Ryan memeriksa foto potret gadis yang pernah mereka ambil sebelumnya. Ia memperbesar bagian lehernya, tanpa memotong atau mengubah gambar aslinya. Pada foto, gadis itu mengenakan bros berbentuk bunga dengan lingkaran kecil di tengahnya. Ukirannya tampak serupa, meski resolusi gambar tidak cukup untuk memastikan bahwa motifnya persis sama.
'Kemiripannya ada,' kata Ryan. 'Tapi kita belum bisa bilang ini bros yang sama.'
Afif mencatat perbedaan itu. Mereka tidak tahu apakah benda dalam kotak masih utuh atau siapa pemiliknya. Belum ada nama gadis, dan tak satu pun dari mereka mencoba menebaknya. Kotak itu dapat memberi petunjuk tentang potret, tetapi belum menjawab hubungan keluarga atau alasan penampakan.
Ryan bertanya apakah Afif bisa melihat cara mengambil kotak tanpa memindahkan rak. Afif memeriksa ruang antara kaki rak dan dinding. Celahnya terlalu sempit untuk tangan. Ia tidak memasukkan tongkat atau benda lain ke dalamnya, khawatir merusak kotak atau mengubah posisi barang. Mereka memilih menunggu sampai Ryan lebih kuat dan bisa meminta bantuan, atau sampai ayah Ryan datang menjelaskan larangannya.
Saat Afif hendak mengambil satu foto lagi, cahaya senter meredup. Baterai masih terisi, tetapi sinarnya mengecil seperti tertutup bayangan. Udara terasa lebih dingin. Ryan mendengar langkah berat di sisi lain ruangan, lalu melihat bayangan berkumis muncul pada permukaan lemari.
Dari ambang, mereka melihat sosok itu berdiri di belakang rak, setengah tertutup gelap. Ia tidak tampak seperti pantulan kali ini; bentuknya terlihat langsung, walau tepinya kabur. Ia mengangkat satu tangan dan menunjuk kotak, lalu menggerakkan kepalanya keras-keras, melarang mereka mengambilnya.
Afif mundur satu langkah, tetap di sisi Ryan. 'Kita menjauh dari ambang. Pelan-pelan.'
Ryan tidak membantah. Ia memundurkan tongkat, lalu berputar secukupnya untuk keluar tanpa kehilangan keseimbangan. Afif membiarkan pintu tetap terbuka dan menjaga jarak. Sosok itu tidak mengejar. Saat mereka sampai di lorong, cahaya senter kembali terang.
Mereka berhenti di ruang tengah dan bertukar siulan. Afif membalas benar. Tidak ada tiruan. Ryan duduk dan mengangkat kakinya. Ia tidak ingin kejadian itu memaksanya melupakan apa yang telah mereka lihat. Afif menuliskan urutan dengan jelas: menemukan kotak di bawah rak, melihat kemiripan dengan bros pada potret, lalu melihat sosok berkumis menghalangi mereka mengambilnya.
'Kita belum membuka kotak,' kata Afif. 'Dan kita belum tahu siapa sosok itu.'
'Tapi gadis itu mungkin ingin kita menemukannya.'
'Mungkin. Kita simpan kata itu.'
Ryan menyetujui catatan tersebut. Ia menyimpan foto asli dan foto kotak tanpa mengirimkannya kepada siapa pun. Mereka tidak memindahkan rak, tidak membuka kotak, dan tidak kembali masuk setelah sosok itu muncul. Ayah Ryan masih belum memberi alasan larangannya, tetapi kotak itu kini menjadi petunjuk yang nyata, bukan sekadar bayangan dalam kaca.
Siang berjalan tanpa panggilan. Ryan memutuskan untuk menunggu sampai sore sebelum menghubungi ayahnya lagi. Afif meletakkan denah rumah di samping catatan baru dan menandai posisi kotak. Mereka telah menemukan sesuatu yang mungkin terkait dengan bros gadis, tetapi belum mendapat izin atau kondisi yang aman untuk mengambilnya.
Di tangga, potret tetap diam. Ryan memandangnya dari kursi, berusaha mengingat wajah gadis itu tanpa membuat kemiripan menjadi jawaban. Ia dan Afif belum tahu nama, hubungan, atau kisah di balik bros tersebut. Namun untuk pertama kalinya, isyarat gadis itu membawa mereka ke benda yang bisa diperiksa.
Mereka akan menunggu ayah Ryan dan memilih langkah berikutnya bersama-sama. Kotak itu tetap di bawah rak, tertutup, sementara rahasia Rumah No. 13 semakin dekat—dan seseorang di dalam rumah jelas tidak ingin mereka membukanya.
Keesokan paginya, Ryan meminta Afif duduk di sampingnya sebelum membuka ponsel. Kotak di bawah rak masih tertutup, dan mereka belum menyentuhnya sejak sosok berkumis menghalangi jalan. Ryan ingin mengirim foto kepada ayahnya, tetapi ia tidak mau mengirim gambar tanpa keterangan yang jelas. Ia menulis terlebih dahulu bahwa foto diambil dari ambang ruang kecil dan bahwa mereka belum mengambil atau membuka kotak.
