Malam semakin larut ketika Ryan mendengar ketukan pendek di jendela ruang tengah. Afif juga mendengarnya. Mereka tidak langsung menyingkap tirai. Keduanya bertukar siulan singkat di dalam rumah; Afif menjawab. Tidak ada balasan dari luar.
Ryan mengingat aturan mereka: suara saja tidak cukup memastikan siapa yang berada di luar. Ia meminta Afif mematikan lampu dekat jendela dan menyalakan senter dari posisi aman. Afif mengarahkan cahaya ke kaca tanpa membuka kunci atau tirai lebar-lebar.
Di halaman tampak sosok Ryan berdiri membelakangi mereka. Bahunya, jaketnya, bahkan tongkat di tangannya terlihat serupa dengan milik Ryan. Sosok itu menoleh perlahan ke jendela. Wajahnya mirip, tetapi senyumnya tidak.
'Jangan buka,' kata Afif.
Ryan tetap duduk, tetapi tubuhnya menegang. Ia tidak memanggil nama sosok itu. Afif bertanya dari dalam, 'Waktu kita mendaki Gede, makanan apa yang kita makan setelah memasang tenda?'
Sosok di luar tidak segera menjawab. Ia menempelkan telapak tangan ke kaca. Ryan teringat malam di gunung: mereka memasak mi menggunakan kompor lapangan dan minum kopi panas. Itu bukan rahasia rumit, tetapi pertanyaan tersebut seharusnya mudah dijawab oleh dirinya sendiri.
'Mi rebus dan kopi,' jawab Ryan pelan, lebih kepada Afif.
Sosok di luar membuka mulut. Tidak ada suara yang terdengar. Ia lalu mengetuk kaca tiga kali, persis dengan jeda yang tadi mereka dengar di lorong. Sosok di luar tidak membalas siulan yang diberikan dari dalam. Ia mengulang pertanyaan, kali ini meminta sosok itu menyebut bagaimana mereka memasak.
Sosok itu mencondongkan kepala, kemudian mengangkat tangan yang memegang sesuatu gelap. Bentuknya tidak jelas. Ryan tidak dapat memastikan apakah itu benda sungguhan atau sekadar bayangan yang terbentuk oleh cahaya. Sosok tersebut menggerakkan bibir, tetapi kaca meredam suara.
Afif mengambil posisi di sisi Ryan. 'Kita tidak keluar. Kita tidak mengejarnya.'
Ryan setuju. Ia tidak ingin menguji apakah sosok itu dapat membuka pintu atau mengikuti mereka. Ia tetap fokus pada jendela. Sosok tersebut menekan tangan ke kaca sekali lagi dan tersenyum. Wajahnya perlahan kabur, lalu menghilang dari pandangan.
Afif menahan diri untuk tidak berlari ke pintu depan. Ia mengingat bahwa sosok itu berada di luar dan mereka belum melihat bagaimana ia datang atau pergi. Ryan meminta temannya melihat melalui sisi jendela yang lain, tetapi Afif menolak membuka tirai lebar-lebar. Mereka tidak perlu memastikan keberadaannya dengan mempertaruhkan keselamatan.
Ryan mencoba mengingat apakah pakaian sosok itu sama dengan jaket yang dikenakannya. Ia tidak yakin. Dalam cahaya senter, warna bisa berubah dan jarak membuat detail kabur. Mereka mencatat 'pakaian menyerupai jaket Ryan' alih-alih menyebutnya pasti jaket yang sama. Wajahnya lebih jelas, tetapi kemiripan saja tetap bukan identitas.
Afif menyalakan lampu ruang tengah dan memeriksa dari tempat mereka berdiri. Halaman kosong. Tidak ada bekas ketukan yang dapat dilihat dari dalam. Mereka tidak membuka jendela untuk mencari jejak. Ryan bertukar siulan dengan Afif dan mendengar jawaban yang benar dari sebelahnya.
Afif membandingkan ketukan yang terdengar dengan ingatan mereka. Pada awalnya mereka mendengar dua ketukan pendek; setelah sosok itu terlihat, terdengar rangkaian tiga ketukan. Ketukan dari lorong sebelumnya juga tidak selalu berjumlah sama. Perbedaan itu tidak membuktikan bahwa sumbernya berbeda; bunyi dapat berubah karena posisi. Mereka menulis hitungan tersebut tanpa menyimpulkan siapa yang mengetuk.
