Setelah memastikan surat pertama aman di atas map, Afif memeriksa catatan mereka. Ia membacakan kembali keterangan ayah: ia bertengkar dengan adiknya beberapa hari sebelum ia meninggal, pergi dari rumah sementara, lalu diberi tahu bahwa adiknya pergi ke kebun. Tidak satu pun bagian itu memastikan apa yang terjadi setelahnya.
Ryan bertanya kepada ayahnya mengapa pertengkaran tersebut membuatnya meninggalkan rumah. Ayah berkata itu bukan satu-satunya alasan. Ia merasa ibunya mengatur semua orang di rumah dan tidak memberi ruang bagi anak-anak untuk membicarakan masalah. Setiap kali ia menentang, percakapan berubah menjadi larangan atau ancaman akan diusir. Namun ia menegaskan bahwa ingatan masa mudanya mungkin membuat beberapa kejadian terasa lebih keras daripada yang sebenarnya.
'Apa yang membuat Ayah pergi setelah kematian adik?' tanya Ryan.
Ayah mengusap kedua tangannya. 'Aku meminta ibuku menjelaskan kenapa orang-orang bilang itu kecelakaan. Jawabannya berubah sedikit setiap kali. Ada yang bilang dia tersandung, ada yang bilang dia tersesat, dan ada yang bilang dia sudah lama di kebun. Aku tidak tahu mana yang benar.'
Afif bertanya apakah ayah mendengar variasi itu langsung dari ibunya.
'Sebagian darinya. Ada juga yang kudengar dari kerabat. Aku tidak ingat siapa mengatakan kalimat yang mana.'
Ryan meminta mereka menulisnya sebagai cerita yang pernah didengar, bukan kesaksian yang dapat dipastikan. Ayah menerima. Ia tidak berusaha memilih versi yang paling cocok untuk menguatkan kecurigaannya.
'Waktu itu siapa yang paling sering mengatakan kecelakaan?' tanya Afif.
Ayah menggeleng. Ia tidak bisa membedakan suara ibunya dari suara kerabat yang datang sesudah pemakaman. Ia masih muda, sedang berduka, dan tidak mencatat percakapan. Ia juga tidak ingat apakah kata 'kecelakaan' digunakan sejak awal atau baru muncul setelah beberapa hari. Ia tidak mau memastikan sesuatu yang hanya terasa akrab dalam ingatan.
Ryan meminta ia menjelaskan kapan kecurigaannya mulai tumbuh. Ayah berkata bukan pada hari pertama. Awalnya ia menerima apa yang dikatakan orang dewasa. Keraguan datang kemudian, setelah ia mendengar beberapa versi berbeda dan melihat keluarga menghindari pertanyaan. Namun ia tidak pernah menyelidiki lebih jauh. Ia hanya membawa rasa curiga itu ketika pergi.
'Keraguan Ayah bukan bukti bahwa seseorang sengaja menyakiti dia,' kata Ryan.
'Aku paham.'
Afif menulis bahwa keraguan ayah muncul setelah mendengar versi yang tidak sama, tetapi ayah tidak mengetahui mana yang benar. Ryan bertanya apakah ia pernah menceritakan kecurigaan itu kepada orang di luar keluarga. Ayah menjawab tidak. Ia malu mengakui bahwa ia tidak punya bukti dan takut dianggap menuduh ibunya sendiri.
'Itu sebabnya aku diam,' katanya. 'Lalu diam menjadi kebiasaan. Semakin lama, semakin sulit memulai pembicaraan.'
Ryan memahami rasa takut itu, tetapi bukan berarti ia menerima akibatnya. Ia mengingatkan ayah bahwa sekarang mereka bisa memilih cara yang lebih bertanggung jawab: mengumpulkan keterangan satu per satu, mencatat sumbernya, dan tidak menyebarkan tuduhan. Ayah menyetujui cara itu.
Mereka membahas hari ketika ayah pergi. Ayah tidak ingat tanggal, tetapi mengatakan ia pergi setelah pemakaman dan tinggal sementara di tempat seorang kenalan. Ia membawa sedikit barang. Ia tidak menghubungi Ryan kecil untuk menceritakan kejadian itu, karena Ryan belum lahir pada masa tersebut. Setelah Ryan lahir, ayah memilih tidak membuka cerita keluarga lagi.
