Ayah Ryan membalik halaman yang tadi ia tandai. Ia meratakan kertas dengan telapak tangan, tetapi tidak menekan bagian yang rapuh. Afif menyiapkan buku catatan di sampingnya. Ryan menggeser bantal di bawah kakinya agar posisi duduknya tidak membuat pergelangan kembali nyeri.
'Sebelum kita membaca surat ini, aku perlu mengatakan satu hal,' ujar ayah. 'Gadis di foto itu adik perempuanku.'
Ryan menatap wajahnya. 'Ayah yakin?'
'Aku mengenalnya. Aku tumbuh bersamanya. Aku yakin tentang hubungan itu.' Ayah menarik napas. 'Tapi aku belum tahu apakah potret yang kalian temukan memang dirinya. Wajahnya sangat mirip, brosnya mungkin sama, tetapi foto itu perlu dibandingkan lebih teliti.'
Afif mencatat perbedaan tersebut: ayah yakin gadis dalam foto keluarga adalah adiknya; kesamaan dengan potret di rumah masih perlu diperiksa. Ryan bertanya apakah ayah ingat nama lengkap adiknya. Ayah menyebut nama panggilan yang mereka pakai dahulu, tetapi mengaku belum yakin pada ejaan nama yang dicatat keluarga. Ia ingin mencocokkannya dengan dokumen lain sebelum menuliskannya. Untuk saat ini, ia hanya memastikan hubungan mereka: gadis dalam foto keluarga adalah adik perempuannya. Ia tidak meminta mereka segera menganggap semua penampakan sebagai arwah adiknya.
'Aku belum tahu siapa yang kalian lihat di rumah,' katanya. 'Aku hanya tahu gadis dalam foto keluarga ini adikku.'
Ryan merasa ada sesuatu yang mengendur di dadanya, bukan lega sepenuhnya, melainkan satu pertanyaan yang akhirnya punya jawaban. Ia bertanya mengapa ayah selalu berhenti setiap kali pembicaraan sampai pada gadis itu.
'Karena setelah dia meninggal, aku pergi dari rumah. Setiap kali mengingatnya, aku merasa seharusnya aku melakukan sesuatu.'
'Apa yang Ayah lakukan sebelum dia meninggal?'
Ayah menunduk. 'Aku tidak tahu apakah tindakanku berpengaruh. Kami bertengkar beberapa hari sebelumnya. Aku marah dan pergi dari rumah untuk sementara. Saat aku kembali, dia sudah tidak ada.'
Afif menyela dengan hati-hati. 'Ayah melihat sendiri dia pergi dari rumah?'
'Tidak. Aku hanya tahu dia tidak ada di kamar. Aku diberi tahu bahwa dia pergi ke kebun.'
Ryan meminta ayah memisahkan pertengkaran itu dari kejadian di kebun. Ia tidak ingin mereka menganggap pertengkaran sebagai sebab atau bukti. Ayah setuju. Ia membuka surat yang baru saja dibalik, lalu membaca kalimat pendek di bagian atas. Surat itu menyebut bahwa si adik diminta menunggu seseorang sebelum pergi ke kebun. Nama orangnya berada di lipatan yang tintanya luntur.
'Ini bisa jadi sebelum hari dia meninggal?' tanya Ryan.
'Mungkin. Aku tidak dapat memastikan dari kalimat ini.'
Afif menulis kata mungkin, bukan tanda panah atau kesimpulan. Mereka memotret halaman itu dan menandai bagian nama sebagai tidak terbaca. Ayah tidak mengenali tulisan penulisnya. Ryan mengingatkan bahwa mereka belum tahu siapa penerima surat tersebut.
'Ayah ingat kebiasaannya sebelum semua ini?' tanya Ryan. 'Bukan soal hari terakhirnya. Hal biasa saja.'
Ayah memandang foto keluarga. Ia berkata adiknya suka duduk di tangga setelah pulang dari kebun dan sering membawa bunga liar yang ditemukannya. Ia tidak selalu menyimpannya; kadang ia memberikannya kepada ibu mereka. Ryan bertanya apakah ukiran bunga pada kotak mungkin dibuat untuknya. Ayah menggeleng. Ia tidak tahu siapa yang mengukir kotak itu dan tidak ingat adiknya memiliki benda serupa.
