Mereka membahas lagi urutan panggilan Malik. Ryan dan Afif mengulang keterangan Malik bahwa ia menelepon seseorang setelah mereka datang dan menerima perintah untuk membuat mereka tidak nyaman. Ayah Ryan mengakui bahwa orang itu dirinya. Ia tidak mengetahui apakah Malik menerima perintah lain dari orang berbeda.
'Kalau Malik bilang tidak tahu dokumen, itu belum tentu berarti ia berbohong,' kata Afif. 'Tapi sekarang kami tahu Ayah pernah memintanya mengawasi kami.'
Ayah Ryan mengangguk. Ia berkata mereka berhak mempertanyakan Malik, tetapi ia tidak meminta mereka bertemu lagi sebelum keadaan aman. Ryan menjawab bahwa ia tidak berniat pergi ke kebun. Ia ingin mendengar dokumen dan cerita keluarga lebih dulu.
Ayah menggeser amplop kedua ke meja. Pada bagian depan tertera tanggal yang lebih lama. Ia berkata beberapa lembar di dalamnya mungkin berasal dari rumah No. 13. Ryan meminta mereka membacanya satu demi satu, bukan memilih bagian yang paling mudah.
Afif mencatat persetujuan itu. Untuk pertama kalinya, ayah Ryan tidak meminta mereka pulang atau menutup percakapan. Namun alasan di balik ketakutannya masih belum dijelaskan. Dokumen berikutnya mungkin memberi urutan, tetapi belum tentu memberi semua jawaban.
Amplop kedua berisi beberapa lembar surat dan satu foto keluarga. Ayah Ryan menaruhnya di atas kain bersih agar kertas tidak bergeser. Ryan tidak menyentuh berkas sebelum ayah mengizinkan. Afif memotret bagian depan setiap halaman, lalu menuliskan tanggal dan siapa yang memegang dokumen.
Ryan memeriksa tepi amplop. Ada dua bekas lipatan yang tidak sejajar dan noda kecokelatan di dekat lem. Ia bertanya apakah surat itu pernah terkena air. Ayah tidak ingat. Ia hanya tahu amplop tersebut sudah berada di dalam kotak penyimpanan saat ia membawanya pergi. Mereka tidak bisa menyimpulkan umur noda atau kapan amplop dipindahkan.
Afif membuat daftar singkat: satu amplop, tiga lembar tulisan, satu foto. Ia menandai bahwa salah satu lembar terlipat menjadi empat bagian, sedangkan dua lainnya dilipat sekali. Ryan meminta agar urutan tersebut dipertahankan. Ayah menjelaskan ia tidak menyusun surat-surat itu berdasarkan kronologi; ia memasukkannya ke map setelah menemukan semuanya di antara barang lama.
'Berarti posisi di map bukan petunjuk urutan,' kata Ryan.
'Benar,' jawab ayah. 'Aku tidak tahu urutannya.'
Mereka mulai dari tanggal yang paling jelas, bukan dari halaman yang terasa paling menarik. Ryan membacakan baris pertama, lalu berhenti di bagian tulisan yang pudar. Afif memperbesar foto di layar dan membantu membaca satu kata yang mungkin berarti 'lemari', tetapi mereka menandainya dengan tanda tanya di catatan. Ayah tidak memaksakan tafsir lain.
Sebelum beralih ke foto, Ryan meminta ayah menunjukkan sisi mana yang pernah ia lihat dahulu. Ayah menunjuk satu surat, tetapi mengakui ia mungkin keliru mengingat urutannya. Afif menulis 'menurut ingatan ayah' di samping keterangan itu. Mereka sepakat tidak menyusun dokumen kembali berdasarkan tebakan. Bila nanti ada tanggal atau catatan lain yang menunjukkan urutan berbeda, mereka bisa memperbarui catatan tanpa merusak halaman.
Foto keluarga itu juga memiliki bagian yang terpotong. Sisi kirinya tampak seperti pernah disobek atau dipangkas, tetapi mereka tidak tahu apakah memang begitu sejak awal. Ayah tidak ingat siapa yang mengambil gambar. Ia hanya mengenali tangga dan pagar rumah. Ryan bertanya apakah lokasi itu pasti rumah No. 13. Ayah menjawab ia percaya begitu, namun belum bisa membuktikannya hanya dari foto.
Surat tertua tidak menyebut warisan. Isinya membicarakan perbaikan rumah, kebun yang perlu dibersihkan, dan beberapa barang yang disimpan di ruang dekat dapur. Tidak ada daftar rinci atau nama pemilik kotak. Ayah Ryan berkata ia mengingat ruangan itu sebagai tempat menyimpan barang-barang kecil keluarga, tetapi ia tidak tahu semua isinya.
