Ryan masih menatap ponsel ketika suara kecil terdengar dari arah tangga. Bukan ketukan, melainkan bunyi seperti ujung kuku menyentuh kayu sekali, lalu berhenti. Afif langsung mengangkat wajah. Mereka tadi sepakat mendengarkan panggilan ayah Ryan bersama-sama, tetapi tidak ada yang menelepon. Layar ponsel tetap gelap.
'Kau dengar?' bisik Afif.
Ryan mengangguk. Ia tak berdiri. Kaki kanannya masih sakit dan tongkat berada di sisi kursi. Ia mengingatkan diri bahwa suara dari rumah tua tidak selalu berarti sesuatu sedang mendekat. Namun bunyi itu terdengar lagi, kali ini dari anak tangga paling atas.
Mereka saling bertukar siulan pendek dengan pola yang biasa dipakai untuk memastikan keberadaan masing-masing. Afif membalas tepat seperti kesepakatan. Tidak ada suara kedua yang meniru. Mereka menunggu beberapa detik, kemudian Ryan mengarahkan lampu senter ke tangga.
Potret ayahnya masih menggantung miring sedikit di dinding. Cahaya menyapu bingkai, lalu berhenti pada kaca yang memantulkan ruang tengah. Di dalam pantulan itu, berdiri seorang gadis dengan gaun pucat. Ryan membalikkan kepala. Sosok itu kini terlihat langsung di dekat potret, bukan di kaca.
Afif menarik napas tajam, tetapi tidak menjauh dari Ryan. Gadis itu tidak mengulurkan tangan ke arah pintu depan. Ia memandang mereka, lalu mengangkat satu tangan dan menunjuk ke lorong pendek yang berakhir di ruang kecil dekat dapur.
'Dia mengarah ke dalam,' kata Afif lirih.
Ryan tidak menjawab cepat. Pada pertemuan sebelumnya, isyaratnya terasa seperti peringatan untuk keluar dari rumah Pak Erte. Kali ini gadis itu berada di dalam rumah No. 13 dan menunjuk ke arah lain. Ia tidak boleh menganggap bahwa maksudnya pasti sama.
'Kita tidak berpencar,' ujar Ryan. 'Kita lihat dari ambang lorong saja. Kalau dia mengarah ke luar atau keadaan berubah, kita mundur.'
Afif setuju. Ia mengambil senter kedua, memeriksa baterainya, lalu berdiri lebih dulu. Ryan mengandalkan tongkat dan bangkit perlahan. Afif menunggu sampai ia benar-benar seimbang sebelum berjalan. Mereka tidak mendekati tangga; lorong yang ditunjuk gadis itu berada di sisi ruang tengah, hanya beberapa langkah dari dapur.
Gadis itu tetap di dekat potret. Ia menundukkan kepala, kemudian kembali menunjuk ke lorong. Tidak ada suara atau gerakan lain. Ryan melihat wajahnya sekilas—pucat dan hampir tak bergerak—lalu memusatkan perhatian pada jalur yang harus mereka lewati.
Mereka berhenti di pintu ruang kecil. Ruangan itu sejak awal tampak seperti tempat menyimpan peralatan rumah: ada rak rendah, beberapa kursi terlipat, dan lemari kayu tua. Ruangan itu bukan kamar yang dulu mereka periksa. Kamar dengan tempat tidur, potret pria berkumis, dan kotak berisi batu serta bros berada di sisi lain dapur. Ruang kecil ini menyimpan rak dan kursi lipat; sebuah ventilasi tinggi tertutup papan membuatnya nyaris gelap. Afif berdiri di belakang Ryan, cukup dekat untuk menyangga bila ia kehilangan keseimbangan.
'Apa yang sebenarnya kau tunjukkan?' tanya Ryan, suaranya nyaris tak lebih dari bisikan.
Gadis itu tidak menjawab. Ia menggerakkan telunjuknya sekali, menunjuk ke lantai di bawah rak, lalu memudar begitu saja. Tidak ada hembusan angin. Lampu senter mereka tetap menyala, dan potret di tangga masih tergantung di tempatnya.
Afif segera menyorot lantai. Sebagian papan terlihat lebih kusam daripada bagian lain, tetapi bisa saja karena tertutup rak. Mereka tidak menarik perabot atau mengangkat papan. Ryan tahu tubuhnya belum siap untuk berjongkok, apalagi menggeser barang berat. Yang lebih penting, mereka belum tahu apakah pesan itu mengarah pada benda, tempat, atau sesuatu yang lain.
'Kita tandai posisinya,' kata Afif. Ia membuat sketsa sederhana di buku, mencatat jarak rak dari pintu dan arah yang ditunjuk. 'Besok, saat terang, kita periksa bersama. Jangan malam-malam membuka bagian rumah yang belum kita pahami.'
