Pagi berikutnya, Ryan bangun lebih lambat daripada yang direncanakan. Ia tidak berlari ke pintu atau berdiri mendadak. Afif membantunya duduk, lalu menyerahkan air. Kaki Ryan masih bengkak dan nyeri. Ia mencoba menumpu sedikit, tetapi segera kembali memakai tongkat.
'Ayah bilang sebelum tengah hari,' kata Ryan setelah melihat jam. 'Kita belum tahu jam berapa tepatnya.'
Afif menjawab bahwa mereka sudah meminta waktu dan akan menunggu kabar. Ia membantu Ryan sarapan, lalu merapikan ruang tengah agar map dan catatan tersedia tanpa menaruh dokumen asli di tempat terbuka.
Ryan mengirim pesan singkat kepada ayahnya: 'Kami siap menerima Ayah. Tolong kabari sebelum berangkat.' Pesan terkirim, tetapi belum terbaca. Mereka menunggu di ruang tengah. Afif memeriksa jendela dan pintu dari dalam, sementara Ryan menyiapkan daftar pertanyaan.
Hampir satu jam berlalu. Ponsel tetap diam. Ryan mulai bertanya apakah ayahnya mengubah rencana lagi. Afif mengingatkan bahwa mereka belum melewati batas waktu sebelum tengah hari. Ryan berusaha menahan kesal dan tidak menafsirkan diam sebagai penolakan.
Menjelang siang, panggilan masuk. Ayah Ryan meminta maaf. Ia belum bisa datang karena ada surat yang belum selesai dibaca dan ia perlu memastikan beberapa halaman berasal dari berkas yang sama. Ia berjanji membawa map itu pada sore hari, jika perjalanan memungkinkan.
Ryan mengerutkan kening. 'Ayah bilang pagi sebelum tengah hari.'
'Aku tahu. Maaf. Aku tidak ingin membawa dokumen yang belum kupahami.'
Ryan merasa kecewa, tetapi alasan itu setidaknya berbeda dari penundaan tanpa penjelasan. Ia meminta ayahnya menyebutkan waktu baru dengan jelas. Ayahnya menjawab akan memberi kabar paling lambat pukul empat dan tidak datang tanpa memberitahu mereka.
Afif menulis perubahan tersebut. Ryan bertanya apakah ayahnya sudah menemukan sesuatu tentang potret atau bros. Ayahnya menjawab belum memastikan. Ia hanya menemukan korespondensi lama dan beberapa catatan yang mungkin berhubungan dengan rumah. Ryan meminta agar ia membawa semuanya, termasuk halaman yang tampak tidak relevan.
'Jangan buka kotak itu dulu,' kata ayahnya lagi.
'Kami belum membukanya.'
Ayahnya mengucapkan terima kasih, lalu menutup panggilan. Ryan meletakkan ponsel dengan gerakan lebih keras daripada yang ia maksudkan. Afif tidak menegurnya. Ia bertanya apakah Ryan ingin beristirahat sebelum kaki bertambah sakit.
'Aku kesal karena waktu terus berubah.'
'Kau boleh kesal. Tapi jangan membuat keputusan saat sedang marah.'
Ryan mengangguk. Ia menulis bahwa pertemuan pagi ditunda ke sore, dan ayah menyebut ada korespondensi serta catatan lama. Ia belum melihat isi dokumen itu. Afif mengingatkan bahwa keterangan tersebut berasal dari ayah, bukan dari pemeriksaan mereka.
Untuk mengisi waktu, Afif membacakan kembali pertanyaan yang sudah mereka siapkan. Ryan memilih tiga pertanyaan utama untuk pertemuan pertama: apa hubungan ayah dengan rumah, apakah ia mengenali gadis pada potret, dan mengapa ia meminta mereka menjauhi ruang dekat dapur. Pertanyaan tentang Malik dapat menunggu sampai mereka punya gambaran lebih utuh.
Ryan tidak ingin menunggu di dekat pintu sepanjang siang. Ia mengistirahatkan kaki dan meminta Afif mengambilkan buku catatan. Mereka berbicara sebentar tentang kuliah dan rencana kembali ke kota, tetapi tidak menyusun kepastian tanggal karena belum tahu kondisi kaki.
Afif kemudian membuka kembali foto yang dikirim kepada ayah. Tidak ada tulisan atau benda lain yang tertangkap di latar. Ia mengingatkan Ryan bahwa gambar itu hanya memperlihatkan potret dan tidak membuktikan hubungan gadis dengan ayah. Ryan mencatat pengingat itu. Ia tak ingin satu ekspresi ayah saat melihat foto berubah menjadi pengakuan yang sebenarnya belum pernah diucapkan.
