Ryan membuka kembali catatan setelah panggilan berakhir. Ia meminta Afif membacakan bagian yang belum terjawab, satu per satu. Ayahnya belum memastikan apakah surat yang dibacakan Ryan sama dengan dokumen yang pernah ia lihat. Ia belum menyebut siapa perempuan tua yang mengirim surat atau mengapa Ryan menjadi penerima. Ia juga belum menjelaskan bahaya di rumah No. 13, meski meminta Ryan pulang dan menjauhi kebun.
Afif membacakan catatan dengan tenang. 'Kita tahu dia pernah tinggal di sana. Kita tahu dia pernah melihat dokumen yang mirip. Kita tahu dia menilai rumah itu berbahaya, tapi belum bilang apa bahayanya.'
'Dan dia meminta aku pulang sebelum menjelaskan warisan.'
'Betul. Itu jawaban yang ia berikan, bukan alasan yang kita tebak.'
Ryan menambahkan tanda tanya di samping beberapa baris. Ia merasa kesal karena harus meminta informasi dasar dari ayahnya sendiri, tetapi ia tahu kemarahan tidak akan membuat mereka lebih dekat pada kebenaran. Ia mencoba membayangkan alasan lain: mungkin ayahnya takut, mungkin ingatannya belum lengkap, atau mungkin ia merasa pembicaraan langsung akan lebih mudah. Semua itu mungkin, tetapi belum ada yang dapat dipastikan.
'Aku tidak mau menganggap dia berbohong,' kata Ryan. 'Tapi aku juga tidak akan bertindak seolah semua sudah jelas hanya karena dia memintaku pulang.'
Afif setuju. 'Kita bisa menunggu kabar sampai sore seperti yang kamu bilang. Tapi kita masih perlu mengetahui apa yang benar-benar terjadi di rumah ini. Pak Malik pernah menjaga rumah dan tahu siapa yang mengurusnya.'
Ryan memandang halaman berikutnya. Ada catatan tentang Malik yang mengaku menjaga rumah atas perintah majikannya. Kini ayah Ryan mengakui pernah tinggal di sana. Ryan ingin mengetahui apakah ayahnya mengenal orang yang memberi tugas kepada Malik, tanpa menebak hubungan mereka lebih dulu.
Ia menulis pertanyaan khusus untuk Malik: kapan terakhir kali pemilik rumah tinggal di sana, siapa yang menjaga dokumen setelah rumah ditinggalkan, dan apakah Malik tahu surat warisan yang diterima Ryan. Ia tidak menuliskan tuduhan tentang telepon. Ia akan mengingatkan Malik bahwa penjaga itu pernah mengenali tulisan tangan pada surat dan menyebut dirinya menunggu seorang pewaris.
Afif membaca daftar itu. 'Tanyakan juga apakah ia tahu alamat perempuan yang mengirim surat. Tapi jangan serahkan suratnya.'
'Aku tidak akan menyerahkan dokumen asli. Kalau perlu, aku hanya ceritakan isinya.'
Mereka sepakat menunggu sampai Ryan cukup kuat untuk bergerak. Ia tidak akan berjalan jauh atau ke kebun. Rumah Malik dekat dari jalur yang mereka kenal, tetapi jalan tanah tetap bisa membuat kaki cedera bertambah sakit. Afif mengusulkan mereka berangkat setelah Ryan beristirahat dan makan, lalu kembali sebelum sore terlalu gelap.
Menjelang tengah hari, ponsel Ryan bergetar. Ayahnya mengirim pesan singkat: 'Aku belum bisa datang hari ini. Tolong jangan pergi ke kebun. Aku akan memberi kabar tentang waktu bicara.' Tidak ada keterangan baru. Ryan membacanya, kemudian meletakkan ponsel agar tidak membalas dengan emosi.
'Dia tidak menyebut kapan,' kata Afif.
'Tidak. Tapi aku sudah bilang akan menunggu sampai sore untuk jadwal. Kita belum sampai sore.'
Ryan membalas bahwa ia tidak akan masuk kebun, tetapi meminta ayahnya menentukan waktu percakapan berikutnya sebelum hari berakhir. Ia tidak meminta ayahnya datang hari itu. Ia hanya tidak ingin janji tanpa batas. Setelah pesan terkirim, mereka kembali fokus pada pertanyaan yang bisa dijawab oleh orang lain.
Ryan beristirahat sambil menjaga kaki tetap terangkat. Afif menyiapkan makanan ringan dan mengisi botol air. Mereka mengecek isi ransel, memastikan surat tersimpan di map dan catatan perjalanan tetap kering. Tidak ada yang mengubah barang di rumah. Ketika Ryan merasa cukup kuat untuk berdiri, ia mencoba menapak pelan di ruang tengah. Nyeri masih ada, tetapi ia tidak terhuyung.