Ryan mengangguk. Keputusan itu terasa lambat, tetapi masuk akal. Mereka tidak akan menganggap penampakan sebagai izin untuk melakukan apa saja. Mereka kembali ke ruang tengah tanpa menoleh ke arah tangga lebih dari sekali.
Ponsel Ryan bergetar. Pesan ayahnya muncul: 'Jangan keluar rumah malam ini. Aku akan menghubungi besok.' Ryan membacanya keras-keras. Afif bertanya apakah ayahnya menjelaskan alasan larangan itu. Tidak. Hanya pesan singkat tersebut.
Ryan membalas bahwa mereka tetap bersama dan tidak akan pergi ke kebun. Ia meminta ayahnya memberi penjelasan saat menelepon. Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel di atas meja. Mereka tidak menghubungi Malik atau Pak Erte. Malam itu, pertanyaan tentang gadis dan larangan ayahnya tetap berdiri sendiri-sendiri.
Afif menutup catatan. 'Besok kita periksa ruang itu saat terang. Kalau yang ditunjukkan memang benda, kita catat bentuk dan tempatnya sebelum menyentuh.'
Ryan melihat ke arah lorong. 'Dan kalau ternyata tidak ada apa-apa?'
'Kita tulis bahwa kita tidak menemukan apa-apa. Bukan memaksa supaya ada jawaban.'
Ryan menyandarkan kaki di atas bantal. Rasa sakitnya tidak memburuk, tetapi ia cukup lelah untuk menghentikan penyelidikan. Mereka memastikan pintu depan terkunci, memindahkan senter ke meja dekat kursi, dan sepakat tidak memeriksa tangga sendirian. Potret ayah Ryan terlihat dari ruang tengah, diam dalam bingkainya.
Pagi datang tanpa suara ketukan di tangga. Ryan terbangun lebih dulu, tetapi ia tidak langsung berdiri. Kakinya terasa kaku setelah semalaman terangkat di atas bantal. Ia menunggu sampai Afif bangun, lalu meminta temannya mengambilkan air dan obat yang mereka simpan. Tidak ada perubahan ajaib pada bengkaknya; rasa nyeri masih muncul setiap kali ia menggerakkan pergelangan.
'Kita tidak harus memeriksa ruangan itu sekarang,' kata Afif sambil menyerahkan gelas. 'Kalau kakimu makin sakit, kita tunda.'
Ryan menguji telapak kaki tanpa menumpu berat. 'Masih bisa duduk dan melihat dari pintu. Kita tidak perlu masuk jauh.'
Mereka sarapan sederhana terlebih dahulu. Afif memeriksa baterai senter, sementara Ryan menyiapkan buku catatan dan mencatat waktu. Mereka juga membawa kain bersih untuk menyeka debu bila memang menemukan benda, serta tidak membawa surat warisan asli. Ryan ingin memastikan apa yang ada di ruangan itu sebelum membandingkannya dengan cerita tentang warisan.
Sebelum menuju lorong, mereka bertukar siulan pendek. Balasan datang dari Afif yang berdiri di sebelah Ryan. Tidak ada jawaban lain. Kebiasaan itu menenangkan mereka, tetapi Afif mengingatkan bahwa siulan hanya memastikan siapa yang sedang bersama mereka, bukan menjelaskan semua suara yang mungkin terdengar.
Mereka berjalan perlahan ke ruang kecil dekat dapur. Afif berjalan di sisi Ryan yang sakit. Ryan memakai tongkat dan berhenti sejenak di ambang pintu. Ruang itu terlihat sama seperti semalam: rak rendah menempel pada dinding, kursi lipat bersandar, dan lemari tua berada di sudut. Cahaya pagi masuk dari celah ventilasi tinggi yang sebagian tertutup papan.
Afif memeriksa bagian atas rak tanpa menyentuhnya. Debu tampak merata, kecuali satu garis tipis di lantai yang mungkin terbentuk karena kaki rak. Tidak ada bekas baru yang bisa memastikan bahwa seseorang baru saja menggesernya.
'Kita ikuti arah yang dia tunjuk,' kata Ryan. 'Di bawah rak.'
Afif mengambil foto ruangan dari ambang pintu sebagai catatan kondisi awal. Ryan kemudian mendekat satu langkah, berhenti, lalu satu langkah lagi. Ia tidak membungkuk. Dengan ujung tongkat, ia menunjuk pada papan lantai yang tampak lebih gelap semalam. Afif menyorotnya dari sudut rendah.
Papan itu memang berbeda warna, tetapi tidak ada celah yang jelas. Mereka memperhatikan sekeliling terlebih dahulu. Tidak ada bau menyengat atau suara dari bawah lantai. Ryan tidak menganggap warna itu bukti adanya ruang tersembunyi. Rumah tua dapat memiliki papan pengganti atau noda lama.