Afif mencatat penolakan itu di bagian terpisah. Mereka tidak menulis bahwa Malik menghubungi ayah Ryan, meskipun pikiran itu muncul di kepala mereka. Ayah Ryan telah mengakui pernah tinggal di rumah dan meminta mereka pulang, tetapi belum menyebut telepon Malik. Sampai salah satu pihak mengonfirmasinya, hubungan itu tetap dugaan.
Ryan menyimpan surat kembali ke dalam map. Ia melipatnya mengikuti bekas lama, tidak menambahkan tanda atau tulisan. Afif menutup buku catatan dan menaruhnya di samping map. Dengan cara itu, keduanya dapat melihat bahwa dokumen sumber dan catatan percakapan adalah dua benda berbeda. Jika mereka perlu bertanya lagi, mereka bisa merujuk masing-masing tanpa mengubah isi aslinya.
Kaki Ryan terasa lebih sakit setelah berjalan. Afif menyarankan agar ia tidak keluar lagi hari itu. Ryan tidak membantah. Ia menyadari bahwa menemui Malik sudah cukup menguras tenaga, sementara tidak ada jawaban mendesak yang mengharuskannya kembali ke luar. Mereka bisa menunggu dan mempertimbangkan cara lain untuk memperoleh informasi.
'Besok kita tidak langsung menemui siapa pun sebelum kakimu membaik,' kata Afif.
'Kita tunggu dulu. Ayah bilang akan memberi kabar tentang waktu bicara. Kalau dia menjelaskan sesuatu, kita bisa membandingkannya dengan catatan ini.'
'Kalau tidak?'
'Kita pikirkan setelah itu. Tidak perlu memutuskan sekarang.'
Ryan menutup map dan menyimpannya di tempat yang sama. Mereka belum dapat memastikan siapa pemilik rumah sebelumnya, siapa yang memberi pekerjaan kepada Malik, atau siapa yang menyimpan surat-surat. Namun, kini mereka memiliki batas yang lebih jelas antara isi surat, keterangan Malik, dan dugaan mereka sendiri. Tidak ada satu pun yang cukup untuk menyatakan kepemilikan sah sendirian.
Afif menyiapkan makan sederhana. Ryan tetap duduk dan membantu dengan membuka wadah, sementara Afif mengurus bagian yang membutuhkan berdiri. Percakapan mereka beralih sebentar ke hal biasa, tetapi buku catatan tetap berada di atas meja. Ketika sore semakin redup, Ryan menatap surat yang sudah tersimpan. Ia merasa kesimpulan yang paling jujur untuk saat ini hanyalah bahwa masih banyak hal yang tidak mereka ketahui.
Sore semakin redup ketika Ryan menutup buku catatan setelah membaca ulang hasil kunjungan. Ia sudah beristirahat, tetapi kaki kanannya masih berdenyut. Afif meminta agar mereka tidak keluar lagi hari itu. Ryan setuju. Keterangan yang mereka dapatkan dari Pak Malik tidak akan berubah hanya karena mereka mengulang perjalanan.
Mereka menyusun kembali kronologi tanpa mengubahnya menjadi cerita yang lebih pasti daripada bukti. Pertama, Malik mengaku mulai mengurus kebun setelah orang-orang tidak lagi tinggal di rumah. Ia tidak mengingat tanggal. Kedua, ia mengatakan tugas itu datang dari seseorang yang bertanggung jawab atas tempat tersebut, tetapi tidak menyebut nama. Ketiga, ia tidak pernah memegang dokumen atau kunci rumah. Keempat, ia mengaku menelepon seseorang di kota, lalu menolak menyebut namanya.
'Kalau kita berhenti di kalimat ‘Malik tahu semuanya’, kita akan keliru,' kata Afif. 'Dia justru bilang tidak tahu banyak.'
'Tapi dia tahu kedatangan kita, dan orang yang diteleponnya meminta kita dibuat tidak nyaman.'
'Ya. Itu yang Malik katakan kepada kita. Kita tidak mendengar panggilannya sendiri, dan belum tahu siapa orang itu atau kenapa Malik mengikuti permintaannya.'
Ryan menulis dua bagian pada halaman baru. Di bawah 'yang dikatakan Malik', ia menyalin keterangannya dengan singkat. Di bawah 'pengakuan Malik', ia menulis bahwa menurut penjaga itu, Malik melapor bahwa rumah No. 13 kedatangan dua orang yang mengaku ahli waris; orang di ujung sambungan menyuruhnya terus mengawasi mereka dan membuat mereka tidak nyaman. Ia tidak menulis nama penelepon karena tidak mengetahuinya.
Afif membaca kedua bagian itu. 'Kalau nanti kita membicarakan ini dengan ayahmu, jangan langsung bertanya apakah dia orang yang menelepon. Tanyakan dulu apakah dia tahu siapa yang memberi pekerjaan kepada Malik.'
Ryan memandangnya. 'Kenapa tidak bertanya langsung?'
'Boleh saja. Tapi kalau jawabannya tidak, kita masih bisa bertanya tentang hal yang lebih umum. Jangan membuat satu jawaban menentukan semuanya.'
Ryan menerima saran itu. Ia tahu Afif tidak sedang berusaha melindungi ayahnya. Temannya ingin memastikan bahwa mereka tidak menutup pilihan sendiri dengan tuduhan sebelum waktunya. Ryan menambahkan pertanyaan tersebut pada daftar, lalu memberi garis bawah pada kalimat tentang Malik menolak menjelaskan telepon.