Ketika Ryan melihat halaman pertanyaan, ia menghapus satu kalimat yang terdengar menuduh: 'Ayah tahu siapa yang menyembunyikan kotak.' Ia menggantinya dengan pertanyaan netral: 'Apakah Ayah pernah melihat kotak atau ruangan ini sebelumnya?' Perubahan tersebut membuat Ryan tetap dapat menanyakan hal yang penting tanpa menaruh jawaban di dalam pertanyaan.
Mereka menyimpan halaman itu di samping surat, bukan di bawahnya. Afif menyarankan agar selama menunggu mereka tidak masuk ke ruang kecil walaupun cahaya siang cukup. Ryan setuju. Ayah sudah meminta mereka tidak mengubah ruangan, dan mereka belum mendapat alasan yang membenarkan tindakan sebaliknya.
Sekitar tengah hari, pesan ayah masuk: ia masih memeriksa surat dan akan memberi kabar sebelum pukul empat. Ryan membalas bahwa mereka tetap di rumah. Ia tidak mendesak isi dokumen melalui pesan.
Di luar, halaman tampak kosong. Rumah tidak menunjukkan perubahan. Namun Ryan tahu ada jarak antara ayah yang menyebut mengenal tempat itu dan ayah yang bersedia menjelaskan masa lalunya. Pertemuan itu belum terjadi, dan ia tidak akan berpura-pura bahwa sebuah janji sudah menyelesaikan apa pun.
Afif menutup catatan dan duduk di sampingnya. 'Kalau sore ini batal lagi, kita minta tanggal yang pasti. Kita tidak perlu mengejar dia.'
Ryan menyetujui. Ia menunggu kabar pukul empat, menjaga kaki tetap terangkat, dan membiarkan kotak di bawah rak tetap tertutup.
Menjelang pukul empat, Ryan dan Afif sudah berada di ruang tengah. Bukan karena mereka berdiri menunggu di pintu, melainkan karena itulah tempat paling mudah untuk menerima panggilan dan melihat halaman. Ryan duduk dengan tongkat di dekat kursi. Afif menyiapkan buku catatan dan dua gelas air.
Ponsel berdering tepat sebelum batas waktu yang disebut ayah Ryan. Ryan menjawab dan menyalakan pengeras suara setelah meminta izin. Ayahnya berkata ia sudah selesai memeriksa beberapa halaman, tetapi belum bisa datang sore itu. Ada urusan yang membuatnya harus menunda perjalanan.
Ryan menghela napas. 'Ayah bilang akan memberi kabar sebelum jam empat. Aku menghargai Ayah menelepon, tapi kita belum bertemu.'
'Aku tahu. Aku tidak ingin datang terburu-buru dengan berkas yang belum kususun.'
Ryan bertanya apakah ada keadaan darurat yang menghalangi kedatangannya. Ayahnya menjawab tidak, tetapi ia belum siap membicarakan semua isi surat lewat telepon. Ryan kembali menuntut waktu yang pasti. Setelah hening sejenak, ayahnya menyebut lusa pagi dan berjanji tidak akan mengubahnya kecuali ada hal yang benar-benar mendesak.
'Jam berapa?' tanya Ryan.
'Pukul sembilan. Aku akan berangkat lebih awal dan menelepon saat sampai di gerbang.'
Afif mencatat waktu itu. Ryan meminta ayahnya membawa seluruh map keluarga, bukan memilih halaman yang menurutnya penting saja. Ayahnya setuju membawa map dan surat-surat yang ditemukan. Ia belum memastikan apakah semuanya berkaitan dengan rumah No. 13.
Ryan bertanya apakah ia akan menjelaskan identitas gadis pada potret. Ayahnya menjawab, 'Aku akan menjelaskan apa yang kuketahui.' Jawaban itu terdengar seperti sebelumnya, tetapi kali ini ada waktu untuk bertemu dan dokumen yang akan dibawa. Ryan tidak menganggap janji itu sebagai jaminan bahwa semua rahasia akan terbuka.
Panggilan berakhir. Afif membaca ulang catatan: pertemuan lusa pukul sembilan di gerbang; ayah membawa map keluarga; belum ada kepastian siapa gadis atau apa hubungan bros. Ryan meminta Afif menyimpan catatan itu di halaman terpisah dari keterangan Malik.
'Saat bertemu, kita dengarkan dulu,' ujar Afif. 'Kalau ada dokumen, kita lihat tanggal dan konteksnya. Jangan langsung menyimpulkan.'
Ryan mengangguk. Ia merasa lebih mudah menerima penundaan setelah mendapat jam yang jelas, tetapi tetap kesal karena harus meminta kepastian berulang kali. Ia tidak mengirim pesan tambahan. Jika ayahnya menepati janji, mereka akan berbicara langsung.