Ryan menarik napas. 'Ayah selalu minta waktu. Sekarang Ayah sudah di sini. Jangan jadikan map ini alasan untuk menunda lagi.'
Ayahnya mengangguk perlahan. Ia mengakui bahwa surat warisan bukan alasan ia meminta Malik mengusir mereka. Ia belum memastikan apakah surat itu memenuhi semua syarat hukum, tetapi ia tidak pernah menyuruh Malik menolaknya atau menyebutnya palsu. Motifnya adalah takut pada riwayat rumah, bukan menghalangi Ryan menerima warisan.
'Kalau begitu, katakan dengan jelas,' ujar Afif. 'Ayah meminta Malik membuat kami tidak nyaman karena takut sesuatu terjadi pada Ryan?'
'Ya.'
Ryan menggeleng kecil. 'Takut bukan izin untuk menyembunyikan semuanya.'
Ayahnya tidak membantah. Ia berkata seharusnya datang lebih cepat dan menjelaskan tanpa menyuruh Malik bertindak di belakang mereka. Ia tidak meminta Ryan langsung memaafkannya. Ryan menjawab bahwa mereka belum membicarakan maaf; mereka sedang berusaha memahami fakta.
Ayahnya lalu menggeser map ke tengah meja, tetapi belum membukanya. Ia bertanya apakah kotak yang mereka temukan sudah disentuh. Ryan menjelaskan bahwa kotak masih berada di bawah rak, tertutup, dan mereka tidak memindahkannya. Afif menunjukkan foto yang diambil dari ambang pintu.
Ayahnya memandang gambar itu lama. Jemarinya berhenti di atas motif bunga dan lingkaran pada tutup kotak. Ia tidak menyentuh layar. Wajahnya berubah, tetapi ia tidak segera menyebut apa yang dikenalnya.
'Ayah pernah melihatnya?' tanya Ryan.
'Aku tidak bisa memastikan hanya dari foto.'
Ryan menatapnya tajam. 'Jangan jawab dengan kalimat itu lagi kalau sebenarnya Ayah tahu sesuatu.'
'Aku tahu ada benda lama yang bentuknya mungkin serupa. Aku harus cocokkan dengan berkas ini sebelum menyebutnya.'
Jawaban itu belum memuaskan, tetapi kali ini ayahnya menunjukkan apa yang akan ia periksa. Ia membuka map dan mengeluarkan amplop bertanggal. Ryan meminta Afif mencatat tanggal sebelum mereka membaca. Tidak ada yang menyatakan benda atau hubungan keluarga sebagai fakta.
Di luar, hujan mulai reda. Di dalam ruang tengah, tiga orang duduk mengelilingi kertas lama yang mungkin menghubungkan potret, surat, dan rumah No. 13. Ryan tetap menjaga surat aslinya di dalam map sendiri. Ayahnya tidak meminta mengambilnya.
'Kita mulai dari dokumen,' kata Ryan. 'Setelah itu Ayah menceritakan apa yang selama ini Ayah sembunyikan.'
Ayahnya mengangguk. Ia membuka amplop pertama, tetapi berhenti ketika melihat tulisan tangan di bagian depan. Pertemuan itu akhirnya dimulai, namun rahasia keluarga baru berada di ambang penjelasan.
Ayah Ryan mengeluarkan lembar pertama dari amplop, lalu meminta mereka tidak melipat atau memisahkan halaman. Kertasnya tipis dan rapuh. Ryan meminta izin memotret bagian depan sebelum dibaca. Ayahnya menyetujuinya. Afif menuliskan tanggal yang tampak di sudut, kemudian menunggu.
Ryan meletakkan lembar itu di atas map kosong agar permukaannya rata. Ia tidak ingin jari-jari yang masih lembap meninggalkan bekas. Afif mengambil foto dengan cahaya dari jendela, lalu memeriksa apakah tulisan terbaca. Mereka tidak memakai lampu kilat karena kertas tampak rapuh. Ayah Ryan memperhatikan kehati-hatian mereka dan berkata bahwa dulu ia tidak pernah berpikir surat keluarga akan diperiksa seperti dokumen penting.
'Kalau kertasnya memuat jawaban, kita perlu tahu apa yang benar-benar tertulis,' ujar Ryan.
'Dan apa yang tidak tertulis,' tambah Afif.
Ayah mengangguk. Ia mengakui kebiasaannya selama ini hanya membaca bagian yang ia ingat, lalu mengandalkan ingatan untuk mengisi sisanya. Itu membuat beberapa cerita bercampur. Ryan meminta ia menyebut setiap kali ingatannya berbeda dari kata-kata pada halaman. Ayah setuju.
Mereka mencatat bahwa tanggal di sudut surat samar, mungkin tahun yang sama dengan foto, tetapi angka terakhir tidak jelas. Afif mengambil gambar lebih dekat tanpa menyentuh kertas. Ryan membacakan bagian yang masih bisa dikenali dan meminta ayah memeriksa apakah ia pernah mendengar kalimat itu. Ayah belum menjawab; ia ingin membaca seluruh halaman dahulu. Sikap itu terasa lambat, tetapi setidaknya mereka tidak lagi melompat ke kesimpulan sebelum selesai.
