Afif memeriksa sisi rak yang mudah dijangkau. Di belakang kaki kayu sebelah kiri, ada garis kecil pada dinding, seolah sebuah benda pernah bergesekan di sana. Garis itu berhenti sebelum mencapai lantai. Ia mencatat posisi dan ukuran perkiraannya, tidak mencoba mendorong rak.
'Mungkin rak ini pernah dipindah,' katanya.
'Atau dindingnya tergores saat barang lain dibawa masuk.'
Mereka menulis kedua kemungkinan itu tanpa memilih. Ryan berjongkok sedikit, lalu segera meringis karena pergelangan kakinya tertarik. Afif menahan bahunya agar ia tidak kehilangan keseimbangan.
'Cukup. Jangan paksa,' katanya.
Ryan kembali tegak dengan bantuan tongkat. Ia merasa kesal pada keterbatasan tubuhnya, tetapi paham bahwa rasa ingin tahu tidak membuat cedera hilang. Mereka tidak akan mengangkat rak atau membongkar lantai. Bila nanti perlu memindahkan perabot, mereka bisa menunggu sampai kaki Ryan lebih baik atau meminta bantuan yang dapat dipercaya.
Di bawah kursi lipat, Afif melihat serpihan kertas tipis. Ia memungutnya dengan kain, bukan tangan telanjang, lalu meletakkannya di atas meja kecil. Kertas itu kosong kecuali noda kecokelatan dan bagian tepi yang sobek. Tidak ada tulisan, nama, atau tanggal. Afif memotret benda itu sebelum memasukkannya ke amplop kosong yang mereka bawa.
'Ini mungkin cuma sampah lama,' kata Ryan.
'Kita catat sebagai serpihan tanpa tulisan. Jangan kita sebut surat.'
Pemeriksaan mereka tidak menemukan kotak atau bros. Mereka tidak menganggap gadis itu berbohong; mungkin mereka salah memahami arah, atau benda yang dimaksud berada di balik barang yang belum aman untuk digeser. Mereka membuat daftar apa yang sudah dilihat dan apa yang belum disentuh. Dengan begitu, jika kembali lagi, mereka tidak mengulang pencarian dari awal.
Ketika Afif mengambil foto tambahan dari pintu, pantulan di kaca lemari menunjukkan dua sosok berdiri di ruangan: dirinya dan Ryan. Afif memastikan keduanya nyata dengan menoleh. Tidak ada gadis di sana. Ia tidak mengambil gambar lagi untuk mencari penampakan; satu catatan kondisi cukup.
Mereka menutup pintu ruang kecil, tetapi tidak menguncinya karena sebelumnya pintu itu memang tidak memiliki kunci. Ryan kembali ke ruang tengah perlahan. Setelah duduk, ia mencatat bahwa pemeriksaan dilakukan pagi hari, bersama Afif, tanpa memindahkan perabot. Kakinya berdenyut lebih kuat, jadi Afif membantunya mengangkatnya kembali ke bantal.
Menjelang siang, Ryan tertidur sebentar di kursi ruang tengah. Afif duduk di meja, menyusun foto ruang kecil dan catatan pengamatan tanpa mengirimkannya kepada siapa pun. Mereka belum mendapat kabar lanjutan dari ayah Ryan. Pesan semalam hanya meminta mereka tidak keluar rumah. Afif beberapa kali melirik ponsel, tetapi tidak ada panggilan masuk.
Saat Ryan membuka mata, ia mendapati Afif sedang memperbesar foto yang diambil dari ambang pintu. Tidak ada benda yang tampak selain rak, lemari, kursi lipat, dan noda lantai. Foto itu tidak memperlihatkan sosok tambahan. Ryan merasa lega sekaligus kecewa, lalu segera menyadari bahwa ia tidak seharusnya mengharapkan gambar membuktikan sesuatu yang tidak tertangkap kamera.
'Kau tidur hampir satu jam,' kata Afif. 'Kakimu bagaimana?'
'Masih sakit. Tapi tidak bertambah.'
Mereka sepakat beristirahat sebelum melakukan apa pun lagi. Afif menyiapkan makanan, sedangkan Ryan membantu dari kursinya. Seusai makan, mereka menyusun kembali daftar pertanyaan: apa yang sebenarnya dimaksud ayahnya dengan rumah tidak aman, mengapa Malik menelepon seseorang, dan apakah gadis pada potret itu berusaha menunjukkan sesuatu di ruang dekat dapur. Tak satu pun pertanyaan dapat dijawab dari foto saja.
Ponsel Ryan bergetar. Panggilan dari ayahnya masuk. Ryan mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara setelah meminta izin. Afif mulai mencatat waktu, seperti sebelumnya.
'Kalian baik-baik saja?' tanya ayahnya.
'Kami di dalam rumah dan tidak pergi ke kebun. Ayah bilang jangan keluar. Bisa jelaskan alasannya?'
Ayahnya terdiam cukup lama. 'Aku belum bisa menjelaskan semuanya lewat telepon. Tolong ikuti permintaanku dulu.'
Ryan menahan napas. 'Kami akan tetap bersama. Tapi ada hal yang terjadi malam tadi. Gadis itu muncul dekat potret dan menunjuk ke ruang kecil dekat dapur.'
Di seberang terdengar gesekan, lalu ayahnya bertanya, 'Kalian masuk ke sana?'
'Pagi tadi kami melihat dari dekat. Tidak membongkar apa pun. Ada papan lantai yang warnanya berbeda dan serpihan kertas kosong.'
