Ryan meminta ayahnya memisahkan surat-surat lama dari dokumen warisan. Ia tidak ingin hubungan antarkertas disimpulkan hanya karena semuanya berada dalam satu map. Ayahnya menyetujui dan menata amplop berdasarkan tanggal. Afif mencatat urutannya.
Ryan membuat dua kolom di buku: 'dokumen keluarga' dan 'surat yang berkaitan dengan rumah'. Ia belum memasukkan surat warisan ke salah satunya, karena identitas penulis dan hubungannya masih belum diketahui. Afif menyarankan mereka menuliskan sumber setiap pernyataan ayah di sampingnya, misalnya 'dilihat sendiri', 'dengar dari ibu', atau 'tidak ingat'. Ayah setuju agar keterangannya tidak berubah menjadi fakta hanya karena dicatat.
Mereka kemudian mengurutkan amplop tanpa memindahkan isi satu sama lain. Tahun pada satu surat tampak lebih lama daripada tahun foto, tetapi tidak cukup jelas untuk menetapkan urutan. Ryan bertanya apakah ayah bisa mengenali tanda tangan di bawah halaman. Ayah menjawab bahwa bentuknya mengingatkan pada seseorang, tetapi ia tidak berani mengaitkannya dengan nama sebelum ada pembanding. Afif menandai tanda tangan itu sebagai belum dikenali.
'Kita juga perlu tahu apakah surat ini pernah dibaca orang lain,' kata Ryan.
Ayah mengakui ia pernah membuka beberapa amplop setelah meninggalkan desa. Ia tidak ingat apakah halaman yang ini termasuk di antaranya. Tidak ada segel utuh yang dapat membuktikan kapan amplop dibuka. Mereka sepakat tidak menyebutnya rahasia yang baru terbongkar; amplop tersebut hanyalah dokumen lama yang konteksnya belum jelas.
Ryan merasa frustrasi karena setiap jawaban berakhir dengan ketidakpastian, tetapi ia juga tahu memaksa ayah mengarang jawaban tidak akan membantu. Yang ia butuhkan bukan cerita yang terdengar lengkap, melainkan urutan yang dapat diuji dan keberanian ayah menyebut bagian yang tak diketahui.
Ia kembali bertanya tentang surat warisan. Ayah akhirnya menjawab bagian yang ia hindari lewat telepon. Nama perempuan tua yang tercantum pada surat itu adalah nama ibunya sendiri: nenek Ryan, yang hubungannya dengan mereka lama terputus. Ryan mengenal nenek hanya lewat sedikit cerita dan tidak mengetahui nama lengkap yang dipakainya di surat.
'Mengapa Ayah tidak mengatakan itu sejak tadi?' tanya Ryan.
'Karena aku takut kamu makin ingin menetap kalau tahu itu pesan dari nenekmu,' jawab ayah. 'Aku tahu nama itu. Tetapi Ibu sudah meninggal, dan aku belum tahu siapa yang meneruskan paket kepadamu.'
Ryan tidak menerima jawaban itu sebagai alasan untuk terus disembunyikan. Ia meminta ayah membedakan hal yang diketahui dari hal yang belum: nama pada surat memang nama nenek, tulisan masih perlu dibandingkan, sedangkan orang yang mengirim kunci dan peta belum diketahui. Surat atas nama keluarga juga tidak dengan sendirinya membuktikan pemindahan hak.
Afif menyarankan mereka tidak menggabungkan urusan hukum dengan pertanyaan tentang sejarah rumah. Surat dapat membantu menelusuri hubungan dan waktu, sedangkan keabsahan pengalihan perlu diperiksa melalui dokumen asli dan orang yang berwenang. Ryan mencatat langkah itu untuk nanti. Ia tidak akan menyerahkan rumah atau mengubah kunci hanya berdasarkan ucapan ayah, tetapi juga tidak akan menyebut surat tersebut palsu tanpa bukti.
Ayah bertanya apakah Ryan merasa dirinya memperebutkan rumah. Ryan menjawab bahwa ia belum memutuskan apa pun. Ia datang karena diminta oleh surat dan ingin tahu alasan di baliknya. Jika akhirnya ia memiliki hak atas rumah itu, hak tersebut tetap tidak menjawab siapa gadis dalam foto atau apa yang terjadi di kebun.
'Sekarang tentang surat yang membawaku ke sini,' kata Ryan. 'Ayah tadi bilang perintah kepada Malik bukan karena surat itu palsu. Apa Ayah tahu siapa yang mengirimnya?'
