Setelah jeda singkat, ayah Ryan mengeluarkan sebuah surat lain dari map. Ia menatap tanggal di bagian atas, lalu menaruhnya kembali. Ryan bertanya mengapa ia berhenti. Ayahnya berkata ia sedang mencoba menyusun urutan yang benar, bukan menghindar.
Ryan tidak mengisi jeda itu dengan pertanyaan. Ia memberi ayah waktu untuk membaca sendiri, sementara Afif memeriksa kembali catatan mereka. Di luar, tetesan hujan mulai jarang terdengar. Suara jam dinding mengisi ruang tengah, membuat setiap detik terasa panjang.
Ayah akhirnya membuka surat itu dan membaca dalam hati. Ia mengusap kening, lalu berkata tulisan tersebut berasal dari masa sebelum ia meninggalkan rumah. Tidak ada tanggal lengkap, hanya bulan dan angka yang sebagian pudar. Ia tidak dapat memastikan apakah surat itu ditulis sebelum atau sesudah foto keluarga diambil.
'Apa isinya?' tanya Ryan.
'Permintaan agar seseorang tidak pergi ke kebun sendirian.'
Afif bertanya apakah surat menyebut nama orang itu. Ayah menjawab bagian yang memuat nama terlipat ke dalam dan tintanya luntur. Ryan meminta izin memotret lipatan tanpa membukanya paksa. Mereka menaruh surat di meja dan mengamati sisi luarnya. Tidak ada cara aman untuk mengetahui tulisan yang tersembunyi tanpa merusak kertas.
'Kita tidak perlu membukanya sekarang,' kata Ryan. 'Kalau perlu, cari orang yang bisa menangani kertas lama.'
Ayah setuju. Ia mengakui pernah membaca surat itu bertahun-tahun lalu, tetapi tidak ingat nama yang tertulis. Ia hanya mengingat peringatan tentang kebun. Ryan bertanya apakah itu alasan ia takut Ryan tinggal di rumah. Ayah menjawab mungkin, tetapi surat itu sendiri tidak menjelaskan bahaya apa yang dimaksud.
Mereka menambahkan satu catatan lagi: isi yang bisa dibaca adalah larangan atau permintaan agar seseorang tidak pergi sendiri ke kebun; nama dan konteksnya belum terbaca. Afif menegaskan mereka tidak boleh menyimpulkan bahwa surat itu membuktikan ada pembunuhan atau makhluk tertentu. Ayah mengangguk, meski wajahnya menunjukkan bahwa ia memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada isi surat.
'Kalau belum ingat, bilang belum ingat,' ujar Ryan. 'Kalau tidak mau menjawab, bilang begitu. Tapi jangan membuat kami menebak.'
Ayahnya mengangguk dan menarik kursi lebih dekat. Ia bercerita bahwa hubungannya dengan ibunya memburuk setelah ia meninggalkan rumah No. 13. Mereka jarang berkomunikasi. Ia tidak pernah memberi Ryan cerita lengkap tentang rumah itu karena menganggap masa lalu sebaiknya dibiarkan tertutup.
'Gadis di foto itu bagian dari keluarga?' tanya Afif.
Ayah Ryan menatap potret pada ponsel. 'Ya. Dia bagian dari keluarga kami.' Ia berhenti, lalu menambahkan bahwa ia akan menjelaskan hubungan dan namanya setelah menemukan halaman yang memuat catatan kelahiran dan foto lengkap. Ia tidak ingin membuat mereka percaya pada ingatan yang belum dicocokkan.
Ryan bertanya apakah gadis itu masih hidup. Ayahnya menutup mata sebentar. 'Tidak.'
Ruangan menjadi hening. Ryan ingin bertanya kapan ia meninggal dan apa yang terjadi, tetapi ayahnya mengangkat tangan meminta waktu. Ia berkata selama bertahun-tahun keluarga menyebut kematiannya kecelakaan. Namun ia tidak yakin penyelidikan saat itu cukup untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Afif meminta ayahnya menjelaskan hal yang ia ketahui langsung dan mana yang hanya didengar. Ayahnya memisahkan keduanya. Ia tinggal di rumah itu ketika masih muda dan mengenal gadis tersebut. Ia tidak menyaksikan saat ia ditemukan. Tentang hari terakhirnya, sebagian besar informasi yang ia dengar datang dari orang lain.
'Siapa yang mengatakan itu kecelakaan?' tanya Ryan.
