Ryan dan Afif tetap berada di ruang tengah setelah melihat seseorang di dekat pondok. Mereka menunggu beberapa menit tanpa mengubah posisi. Sosok itu tidak mendekat, dan lampu di pondok tidak menyala. Dari jarak tersebut mereka tidak dapat memastikan apakah orang itu Malik atau hanya bayangan di antara pepohonan.
'Kita tidak perlu keluar untuk memastikan,' kata Ryan.
Afif menutup tirai. Ia setuju. Ryan tidak dapat berjalan cepat, dan kebun termasuk tempat yang dilarang ayahnya. Bahkan jika orang di sana Malik, mengejarnya pada malam hari tidak akan memberi mereka jawaban yang lebih aman.
Mereka kembali ke catatan sosok di jendela. Ryan menyebutkan pakaian dan tongkat yang terlihat. Afif menambahkan bahwa sosok itu tidak menjawab pertanyaan tentang pendakian. Mereka tidak mengarang suara, sebab tidak mendengar satu pun kata dari luar. Ryan menandai pertanyaan tersebut sebagai cara menguji ingatan bersama, bukan kode rahasia yang tidak mungkin diketahui orang lain.
Ponsel Ryan bergetar. Nomor tak dikenal yang pernah menelepon malam sebelumnya muncul lagi. Kali ini panggilan berlangsung lebih lama. Ryan dan Afif saling berpandangan. Mereka tidak menjawab. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa penelepon itu orang yang sama dengan sosok di jendela atau orang yang dihubungi Malik.
Panggilan berhenti dan tak lama kemudian muncul pesan tanpa nama: 'Jangan tunggu dia. Pergi sebelum terlambat.' Ryan membaca tulisan itu keras-keras. Pesan tersebut tidak menyebut nama, lokasi, atau alasan. Mereka menyimpan tangkapan layar tanpa membalas.
'Bisa saja orang yang sama yang menghubungi kita sebelumnya,' kata Afif. 'Tapi kita tidak tahu siapa.'
Ryan setuju. Pesan itu bisa menjadi ancaman, peringatan, atau upaya lain untuk membuat mereka pergi. Mereka tidak akan menganggapnya sebagai bukti tentang Malik. Ryan menulis bahwa pesan diterima dari nomor yang sama dengan panggilan tak terjawab, lalu menyimpan nomor tanpa memberi label.
Ryan menanyakan apakah Afif pernah melihat nomor tersebut pada ponsel Malik. Afif berkata tidak. Mereka bahkan tidak mendengar panggilan lama itu; mereka hanya mengetahui pengakuan Malik. Tidak ada dasar untuk mencocokkan nomor baru dengan orang yang ia hubungi. Afif menyarankan agar mereka menunjukkan tangkapan layar kepada ayah tanpa mengatakan siapa pengirimnya, lalu meminta ayah memeriksa sendiri.
'Kalau Ayah juga tidak tahu, kita cari cara lain,' kata Ryan. 'Tapi jangan mulai dari tuduhan.'
Afif mencatat rencana itu. Mereka tidak membalas pesan 'Jangan tunggu dia' karena kata 'dia' bahkan tidak memiliki rujukan yang jelas. Bisa berarti ayah, Malik, atau orang lain. Mereka tidak ingin memberi pengirim petunjuk bahwa pesan tersebut berhasil membuat mereka panik.
Ryan meminta Afif menyimpan tangkapan layar tanpa mengubah nama berkas. Afif tidak menambahkan lingkaran atau panah, agar gambar tetap menunjukkan pesan asli. Ia mencatat waktu penerimaan pada halaman terpisah. Jika pesan dihapus dari ponsel, mereka masih memiliki salinan yang sama, tetapi tidak menganggap salinan itu menjelaskan siapa yang mengetik.
Afif bertanya apakah mereka perlu menghubungi ayah sekarang. Ryan mempertimbangkannya, lalu memilih mengirim pesan singkat berisi fakta: Malik datang dan meminta Afif pergi sendiri; malam ini ada sosok menyerupai Ryan di jendela; mereka tidak keluar dan tidak mengejar siapa pun. Ia meminta ayah membicarakan kedua hal itu saat bertemu. Ia tidak mengirim tangkapan layar nomor tak dikenal sebelum ayah menjawab.
Sebelum mengirim, Ryan membacakan pesannya kepada Afif. Ia menyebut permintaan Malik dan kemunculan di jendela sebagai dua hal terpisah. Afif setuju. Ryan tidak menulis bahwa Malik yang mengirim sosok itu atau bahwa nomor telepon tersebut milik orang yang sama. Pesan tersebut hanya meminta ayah membicarakan kejadian ketika mereka bertemu.
