Malik mengerutkan dahi. 'Aku tidak menghitung tahunnya. Aku mulai membantu ketika orang yang tinggal di sana sudah jarang terlihat.'
'Siapa orang yang terakhir tinggal di sana?' tanya Ryan.
Malik terdiam sebentar. Ia melihat ke arah jalan, kemudian kembali menatap Ryan. 'Rumah itu sudah lama kehilangan penghuninya. Yang datang setelahnya hanya orang yang mengurus kebun.'
'Apakah Bapak pernah tinggal bersama pemiliknya?'
'Tidak. Aku punya tempat sendiri di belakang kebun.'
Ryan mencatat jawabannya: Malik menyebut penghuni sudah jarang terlihat, tetapi tidak menyebut nama atau kapan terakhir berada di rumah. 'Kapan terakhir Bapak melihat seseorang tinggal di sana, bukan sekadar datang mengurus sesuatu?'
Malik mengangkat bahu. 'Aku tidak ingat tanggalnya. Sudah bertahun-tahun.'
'Apakah orang itu perempuan tua yang mengirim surat kepadaku?'
'Aku tidak tahu siapa yang mengirim surat.'
Afif mengamati perubahan wajah Malik. Ia tidak melihat tanda yang cukup untuk menyebut lelaki itu berbohong, hanya sikapnya yang semakin tertutup. 'Bapak tidak pernah melihat surat atau dokumen tentang rumah itu?'
'Aku pernah melihat surat yang kalian tunjukkan. Tetapi aku tidak menyimpan surat-surat rumah. Urusanku kebun.'
Ryan tidak membawa surat asli untuk ditunjukkan. 'Kalau begitu, siapa yang menyimpan dokumen rumah setelah penghuni terakhir tidak lagi tinggal di sana?'
'Aku tidak tahu.'
'Tidak ada orang yang memberi tahu Bapak?'
'Tidak.'
Jawaban itu membuat pertanyaan mereka bertambah. Malik mengatakan ia sudah lama mengurus kebun, tetapi tidak tahu siapa yang menjaga dokumen atau bagaimana rumah berpindah kepada Ryan. Ryan tidak menyimpulkan bahwa Malik seharusnya tahu semuanya. Bisa saja pekerjaannya memang terbatas. Namun, kesenjangan antara tugasnya yang lama dan ketidaktahuannya tentang pengelolaan rumah perlu dicatat.
'Bapak bilang rumah itu kehilangan penghuninya,' kata Ryan. 'Dulu Bapak bilang mereka semua sudah meninggal. Sekarang Bapak hanya bilang rumah itu ditinggalkan. Apakah Bapak tahu sendiri atau mengulang kabar orang?'
Malik memalingkan wajah sejenak. 'Aku tidak menyaksikan kematian mereka. Aku mengulang apa yang pernah diceritakan orang.'
'Jadi Bapak tidak bisa memastikan apakah mereka pindah atau meninggal?'
'Aku hanya tahu mereka tidak lagi tinggal di sana.'
Afif melihat Ryan menulis dengan hati-hati. Mereka tidak membutuhkan Malik mengulang jawaban agar terdengar lebih pasti. Keterangan itu tetap sebatas apa yang ia katakan: penghuni tidak lagi berada di rumah; Malik tidak mengetahui apa yang terjadi kepada mereka.
'Apakah Bapak ingat kapan rumah itu mulai kosong?' tanya Afif.
'Sudah lama. Aku tidak punya tanggal.'
'Kalau begitu kami tulis sebagai perkiraan, bukan fakta yang pasti,' kata Ryan.
Malik menatapnya tajam. 'Kalian mau memeriksa aku?'
'Tidak,' jawab Ryan. 'Kami sedang mencoba memahami sejarah rumah. Bapak salah satu orang yang pernah mengurus tempat itu, jadi kami bertanya.'
'Sudah kubilang, aku tidak tahu soal surat.'
Ryan tidak membantah. 'Kami belum meminta Bapak mengesahkan surat. Kami hanya bertanya kapan terakhir ada orang tinggal di sana dan siapa yang menyimpan dokumennya.'
Malik menghela napas. 'Aku tidak bisa memberi jawaban yang tidak aku tahu.'
'Baik. Kami akan mencatat bahwa Bapak tidak tahu.'
Afif mengingatkan bahwa ketika pertama datang, mereka sudah memperlihatkan surat itu. 'Bapak mengenali tulisan tangan majikan Bapak. Bapak juga bilang menunggu pewaris. Mengapa sekarang seolah tidak tahu sama sekali?'
Malik mengatupkan rahang. 'Aku tidak bilang tidak pernah melihatnya. Aku hanya tidak memegang dokumen rumah.'
'Kalau begitu, siapa yang meminta Bapak menjaga rumah ini?' tanya Ryan. 'Orang yang sama dengan pemilik tulisan itu?'
'Ada orang di kota yang masih menghubungiku,' jawab Malik setelah lama diam. 'Aku melaporkan kedatangan kalian. Orang itu menyuruhku mengawasi dan membuat kalian tidak betah supaya pulang.'