'Jadi Ayah pernah masuk ke ruang itu?' tanya Ryan.
'Dulu, ya. Tapi sudah lama.'
'Ayah tahu kenapa sekarang melarang kami masuk?'
Ayahnya memandangi halaman surat. 'Aku tahu ada benda yang seharusnya tidak dipindahkan sebelum orang yang berhak melihatnya datang.'
Ryan meminta ia menjelaskan siapa yang berhak. Ayahnya belum menjawab. Ia mengatakan bahwa surat-surat itu berasal dari beberapa waktu berbeda dan tidak semuanya membahas kejadian yang sama. Ia ingin memeriksa tanggal lebih dulu agar tidak membuat cerita yang keliru.
Afif menulis bahwa surat tersebut menyebut ruang penyimpanan, bukan kotak yang mereka temukan secara langsung. Ia menambahkan bahwa hubungan antara catatan lama dan kotak belum terkonfirmasi. Ryan mengapresiasi ketelitian itu. Mereka tidak ingin satu frasa menjadi bukti palsu.
Foto keluarga menunjukkan beberapa orang berdiri di tangga rumah. Ayah Ryan masih muda, lebih kurus daripada yang dikenal Ryan, dan berada di sisi seorang perempuan dewasa. Di antara mereka tampak sosok gadis yang mirip dengan potret yang ditemukan Ryan, tetapi foto lama itu terlalu kecil untuk memastikan wajah. Bros di lehernya tampak seperti titik gelap.
Ryan memperbesar foto dengan kamera, bukan mengubah gambar aslinya. Afif membandingkan posisi bros pada foto dengan potret yang mereka simpan. Bentuknya mungkin sama, tetapi resolusi kedua foto berbeda. Mereka mencatat kemiripan itu sebagai pengamatan, tidak menyebut gadis tersebut siapa.
Ayah Ryan menatap foto cukup lama. Ryan bertanya apakah ia mengenal gadis itu. Ayahnya berkata ia mengenali orang-orang dalam foto, tetapi belum mau menyebut hubungan sebelum melihat potret yang ditemukan di rumah dan memastikan urutannya. Ia meminta Ryan menunjukkan foto potret, bukan benda aslinya.
Ryan memperlihatkan gambar melalui ponsel. Ayahnya mengamati wajah gadis di potret dan kemudian foto lama. Tangannya gemetar sedikit. Ia menutup mata sekejap, lalu berkata keduanya sangat mirip. Namun ia tetap tidak menyebut nama.
'Ayah takut mengatakan sesuatu?' tanya Ryan.
'Aku takut salah. Dan aku takut kalau aku menyebutnya, kalian akan langsung menuju kotak.'
Ryan menjawab bahwa mereka tidak akan membukanya tanpa kesepakatan. Mereka telah menepati larangan itu beberapa hari. Ayahnya mengangguk, tetapi masih belum menjelaskan apa yang terjadi kepada gadis tersebut.
Di salah satu surat, ada kalimat yang menyebut 'barang milik anak perempuan itu' dan meminta agar benda-benda kecil disimpan sampai keluarga kembali. Tidak ada nama di halaman itu; sudut kertasnya sobek. Ayah Ryan mengatakan bagian yang hilang mungkin berada dalam map lain, tetapi ia belum menemukannya.
Afif mencatat kalimat tersebut persis dan menandai bagian yang hilang. Ryan bertanya apakah barang yang dimaksud mungkin bros. Ayahnya menjawab mungkin, tetapi mereka belum tahu. Kotak berukir bunga bisa saja menyimpan beberapa benda, sementara bros pada foto mungkin hanya kemiripan.
Mereka menutup amplop setelah memotret halaman terakhir dengan izin ayah. Ryan memastikan setiap gambar tersimpan dan tidak menggantikan dokumen asli. Korespondensi lama menunjukkan bahwa keluarga pernah menyimpan barang di ruang dekat dapur dan ada seorang anak perempuan dalam lingkaran keluarga. Namun surat itu belum mengungkap nama, hubungan, atau alasan ia tidak lagi muncul di rumah.
Ryan menutup buku catatan. 'Kita sudah punya lebih dari kemarin, tapi belum cukup untuk menyebut siapa dia.'
'Betul,' kata Afif.
Ayah Ryan mengangguk. Ia berjanji membuka map berikutnya setelah menceritakan bagian yang selama ini ia hindari. Korespondensi itu membuatnya tidak bisa lagi berpura-pura bahwa rumah No. 13 hanya masa lalu yang tidak penting.