Ryan tidak menjawab apakah kunci itu membuka pintu rumah atau gerbang. Ia tidak ingin mengungkapkan seluruh isi paket sebelum tahu batas informasi yang aman dibagikan. 'Kami membawa kunci yang disertakan bersama surat. Kami belum tahu apakah ada dokumen lain yang seharusnya menyertainya.'
Malik menggeleng. 'Aku tidak tahu.'
'Apakah Bapak pernah melihat perempuan tua yang mengirim surat?'
'Tidak tahu siapa yang mengirimnya.'
'Apakah Bapak mengenal pemilik kebun sebelumnya?'
'Aku mengenali tulisannya. Tetapi aku tidak mau membicarakan hubungan keluarga majikanku.'
Ryan memandangnya. 'Tapi Bapak mengatakan mendapat tugas dari orang yang bertanggung jawab atas tempat itu.'
'Orang yang memberi pekerjaan tidak selalu pemiliknya.'
Jawaban itu membuat Afif mengangkat kepala. Malik baru saja membedakan antara orang yang menugaskannya dan pemilik rumah. Ryan menulis kalimat itu secara lengkap. Mereka tidak bertanya apakah lelaki tersebut berniat menyembunyikan identitas si pemberi tugas. Itu hanya akan mengulang pertanyaan yang sama tanpa membawa informasi baru.
'Kalau Bapak mengenali tulisan majikan, mengapa Bapak tidak menjelaskan siapa yang sekarang bertanggung jawab?' tanya Afif.
'Aku diberi tahu.'
'Oleh siapa?'
'Aku tidak ingat.'
Ryan menutup buku sebentar. 'Kami tidak akan meminta Bapak membuktikan kepemilikan. Kami hanya ingin tahu sumber keterangan Bapak.'
'Sudah kubilang, aku tidak ingat.'
Afif mengusulkan mereka berhenti. Ryan masih berdiri dengan tongkat, dan semakin lama mereka di sana, semakin sulit baginya menjaga kaki tetap lurus. Pak Malik melihat wajahnya yang menahan sakit, lalu bergeser sedikit dari pintu.
'Kalian bisa duduk sebentar di bangku depan kalau perlu,' katanya.
Ryan menerima tawaran itu. Ia bergerak pelan ke bangku kayu di sisi rumah. Afif memastikan tongkatnya tidak tersangkut di tepi lantai. Mereka duduk di luar, bukan masuk ke dalam rumah Malik. Ia mengambil jarak beberapa langkah, tetapi tetap berada dekat pintu.
Ryan memeriksa catatannya. 'Jadi Bapak tahu rumah mulai jarang dipakai, tetapi tidak ingat kapan orang terakhir pergi. Bapak mulai mengurus kebun setelah mereka tidak lagi tinggal di sana. Tugas itu datang dari seseorang yang katanya bertanggung jawab, tetapi Bapak tidak ingat siapa.'
Malik mengangguk pendek. 'Kurang lebih begitu.'
'Dan Bapak tidak pernah memegang dokumen atau kunci rumah.'
'Betul.'
Afif menunjuk satu baris. 'Bapak juga belum menjelaskan siapa orang yang memberi tugas itu dan siapa yang Bapak telepon.'
Malik menatapnya tajam. 'Aku tidak wajib menceritakan semua urusanku.'
'Kami tidak mengatakan Bapak wajib,' jawab Afif. 'Kami mencatat bahwa Bapak belum menjawab.'
Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Dari kebun terdengar suara daun bergesekan. Ryan merasakan kaki kanannya mulai berdenyut lebih kuat, jadi ia berdiri perlahan dengan bantuan tongkat. Ia tidak ingin memperpanjang kunjungan hanya untuk memperoleh kalimat yang sama.
'Terima kasih sudah memperjelas apa yang Bapak ingat,' katanya. 'Kami akan mencocokkan keterangan ini dengan surat yang kami terima. Kalau ada yang perlu ditanyakan lagi, kami akan meminta waktu.'
Pak Malik tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis.
Mereka berjalan menjauh dari rumah kayu. Ryan melangkah lebih pelan daripada saat datang. Afif menyesuaikan langkahnya dan tidak meminta Ryan bicara sambil menahan sakit. Setelah mereka cukup jauh, ia bertanya apakah Ryan ingin langsung pulang.
'Ya. Kita sudah mendapatkan batas keterangannya,' kata Ryan. 'Kita tidak dapat tanggal, nama, atau dokumen. Yang kita tahu, Malik hanya mulai menjaga kebun setelah rumah jarang dipakai.'
'Dan ia mengatakan orang yang memberi tugas belum tentu pemilik.'