Ryan menekan tombol kirim. Tanda terkirim muncul, tetapi tidak ada balasan. Ia meletakkan ponsel dan tidak menunggu layar terus-menerus. Mereka bisa memeriksanya lagi setelah beberapa waktu. Afif menutup buku catatan agar tidak menambahkan dugaan baru ketika mereka sama-sama tegang.
Afif mengajak Ryan memastikan bahwa surat dan map masih di tempat. Ryan tidak bangkit; Afif mengambil map sesuai kesepakatan dan menunjukkannya dari meja. Lipatan surat tidak berubah. Kotak tetap berada di bawah rak. Mereka tidak masuk ke kamar dekat dapur.
'Kalau sosok itu memang ingin kita keluar, ia tidak berhasil,' kata Afif.
'Dan Malik belum memberi alasan kenapa kau harus pergi sendiri.'
Mereka sepakat bahwa keduanya adalah fakta yang bisa ditulis, bukan penjelasan. Ryan bertanya apakah Afif merasa takut tinggal. Afif mengaku takut, tetapi bukan takut kepada Ryan. Ia takut pada rumah dan pada hal-hal yang tidak mereka pahami. Ryan menerima jawaban itu tanpa mendesaknya untuk tetap tinggal.
Mereka mengatur posisi duduk agar tidak menghadap langsung ke jendela. Lampu kecil tetap menyala. Ryan merebahkan kaki di bantal dan memejamkan mata sesekali. Afif tidak menjaga dengan berdiri, hanya tetap berada di ruangan yang sama.
Pagi yang ditunggu datang dengan langit kelabu dan suara hujan tipis di atap. Ryan terbangun lebih awal daripada alarm. Kakinya masih bengkak, dan rasa kaku membuatnya menunggu beberapa menit sebelum duduk. Afif sudah ada di ruang tengah, memeriksa pesan terakhir dari ayah Ryan.
Pesan itu masuk sebelum subuh: 'Aku tetap datang pukul sembilan pagi ini. Akan menelepon saat sampai di gerbang.' Tidak ada alasan tambahan atau perubahan waktu. Afif memperlihatkannya kepada Ryan, lalu mencatat waktu penerimaan. Janji itu akhirnya tinggal beberapa jam lagi.
'Kalau hujan makin deras, Ayah mungkin terlambat,' kata Afif.
'Kalau begitu dia bisa mengabari. Kita tidak berdiri menunggu di luar.'
Ryan bergerak perlahan dari kamar ke kursi ruang tengah dengan tongkat. Afif berjalan di sisinya tanpa menarik. Mereka tidak menguji seberapa jauh Ryan mampu melangkah; dari kamar ke kursi saja sudah membuat pergelangannya berdenyut. Setelah duduk, ia mengangkat kaki dan meminta buku catatan diletakkan di meja.
Mereka membaca tiga pertanyaan utama sekali lagi. Ryan ingin tahu hubungan ayah dengan rumah No. 13, apakah ia mengenali gadis di potret, dan mengapa ruang dekat dapur tidak boleh disentuh. Afif menambahkan bahwa mereka perlu bertanya tentang map keluarga yang dibawa. Pertanyaan tentang Malik dan nomor tak dikenal akan diajukan setelah ayah menjelaskan hal-hal tersebut.
Ryan menulis pertanyaan itu dengan jarak di antara tiap butir, menyediakan ruang untuk jawaban. Ia tidak akan menyela jika ayah mengingat sesuatu, tetapi akan meminta tanggal dan nama diulang bila tidak jelas. Afif menambahkan kolom kecil untuk membedakan 'dilihat pada dokumen', 'diceritakan ayah', dan 'belum pasti'. Mereka ingin dapat membaca kembali percakapan tanpa membuat ingatan mereka bercampur.
Mereka memastikan map warisan tidak tertukar dengan buku catatan. Ryan menunjukkan lipatan asli surat dan salinan yang mereka buat; Afif tidak menyentuhnya. Jika ayah meminta melihat, Ryan akan memperlihatkan surat tanpa menyerahkannya jauh dari jangkauan. Mereka belum tahu apakah dokumen keluarga ayah dapat menjelaskan keabsahan warisan, tetapi setidaknya kedua sumber dapat dibandingkan.
Afif bertanya apakah Ryan ingin membahas bros terlebih dahulu atau menunggu ayah mengangkatnya sendiri. Ryan memilih menanyakan apakah ayah mengenalinya setelah mendengar keterangan tentang map. Ia tidak akan menyebut dugaan bahwa gadis itu adik ayah atau bahwa perempuan tua adalah neneknya. Hubungan tersebut belum didukung dokumen yang mereka lihat.
'Jangan lupa, kita dengarkan dulu,' kata Afif. 'Kalau ada nama atau tanggal, tulis persis.'