Ryan mengangguk. Ia tidak ingin memulai percakapan dengan tuduhan tentang Malik. Ia juga tidak mau membiarkan ayah menjawab semua hal dengan 'nanti'. Mereka akan meminta penjelasan yang cukup untuk memahami apa yang harus dilakukan, meski tidak semua rahasia terungkap pagi itu.
Map surat warisan tetap di meja samping, tertutup. Ryan memastikan dokumen asli berada di dalam lipatan dan salinannya tersimpan terpisah. Foto potret, foto kotak, serta tangkapan layar pesan nomor tak dikenal ada di ponsel. Mereka tidak membawa kotak dari bawah rak dan tidak masuk ke ruang dekat dapur.
Hujan di luar terdengar makin rapat. Afif memeriksa jendela depan tanpa membuka tirai lebar-lebar. Jalan menuju gerbang terlihat kosong. Tidak ada Malik di pondok. Keduanya tidak menyimpulkan bahwa ia sengaja menghindari mereka; mereka hanya belum melihatnya.
Ryan memeriksa ponselnya. Pesan yang dikirim semalam tentang Malik dan sosok di jendela masih belum dibaca. Ia bertanya apakah perlu mengirim ulang. Afif menjawab tidak; ayah sudah mengonfirmasi kedatangan dan akan mendengar langsung dari mereka. Mengirim banyak pesan sebelum pertemuan hanya berisiko menimbulkan salah paham.
Mereka mencoba mendengar suara kendaraan dari arah gerbang, tetapi hujan menutupi sebagian bunyi. Ryan tidak meminta Afif keluar untuk melihat. Jika ayah sudah sampai, ia akan menelepon sesuai kesepakatan. Afif mengingatkan bahwa mereka sebaiknya menunggu panggilan, bukan menebak dari setiap suara.
Ryan memejamkan mata sebentar sambil tetap duduk. Ia mengatur napas agar tidak membiarkan kecemasan membuatnya menegang. Afif menaruh buku catatan di pangkuannya dan membuka halaman kosong untuk mencatat jam panggilan. Persiapan itu membantu mereka merasa punya pegangan tanpa berpura-pura mengendalikan apa yang akan dikatakan ayah.
Ryan menanyakan kembali apakah Afif benar-benar ingin ada di dalam saat ayah datang. Afif menjawab ya, selama Ryan tidak menganggap kehadirannya sebagai kewajiban untuk tinggal di rumah itu selamanya. Ryan berkata ia mengerti. Mereka akan membicarakan pilihan setelah mendengar penjelasan, dan Afif tetap berhak memutuskan sendiri.
'Kalau ada yang membuatku merasa tidak aman, aku akan bilang,' kata Afif.
'Begitu juga aku.'
Pukul delapan lewat tiga puluh, Ryan meminta air. Afif mengambilkannya dan duduk kembali. Mereka tidak berdiri di depan pintu. Ryan tidak ingin membuat kaki bertambah sakit hanya untuk melihat jalan. Ponsel diletakkan di atas meja dengan suara aktif agar panggilan dari gerbang terdengar.
Waktu berjalan pelan. Mereka mendengar kendaraan lewat di jalan desa, tetapi tidak berhenti. Afif mencatat bahwa suara kendaraan tidak diikuti panggilan. Ryan menahan diri untuk tidak menebak apakah itu ayah atau orang lain. Mereka menunggu tanda yang sudah disepakati: telepon dari ayah ketika sampai di gerbang.
Tepat sebelum pukul sembilan, layar ponsel menyala. Nama ayah Ryan muncul. Ryan mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara. Afif membuka buku catatan.
'Aku sudah sampai di gerbang,' kata ayahnya. 'Jalannya licin karena hujan. Aku akan masuk sebentar lagi.'
Ryan melihat Afif. Mereka bertukar siulan pendek, lalu Afif menjawab seperti biasa. Panggilan itu memang dari ayah, tetapi mereka tetap mengikuti kesepakatan dan tidak membuka pintu sebelum tahu ia sudah berada di halaman depan.
'Baik. Kami menunggu di ruang tengah,' kata Ryan. 'Bawa mapnya, ya.'
'Ada padaku.'
Panggilan berakhir. Ryan meletakkan ponsel di meja. Ia belum tahu apa isi map itu atau apakah ayah akan menjawab pertanyaan mereka. Hanya satu hal yang berubah: setelah beberapa kali menunda, ayah akhirnya berdiri di gerbang rumah No. 13 dengan dokumen yang selama ini ia janjikan.
Afif menutup catatan sampai ayah masuk. Ryan membetulkan posisi tongkat di samping kursi dan menunggu suara langkah di beranda. Pintu masih terkunci. Mereka tidak bergegas membukanya.
