Mereka memeriksa keadaan pintu dan jendela dari ruang tengah. Tidak ada orang yang terlihat di halaman. Ryan tidak mendekati kamar dekat dapur. Ia tetap mematuhi batas yang telah mereka sepakati, bukan karena ayahnya berhasil menjelaskan alasannya, melainkan karena mereka tidak ingin bertindak sembrono.
Menjelang malam, Afif membuat makanan sederhana. Ryan membantu dengan membuka wadah dari kursinya. Kakinya masih sakit, dan ia tak ingin membuatnya lebih parah sebelum pertemuan lusa. Mereka meletakkan senter di meja serta memastikan baterainya terisi. Ponsel dibiarkan menyala dengan suara aktif.
Saat Afif membawa gelas ke meja, Ryan melihat potret di tangga. Untuk sesaat, kaca memantulkan seorang gadis berdiri di samping sosok ayahnya dalam foto. Ryan menoleh. Tidak ada siapa pun di tangga. Ia memanggil Afif, dan temannya segera datang.
'Kau melihatnya?' tanya Afif.
'Hanya di pantulan. Aku tidak tahu apakah benar ada sosok.'
Mereka tidak mendekati potret. Ryan menyebut apa yang ia lihat, sementara Afif mencatat waktunya dan kondisi cahaya. Tidak ada isyarat ke lorong atau kotak. Sosok itu tidak muncul kembali.
Mereka menyepakati bahwa lusa, sebelum ayah datang, mereka tidak akan masuk ke ruang kecil. Jika ayah terlambat, mereka akan meminta kabar, bukan membuka kotak karena frustrasi. Ryan kembali duduk dan mengangkat kaki.
Malam itu, rumah No. 13 tetap menyimpan kotak tertutup di bawah rak. Ayah Ryan berjanji tiba lusa pukul sembilan dengan map keluarga, tetapi identitas gadis dan hubungan bros belum terjawab. Ryan dan Afif beristirahat bersama, bersiap mendengar apa yang dapat dibuktikan—dan mencatat apa yang masih belum diketahui.
Pagi setelah panggilan ayah, Ryan bangun dengan suara Afif yang sedang menyiapkan air. Kakinya terasa kaku, tetapi ia bisa duduk tanpa meringis sekeras kemarin. Ia belum mencoba berjalan. Jadwal pertemuan ayah tinggal besok, pukul sembilan, dan mereka sepakat tidak akan mengirim pesan baru kecuali ayah menghubungi lebih dulu.
'Hari ini kita tunggu saja?' tanya Afif.
'Kita istirahat dan tetap di rumah. Kotak tidak disentuh.'
Ryan menulis tanggal janji di buku catatan. Di sampingnya ia menulis bahwa ayah akan menelepon dari gerbang. Mereka tak ingin melewatkan panggilan itu karena sedang berada di bagian rumah lain. Setelah itu Afif memeriksa isi baterai ponsel dan senter, bukan untuk pergi, melainkan supaya keduanya siap jika listrik mati lagi.
Menjelang siang, Ryan mencoba berjalan beberapa langkah dari kursi ke meja dengan tongkat. Ia bergerak pelan dan berhenti ketika nyeri kembali terasa. Afif berdiri dekat, tetapi tidak menariknya. Ryan mencapai meja lalu duduk lagi. Kakinya tetap bengkak; keberhasilan kecil itu tidak berarti ia sudah mampu ke kebun atau berjalan jauh.
Mereka menyusun catatan yang akan diperlihatkan kepada ayah. Afif memisahkan isi surat, foto kotak, keterangan Malik, dan kejadian penampakan. Ryan memeriksa tiap halaman, memastikan tidak ada dugaan ditulis sebagai fakta. Ia tidak ingin ayahnya menganggap mereka datang dengan tuduhan yang sudah diputuskan.
'Kita juga harus bertanya soal Malik,' kata Afif.
Ryan memikirkan pesan ayah agar mereka tidak memberi tahu Malik tentang pertemuan. 'Nanti. Kita belum tahu kenapa Ayah melarangnya.'
Siang berjalan sunyi. Mereka makan di ruang tengah dan tidak mendekati lorong. Ryan beristirahat setelah kakinya kembali berdenyut. Afif membaca beberapa catatan lama, lalu menutup buku ketika menyadari ia mulai mengulang pertanyaan yang sama.
Menjelang sore, terdengar langkah di luar. Ryan mengangkat telunjuk agar Afif menunggu. Langkah itu berhenti di beranda. Seseorang mengetuk pintu dua kali. Mereka saling bertukar siulan singkat. Tidak ada balasan dari luar.
Afif bergerak mendekat, tetapi tidak membuka pintu. 'Siapa?' tanyanya.
'Malik.'