'Kita pergi pelan-pelan. Kalau sakitnya makin parah, kita langsung kembali,' kata Afif.
Ryan mengambil tongkat yang dipakai saat berjalan pulang. 'Dan kita tidak masuk rumah siapa pun sebelum mengetuk dan meminta izin.'
Mereka meninjau pertanyaan untuk Pak Malik sekali lagi. Ryan akan bertanya tentang waktu terakhir penghuni rumah tinggal di No. 13 dan keberadaan dokumen. Afif akan mendengar jawabannya dan mencatat bagian yang pasti, termasuk jika Malik tidak ingat. Mereka tidak akan berdebat jika ia menolak menjawab. Bila pembicaraan tidak berjalan baik, mereka akan kembali ke rumah dan menunggu kabar ayah Ryan.
Ketika siang mulai bergerak menuju sore, Ryan menyimpan surat asli di dalam map yang ditinggalkan di rumah. Ia hanya membawa catatan isi surat. Ia tidak membawa potret karena belum ada alasan untuk memindahkannya. Afif mengambil buku catatan dan memastikan ponselnya terisi cukup. Mereka bersiap keluar bersama-sama, tidak terburu-buru dan tidak menuju bagian kebun yang jauh.
Mereka tidak langsung berjalan begitu Ryan berdiri. Ia mencoba memindahkan berat tubuh ke kaki kiri dan memakai tongkat dengan tangan kanan. Afif mengamati wajahnya, bukan untuk memaksanya berhenti, tetapi untuk memastikan Ryan tidak menyembunyikan nyeri. Setelah beberapa langkah di ruang tengah, Ryan berhenti sendiri. Kakinya masih sakit, namun ia merasa mampu berjalan ke rumah Malik dengan jeda. Ia sepakat bahwa mereka tidak akan memperpanjang perjalanan jika jalurnya ternyata lebih sulit dari ingatan.
Afif menyimpan air dan kain bersih di bagian ransel yang mudah dijangkau. Ryan membawa buku catatan, tetapi surat tetap berada di dalam map dan tidak akan dikeluarkan kecuali diperlukan. Mereka memilih berjalan melalui jalur yang dikenal, bukan memotong kebun. Dengan begitu, jika Ryan harus kembali sebelum sampai, mereka tidak akan terjebak di tempat yang lebih jauh.
Ryan dan Afif berjalan menuju rumah Pak Malik melalui jalur yang sudah mereka kenali. Sore belum terlalu gelap, tetapi mereka tetap berangkat dengan hati-hati. Ryan menumpu pada tongkat kayu. Ia tidak bisa menapak cepat, dan setiap permukaan yang tidak rata membuat pergelangan kakinya kembali berdenyut. Afif berjalan di sisi yang lebih tinggi, siap membantunya bila perlu, tanpa menariknya sebelum diminta.
Mereka tidak membawa surat warisan yang asli. Ryan menyimpannya di rumah No. 13, di dalam map. Yang dibawa hanya buku catatan berisi pertanyaan dan salinan informasi umum tentang surat: perempuan tua tak dikenal mewariskan rumah serta kebun dan meminta Ryan mengelolanya. Mereka sepakat tidak menunjukkan apa pun sebelum tahu alasan Pak Malik memintanya.
Ketika sampai di rumah kayu itu, Afif mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini menyebut nama Pak Malik. Tak lama kemudian terdengar langkah dari samping rumah. Malik muncul dengan pakaian kerja dan memandang mereka tanpa menyapa.
'Kami ingin bertanya sebentar tentang rumah No. 13,' kata Ryan. 'Kalau Bapak sedang sibuk, kami bisa datang lain waktu.'
Malik melihat tongkat di tangan Ryan, lalu membuka pintu lebih lebar. 'Kalian seharusnya istirahat. Apa yang ingin ditanyakan?'
'Kami tidak akan lama,' jawab Afif. 'Kami ingin memastikan beberapa hal sebelum mengambil keputusan.'
Malik tidak mengajak mereka masuk. Ia tetap berdiri di ambang, seolah ingin menjaga percakapan berlangsung singkat. Ryan tidak memaksa. Ia juga tidak mendekat melewati pintu. Afif berdiri di sampingnya, memastikan mereka tidak terpisah.
Ryan membuka buku catatan. 'Bapak sudah lama mengurus rumah dan kebun itu?'
'Sudah lama,' jawab Malik.
'Berapa lama?'