Ayahnya menyebut ibunya dan orang-orang dewasa di rumah, tetapi tidak menyebut nama lain. Ia tidak dapat memastikan siapa yang pertama kali memakai kata tersebut. Ryan meminta Afif mencatat bahwa istilah 'kecelakaan' berasal dari cerita keluarga, bukan hasil pemeriksaan yang mereka lihat.
Ayah Ryan berkata ia dahulu menerima penjelasan itu karena masih muda dan takut kehilangan keluarga yang tersisa. Setelah dewasa, ia memilih pergi dan memutus hubungan, bukan kembali mencari bukti. Ia menyesal membiarkan kesunyian menggantikan pertanyaan.
Ryan merasa marah karena ayahnya mengetahui lebih banyak daripada yang ia katakan, tetapi ia juga melihat bahwa pria itu sedang berusaha berbicara tanpa menutupinya lagi. Ia berkata bahwa ia tidak bisa menerima permintaan maaf sebelum mengetahui apa yang disembunyikan. Ayahnya menyatakan ia tidak mengharapkan itu.
'Aku ingin tahu kenapa Ayah takut aku tinggal di rumah ini,' kata Ryan. 'Apa yang terjadi pada dia?'
Ayahnya menatap amplop dan foto. 'Dia menghilang di kebun. Setelah itu, keluarga mengatakan ia meninggal karena kecelakaan. Tapi aku tidak melihat sendiri apa yang terjadi, dan ada bagian yang tidak cocok dalam cerita mereka.'
Ryan bertanya bagian mana. Ayahnya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia mengatakan surat berikutnya mungkin menjelaskan tanggal dan siapa yang terakhir bersamanya. Ia meminta mereka memeriksa halaman itu bersama, bukan mengandalkan ingatannya saja.
Afif mencatat bahwa gadis itu bagian dari keluarga dan telah meninggal menurut ayah, tetapi identitas serta hubungan tepatnya belum dicocokkan dengan dokumen. Ia juga menulis bahwa kematian disebut kecelakaan oleh keluarga, sementara ayah meragukan kelengkapan penjelasan. Belum ada bukti yang menunjukkan siapa bertanggung jawab.
Ryan kembali menanyakan mengapa ayah tidak mencari tahu ketika masih muda. Ayah mengatakan setelah kejadian itu ia beberapa kali berdebat dengan ibunya, tetapi setiap kali meminta penjelasan, jawaban yang diterima tetap sama: kecelakaan dan tidak perlu dibicarakan lagi. Ia tidak tahu apakah ibunya melindungi seseorang, menjaga nama keluarga, atau benar-benar percaya pada penjelasan tersebut. Ia hanya tahu dirinya memilih pergi daripada terus bertengkar.
'Ayah pernah meminta melihat catatan atau laporan?' tanya Afif.
'Tidak. Aku tidak tahu apakah ada laporan tertulis. Aku juga tidak pernah menanyakannya dengan benar.'
Ryan menahan kecewa. Selama ini ayah telah membiarkan ketidakpastian itu tumbuh menjadi ketakutan, lalu berusaha mengendalikan Ryan dari jauh. Ia berkata bahwa mereka tidak akan langsung menuduh siapa pun. Mereka perlu menemukan dokumen, memastikan tanggal, dan berbicara dengan orang yang masih mengingat kejadian. Ayah setuju membantu mencari nama orang-orang yang mungkin tahu, tetapi ia tidak menjanjikan bahwa semua masih hidup atau mau bicara.
Ryan meminta ayah tidak menghubungi Malik untuk mengatur cerita atau mencegah saksi bicara. Ayah mengatakan ia tidak akan melakukan itu. Jika ia berbicara dengan Malik lagi, ia akan menyampaikan bahwa perintah lama untuk mengawasi mereka sudah dicabut. Ryan meminta hal itu dicatat sebagai janji, bukan dianggap telah terjadi sebelum ada pemberitahuan.
Afif menuliskan langkah berikutnya: memeriksa map berikut, mencari tanggal yang bisa dibaca, lalu membuat daftar pertanyaan untuk orang yang mungkin mengetahui kejadian di kebun. Mereka belum akan membuka kotak kecil atau pergi ke kebun malam itu. Cedera Ryan juga membuat perjalanan ke sana tidak masuk akal.
Ryan menatap ayahnya. 'Kita lanjutkan sekarang. Jangan berhenti tepat sebelum bagian yang penting.'
Ayahnya mengangguk dan membuka map pada halaman berikutnya. Di luar, hujan telah reda. Pertemuan yang dimulai dengan pengakuan tentang telepon Malik kini sampai pada kisah gadis di potret—namun apa yang terjadi di kebun masih menunggu untuk diceritakan.