Ryan menatapnya. 'Bapak sedang mengakui ada perintah untuk mengusir kami secara tidak langsung? Siapa orang itu?'
Malik menunduk, lalu menggeleng. 'Aku tidak akan menyebutnya atau membicarakan telepon itu lagi.'
Afif mencatat pengakuan itu. Mereka tidak mendengar panggilannya dan tidak mengetahui kata-kata persis di ujung sambungan; yang mereka punya hanyalah keterangan Malik sekarang.
'Apakah orang itu yang menugaskan Bapak mengurus kebun?' tanya Afif.
'Sudah kubilang, aku tidak akan membicarakannya.'
Ryan mencatat bahwa Malik menolak menjawab pertanyaan tentang panggilan. Ia tidak mengubah penolakan itu menjadi pengakuan tentang siapa peneleponnya. Mereka masih belum tahu apakah orang di kota itu terkait dengan ayah Ryan, surat warisan, atau hal lain. Namun, sekarang mereka punya satu hal yang dapat dipastikan: Malik mengetahui kedatangan mereka sebelum mereka bertanya kepadanya secara langsung.
Afif mengusulkan mereka berhenti dulu. Ryan sudah cukup lama berdiri, dan warna wajahnya mulai pucat karena nyeri. Malik memperhatikan tongkatnya lagi. 'Kalian jangan memaksakan diri berjalan jauh.'
'Kami akan pulang pelan-pelan,' kata Ryan. 'Terima kasih sudah menjawab.'
Mereka belum mengetahui nama penghuni terakhir, waktu ia meninggalkan rumah, atau siapa yang menyimpan surat-surat. Namun satu batas menjadi jelas: Pak Malik mengaku hanya mengurus kebun dan tidak mengetahui dokumen warisan. Ryan menutup buku catatan. Ia tidak membawa pulang kesimpulan, hanya keterangan yang masih perlu dibandingkan dengan surat dan potret di rumah No. 13.
Setelah mengatakan mereka akan pulang pelan-pelan, Ryan belum beranjak dari ambang pintu. Ia melihat catatannya, lalu mengangkat kepala lagi. 'Maaf, Pak. Ada satu hal yang ingin kupastikan. Bapak bilang penghuni rumah sudah lama tidak terlihat. Apakah Bapak melihat sendiri kapan mereka pergi, atau mendengar cerita itu dari orang lain?'
Pak Malik menatapnya cukup lama sebelum menjawab. 'Aku melihat rumah itu mulai jarang dipakai. Aku tidak tahu tepatnya kapan orang terakhir pergi.'
'Jadi Bapak tidak melihat mereka meninggalkan rumah?'
'Aku tidak bilang begitu. Aku hanya tidak ingat tanggalnya.'
Ryan mencatat perbedaan itu. Afif berdiri di sampingnya tanpa menyela. Mereka tidak mencoba memaksa Malik menggunakan kata yang lebih pasti. Ia mungkin ingat rumah semakin kosong, tetapi tidak tahu waktu pasti seseorang meninggalkannya. Itu berbeda dari mengetahui bahwa penghuninya telah meninggal.
'Bapak mulai mengurus kebun sebelum atau sesudah rumah itu jarang dipakai?' tanya Afif.
Malik memalingkan wajah sebentar. 'Aku membantu di kebun beberapa waktu setelah orang-orang itu tidak lagi tinggal di sana.'
'Berapa lama setelahnya?'
'Aku tidak ingat.'
'Siapa yang meminta Bapak mulai mengurus kebun?'
'Orang yang bertanggung jawab atas tempat itu.'
'Siapa namanya?'
'Aku tidak perlu menyebutkan nama.'
Afif melirik Ryan. Mereka tidak mendapat identitas baru, tetapi jawaban itu memperjelas bahwa tugas Malik datang dari seseorang, bukan keputusan yang ia ambil sendiri. Ryan menulisnya sebagai keterangan Malik, bukan bukti bahwa orang tersebut memiliki rumah.
'Apakah orang yang memberi tugas itu sama dengan orang yang Bapak telepon setelah kami datang?' tanya Ryan.
Malik menghela napas. 'Aku sudah bilang, aku tidak mau membicarakan telepon.'
'Baik. Kami tidak akan mendesak soal itu. Tapi kami perlu tahu apakah Bapak bekerja atas perintah seseorang sekarang.'
'Aku mengurus kebun. Itu saja.'
Afif menulis jawaban itu tepat seperti yang terdengar. Ia tidak mengubahnya menjadi 'tidak ada orang yang memberi perintah'. Malik hanya membatasi penjelasan tentang pekerjaannya.
Ryan kembali kepada pertanyaan tentang dokumen. 'Kalau ada orang yang menugaskan Bapak menjaga kebun, apakah orang itu pernah menyerahkan dokumen rumah?'
'Tidak.'
'Apakah Bapak pernah diminta memegang kunci utama?'
'Aku tidak memegang kunci utama itu. Dulu aku masuk lewat tangga balkon, seperti yang sudah kujelaskan kepada kalian. Kalian punya kunci dari paket, kan?'