Aroma aspal panas Semarang mulai menggantikan hawa dingin RS Belanda saat Rara memarkirkan motor matic-nya di depan pagar rumah kos-kosan dua lantai itu. Namun, meski matahari sudah cukup tinggi, beban di jok belakangnya tidak berkurang. Noni Belanda itu masih di sana, duduk menyamping dengan gaun compang-campingnya, menatap pagar kos Rara dengan pandangan kosong yang mengerikan.
Rara turun dari motor, namun ia tidak langsung membuka pagar. Ia tahu aturannya: jangan pernah membawa "tamu" masuk ke ruang privasi.
Ia meraba saku jaketnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi air yang sudah dicampur dengan garam krosok dan sedikit perasan jeruk nipis—sebuah ramuan sederhana yang sering disiapkan ibunya. Sambil tetap berpura-pura seolah sedang membersihkan tangan dengan hand sanitizer, Rara mulai merapalkan doa-doa perlindungan yang sudah menjadi napasnya sejak kecil.
“A’udzu bi kalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq...” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya).
Ia membacakan Ayat Kursi dalam hati dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya, memohon benteng perlindungan yang tak kasat mata. Setelah itu, ia memercikkan sedikit air garam tersebut ke sekeliling motor dan ke telapak kakinya sebelum menginjakkan kaki ke area teras kos.
"Ik kan niet... Het doet pijn..." (Aku tidak bisa... Ini sakit...) Noni itu merintih.
Saat Rara melangkah melewati gerbang, seolah ada dinding kaca yang sangat kuat menahan sang arwah. Noni Belanda itu terjerembab di depan pagar. Ia mencoba merangkak maju, namun setiap kali jarinya menyentuh garis imajiner yang dibuat Rara dengan doanya, asap tipis muncul dari kulit pucatnya seolah terbakar.
Rara menoleh sekilas, memastikan tidak ada tetangga yang melihatnya. Ia melihat Noni itu bersimpuh di atas aspal jalanan, menutupi wajahnya dengan tangan yang gemetar dan mulai menangis. Suara tangisannya bukan lagi bahasa Belanda yang sombong, melainkan isakan pilu seorang wanita yang kehilangan segalanya.
Rara memalingkan wajah. Maaf, Noni. Rumahku bukan tempat pengungsian.
Ritual Pembersihan dan Kedamaian Sesaat
Di dalam kamar kosnya yang berukuran 3 times 4 meter, Rara segera melepas seragam perawatnya yang terasa "berat" karena energi negatif yang menempel. Ia langsung masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang sudah dicampur sedikit garam. Ia membayangkan semua lendir hitam dan energi kelam dari rumah sakit luruh bersama aliran air menuju pembuangan.
Setelah merasa benar-benar bersih, ia mengenakan kaos longgar dan celana pendek. Perutnya mulai keroncongan. Ia membuka bungkusan nasi ayam yang dibelinya di jalan tadi. Sambil menyuap nasi, ia meraih ponselnya. Ada belasan pesan dari Dimas.
Dimas: “Pagi sayang, udah pulang shift? Jangan lupa makan ya.”
Dimas: “Tadi aku lewat RS-mu jam 6, tapi kayaknya kamu udah jalan duluan. Nanti sore aku jemput ya? Kita cari makan di daerah Tembalang aja yang agak adem.”
Rara tersenyum kecil. Mengetik balasan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya sibuk dengan sendok.
Rara: “Iya Mas, ini baru mau makan. Capek banget tadi malam. Aku tidur dulu ya, nanti sore kabari kalau sudah sampai depan kos.”
Ia meletakkan ponselnya, merebahkan diri di atas kasur tipisnya. Kelelahan yang luar biasa menyerang saraf-sarafnya. Matanya memberat, dan dalam hitungan detik, Rara jatuh ke dalam tidur yang dalam. Namun, tidurnya kali ini tidak gelap.
Kilas Balik di Alam Bawah Sadar
Rara terbangun di tempat yang asing, namun terasa familiar. Ia berdiri di koridor rumah sakit tempatnya bekerja, tapi bangunannya terlihat baru, bersih, dan megah. Catnya masih putih cemerlang, dan perabotan kayunya masih mengkilap.
Tiba-tiba, suasana berubah mencekam. Suara tembakan dan teriakan dalam bahasa asing yang kasar menggema. Rara melihat Noni itu—masih hidup, cantik dengan gaun pesta berwarna biru langit. Namanya adalah Anneliese, begitu yang terbaca di sebuah surat di atas meja.
Anneliese sedang bersembunyi di bawah meja ruang sterilisasi saat sekelompok tentara dengan seragam hijau lumut dan pita matahari terbit di lengan mereka masuk dengan kasar. Mereka menyeret Anneliese keluar. Rara hanya bisa menonton, tubuhnya transparan di dalam mimpi itu.
Anneliese disiksa dengan keji, tubuhnya dihantam popor senjata, dan puncaknya, sebuah sangkur menembus pelipis kanannya saat ia mencoba melawan. Sebelum napasnya berakhir, ia merintih dalam bahasa yang kini dipahami Rara karena pengaruh alam mimpi.
"Aku hanya ingin pulang ke pelabuhan... Ibu menunggu di Amsterdam..."
Lalu, sosok Anneliese yang sudah menjadi arwah muncul di depan Rara dalam mimpi itu. Wajahnya masih menyeramkan, penuh lubang dan darah hitam.