'Ayah juga tidak pernah menjelaskan kenapa potret Ayah ada di tangga,' kata Ryan.
Ayah menatap foto keluarga. 'Dulu rumah itu tempat kami tinggal. Ada banyak foto di sana. Aku tidak tahu siapa yang memasang potret tersebut atau kenapa potret itu diletakkan di tangga.'
Ryan mengangguk. Penjelasan sederhana itu menyingkirkan satu kekeliruan, tetapi belum menjawab mengapa potret tersebut membuat rumah terasa seolah mengenal ayah. Ia meminta ayah mengingat apakah dulu ada potret adiknya juga.
Ayah menunjuk foto keluarga yang mereka lihat sebelumnya. Ia berkata di rumah pernah ada gambar kecil adiknya, tetapi ia tidak tahu apakah itu potret yang kini ditemukan Ryan. Gambar-gambar keluarga mungkin berpindah tempat setelah ia pergi. Tak seorang pun dapat memastikan jalur benda-benda itu dari ingatan saja.
Afif menemukan catatan di salah satu halaman yang menyebut 'kembali sebelum gelap'. Kalimat itu berdiri sendiri, tanpa nama dan tanggal. Ayah menduga itu mungkin ditulis untuk siapa pun yang pergi ke kebun, tetapi ia tidak bisa memastikan. Ryan bertanya apakah kalimat tersebut berasal dari surat yang sama dengan permintaan agar seseorang tidak pergi sendirian. Ternyata kertas dan tulisan tampak berbeda. Mereka mencatatnya sebagai dua petunjuk terpisah.
'Apa Ayah pernah melihat tanda di sekitar kebun setelah itu?' tanya Ryan.
Ayah menjawab ia tidak kembali ke sana setelah pergi. Ia tidak menyaksikan perubahan jalur atau tanah ambles. Ia tidak tahu apakah cerita tentang orang yang tersesat berkaitan dengan kematian adiknya atau hanya cara penduduk menjelaskan tempat yang gelap dan sulit dilalui.
Ryan merasa kecewa karena ayah tidak membawa jawaban yang lebih tegas. Ia mengira map itu akan menjadi kunci, tetapi kebanyakan isinya hanya menunjukkan bahwa orang-orang keluarga menulis catatan tanpa menyebut nama. Namun setidaknya mereka sekarang tahu batas ingatan ayah.
Afif mengusulkan mereka menyusun garis waktu sementara di kertas terpisah. Mereka menulis: pertengkaran antara ayah dan adiknya, waktu yang tidak pasti; adik tidak berada di rumah, menurut keterangan yang diterima ayah; kabar kematian disebut kecelakaan oleh keluarga; ayah meminta penjelasan, lalu pergi setelah pemakaman. Tidak ada tanggal terverifikasi.
Ryan memeriksa urutannya. 'Ini garis waktu ingatan Ayah. Bukan kronologi final.'
'Betul,' kata Afif.
Ayah berjanji akan mencari satu kerabat yang mungkin masih memiliki catatan pemakaman, jika ia bisa menghubunginya. Ia tidak tahu apakah kerabat itu masih tinggal di desa. Ryan mengatakan ia boleh mencoba, tetapi jangan meminta siapa pun menyelaraskan cerita. Mereka hanya perlu mendengar ingatan masing-masing secara terpisah.
Matahari mulai turun, dan Ryan menyadari kakinya semakin nyeri setelah duduk lama. Afif membantu menyesuaikan bantal, lalu menyarankan mereka berhenti sejenak. Ayah tidak membantah. Ia mengumpulkan surat-surat yang sudah dibaca menjadi tumpukan terpisah, sementara lembar yang belum diperiksa tetap berada di map.
Sebelum jeda, Ryan bertanya satu hal lagi: apakah ayah pernah mengenal laki-laki berkumis yang terlihat di potret rumah. Ayah memandang gambar yang Afif tunjukkan dan tidak menjawab cepat. Ia berkata ia mengenali bentuk wajahnya, tetapi ingin melihat foto keluarga lainnya sebelum menyebut siapa pun.