Setelah panggilan berakhir, Ryan meminta Afif membacakan catatan tentang waktu pertemuan. Besok pagi sebelum tengah hari. Mereka menulisnya dua kali di tempat berbeda agar tidak tertukar dengan janji yang sebelumnya hanya berupa 'nanti'. Ryan tidak ingin membangunkan Afif terlalu pagi karena cemas dan mendapati ayahnya belum berangkat.
'Kita siapkan pertanyaan malam ini,' kata Afif. 'Besok kita tidak perlu membicarakan semuanya sekaligus.'
Ryan membuka halaman baru. Pertanyaan pertama tentang potret: kapan foto itu dibuat dan siapa gadis di dalamnya. Kedua tentang surat warisan: apakah ayah pernah melihat surat yang sama atau hanya dokumen serupa. Ketiga tentang ruang dekat dapur dan kotak. Keempat tentang bahaya yang membuat ayah menyuruh mereka pulang. Afif menambahkan pertanyaan mengenai Malik dan panggilan dari kota, tetapi Ryan memutuskan menanyakannya setelah ayah menjelaskan hal yang lebih dekat dengan rumah.
Mereka tidak menulis kemungkinan hubungan keluarga sebagai fakta. Ryan mencoret kalimat yang sempat ia tulis, 'bros milik keluarga,' lalu menggantinya dengan 'motif kotak mirip bros pada foto.' Perubahan kecil itu menjaga catatan tetap akurat.
Ryan meminta Afif mengambilkan obat dan air. Setelah minum, ia mengecek balutan kaki. Tidak ada darah atau luka baru. Afif bertanya apakah ia ingin mencoba berjalan sebentar di dalam rumah. Ryan menggeleng; rasa sakitnya belum berkurang. Mereka tidak akan menjadikan kunjungan ayah sebagai alasan untuk memaksa pemulihan.
Ponsel Ryan menyala karena notifikasi, tetapi bukan dari ayahnya. Ia tidak mengenali nomor yang muncul dan tidak menjawab panggilan singkat itu. Afif juga tidak menelepon balik. Mereka mencatat waktu dan nomor tersebut, lalu menyimpan perangkat. Mereka tidak tahu apakah panggilan itu penting atau salah sambung.
'Jangan hubungkan dengan Malik dulu,' ujar Afif.
'Aku tahu. Kita belum tahu siapa yang menelepon.'
Panggilan tak dikenal itu berhenti. Tidak ada pesan susulan. Ryan tidak melihat alasan untuk mengubah rencana malam mereka. Mereka menutup tirai, memeriksa kunci dari dalam, dan tetap di ruang tengah. Afif tidak berjaga di luar; ia duduk dekat Ryan.
Ryan membuka daftar kontaknya untuk memastikan nomor ayah masih tersimpan benar. Ia tidak menyimpan nomor tak dikenal yang baru menelepon sebagai nama tertentu. Nomor itu tetap tampil tanpa label. Afif menyarankan mereka tidak menghubungi balik, karena tidak ada pesan atau alasan untuk memperkenalkan diri kepada penelepon tersebut.
'Kalau itu penting, orangnya bisa meninggalkan pesan,' kata Afif.
Ryan setuju. Ia menulis bahwa panggilan masuk berlangsung singkat dan tidak dijawab. Ia tidak mencatatnya sebagai ancaman atau bagian dari komunikasi Malik. Keduanya sepakat bahwa sebuah nomor telepon tanpa percakapan hanya menunjukkan ada panggilan, tidak menunjukkan siapa yang menelepon atau apa maksudnya.
Sebelum bunyi dari lorong terdengar, mereka sudah sepakat bahwa apa pun yang terjadi malam itu tidak akan membatalkan pertemuan dengan ayah. Mereka tidak akan memindahkan kotak atau membuka ruang karena takut kehilangan kesempatan. Ryan menyimpan daftar pertanyaan dalam buku dan meletakkannya dekat ponsel.