Mereka kemudian membandingkan keterangan Malik dengan surat. Surat menyatakan Ryan menerima rumah dan kebun sebagai warisan serta diminta mengelola kebun. Malik mengaku tidak pernah melihat dokumen dan tidak tahu siapa yang menyimpannya. Keterangan itu tidak menjelaskan apakah surat dibuat sebelum atau sesudah ia mulai bekerja. Mereka pun tidak dapat mengetahui apakah ada dokumen lain yang tidak pernah sampai ke tangannya.
'Berarti belum ada pertentangan yang jelas,' kata Afif. 'Yang ada, dua sumber ini tidak menjelaskan hubungan satu sama lain.'
Ryan mengangguk. 'Kita catat sebagai jarak informasi. Bukan sebagai bukti surat salah atau Malik berbohong.'
Ia menggarisbawahi kalimat itu. Dalam pikirannya, keberadaan surat dan potret membuatnya merasa rumah tersebut memang telah disiapkan untuknya. Namun, ia sadar rasa itu tidak menjawab pertanyaan mengenai proses warisan. Jika mereka menerima setiap hal yang tampak cocok sebagai pembenaran, mereka dapat salah memahami keadaan dan membuat keputusan yang sulit dibatalkan.
Afif duduk lebih dekat ke meja. 'Apa kamu masih ingin tinggal di sini setelah Pak Erte memperingatkan kita dan Malik menyuruh kita tidak datang?'
'Aku belum tahu. Tapi aku tidak ingin memutuskan hanya karena mereka menyuruh pergi. Aku juga tidak ingin memaksa kamu tinggal kalau kamu merasa tidak aman.'
'Aku takut,' kata Afif. 'Tapi aku masih mau mencari tahu. Selama kita tidak berpencar dan tidak masuk kebun tanpa alasan, aku bersedia tinggal sementara.'
Ryan mengangguk pelan. Ia tidak menganggap kesediaan itu sebagai jaminan mereka tak akan pergi. Mereka sepakat bahwa jika salah satu merasa ancaman menjadi nyata, mereka akan menghentikan penyelidikan dan mencari jalan pulang. Jika Ryan tidak mampu berjalan, mereka tidak akan mengambil risiko perjalanan panjang hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu.
'Rumah ini bukan alasan untuk mengorbankan keselamatan,' kata Afif.
'Setuju. Kita akan mencari jawaban, tapi bukan dengan mengabaikan keadaan.'
Mereka membicarakan langkah yang bisa diambil tanpa keluar rumah: menunggu kabar ayah Ryan, menyimpan surat dan kunci, serta merawat kaki Ryan. Mereka tidak akan mengubah kebun, menghubungi penelepon yang tidak dikenal, atau menemui Pak Erte lagi malam itu. Jika Malik atau orang lain datang, mereka akan berbicara bersama-sama dan tidak membuka pintu sebelum tahu siapa yang datang.
Ryan mengangkat ponsel. Tidak ada pesan baru dari ayahnya. Ia sudah meminta waktu percakapan yang jelas dan menunggu sampai sore. Ia mengetik satu pesan singkat: 'Kami sudah bertanya kepada Pak Malik tentang sejarah rumah. Dia tidak mengetahui surat atau dokumen. Tolong beri tahu kapan kita bisa bicara.' Ia membaca pesannya sekali lagi, lalu mengirim.
Afif tidak menyarankan tambahan kalimat. Mereka telah menyampaikan fakta tanpa menuduh. Ponsel diletakkan di atas meja, layar menghadap ke atas agar mereka bisa melihat jika ada balasan. Ryan mengistirahatkan kakinya, sementara Afif menyimpan map surat di tempat yang sama.
Beberapa menit berlalu tanpa perubahan. Mereka tidak mengirim pesan kedua. Ryan mulai berpikir bahwa ayahnya mungkin belum bisa menjawab sampai malam, tetapi ia tidak ingin mengisi waktu tunggu dengan dugaan. Afif mengingatkan bahwa mereka masih bisa makan, beristirahat, dan meninjau jalur yang sudah dicatat. Tidak semua waktu harus digunakan untuk mengurai rahasia.
Ponsel Ryan bergetar. Sebuah pesan masuk dari ayahnya: 'Jangan bicara lagi dengan Malik. Aku akan menelepon nanti.'
Ryan membacanya dengan suara pelan. Pesan itu tidak menjawab kapan panggilan akan datang atau kenapa mereka tidak boleh bicara dengan Malik. Afif mencatat kalimatnya persis, lalu menandai dua hal yang belum diketahui. Ryan tidak langsung membalas. Ia menatap layar dan menyadari bahwa larangan baru itu membuat pertanyaan mereka semakin mendesak.
'Jangan jawab dulu saat kamu masih kesal,' ujar Afif.
Ryan meletakkan ponsel. 'Aku akan menunggu teleponnya. Tapi aku akan menanyakan alasannya.'
Mereka kembali duduk di ruang tengah, bersama catatan dan surat yang tersimpan. Keterangan Malik belum membuktikan siapa pemilik rumah atau bagaimana dokumen berpindah. Pesan ayah Ryan juga belum memberi penjelasan. Satu perubahan kini jelas: ayahnya meminta mereka berhenti menemui Malik, padahal orang itu satu-satunya yang sejauh ini memberi keterangan langsung tentang pengelolaan kebun.