Ayah meminta maaf karena pernah menyuruh Malik menjauhkan mereka dari rumah. Ryan menjawab ia sudah mendengar pengakuannya, tetapi tidak berarti semua urusan selesai. Malam ini, ayah perlu menyampaikan kepada Pak Erte bahwa bu Erte dapat menolak bicara atau menentukan tempat yang aman.
'Aku akan mengirim pesan besok,' kata ayah. 'Aku tidak akan memintanya menyamakan cerita dengan suaminya.'
Afif menyarankan ayah tidak menghubungi bu Erte langsung jika itu bisa membuatnya merasa ditekan. Pak Erte bisa menyampaikan bahwa mereka ingin mendengar apa pun yang ia ingat, tetapi ia bebas menentukan jawabannya. Mereka juga bisa mengundang keduanya bersama-sama, kemudian memberi bu Erte pilihan bicara terpisah dengan Afif dan Ryan.
Ryan mengangguk. 'Jangan ada yang menunggu di luar atau mengawasi dari halaman. Kalau dia mau berhenti, kita berhenti.'
Mereka menyusun pertanyaan terbuka di buku: kapan terakhir bu Erte melihat gadis itu; apakah ia pernah melihat bros atau kotaknya; siapa yang berkumpul ketika gadis itu hilang; dan apa yang ia ketahui sendiri dibanding cerita orang lain. Afif menambahkan agar mereka tidak menyebut cekungan di kebun atau mengusulkan jawaban sebelum ia bercerita.
Ryan menghapus satu pertanyaan yang berbunyi 'Mengapa Bapak/Ibu menutupi kematiannya?' Pertanyaan itu sudah menganggap ada penutupan dan menuduh sebelum mendengar keterangannya. Ia menggantinya dengan 'Apa yang Bapak/Ibu ingat setelah gadis itu tidak pulang?'
Ayah memperhatikan perubahan itu dan berkata ia seharusnya melakukan hal serupa dulu. Ryan menjawab sekarang mereka bisa memilih cara yang lebih baik, tetapi itu tidak mengubah apa yang telah terjadi. Ia tidak ingin percakapan besok menjadi sidang keluarga. Mereka hanya ingin mengumpulkan ingatan yang berdiri sendiri.
Di luar, suara langkah terdengar di jalan lalu menjauh. Afif tidak membuka tirai. Mereka tidak tahu apakah orang itu Pak Erte atau orang lain, dan tidak punya alasan untuk mengejarnya. Ryan meminta ayah menunggu di ruang tengah sampai keadaan kembali tenang.
Ayah bertanya apakah Ryan takut Pak Erte kembali malam itu. Ryan menjawab ia waspada, tetapi tidak akan berjaga di pintu sepanjang malam. Afif akan bergantian memastikan kunci, lalu mereka beristirahat. Jika ada ketukan lagi, mereka akan menanyakan nama sebelum membuka.
Afif menyimpan ponsel dengan foto bros, lalu menaruh map keluarga di lemari yang bisa dikunci. Kotak kecil tetap di bawah rak. Tidak ada alasan untuk memindahkannya hanya karena Pak Erte bereaksi pada sebuah gambar.
Sebelum tidur, Ryan meminta ayah menunjukkan pesan yang akan dikirim kepada Pak Erte. Ayah menulis bahwa mereka ingin mendengar ingatan bu Erte, tidak menganggapnya saksi atas kejadian di kebun, dan menghormati jika ia menolak. Ryan membaca kalimatnya, lalu menyarankan agar tidak menyebut bros dulu supaya permintaan itu tidak terasa seperti umpan.
Ayah menghapus bagian tersebut dan mengirim pesan singkat hanya untuk meminta Pak Erte menyampaikan undangan. Ia memperlihatkan tanda terkirim kepada Ryan, lalu meletakkan ponsel di meja. Mereka belum mendapat jawaban, jadi rencana esok tetap bersyarat.
Ryan berbaring dengan kaki ditopang. Afif mengunci pintu dan memeriksa jendela tanpa membuka tirai. Mereka tidak berjaga bergantian sepanjang malam; cukup memastikan pintu terkunci dan ponsel dekat. Ayah tetap berada di ruang tengah, sesuai pilihannya sendiri, bukan sebagai penjaga yang menentukan kapan Ryan boleh bergerak.
Ryan kembali ke kamar dengan tongkat, dibantu Afif sampai ambang pintu. Ayahnya duduk sendirian di ruang tengah dan memandang potret yang tergantung di tangga. Ryan tidak melihatnya menundukkan kepala atau berbicara kepada siapa pun. Malam itu mereka hanya tahu bahwa ayah dan Pak Erte sama-sama pernah hadir dalam masa yang sama, belum apa yang masing-masing lakukan.