'Tulis juga bahwa kita sudah mematuhi larangannya,' kata Afif. 'Biar dia tahu kita tidak menggeser rak.'
Ryan menambahkan kalimat itu. Ia memilih dua gambar: potret gadis yang pernah mereka simpan dan foto kotak dari jarak aman. Ia tidak memotong foto atau menandai bagian bros. Ia melampirkan gambar aslinya dan menjelaskan bahwa motif pada kotak tampak mirip dengan benda yang dikenakan gadis, tetapi mereka belum yakin keduanya sama.
Sebelum menekan kirim, Ryan memeriksa penerima dan menunjukkan layar kepada Afif. Nomor itu memang nomor ayahnya. Afif mengangguk. Ryan mengirim foto dan pesan tersebut, lalu meletakkan ponsel di atas meja. Ia tidak langsung menelepon; sinyal hanya satu garis dan ia ingin memberi ayahnya kesempatan melihat gambar sebelum berbicara.
Mereka tetap di ruang tengah. Ryan mengangkat kakinya di atas bantal, sedangkan Afif menyiapkan makanan. Mereka tidak menuju ruang kecil, walaupun sekarang memiliki foto kotak. Menemukan sesuatu yang mungkin penting tidak berarti mereka perlu mengambil risiko atau mengabaikan permintaan ayah Ryan.
Ponsel bergetar beberapa menit kemudian. Ayahnya menelepon. Ryan meminta izin menyalakan pengeras suara, lalu Afif membuka buku catatan. Ayahnya terdengar lebih tegang daripada panggilan sebelumnya.
'Kalian sudah membuka kotaknya?' tanyanya.
'Belum. Kami hanya memotret dari pintu. Sosok berkumis muncul dan menghalangi kami mengambilnya.'
Di seberang, ayahnya menarik napas. 'Jangan sentuh kotak itu. Jangan geser rak. Aku sudah bilang ruangan itu jangan diubah.'
'Ayah belum bilang apa yang ada di sana,' jawab Ryan. 'Aku mengirim foto supaya Ayah tahu benda yang kami maksud. Apa Ayah mengenali brosnya?'
Hening beberapa detik. 'Aku tidak bisa memastikan dari foto sekecil itu.'
Ryan menahan desakan untuk bertanya apakah ayahnya pernah melihat potret itu sebelumnya. 'Aku tidak meminta Ayah memastikan sekarang. Aku meminta Ayah datang membawa dokumen keluarga kalau masih ada yang Ayah simpan. Kita cocokkan gambar dan catatan bersama.'
'Aku perlu mencarinya dulu.'
'Carilah. Tapi beri tahu kapan Ayah bisa datang. Aku tidak mau kita kembali saling menunggu tanpa waktu.'
Ayahnya berkata akan memeriksa barang-barang lama di rumahnya dan menghubungi Ryan lagi setelah menemukan map yang dimaksud. Ia belum dapat memberi jam. Ryan mengingatkan bahwa mereka tidak akan membuka kotak sebelum bicara langsung. Ayahnya menjawab pendek, 'Bagus. Jangan masuk ke ruang itu dulu.'
Panggilan berakhir tanpa penjelasan lain. Afif menulis bahwa ayah Ryan belum mengenali bros, belum memastikan foto, dan meminta mereka tidak menyentuh kotak. Ia tidak menulis bahwa ayahnya pasti menyembunyikan sesuatu, meskipun nada suaranya berubah saat Ryan menyebut sosok berkumis.
'Dia bereaksi lebih cepat pada kotak daripada pada fotonya,' kata Afif.
'Itu yang terdengar. Kita belum tahu alasannya.'
Ryan mengirim satu pesan singkat setelah panggilan: ia akan menunggu kabar sampai sore, tetapi meminta hari dan waktu pertemuan ditentukan. Ia tidak mengirim gambar lain. Ponsel kembali diletakkan di meja agar mereka dapat melihat jika ada balasan.
Sepanjang pagi, mereka tidak memeriksa ruangan. Afif menata catatan tentang kotak dan menaruhnya terpisah dari surat warisan. Ryan mencatat bahwa ayahnya akan mencari map keluarga. Itu janji untuk memeriksa, belum bukti bahwa dokumen tersebut akan menjawab siapa gadis pada potret.
Kaki Ryan terasa nyeri setelah ia duduk terlalu lama dengan posisi yang sama. Afif membantunya mengubah letak bantal. Mereka berbicara tentang langkah berikutnya: menunggu telepon, tidak membongkar rak, dan meminta ayah menjelaskan larangan ruang kecil ketika bertemu. Belum ada keputusan untuk pergi atau tinggal lebih lama.
Sebelum siang, Ryan memandang foto kotak di layar. Ukiran bunga tampak kecil dan samar. Ia tidak memperbesar gambar sampai bentuknya berubah, hanya melihatnya sekali lagi lalu mengunci ponsel. Benda itu mungkin berkaitan dengan bros pada potret; yang mereka tahu hanya kemiripan bentuk.