Ayahnya meminta mereka tidak menyentuh lantai atau lemari. Ryan bertanya apakah ia mengenali ruangan itu. Ayahnya tidak menjawab langsung. Ia berkata hanya bahwa ruangan itu sudah lama tidak digunakan dan mereka sebaiknya tidak mengubah apa pun sebelum ia datang.
'Kenapa?' tanya Ryan.
'Aku akan menjelaskan nanti.'
Afif mencatat persis permintaan itu. Ryan mengatakan bahwa jawaban tersebut belum menjelaskan bahaya, tetapi ia akan menghormati batas untuk tidak menggeser perabot. Ia meminta ayahnya menentukan kapan bisa datang. Ayahnya berkata ia sedang berusaha mengatur waktu dan akan memberi kabar sebelum malam.
Sambungan berdesis. Ryan meminta ayahnya menyebutkan apakah ada orang yang mungkin datang ke rumah. Ayahnya menjawab bahwa ia tidak tahu, lalu meminta mereka memastikan pintu terkunci dan tidak membuka untuk orang yang tak dikenal. Panggilan berakhir tanpa penjelasan lebih lanjut.
Afif menutup catatan. 'Dia tahu ruangan itu, atau setidaknya tahu bahwa kita tidak boleh mengubahnya. Tapi kita belum tahu kenapa.'
Ryan setuju. Ia tidak akan menganggap kekhawatiran ayah sebagai bukti bahwa ada sesuatu di bawah lantai. Mereka tetap dapat mengikuti permintaan untuk tidak menggeser apa pun sambil mencatat bahwa ayahnya menghindari pertanyaan.
Siang beranjak. Ryan beristirahat sebentar, sementara Afif menyalin pengamatan ruangan ke halaman baru agar tidak bercampur dengan catatan Malik. Mereka menyepakati bahwa tidak ada pemeriksaan lanjutan sampai Ryan bisa berdiri dengan lebih stabil dan mereka mendapat cahaya cukup. Ponsel diletakkan di tengah meja dengan suara aktif.
Ryan bertanya apakah ayahnya terdengar terkejut ketika mendengar ruangan dekat dapur. Afif tidak menjawab atas nama ayahnya. Ia hanya mengingat bahwa ayah Ryan menanyakan apakah mereka sudah masuk, kemudian melarang mereka menyentuh lantai atau lemari. Itu bisa berarti ia khawatir pada barang yang rapuh, sesuatu yang berbahaya, atau sekadar tidak ingin mereka mengubah rumah. Mereka menulis tiga kemungkinan itu dengan tanda tanya, bukan memilih yang paling menyeramkan.
'Kalau dia punya alasan yang masuk akal, dia seharusnya bisa menjelaskannya,' kata Ryan.
'Mungkin nanti dia akan menjelaskan. Kalau tidak, kita tetap tidak punya hak untuk mengarang jawabannya.'
Ryan menerima itu meski belum merasa puas. Ia tahu menunggu bukan berarti percaya sepenuhnya. Ia hanya perlu menjaga agar keputusan mereka tidak dibuat oleh ketakutan atau oleh kemarahan kepada ayahnya.
Tak lama kemudian, Afif masuk sebentar ke dapur untuk mengambil air. Ryan menunggu di kursi. Dari arah lorong, terdengar satu bunyi seperti benda kecil menyentuh kaca. Ia menoleh ke lemari ruang tengah. Di pantulan pintunya, seorang laki-laki berkumis berdiri tepat di belakang kursinya.
Ryan tidak langsung menoleh. Ia menahan napas dan memanggil Afif dengan suara biasa, bukan siulan. 'Fif, kembali ke sini.'
Afif segera muncul di pintu dapur. Ryan menatapnya, lalu menunjuk pantulan. Sosok berkumis itu tidak bergerak. Wajahnya tampak serupa dengan laki-laki pada potret lama di rumah, tetapi Ryan tidak memiliki dasar untuk menyebutnya orang yang sama.
'Jangan mendekat,' kata Afif.
Sosok itu mengangkat tangan dan menunjuk ke lorong, ke arah ruang dekat dapur. Lalu ia menggeleng keras, seolah melarang mereka melanjutkan pencarian. Tidak ada suara. Ryan dan Afif bertukar siulan sesuai pola mereka. Afif membalas; pantulan laki-laki itu tidak.
Ryan memejamkan mata sekejap. Saat membukanya, kaca hanya memantulkan ruang dan cahaya dari jendela. Mereka tidak mengejar sosok itu atau masuk ke ruang kecil. Afif memeriksa Ryan dari sisi kursi dan bertanya apakah ia pusing. Ryan menggeleng, walau tangannya gemetar.
Mereka mencatat waktu dan posisi sosok tersebut. Afif menambahkan dengan jelas bahwa mereka melihatnya pada pantulan kaca, bukan melihatnya berjalan melewati ruangan. Mereka tidak menghubungkan kemunculan itu dengan gadis secara pasti. Kedua penampakan sama-sama mengarah ke lorong, tetapi satu menunjuk ke dalam dan satu melarang.
Menjelang tengah hari, pertanyaan baru menumpuk. Gadis itu mungkin meminta mereka menemukan sesuatu; laki-laki berkumis itu jelas berusaha menghentikan mereka. Tetapi Ryan dan Afif memilih untuk tetap bersama dan tidak membongkar ruang itu. Untuk pertama kalinya, larangan ayahnya terasa mungkin berhubungan dengan tempat yang ditunjuk gadis itu—meski mereka belum tahu hubungan apa.