Menjelang siang, belum ada waktu pertemuan dari ayah Ryan. Ryan tidak mengirim pesan kedua. Ia tahu pesan yang berulang tidak akan memaksa jawaban menjadi lebih jujur. Afif menutup buku catatan dan mengajaknya makan sebelum mereka memeriksa kembali keadaan kaki.
Rasa bengkak masih terasa di sekitar pergelangan. Ryan mampu berdiri beberapa detik dengan tongkat, tetapi segera kembali duduk. Afif tidak menganggap itu tanda bahwa Ryan sudah pulih. Ia mengambil air dan memastikan Ryan mengistirahatkan kaki setelah berpindah dari kursi ke dipan.
Ponsel bergetar saat mereka membereskan piring. Ayah Ryan mengirim pesan: 'Aku menemukan map lama. Ada beberapa surat dan foto. Aku perlu waktu untuk memeriksanya. Kita bicara langsung besok.' Ryan membacakan isinya, lalu menoleh kepada Afif.
'Besok, akhirnya ada waktu,' kata Afif. 'Tapi dia belum bilang jam atau membawa apa.'
Ryan menjawab bahwa ia akan meminta jam dan memastikan ayahnya membawa semua dokumen yang berkaitan dengan rumah, bukan hanya foto. Ia mengetik pesan singkat: 'Terima kasih. Besok jam berapa? Tolong bawa surat atau catatan keluarga yang terkait dengan rumah No. 13 dan potret itu. Kotak tetap belum kami buka.'
Ayahnya membalas beberapa menit kemudian. Ia akan menghubungi mereka lagi pada sore hari untuk menentukan jam. Ia juga meminta Ryan tidak memberi tahu Pak Malik tentang kedatangannya. Ryan membaca kalimat itu dengan hati-hati. Ayahnya belum menjelaskan mengapa Malik tidak boleh tahu.
'Kita tidak perlu menghubungi Malik,' kata Afif. 'Tapi kita juga perlu mencatat bahwa Ayah meminta itu.'
Ryan menuliskan pesan tersebut sebagai keterangan, bukan sebagai bukti bahwa Malik berbahaya. Mereka telah mendengar pengakuan Malik tentang panggilannya kepada seseorang, tetapi belum memastikan orang itu ayah Ryan. Larangan ayah bisa memiliki alasan lain. Ryan tidak akan menggabungkan dua hal itu tanpa bukti.
Mereka menyimpan foto yang telah dikirim kepada ayah dalam percakapan ponsel. Ryan tidak meneruskannya ke siapa pun. Ia meminta Afif membandingkan waktu pengambilan foto dengan catatan kotak, untuk memastikan urutannya tidak salah. Foto potret dibuat sebelumnya; gambar kotak dibuat setelah mereka melihatnya dari pintu. Tidak ada foto yang memperlihatkan kotak terbuka.
'Kalau mapnya punya tanggal atau nama, kita catat persis,' kata Afif. 'Jangan mengubah potongan surat jadi kesimpulan.'
Ryan setuju. Ia meminta Afif membawa buku catatan saat ayahnya datang. Mereka akan menulis apa yang diperlihatkan, siapa yang mengatakannya, dan apa yang masih belum bisa dipastikan. Ryan tidak ingin percakapan keluarga berubah menjadi pertengkaran yang membuat satu detail penting terlewat.
Ia juga memikirkan apa yang akan dilakukan jika ayah hanya membawa satu lembar. Mereka sepakat meminta melihat bagian depan dan belakang, serta halaman yang menerangkan asal surat, bukan sekadar potongan yang mendukung satu dugaan. Ryan tidak akan menyentuh berkas tanpa izin, tetapi ia bisa meminta ayah membaca tanggal dan nama dengan jelas. Afif menulis pertanyaan itu agar mereka tidak lupa saat percakapan mulai terasa emosional.
'Kita tidak sedang mengadili dia,' kata Afif. 'Kita cuma ingin tahu apa yang benar-benar ada di berkas.'
Ryan mengangguk. Ia ingin percaya bahwa ayahnya akan datang dengan niat menjelaskan, tetapi ia juga harus menjaga agar tidak menerima kesimpulan hanya karena berasal dari keluarga sendiri. Sikap hati-hati itu terasa sulit, namun mereka bisa tetap sopan dan meminta bukti secara langsung.
