bagian yang sebaiknya tidak dibicarakan lewat telepon.'
'Aku tidak meminta Ayah menceritakan semuanya sekarang. Tadi aku sudah membacakan bagian tentang warisan. Sekarang aku ingin memastikan apa yang Ayah ketahui tentang pengirimnya.'
Ayahnya diam sejenak, kemudian berkata, 'Bacakan bagian yang menurutmu penting.'
Ryan mengambil surat dari meja. Ia memastikan lipatannya tidak terbuka lebar, lalu membacakan isinya dengan suara jelas. Perempuan tua yang menulis surat itu meminta Ryan menerima warisan berupa rumah dan perkebunan. Ia juga memintanya mengelola kembali kebun tersebut. Di dalam paket yang menyertai surat ada sebuah kunci, alamat, dan petunjuk jalan menuju rumah di perkebunan. Surat itu meminta Ryan agar tidak menolak warisan.
Ryan berhenti setelah selesai membaca. 'Itu isi yang aku tahu. Ayah pernah melihat dokumen mirip seperti ini. Apakah Ayah tahu kenapa perempuan itu memilihku?'
'Aku belum bisa menjawab.'
'Apakah Ayah mengenal perempuan itu?'
'Aku tidak mau menyebut nama atau hubungan keluarga lewat telepon.'
'Apakah Ayah yakin surat itu benar-benar dari dia?'
'Aku tidak bisa memastikan dari apa yang kamu bacakan. Aku perlu melihat dokumennya.'
Ryan menoleh ke arah Afif. Temannya menulis setiap pertanyaan dan jawaban di kolom terpisah. Ia tidak mengangkat bahu atau membuat gerakan yang dapat memengaruhi percakapan. Ryan kembali menatap surat.
'Ayah tadi meminta aku pulang sebelum menjelaskan warisan. Kalau Ayah perlu melihat suratnya, kita bisa atur cara yang aman. Tapi kenapa aku harus pulang dulu, sebelum Ayah menjelaskan sedikit pun?'
'Karena rumah itu tidak aman untuk kalian.'
Kata-kata itu membuat Ryan menegakkan punggung. 'Apa yang membuatnya tidak aman?'
'Ada banyak hal yang belum kamu pahami.'
'Kalau Ayah tahu ada bahaya, sebutkan bahaya yang bisa Ayah jelaskan. Aku dan Afif sudah mengalami hal-hal aneh. Kami perlu tahu mana yang harus diwaspadai.'
Ayahnya menarik napas panjang. 'Aku tidak bisa menceritakannya sekarang.'
'Kenapa?'
'Ryan, jangan membuat ini lebih sulit. Pulanglah. Kita bicarakan langsung.'
'Ayah mengatakan rumah itu tidak aman, tetapi tidak mau menjelaskan alasannya. Ayah meminta aku pulang, tetapi tidak memberi tahu apa yang harus kami lakukan selama menunggu. Aku bukan menolak bicara. Aku meminta informasi supaya bisa membuat keputusan dengan sadar.'
'Jaga kakimu dan jangan pergi ke kebun.'
'Kami tidak akan pergi ke kebun hari ini. Tapi aku masih perlu tahu apakah ada orang yang mungkin datang ke rumah ini.'
Ayahnya tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia kembali mengatakan bahwa Ryan harus pulang setelah kondisinya memungkinkan. Ryan menjawab bahwa ia akan mempertimbangkan perjalanan setelah kakinya membaik, tetapi tidak akan meninggalkan rumah tanpa mengetahui siapa yang mengawasi tempat itu dan mengapa surat itu dikirim kepadanya.
Afif menulis: peringatan tentang rumah tidak aman, tanpa penjelasan bahaya; ayah kembali meminta Ryan pulang; pertanyaan tentang orang yang mungkin datang tidak dijawab. Ia tidak menulis bahwa ayah Ryan berbohong. Mereka belum memiliki bukti untuk menyatakan itu.
'Kalau Ayah belum siap bicara lewat telepon, kapan kita bisa bertemu?' tanya Ryan.
'Aku akan mencari waktu.'
'Kita perlu waktu yang pasti.'
'Aku belum bisa menentukan sekarang.'
'Kalau begitu, beri kabar paling lambat sore. Aku tidak meminta Ayah datang ke sini tanpa persiapan. Aku hanya ingin tahu kapan percakapan langsung bisa dilakukan.'
Ayahnya terdengar ragu. 'Aku akan mengabari.'
'Dan saat kita bicara nanti, aku ingin Ayah menjawab sejauh yang Ayah tahu. Kalau ada bagian yang belum bisa dijawab, katakan begitu. Jangan hanya menyuruhku pulang.'
'Aku dengar.'
Ryan memastikan, 'Ayah setuju untuk bicara jujur?'
'Aku akan menjelaskan sebisaku.'
Jawaban itu belum sepenuhnya sesuai dengan permintaannya. Ryan mengulang bahwa yang ia minta adalah percakapan jujur, termasuk pengakuan bila ayahnya belum tahu atau belum siap. Ayahnya tidak membantah, tetapi tidak memberikan persetujuan yang lebih jelas. Afif menandai kalimat itu sebagai jawaban yang masih terbuka.
Sambungan kembali berdesis. Ryan tidak ingin percakapan terputus sebelum mereka menyepakati batas sementara. 'Kami tetap di rumah hari ini dan tidak masuk kebun. Kalau ada bahaya yang mendesak, Ayah harus memberi tahu kami sekarang.'
'Aku sudah bilang jangan ke kebun. Untuk hal lain, tunggu sampai kita bicara.'
Ryan menahan jawaban yang hampir meluncur. Ia tidak ingin mengubah pembicaraan menjadi pertengkaran. 'Baik. Aku menunggu kabar sore ini.'
Panggilan berakhir tanpa ada penjelasan lain. Afif membaca kembali catatannya. Ayah Ryan tidak menyangkal isi surat, tetapi juga tidak memastikannya. Ia menyebut rumah berbahaya, namun tidak menerangkan bahaya apa yang dimaksud. Ia meminta Ryan pulang dan berjanji akan mengabari tentang waktu pertemuan, tanpa menentukan jadwal.
'Dia menghindari pertanyaan yang paling penting,' kata Afif. 'Tapi kita tidak tahu apakah karena takut, belum ingat, atau memang tidak mau menjawab.'
Ryan mengangguk. 'Kita tulis semuanya, jangan pilih satu alasan sebagai kebenaran.'
Ia menyimpan kembali surat ke dalam map agar tidak terlipat berulang-ulang. Ia tidak memotret atau mengirimkannya, sesuai permintaan ayahnya untuk menunggu. Namun, ia juga memastikan dokumen itu tetap berada dalam jangkauannya dan tidak diserahkan kepada siapa pun.
'Aku akan minta waktu yang jelas sore nanti,' katanya. 'Kalau belum ada jawaban, kita pikirkan langkah berikutnya.'
Afif menutup buku catatan. Mereka sudah mendengar bahwa ayah Ryan mengenal rumah itu dan menilai tempat tersebut berbahaya. Penjelasan tentang warisan tetap ditahan. Untuk saat ini, mereka sepakat tidak pergi ke kebun dan tidak mengubah apa pun di rumah. Kaki Ryan perlu pulih, sedangkan surat itu harus tetap utuh sampai mereka memperoleh jawaban yang dapat diperiksa.