Ryan bertanya apakah Afif merasa pertanyaan tentang pendakian membantu. Afif menjawab bahwa pertanyaan itu membuat sosok tidak memberi jawaban, tetapi bukan tes yang mustahil ditiru. Mereka bisa menggunakannya sebagai satu pengingat untuk tidak terburu-buru membuka pintu, bukan sebagai cara memastikan seseorang hanya dari satu jawaban.
Mereka menambahkan aturan praktis: memeriksa siapa yang ada di dalam rumah terlebih dahulu, tidak membuka jendela, lalu menunggu sampai sosok pergi. Kalau ada suara, mereka akan memakai siulan dan tetap memandang dari tempat aman. Tidak ada yang akan mengejar ke halaman atau kebun.
'Pertanyaan tadi bukan bukti mutlak,' kata Afif. 'Siapa pun bisa tahu kita makan mi dan kopi.'
'Tapi sosok itu tidak menjawab.'
'Itu yang kita catat.'
Afif menuliskan kejadian secara rinci: waktu, posisi sosok, kemiripan penampilan, pertanyaan pendakian, tidak adanya jawaban, dan hilangnya sosok. Ia tidak menulis bahwa itu pasti peniru atau Ryan lain. Meski begitu, mereka sudah melihat sesuatu yang tampak memakai wajah Ryan dan berusaha membuat mereka membuka jendela.
Ryan meminta Afif memastikan pintu depan terkunci. Afif memeriksa dari dalam, lalu kembali tanpa membuka pintu. Mereka memindahkan kursi menjauh dari jendela, tetapi tidak meletakkan benda berat sebagai penghalang. Jika sosok muncul lagi, mereka akan mundur ke ruang yang lebih terang dan tetap bersama.
Ryan tak mau meminta Afif berjaga sendirian. Mereka menyepakati istirahat bergantian hanya jika salah satu terbangun secara alami, bukan memaksakan diri tetap terjaga. Ponsel diletakkan di meja, dan senter berada di dekat Ryan. Kakinya berdenyut karena ia menahan tegang terlalu lama.
'Aku masih di sini karena aku memilih begitu,' kata Afif, seolah membaca pikirannya. 'Kejadian tadi tidak mengubah itu.'
Ryan mengucapkan terima kasih. Ia tak menjawab dengan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang bisa mereka janjikan adalah tidak berpisah tanpa membicarakannya.
Ketika keadaan kembali sunyi, Afif membuka tirai hanya sedikit dari sudut yang tidak menghadap jendela depan. Di kejauhan, dekat pondok, ia melihat bayangan seseorang berdiri menghadap rumah. Ryan ikut melihat. Sosok itu terlalu jauh untuk dikenali, tetapi bentuk tubuhnya tampak seperti Malik.
Afif menahan tirai pada celah yang sama dan menghitung beberapa detik. Sosok itu tidak bergerak ke arah rumah. Ryan meminta lampu senter tidak diarahkan ke sana karena mereka tidak ingin memprovokasi orang yang mungkin hanya sedang bekerja atau berdiri di dekat pondok. Setelah beberapa saat, Afif menutup tirai kembali.
Ryan bertanya apakah posisi orang itu sama dengan posisi yang mereka catat pada sore hari. Afif tidak yakin; jaraknya dan gelap membuat perbandingan sulit. Mereka menulis bahwa sosok terlihat di dekat pondok, tetapi tidak menyebut bahwa itu orang yang sama. Catatan sore dan malam tetap dipisahkan.
Kaki Ryan berdenyut saat ia menegakkan tubuh. Ia kembali bersandar dan mengangkat betisnya. Afif memeriksa apakah ia perlu mengambil obat, lalu menunggu persetujuan sebelum bergerak. Ryan meminta air saja. Mereka tidak menjadikan rasa sakit sebagai alasan untuk meninggalkan ruang tengah atau mendekati pintu.
Mereka tidak keluar. Afif mencatat posisi pondok dan waktu pengamatan. Malam itu menghadirkan sosok menyerupai Ryan di jendela, sementara Malik mungkin masih berada di dekat kebun. Dua kejadian itu belum tentu berkaitan, dan mereka tidak akan mengejar salah satunya.