"Tolong... bawa aku pulang," rintihnya lagi.
Rara menatap arwah itu tanpa rasa takut kali ini. Di alam mimpi, ia memiliki otoritas lebih. "Noni, dengarkan aku. Pakai bahasa Indonesia. Aku tidak mengerti bahasamu di dunia nyata," ucap Rara tegas.
Ajaibnya, arwah itu terdiam, lalu mulutnya yang robek bergerak patah-patah. "Tolong... saya lelah. Di sini dingin. Saya ingin pulang ke rumah Tuhan."
Rara mengangguk pelan. Ia melipat kedua tangannya, memejamkan mata di dalam mimpi tersebut. Ia mulai berdoa dengan sungguh-sungguh, bukan untuk mengusir, tapi untuk memohon jalan.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim... Ampunilah segala dosa wanita ini. Berikanlah dia ketenangan. Jika memang tugasnya di dunia sudah selesai, jemputlah dia kembali ke alam-Mu. Jangan biarkan dia tersesat di bangunan tua itu lagi. Bukakanlah pintu cahaya-Mu baginya."
Cahaya putih mulai berpendar dari tubuh Rara di dalam mimpi. Cahaya itu menyentuh sosok Anneliese. Perlahan, wajah hancur itu berubah. Luka di pelipisnya menutup, gaun kusamnya kembali menjadi biru langit yang indah. Ia tampak cantik, sangat cantik.
Wanita Belanda itu tersenyum lebar untuk pertama kalinya. "Terima kasih, Suster Rara... Terima kasih," ucapnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.
Sosoknya perlahan memudar, terserap ke dalam cahaya putih yang hangat, hingga akhirnya hilang sepenuhnya. Lorong rumah sakit tua itu pun ikut lenyap.
Sore yang Hangat bersama Dimas
Rara terbangun dengan napas yang teratur, meski tubuhnya terasa seperti baru saja melakukan lari maraton. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia melirik jam dinding. Sudah pukul 16.30 sore.
Ia tersadar, tidurnya sangat berkualitas meski diisi dengan mimpi yang berat. Kehadiran Noni Belanda yang mengikutinya sejak semalam kini benar-benar hilang. Hawa dingin yang biasanya menempel di pundaknya telah sirna.
Ting!
Pesan masuk.
Dimas: “Aku sudah di depan kos, Ra. Jangan buru-buru, aku tunggu di motor ya.”
Rara segera bangkit, mandi dengan cepat, dan mengenakan baju yang santai—t-shirt putih dan celana jeans. Ia memoles sedikit bedak dan lipstik agar wajah pucatnya tidak terlalu terlihat.
Saat membuka pagar kos, ia melihat Dimas sedang duduk di atas motornya, sibuk memainkan ponsel. Dimas mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Rara. Dimas adalah tipikal pria "logika" yang rapi, namun ketakutannya pada hal gaib seringkali membuatnya terlihat lucu di mata Rara.
"Hai, Sayang. Tidurnya nyenyak? Mukamu kayak capek banget," tanya Dimas sambil menyerahkan helm pada Rara.
"Iya, Mas. Mimpi panjang tadi," jawab Rara sambil menaiki boncengan motor Dimas.
"Mimpi apa? Jangan-jangan mimpiin aku ya?" goda Dimas sambil mulai menjalankan motornya.
Rara hanya tertawa kecil. "Mimpi nganter turis pulang ke negaranya."
"Hah? Aneh banget mimpinya. Efek kurang piknik itu mah," sahut Dimas tanpa curiga sedikit pun.
Mereka pun melaju membelah kemacetan sore Semarang menuju arah atas, mencari udara segar di daerah Tembalang. Di sepanjang jalan, Rara merasa sangat tenang. Hanya ada angin sore yang sejuk dan aroma parfum maskulin milik Dimas yang menenangkan.
Mereka berhenti di sebuah warung makan spesial penyetan yang cukup ramai. Sambil menunggu pesanan datang, Dimas sibuk bercerita tentang proyek arsitekturnya, sementara Rara mendengarkan dengan tulus. Kejadian mengerikan di rumah sakit tadi malam seolah menjadi fragmen jauh yang sudah tertutup.
"Ra, besok-besok kalau shift malam lagi, kamu bawa ini ya," kata Dimas tiba-tiba sambil mengeluarkan sebuah senter kecil yang sangat terang dari saku jaketnya.
Rara mengernyit. "Buat apa, Mas?"
"Ya kalau lampunya korsleting lagi kayak tadi malam. Aku khawatir kamu gelap-gelapan di bangsal tua itu. Katanya kan bangunan peninggalan Belanda suka... ah, tau sendirilah, horor," ucap Dimas dengan wajah yang sedikit merinding sendiri.
Rara tertawa geli melihat ekspresi kekasihnya. Ia menerima senter itu. "Makasih ya, Mas. Senter ini berguna banget kok buat liat 'jalan'."
Rara tahu, Dimas mungkin tidak akan pernah mengerti apa yang ia lalui setiap malam. Tapi baginya, keberadaan Dimas yang sangat "manusia normal" ini adalah jangkar yang paling kuat agar ia tidak terseret terlalu jauh ke dunia bayangan. Sore itu, di tengah bisingnya klakson dan aroma sambal terasi, Rara merasa benar-benar hidup.