Saat Afif menyimpan foto, ayah meminta melihat catatan tentang percakapan Malik. Ryan memutar buku itu ke arahnya, tanpa menyerahkan ponsel atau dokumen lain. Ayah membaca kalimat yang sudah dicatat dan mengonfirmasi bahwa inti perintahnya benar: Malik diminta mengawasi mereka dan membuat mereka ingin pergi. Ia tidak ingat kata demi kata yang dipakainya saat menelepon.
'Jangan tulis kutipan langsung kalau Ayah tidak ingat persis,' kata Ryan.
Afif menggarisbawahi keterangan itu. Pengakuan ayah menjelaskan siapa orang yang disebut Malik, tetapi tidak menjelaskan semua tindakan Malik atau gangguan yang terjadi di rumah. Mereka mencatat batas tersebut sebelum melanjutkan.
'Sebelum membaca, jelaskan kenapa Malik harus terlibat,' kata Ryan.
Ayahnya meletakkan surat itu kembali di atas map. Ia mengatakan setelah lama meninggalkan desa, ia masih mengenal Malik sebagai orang yang menjaga kebun. Ketika mengetahui Ryan mungkin akan menerima rumah, ia menghubungi Malik karena tidak berani datang. Ia meminta Malik melihat siapa yang tiba dan memastikan mereka pergi.
'Ayah mengenal Malik sejak dulu?' tanya Afif.
'Aku mengenalnya sebagai penjaga kebun. Kami tidak dekat.'
'Tapi Ayah cukup percaya untuk menyerahkan keselamatan kami kepadanya?'
Ayah Ryan tidak menjawab cepat. Ia mengakui bahwa keputusan itu salah. Ia mengira Malik hanya akan membuat mereka tidak betah, bukan menciptakan ketakutan yang lebih besar. Ia tidak mempertimbangkan bahwa Malik bisa menyembunyikan informasi atau menggunakan ancaman.
Ryan menatapnya. 'Ayah tidak tahu apa yang dia lakukan setelah menerima perintah?'
'Tidak. Aku tidak berada di sini. Aku hanya menerima kabar bahwa kalian datang.'
Afif menambahkan pertanyaan tentang pesan anonim. Ia menunjukkan tangkapan layar tanpa menebak pengirim. Ayah Ryan membaca kalimat itu dan mengerutkan dahi. Ia tidak mengenali nomor tersebut. Ia memastikan bahwa nomor itu bukan nomor yang biasa ia pakai untuk menghubungi Malik, tetapi tidak bisa menyatakan siapa pemiliknya.
'Apakah Malik mengirimnya?' tanya Ryan.
'Aku tidak tahu.'
Ryan menulis jawaban itu apa adanya. Ayahnya bukan saksi untuk pesan tersebut dan belum memiliki bukti. Mereka tidak akan memaksa kesimpulan hanya karena ia mengakui panggilan sebelumnya.
Ayah Ryan menjelaskan bahwa ia tidak pernah meminta Malik memalsukan surat warisan. Ia bahkan belum melihat surat yang sama dengan yang diterima Ryan. Perintahnya kepada Malik didasarkan pada ketakutan bahwa Ryan akan tinggal di rumah sebelum memahami sejarahnya. Ia mengira mencegah Ryan datang akan melindunginya.
'Ayah tahu kami sudah di sana sebelum menyuruh Malik mengusir kami,' kata Ryan.
'Ya. Malik menelepon setelah kalian tiba.'
'Dan Ayah tidak meneleponku saat itu.'
'Aku takut kamu akan tetap tinggal kalau aku menjelaskan.'
Ryan menyandarkan tubuh. 'Jadi Ayah sengaja membuatku mengambil keputusan tanpa informasi.'
Ayahnya menerima kalimat itu tanpa membela diri. Ia berkata bahwa ia memahami sekarang tindakannya justru membuat Ryan lebih curiga dan memaksanya mencari jawaban dari orang-orang yang juga menyembunyikan sesuatu. Afif mengingatkan agar ayahnya tidak meminta mereka berhenti bertanya hanya karena ia sudah mengakui sebagian hal.
'Aku tidak akan meminta itu,' jawab ayahnya. 'Aku hanya ingin kalian mendengar urutannya sebelum menyentuh ruangan atau kotak.'
Ryan meminta ayahnya menjelaskan apa yang ia takutkan. Ayahnya memandang surat di meja dan mengatakan bahwa bagian itu berkaitan dengan seorang anggota keluarga yang hilang dari rumah. Ia tidak memberi nama atau tanggal. Ryan bertanya apakah itu gadis dalam potret.
Ayahnya berhenti, lalu mengatakan ia belum siap memastikan sebelum membandingkan foto dan catatan keluarga. Ryan tidak puas, tetapi Afif menyela dengan tenang: mereka bisa memeriksa dokumen dulu, kemudian kembali ke pertanyaan itu. Ayahnya menyetujui.