Afif bertanya apakah ia masih menyimpan barang milik adiknya. Ayah berkata tidak ada yang ia bawa ketika pergi. Barang-barang tetap di rumah atau dibagikan oleh orang dewasa setelah kematian adiknya. Ia tidak mengetahui siapa yang menerima apa. Itu sebabnya ia tidak bisa mengaitkan bros atau kotak dengan pemilik tertentu.
Ryan berkata bahwa rincian biasa itu tetap berguna, tetapi tidak boleh menjadi pengganti bukti. Ayah setuju. Ia mengingat adiknya sebagai orang yang suka bercanda dan mudah tersinggung jika dianggap masih kecil. Ryan memperhatikan cara ayah memilih kata, seolah berusaha mengingat seseorang sebagai manusia, bukan sekadar pusat misteri rumah. Afif mencatat kenangan itu di bagian terpisah dari kronologi.
'Aku hampir lupa suaranya,' kata ayah. 'Kadang aku lebih ingat pertengkaran terakhir daripada semua hari sebelumnya.'
Ryan tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mendorong foto keluarga sedikit lebih dekat agar ayah dapat melihatnya. Mereka diam beberapa saat, memberi ruang bagi kenangan yang tidak menjelaskan kematian, tetapi menunjukkan bahwa hubungan mereka lebih luas daripada satu kejadian di kebun.
Ayah menjelaskan bahwa adiknya lebih muda darinya beberapa tahun. Ia senang berada di kebun dan mengenal jalan-jalan kecil di sekitar rumah. Ryan bertanya apakah adiknya sering pergi sendiri. Ayah menjawab ia tidak tahu kebiasaan setiap harinya. Kadang mereka pergi bersama, tetapi tidak berarti ia selalu tahu ke mana adiknya pergi.
'Aku tidak ingin membuatnya terdengar seperti aku selalu menjaganya,' katanya. 'Aku tidak selalu ada.'
Ucapan itu membuat Ryan terdiam. Selama bertahun-tahun ia mengenal ayah sebagai orang yang menolak bicara, tetapi kini melihat rasa bersalahnya punya akar yang lebih tua. Meski begitu, Ryan tidak ingin rasa bersalah itu berubah menjadi alasan untuk kembali mengambil keputusan darinya.
'Ayah boleh merasa bersalah,' kata Ryan. 'Tapi jangan menutupi fakta karena merasa bersalah.'
Ayah mengangguk. Ia berkata akan menjawab sebisanya, termasuk jika jawabannya tidak tahu. Afif meminta mereka kembali ke surat dan mengamati tanggal. Angka terakhir pada tahun itu masih samar. Ayah mengira surat dibuat ketika mereka masih tinggal bersama, tetapi tidak berani menyebut tahun pasti.
Ryan mengajukan pertanyaan berikutnya: kapan terakhir ayah melihat adiknya hidup? Ayah menjawab ia melihatnya beberapa hari sebelum kejadian, di rumah, dan sempat bertengkar dengannya. Ia tidak ingat tanggal. Ia juga tidak ingat kata-kata mereka secara persis. Ia hanya ingat adiknya menolak ikut dengannya meninggalkan rumah.
'Apakah dia bilang akan pergi ke kebun?' tanya Afif.
Ayah menggeleng. 'Aku tidak ingat. Jangan catat seolah dia mengatakannya.'
Afif menuliskan bahwa pertemuan terakhir terjadi beberapa hari sebelumnya menurut ingatan ayah, tanpa tanggal dan tanpa kepastian isi percakapan. Mereka tidak menemukan urutan lengkap, tetapi untuk pertama kali ayah menyebut hubungannya dengan gadis di foto tanpa mengaburkan jawabannya.
Ryan memandang foto keluarga sekali lagi. Ia tidak tahu apakah gadis yang muncul di dekat potret adalah adik ayahnya atau apakah kemiripan bros hanya kebetulan. Namun hubungan keluarga dalam foto kini jelas; ejaan nama masih harus dicocokkan. Surat berikutnya mungkin membantu mengisi hari-hari sebelum ia meninggal, tetapi bagian yang paling penting masih belum terbaca.
Ayah menyimpan halaman itu di atas map, tidak memasukkannya kembali ke amplop. Mereka sepakat membaca surat lainnya berdasarkan tanggal yang terlihat. Pertanyaan tentang siapa yang mengirim adik ayah ke kebun tetap terbuka.