Setelah itu, mereka memeriksa ruang tengah tanpa mendekati lorong. Tidak ada tanda bahwa seseorang masuk. Pintu depan terkunci, jendela tertutup, dan potret masih berada di tangga. Ryan memperhatikan bahwa bagian kaca potret memantulkan cahaya dari jendela, bukan sosok lain. Ia menghindari menatapnya terlalu lama.
Afif membantu menyusun kursi agar Ryan dapat melihat pintu depan tanpa perlu berdiri. Mereka sepakat ayah Ryan akan disambut di ruang tengah, bukan langsung diajak ke kamar dekat dapur. Jika ayahnya ingin melihat kotak, mereka akan meminta penjelasan dulu dan tetap bersama. Ryan tidak mau berjalan ke ruang itu hanya karena merasa harus membuktikan dirinya berani.
'Kalau Ayah membawa dokumen, kita tidak perlu langsung menyerahkan surat asli,' kata Afif. 'Kita bisa membandingkan sambil tetap memegangnya.'
Ryan memahami maksudnya. Ia tidak mencurigai ayahnya tanpa alasan, tetapi surat itu satu-satunya benda tertulis yang datang bersama kunci dan petunjuk. Ia akan menjaganya sampai jelas siapa yang menulis dan bagaimana surat itu sampai kepadanya. Afif mengusulkan agar mereka memotret halaman yang diperlihatkan ayah, dengan izinnya, lalu mencatat tanggal dan asal dokumen.
Ryan menambahkan langkah itu ke daftar. Mereka tidak akan memotret diam-diam atau mengambil map dari tangan ayahnya. Jika ayah keberatan memperlihatkan dokumen, mereka akan mencatat penolakan dan menanyakan alasan, bukan memaksa. Percakapan tetap harus berlangsung dengan tenang, meskipun jawabannya tidak sesuai harapan.
Mereka juga membicarakan kemungkinan ayah datang sendirian. Afif akan berada di ruang yang sama, dan Ryan tidak akan mengizinkan siapa pun masuk ke ruang kecil sebelum mereka sepakat. Bukan karena ingin menguji ayahnya, melainkan supaya keputusan tidak dibuat sepihak lagi.
Panggilan yang dijanjikan belum datang sampai sore. Ryan memeriksa sinyal, lalu menaruh ponsel kembali. Ia tidak berniat mengejar ayahnya ke kota, apalagi dengan kaki yang belum kuat. Afif menyarankan mereka memakai waktu untuk istirahat dan memastikan barang penting tersimpan.
Ryan memindahkan salinan surat warisan ke map bening, sementara dokumen asli tetap pada lipatan semula. Catatan percakapan ayah berada di buku yang berbeda. Foto digital tetap di ponsel. Setiap sumber informasi terpisah agar nanti mereka dapat membandingkan tanpa mencampur surat, ingatan, dan gambar.
Menjelang senja, ayah Ryan menelepon dan menetapkan waktu: besok pagi, sebelum tengah hari. Ia akan datang sendiri membawa map keluarga. Ryan bertanya apakah ayahnya sudah membaca semua isinya. Ayahnya menjawab bahwa ia baru memeriksa beberapa surat, dan masih ada bagian yang perlu dipastikan.
'Ayah akan menjelaskan kenapa meminta kami tidak masuk ke ruang dekat dapur?' tanya Ryan.
'Kita bicarakan saat bertemu.'
Ryan meminta ayahnya tidak mengubah waktu lagi tanpa memberi kabar. Ayahnya menyetujui, lalu menutup panggilan. Afif mencatat janji tersebut beserta batas waktunya. Mereka tidak membuat kesimpulan tentang isi map yang belum mereka lihat.
Malam itu mereka mengunci pintu dan beristirahat. Besok ayah Ryan akan datang membawa dokumen keluarga, tetapi belum tentu seluruh pertanyaan terjawab. Kotak di bawah rak tetap tertutup, sementara mereka menunggu pertemuan yang akhirnya memiliki waktu jelas.