Ketukan terdengar dari luar. Ryan memandang Afif, lalu berkata bahwa mereka akan menyambut ayah bersama-sama. Kotak di bawah rak tetap tertutup; pertemuan ini akan dimulai di ruang tengah, dengan surat, foto, dan pertanyaan yang belum terjawab.
Ryan tidak langsung membuka pintu setelah ketukan terdengar. Ia menunggu Afif berdiri di sampingnya, lalu bergerak pelan dengan tongkat. Afif mengintip melalui celah jendela yang tidak menghadap langsung ke luar. Seorang pria berdiri di beranda, membawa tas dokumen berwarna gelap. Wajahnya sama dengan potret yang tergantung di tangga.
Ryan menahan napas sejenak. Bunyi hujan yang menetes dari atap membuat halaman terdengar lebih sunyi daripada biasanya. Ia meminta Afif memastikan lagi bahwa pria itu sendirian. Afif mengintip dari sisi jendela, lalu mengangguk. Tidak ada orang lain di pagar atau di jalan kecil depan rumah.
'Kalau ada yang terasa janggal, kita tutup lagi,' kata Afif pelan.
Ryan mengiyakan. Ia tahu ayahnya sudah berjanji datang, tetapi janji itu tidak menghapus kebiasaan rumah tersebut menghadirkan hal-hal yang sulit dijelaskan. Ia memeriksa tongkatnya, memastikan ponsel berada di saku, dan menunggu suara dari luar. Langkah-langkah itu bukan karena ia menganggap ayah ancaman; ia hanya tidak ingin mengabaikan kewaspadaan yang mereka sepakati.
Pria di beranda mengangkat tangan dan mengetuk sekali lagi, kali ini lebih pelan. Dari balik pintu, Ryan meminta namanya disebut. Ayahnya menjawab dengan nama lengkap Ryan dan menyebut bahwa ia membawa map yang dijanjikan. Suaranya terdengar lelah. Ryan mengenali intonasinya dari beberapa panggilan singkat mereka belakangan ini.
Afif membuka kunci tambahan, tetapi menunggu Ryan memberi tanda. Ryan mengamati wajah ayah melalui celah sebelum menarik pintu lebih lebar. Ayahnya tampak basah di bahu dan membawa tas dengan kedua tangan. Ia tidak mencoba melangkah melewati ambang pintu sampai Ryan mempersilakannya.
Ryan menggeser kursi sedikit agar jalur menuju ruang tengah tidak terhalang. Ayahnya menunggu sampai Ryan duduk kembali, lalu menutup pintu perlahan. Tidak ada yang menyebut kunjungan itu sebagai kunjungan biasa; map di atas meja sudah menjadi alasan semua pertanyaan tertunda akhirnya dibicarakan.
'Kakimu bagaimana?' tanyanya.
'Masih sakit. Aku memakai tongkat.'
Ayahnya memandang tongkat itu, lalu wajah Ryan. Ada rasa bersalah yang cepat ia sembunyikan. Ia masuk dan meletakkan tas di meja ruang tengah. Afif menutup pintu dan mengunci kembali. Mereka bertiga duduk. Ryan tetap di kursi dengan kaki ditopang bantal.
Ayahnya mengeluarkan map, beberapa amplop tua, dan dua foto yang tepinya mulai menguning. Ia tidak langsung membuka semua berkas. Ryan meminta izin memotret dokumen yang akan diperlihatkan. Ayahnya menyetujuinya dengan syarat mereka menyimpan foto hanya untuk catatan pribadi sampai memahami isinya.
'Sebelum kita membahas map itu,' kata Ryan, 'aku ingin tahu soal panggilan Malik. Malik mengaku orang yang diteleponnya meminta kami dibuat tidak nyaman di rumah itu. Apakah orang itu Ayah?'
Ayahnya menunduk. Ia tidak menyangkal. 'Ya. Aku orang di ujung telepon itu.'
Ryan mengatupkan rahang. Afif tidak menyela, tetapi segera mencatat pengakuan tersebut. Ayahnya mengaku ia meminta Malik mengawasi mereka dan membuat mereka ingin pergi. Ia tidak meminta Malik menyakiti mereka. Namun ia tahu perintah untuk membuat mereka tidak nyaman tetap bisa membahayakan.
'Ayah menyuruh orang lain menakut-nakuti kami, lalu meminta aku pulang seolah itu bentuk perlindungan,' kata Ryan. 'Kenapa Ayah tidak datang sendiri?'
'Aku takut kalau aku datang, sesuatu yang pernah terjadi di keluarga kita akan terulang.'
'Apa yang terjadi?'
Ayahnya menatap berkas di meja. 'Aku akan menjelaskan. Tapi pertama-tama, aku perlu memastikan dokumen ini yang kamu temukan memang berkaitan dengan rumah itu.'