Keesokan paginya, Ryan bangun dengan nyeri yang sama di pergelangan kaki. Ia menunggu beberapa saat sebelum berdiri, lalu berjalan dengan tongkat ke ruang tengah. Afif sudah menyiapkan air hangat dan buku catatan. Ayah Ryan duduk dekat meja, tetapi ponselnya masih diam.
'Pak Erte belum membalas?' tanya Ryan.
'Belum. Aku hanya mengirim satu pesan,' jawab ayah. 'Aku tidak akan mendesak.'
Pesan itu meminta Pak Erte menyampaikan kepada istrinya bahwa Ryan dan Afif bersedia mendengar apa pun yang ia ingat tentang masa lalu keluarga. Mereka menawarkan percakapan di ruang depan rumah No. 13 atau tempat lain yang dipilihnya, dengan pintu terbuka dan Afif serta Ryan hadir bersama. Ayah akan berada di ruangan berbeda jika bu Erte merasa lebih nyaman. Pesan itu juga menyebut ia bebas menolak atau menghentikan percakapan.
Afif memeriksa kalimatnya dan berkata pesannya tidak menyertakan dugaan tentang bros maupun kematian. Ryan menyetujui. Mereka tidak ingin bu Erte membaca pesan yang sudah mengarahkannya pada satu jawaban.
Menjelang siang, ponsel ayah berbunyi. Pak Erte membalas bahwa ia sudah menyampaikan permintaan tersebut. Istrinya bersedia datang pada sore hari, tetapi ingin bicara dengan Afif dan Ryan tanpa suaminya di ruangan yang sama. Ia meminta pintu tetap terbuka dan ayah Ryan tidak ikut mendengar dari balik dinding.
'Kita bisa memenuhi itu,' kata Ryan. 'Ayah tunggu di beranda atau ruang belakang, tapi jangan mendengar percakapan.'
Ayah setuju. Afif bertanya apakah bu Erte ingin ditemani suaminya sampai rumah. Pesan balasan menyebut Pak Erte akan mengantar, lalu menunggu di halaman. Mereka menerima itu dengan syarat tidak ada yang menghalangi bu Erte pulang atau memintanya menjawab setelah percakapan selesai.
Ryan meminta Afif mencatat syarat-syarat yang mereka sepakati sebelum bu Erte tiba. Ia tidak ingin suasana tegang membuat mereka melupakan batas yang sudah dijanjikan. Mereka menuliskan: tanpa rekaman; pintu terbuka; Pak Erte menunggu di luar; ayah Ryan tidak mendengar; bu Erte boleh menolak pertanyaan atau pergi kapan pun.
'Kalau dia terlihat tidak nyaman, kita berhenti bertanya dulu,' kata Afif.
Ryan setuju. Ia juga meminta ayahnya tidak menunggu tepat di balik pintu. Ayah menjawab ia akan duduk di ruang belakang dengan pintu penghubung tertutup. Mereka memeriksa apakah suara dari ruang depan dapat terdengar jelas. Ayah memilih duduk di beranda belakang, tempat yang cukup jauh.
Ryan khawatir ibunya atau keluarga lain akan bertanya mengapa ia berbicara dengan bu Erte. Ayah menyarankan mereka tidak menyebarkan keterangan itu. Bu Erte datang untuk berbagi ingatan, bukan menjadi bahan pembicaraan desa. Afif menyimpan daftar pertanyaan di dalam buku, tidak menempelkannya di meja.
Saat menunggu, Ryan mengistirahatkan kaki dan menghindari berdiri terlalu lama. Ia tidak mau rasa sakit membuatnya mudah tersinggung saat percakapan berlangsung. Afif menawarkan mengambil alih pertanyaan jika Ryan perlu berhenti. Ryan menerima tawaran itu. Mereka ingin bu Erte merasa aman, dan kondisi fisik Ryan juga perlu dijaga.
Sebelum sore, Ryan dan Afif menyiapkan ruang depan. Mereka memindahkan gelas dan map ke meja lain, memastikan jalan ke pintu tidak terhalang, dan menaruh kursi dengan jarak wajar. Ryan tidak ingin buku catatan diletakkan tepat di depan bu Erte seperti formulir pemeriksaan. Afif akan mencatat setelah setiap jawaban, sambil meminta izin terlebih dahulu.
'Kita perlu beri tahu bahwa kita akan mencatat,' kata Afif.
Ryan setuju. Mereka menulis daftar pertanyaan di halaman terpisah, tetapi hanya sebagai pengingat. Jika bu Erte menceritakan hal yang berbeda, mereka akan mengikuti ceritanya, bukan memaksakan daftar.