Ryan menatap Afif. Mereka memang tidak menghubungi Malik, namun ia sendiri datang. Ryan memberi isyarat agar pintu hanya dibuka sedikit setelah mereka melihat melalui jendela samping. Pak Malik berdiri seorang diri, tangan kosong, dan tidak tampak membawa alat.
Afif membuka pintu selebar rantai pengaman. Malik memandang melewati bahunya ke ruang tengah, lalu bertanya apakah Ryan ada. Ryan menjawab dari kursinya bahwa ia mendengar.
'Aku perlu bicara sebentar dengan Afif,' kata Malik. 'Berdua saja.'
Afif langsung menjawab, 'Kalau tentang Ryan, Bapak bisa bicara di sini. Saya tidak akan meninggalkannya sendirian.'
Malik mengerutkan dahi. 'Ini bukan urusanmu.'
'Saya temannya. Apa pun yang menyangkut rumah ini juga menyangkut keselamatan kami berdua.'
Ryan tidak mencoba berdiri. Ia meminta Malik menjelaskan maksud kedatangannya. Malik berkata ia ingin mengingatkan bahwa tinggal di rumah itu semakin berbahaya dan Afif masih bisa pergi sebelum keadaan memburuk. Ia tidak menyebut kejadian tertentu atau ancaman baru.
'Pergi ke mana?' tanya Afif. 'Dan kenapa saya harus meninggalkan Ryan?'
Malik memandangnya lama. 'Kalian tidak harus selalu bersama. Ryan yang mewarisi rumah itu. Biar dia menyelesaikan urusannya sendiri.'
Afif menggeleng. 'Kami datang bersama dan akan pulang bersama. Kalau Bapak tahu ada bahaya, sebutkan dengan jelas.'
Malik tidak menjawab. Ia hanya mengulang bahwa Afif sebaiknya berpikir sendiri, tanpa dipengaruhi Ryan. Afif menolak permintaan untuk berbicara terpisah. Ryan mencatat kata-kata Malik dari kursinya, tanpa menyela.
'Bapak bilang keadaan akan memburuk,' kata Afif. 'Apa yang akan terjadi kalau saya tetap di sini?'
Malik memalingkan wajah ke arah halaman. 'Aku tidak bisa menjelaskan semua hal.'
'Bapak tidak perlu menjelaskan semuanya. Sebutkan satu bahaya yang bisa kami hindari.'
Malik diam lagi. Ia tidak memberi contoh, tidak menyebut kapan bahaya itu mungkin terjadi, dan tidak mengatakan siapa yang akan melakukannya. Afif menunggu beberapa saat, tetapi tidak memperoleh jawaban. Ryan menuliskan bahwa Malik mengulang peringatannya tanpa rincian yang dapat diuji.
'Saya sudah menjawab,' kata Afif. 'Saya tidak akan meninggalkan dia.'
Malik menurunkan pandangan ke tongkat Ryan. 'Kalian akan menyesal kalau tetap keras kepala.'
Ryan meminta agar Malik tidak mengancam mereka. Malik menjawab bahwa ia hanya memberi nasihat. Ia lalu mundur dari pintu dan berkata akan kembali jika mereka berubah pikiran.
Afif menutup pintu setelah Malik menjauh. Mereka mengunci kaitnya, lalu mencatat waktu kedatangan dan seluruh inti percakapan. Afif menulis bahwa Malik meminta bicara berdua dan menyarankan ia meninggalkan Ryan. Mereka tidak menebak apakah Malik takut, sedang menjalankan perintah, atau memiliki maksud lain.
Ryan meminta Afif menyebutkan apakah Malik pernah mengancamnya secara langsung. Afif menjawab tidak; ia hanya mengatakan mereka akan menyesal jika tetap keras kepala. Ryan menggarisbawahi kalimat itu di catatan, tetapi tidak mengubahnya menjadi ancaman tindakan tertentu. Mereka menuliskan bahwa Pak Malik datang seorang diri dan pergi tanpa memaksa masuk.
Afif juga mengingatkan bahwa pintu tetap terkunci dan percakapan berlangsung dari ambang. Mereka tidak berutang penjelasan tentang isi surat atau foto kepada Malik. Jika Malik datang lagi, mereka dapat mendengarkan dari tempat aman dan mengakhiri percakapan bila ia mulai memaksa.
Ryan menatap temannya. 'Kau yakin dengan jawabanmu?'
'Yakin. Tapi itu bukan berarti kita harus tinggal kalau keadaan benar-benar tidak aman.'
Ryan setuju. Mereka tetap memiliki pilihan untuk pergi jika bahaya nyata muncul. Namun, mereka tidak akan berpisah hanya karena Malik meminta. Di luar, halaman kembali sunyi. Pertemuan dengan ayah masih menunggu, dan kali ini mereka punya pertanyaan baru: mengapa Malik ingin Afif pergi tanpa Ryan.