Tak lama kemudian, bunyi pelan terdengar dari lorong dekat dapur. Ryan melihat Afif. Mereka bertukar siulan. Afif membalas, dan suara dari lorong tidak meniru. Bunyi itu terdengar sekali lagi, seperti ketukan kecil pada kayu, lalu sunyi.
Mereka tidak bergerak ke sana. Ryan mengingat pesan ayahnya agar menjauhi ruang itu dan janji mereka sendiri untuk tetap bersama. Afif mencatat waktu, lokasi, dan jumlah ketukan yang mereka dengar. Tidak ada yang melihat sosok atau menemukan benda berpindah.
'Besok kita bisa bertanya pada Ayah apakah suara seperti itu pernah terjadi,' kata Ryan.
'Kalau dia tahu, minta dia jelaskan. Kalau tidak tahu, kita catat juga.'
Ryan setuju. Ia tidak ingin ketukan itu dijadikan bukti bahwa kotak memanggil mereka. Mereka sudah menemukan kotak secara visual pada siang hari; suara malam tersebut tidak menambahkan informasi pasti.
Waktu berjalan lambat. Afif membuat teh hangat, sementara Ryan membaca ulang isi surat warisan tanpa mengeluarkannya dari map. Kalimatnya tetap menyebut rumah dan kebun diberikan kepadanya serta meminta ia mengelola kebun. Tidak ada nama ayah atau keterangan tentang gadis di dalamnya. Mereka menyimpan surat lagi setelah memastikan lipatan tidak berubah.
Menjelang tidur, Ryan membayangkan beberapa kemungkinan isi map keluarga. Mungkin ada surat lama, mungkin hanya foto lain. Ia menahan diri untuk tidak menyusun cerita sebelum melihat dokumennya. Afif mengingatkan bahwa bukti dapat menjawab sebagian pertanyaan, bukan selalu semuanya.
Mereka memastikan senter dan tongkat berada di dekat tempat duduk. Tidak ada jadwal jaga. Jika salah satu terbangun karena suara, ia akan membangunkan yang lain sebelum bergerak. Ponsel dibiarkan dengan nada aktif agar panggilan ayah terdengar.
Afif bertanya apakah Ryan ingin tidur di kamar atau tetap di ruang tengah. Ryan memilih kamar Afif yang mereka pakai bersama, seperti malam sebelumnya, setelah memastikan tongkat bisa dijangkau dari sisi tempat tidur. Ia tak mau begadang hanya untuk mengawasi ponsel. Besok mereka perlu mendengar dengan jernih dan menjaga kaki, bukan datang ke percakapan dalam keadaan kelelahan.
Mereka juga menyepakati bahwa jika nomor asing tadi menelepon lagi, mereka tidak akan menjawab sendirian. Ryan dapat melihat nomor itu bersama Afif, lalu memutuskan apakah akan menerima. Tanpa pesan atau alasan, mereka tidak perlu membuka percakapan yang belum jelas. Kesepakatan itu bukan ketakutan terhadap siapa pun; hanya cara agar mereka tidak terburu-buru.
Sebelum pindah ke kamar, Ryan memeriksa bahwa pintu depan terkunci dan lampu lorong menyala. Afif berjalan bersama sampai pintu kamar, mengambil air sebentar dari ruang tengah, lalu kembali untuk beristirahat di kamar yang sama. Tak ada bunyi dari ruang dekat dapur. Malam itu mereka mencoba tidur, menunggu pagi dan janji yang sudah disepakati.
Ryan mematikan lampu setelah memastikan ponsel berada dalam jangkauan. Ia tidak membuka ulang foto kotak. Untuk malam itu, jawaban yang mereka miliki cukup: benda itu belum disentuh, ayah sudah tahu keberadaannya, dan mereka akan berbicara langsung esok hari.
Malam tetap sunyi setelah itu. Ryan tertidur beberapa jam tanpa bermimpi tentang tangga. Ketika terbangun, Afif masih berada di ruangan yang sama. Mereka belum memperoleh jawaban, tetapi besok ada pertemuan yang telah disepakati. Kotak tetap tertutup, dan panggilan tak dikenal belum memiliki nama.