Ryan membenarkan. Ia menutup buku catatan dan menyimpannya. Pertanyaan tentang siapa yang memberi pekerjaan tetap terbuka, begitu pula hubungan orang itu dengan rumah No. 13. Untuk saat ini, mereka membawa pulang keterangan yang lebih tepat—termasuk apa yang tidak diketahui Pak Malik.
Ryan dan Afif tiba kembali di rumah No. 13 setelah berjalan pelan melalui jalur yang sama. Ryan segera duduk dan mengangkat kakinya. Afif memeriksa apakah balutan bergeser, lalu membawakan air. Mereka tidak membuka surat sampai Ryan merasa nyerinya sedikit reda. Catatan Malik mereka letakkan di sisi lain meja agar tidak menyentuh map.
'Bacakan lagi apa yang Bapak Malik katakan,' ujar Ryan.
Afif membuka buku. Ia menyebutkan bahwa Malik melihat rumah mulai jarang dipakai, tetapi tidak ingat kapan orang terakhir pergi. Ia mulai mengurus kebun setelah orang-orang itu tidak lagi tinggal di sana. Ia tidak mengetahui siapa yang menyimpan dokumen rumah, tidak pernah memegang kunci utama, dan menolak menjelaskan hubungan keluarga majikannya. Pekerjaannya diberikan oleh seseorang yang disebut bertanggung jawab atas tempat itu, tetapi Malik tidak mengingat namanya.
Ryan mendengarkan, lalu membuka surat warisan. Perempuan tua pengirimnya meminta Ryan menerima rumah dan kebun serta mengelola kembali perkebunan itu. Di dalam paket ada kunci, alamat, dan petunjuk jalan. Surat tersebut tidak menjelaskan siapa yang sebelumnya mengurus dokumen atau siapa yang mengatur pekerjaan Malik.
'Jadi, surat ini berbicara tentang warisan dan pengelolaan kebun,' kata Ryan. 'Malik berbicara tentang tugasnya menjaga kebun setelah rumah jarang dipakai. Tapi dia tidak tahu dokumen atau siapa yang memberi tugas.'
Afif mengangguk. 'Ada hubungan yang mungkin, tetapi belum ada bukti yang menyambungkan orang yang memberi tugas kepada Malik dengan pengirim surat.'
Ryan menelusuri isi surat dengan mata, tidak membacanya keras-keras kali ini. Ia tidak menemukan jawaban tentang berapa lama rumah dibiarkan tanpa penghuni. Ia juga tidak menemukan keterangan bahwa Malik ditunjuk oleh perempuan tua itu. Mereka tidak dapat menganggap satu dokumen menjelaskan semua tindakan yang terjadi di rumah.
Afif menulis dua kolom di buku: 'tercantum di surat' dan 'dikatakan Malik'. Di kolom pertama ia menulis warisan rumah dan kebun untuk Ryan, permintaan mengelola kembali kebun, kunci serta petunjuk jalan. Di kolom kedua ia menulis tugas Malik dimulai setelah orang-orang tidak lagi tinggal, tanpa tanggal atau nama. Mereka menambahkan kolom kecil ketiga: 'belum diketahui', berisi siapa pemberi tugas, siapa pemilik sebelumnya, dan siapa yang menjaga dokumen.
'Ini bukan bukti suratnya salah,' kata Ryan.
'Bukan juga bukti suratnya sudah cukup untuk memastikan semuanya,' jawab Afif.
Mereka sepakat untuk tidak menyebut keterangan Malik sebagai bantahan langsung. Ia pernah melihat surat yang mereka tunjukkan dan mengenali tulisan tangan, tetapi membatasi jawabannya tentang dokumen lain. Ia juga tidak mengatakan bahwa tidak ada warisan. Yang ia akui hanyalah tidak tahu tentang dokumen dan tidak bersedia menjelaskan keluarga majikannya. Perbedaan antara kurangnya informasi dan pertentangan fakta harus tetap jelas.
Ryan membandingkan alamat dan petunjuk di surat dengan jalur yang mereka lalui. Jalan menuju No. 13 memang sesuai dengan tanda yang ada pada peta kecil. Namun, itu hanya membantu mereka menemukan rumah; kecocokan arah tidak membuktikan hubungan keluarga atau kewenangan pemberi warisan. Ia menulis catatan itu di pinggir halaman, supaya mereka tidak menganggap peta sebagai pengesahan dokumen.
'Bagaimana kalau Malik sengaja pura-pura tidak tahu?' tanya Afif.
'Mungkin. Tapi kita tidak bisa menulis kemungkinan sebagai fakta. Dia juga bisa benar-benar tidak tahu.'
'Jadi catatan kita tetap: dia tidak tahu atau tidak mau menjawab.'
Ryan mengangguk. 'Kita bisa menambahkan bahwa dia menolak membahas teleponnya. Itu fakta yang kita dengar langsung.'