Ayahnya menjawab bahwa nama penulis sudah ia kenali, tetapi ia belum dapat memastikan siapa yang memasukkan surat itu ke paket. Ia juga masih perlu membandingkan tulisan dan tanggal dengan dokumen lain. Ia juga belum tahu apakah rumah dan kebun sudah resmi dialihkan.
'Jadi Ayah tidak bilang surat itu sah?' tanya Afif.
'Tidak. Aku belum memeriksanya. Aku hanya tidak mengirim Malik untuk menolak surat itu.'
Ryan menuliskan perbedaan tersebut. Ayahnya tidak menyebut surat palsu, tetapi juga tidak mengesahkan hak milik. Itu lebih jelas daripada jawaban sebelumnya. Mereka masih perlu memeriksa dokumen dengan orang yang memahami urusan warisan, sesuai rencana nanti.
Ayah menjelaskan bahwa ia tahu Ryan menerima paket karena Malik melaporkan adanya dua orang yang mengaku sebagai ahli waris. Ia tidak tahu detail surat, kunci, atau petunjuk jalan sampai Ryan menceritakannya. Setelah menerima kabar itu, ia panik karena rumah tersebut pernah menjadi tempat keluarganya tinggal dan ada peristiwa yang tak pernah ia selesaikan.
'Kenapa tidak meneleponku dan berkata jujur?' tanya Ryan.
Ayahnya terdiam. 'Karena aku takut kamu akan menganggapku berlebihan, lalu tetap tinggal.'
'Ayah tidak memberi kesempatan untuk memilih dengan tahu risikonya.'
'Aku tahu.'
Afif bertanya apa sebenarnya yang diminta ayah kepada Malik. Ayah mengatakan ia meminta Malik mengawasi mereka, melaporkan jika ada perubahan, dan membuat mereka merasa tidak diterima agar pulang. Ia tidak memberi instruksi tentang penampakan, kotak, atau dokumen. Ia tidak tahu apakah Malik kemudian melakukan hal lain atas kemauannya sendiri.
Ryan memperhatikan kata-kata itu. 'Ayah meminta dia membuat kami tidak nyaman, tapi tidak meminta dia berbohong soal dokumen?'
'Tidak. Aku tidak membicarakan dokumen dengannya.'
'Ayah juga tidak memberi tahu kami bahwa Malik bekerja untuk Ayah.'
Ayahnya mengakui itu. Ia berkata ia mengira perintahnya akan singkat dan tidak berbahaya. Ketika Malik melaporkan mereka masih tinggal di rumah, ayah tidak segera menghentikannya. Ia berharap mereka pulang sebelum harus menjelaskan masa lalu.
Afif menulis bahwa ayah mengakui perintah dan mengakui ia tidak membatalkannya setelah mengetahui mereka tetap tinggal. Ryan meminta agar catatan itu tidak dilunakkan menjadi 'salah paham'. Ayahnya setuju.
'Aku tidak bisa menghapus yang sudah terjadi,' kata ayah. 'Tapi aku akan berhenti menyuruh orang lain mengambil keputusan untukmu.'
Ryan tidak menjawab bahwa ia memaafkan. Ia hanya berkata bahwa setelah ini, jika ayah mengkhawatirkan bahaya, ia harus menyebutkan apa yang diketahui dan apa yang hanya ia takutkan. Ayahnya berjanji berusaha menjawab langsung.
Mereka kembali ke halaman korespondensi yang menyebut barang anak perempuan. Ayah Ryan mengatakan ia belum yakin surat warisan dan surat lama ditulis oleh orang yang sama. Tulisan tangan perlu dibandingkan dengan dokumen lain. Ia juga perlu melihat surat asli, bukan hanya salinan, tetapi tidak meminta Ryan menyerahkannya saat itu.
Ryan menyimpan surat dalam map. Ia akan menunjukkan aslinya ketika ayah menjelaskan konteks surat keluarga. Mereka tidak akan menandatangani atau mengubah apa pun. Hak atas rumah belum dapat ditentukan hanya dari cerita keluarga atau satu surat yang belum diperiksa.
Percakapan berakhir sebentar ketika ayah meminta waktu menyusun dokumen. Ryan menyetujui jeda, bukan penundaan tanpa akhir. Ia meminta ayah melanjutkan cerita tentang gadis di foto setelah mereka selesai minum. Ayahnya mengangguk. Kali ini ia tidak berkata 'nanti' tanpa batas; ia tetap duduk di ruangan.