Ryan tidak membalas pesan ayahnya dengan cepat. Ia membaca sekali lagi kalimat yang melarang mereka bicara dengan Malik, lalu meletakkan ponsel di samping buku catatan. Afif tidak menyuruhnya mengikuti atau menolak larangan itu. Mereka sama-sama tahu bahwa ayah Ryan belum menjelaskan alasan di balik permintaan tersebut.
'Aku tidak ingin menemui Malik lagi hari ini,' kata Ryan. 'Tapi aku juga tidak mau menganggap pesan itu sebagai jawaban.'
'Kita bisa tunggu teleponnya seperti yang dia bilang. Kalau sampai malam tidak ada kabar, kamu boleh bertanya lagi kenapa.'
Ryan mengetik balasan singkat: mereka tidak akan menemui Malik lagi hari itu, tetapi ingin mengetahui alasan larangan tersebut saat ayahnya menelepon. Ia tidak menambahkan pertanyaan lain. Setelah pesannya terkirim, ia menaruh ponsel dengan layar menghadap ke atas dan kembali memeriksa catatan.
Kunjungan kepada Malik sudah memberi satu hasil yang jelas: ia tidak mengetahui dokumen dan tidak mengingat kapan penghuni terakhir meninggalkan rumah. Namun, Ryan belum tahu apakah ketidaktahuan itu wajar untuk seseorang yang mengurus kebun atau justru menyembunyikan bagian penting. Karena itu, ia tidak akan menuduh. Ia hanya akan bertanya lagi jika ada informasi baru.
Afif membuat ringkasan pendek pada halaman terakhir. Ia menulis bahwa surat warisan menyebut rumah dan perkebunan diberikan kepada Ryan; Malik mengatakan ia tidak pernah melihat dokumen; ayah Ryan mengaku pernah tinggal di rumah dan meminta Ryan pulang sebelum menjelaskan. Tiga keterangan itu belum saling membatalkan atau menguatkan secara penuh. Mereka masih membutuhkan tanggal, nama, dan bukti lain.
'Jangan sampai kita memperlakukan ucapan seseorang sebagai pengganti surat,' kata Afif. 'Kita juga tidak boleh menganggap surat sebagai bukti bahwa semua urusan sudah selesai.'
Ryan mengangguk. 'Kalau hak atas rumah perlu diperiksa, kita akan cari cara yang benar. Tapi sekarang aku bahkan belum tahu siapa yang menulisnya.'
Mereka sepakat menjaga surat, kunci, dan peta tetap bersama. Ryan menyimpannya di map tertutup, sedangkan peta perjalanan pulang dan catatan percakapan berada di buku terpisah. Afif memeriksa bahwa ponsel mereka memiliki daya cukup untuk panggilan. Mereka tidak mengirim foto atau dokumen kepada orang yang belum dikenal.
Sore semakin redup. Ryan mencoba berdiri untuk mengambil air, tetapi rasa sakit membuatnya berhenti sebelum menumpu penuh. Afif mengambilkan gelas tanpa membicarakan kegagalan itu. Mereka memeriksa balutan dan menggantinya dengan kain bersih yang tidak terlalu ketat. Ryan kembali mengangkat kaki ke atas bantal. Ia tidak akan mencoba berjalan lagi sampai rasa sakitnya mereda.
'Kalau ada yang datang malam ini, kita tidak membuka pintu sendirian,' kata Afif.
'Dan kalau mendengar suara yang memanggil, kita tidak menjawab sebelum memakai kode.'
Mereka menuliskan aturan itu di samping catatan rute. Kode siulan tetap sederhana: satu memberi tanda, yang lain membalas dengan pola yang disepakati. Mereka tidak menambahkan variasi atau isyarat baru. Afif mengingatkan bahwa peniru pernah menggunakan wajah Ryan, jadi mendengar suara saja tidak cukup untuk memastikan siapa yang berada di luar jangkauan pandang.
Ryan memeriksa jendela ruang tengah dari kursinya. Langit di luar berubah gelap perlahan. Ia dapat melihat halaman dan bagian jalan yang menuju kebun. Tidak ada orang di sana. Ia tidak menyimpulkan bahwa mereka aman, tetapi ia juga tidak ingin terus menatap halaman sampai setiap gerakan daun terlihat seperti ancaman.
Ponselnya tetap tidak bergetar. Ryan mulai khawatir ayahnya tidak akan menelepon, tetapi ia tidak mengirim pesan tambahan. Ia sudah meminta alasan dan sudah menyatakan batasnya. Jika ayahnya ingin berbicara, ia tahu bagaimana menghubunginya. Afif mengajak Ryan makan sedikit sebelum malam benar-benar turun.
Mereka makan di meja yang sama, dengan ponsel berada dalam jangkauan. Percakapan mereka sengaja beralih ke hal yang lebih ringan: jadwal kuliah Ryan, pekerjaan yang tertunda, dan rencana mereka setelah liburan. Tidak satu pun topik itu menyelesaikan misteri rumah, tetapi keduanya perlu mengingat bahwa hidup mereka tidak hanya terdiri atas ancaman dan tanda-tanda aneh.
Setelah makan, Afif menutup jendela yang masih terbuka sedikit. Ryan meminta Afif memastikan pintu depan terkunci. Mereka tidak bergerak ke bagian rumah yang belum diperiksa dan tidak mencoba mencari dokumen lain. Jika ada hal penting di rumah, mereka akan memeriksanya bersama ketika kaki Ryan lebih kuat dan keadaan lebih terang.
Ryan melihat map di meja. Surat itu tetap tersegel di dalam lipatan yang sama. Ia tidak tahu apakah ayahnya akan memberi jawaban malam ini atau tetap meminta mereka pulang. Namun, keputusan mereka untuk sekarang sederhana: tinggal bersama, tidak masuk kebun, dan tidak membuat perubahan pada rumah sampai informasi lebih jelas.
Afif mematikan lampu ruang tengah yang tidak mereka perlukan, lalu menyalakan lampu kecil agar jalan ke kamar tetap terlihat. Ryan bergerak pelan dengan tongkat. Saat melewati tangga, ia melihat potret ayahnya berada di tempat yang sama. Ia tidak berhenti lama. Rasa ingin tahu tetap ada, tetapi kakinya membutuhkan istirahat.
Mereka menunggu di ruang tengah beberapa menit, berharap panggilan ayah Ryan masuk. Tidak ada suara selain malam yang mulai turun dan bunyi kecil dari rumah tua. Ryan menatap ponsel, lalu menutup buku catatan. Hari itu belum memberi penjelasan yang ia harapkan, tetapi mereka setidaknya telah mencatat apa yang diketahui dengan jujur dan apa yang masih kosong.
'Kalau dia menelepon, kita dengarkan dulu,' kata Afif.
Ryan mengangguk. 'Dan kalau tidak, besok kita tentukan langkah berikutnya bersama-sama.'
Malam turun di atas rumah No. 13. Map surat tersimpan, catatan Malik tertutup, dan pintu terkunci. Mereka tidak tahu apa yang menunggu di dalam rumah itu, tetapi kali ini mereka tidak akan menghadapinya sendirian.
Sebelum beristirahat, Afif memindahkan kursi agar jalan menuju pintu kamar tidak terhalang. Ryan memastikan tongkatnya berada dekat tempat duduk, bukan disandarkan di tempat yang sulit dijangkau. Mereka tidak menetapkan penjagaan bergantian; tubuh mereka terlalu lelah untuk berjaga semalaman. Mereka hanya sepakat membangunkan satu sama lain jika mendengar suara yang jelas atau ada sesuatu yang berubah di dalam rumah.