Beberapa hari setelah kepergian Anneliese, atmosfer di Rumah Sakit Bhakti Husada terasa sedikit lebih ringan bagi Rara—setidaknya untuk sementara.
Koridor panjang bangunan Belanda itu masih tetap menyimpan hawa dingin yang sama, namun tekanan di pundak Rara berkurang satu beban. Ia mulai menjalani rutinitasnya dengan lebih stabil. Masih ada sosok-sosok yang ia temui: pria tanpa kaki yang merangkak di dekat lift, suster zaman dahulu yang sibuk merapikan kain kassa di pojok ruang bedah, hingga bayangan hitam tinggi yang hanya diam di bawah pohon beringin dekat parkiran.
Rara tetap pada prinsipnya: Tuli, bisu, dan buta.
Ia melewati mereka seolah mereka adalah udara kosong. Ia bahkan sudah mahir mengatur fokus matanya agar tidak melakukan kontak mata secara tidak sengaja dengan entitas yang mencoba mencari perhatian. Baginya, bekerja di RS ini adalah tentang profesionalitas medis, bukan sesi tanya jawab dengan dunia astral.
Namun, gangguan baru muncul dari arah yang sama sekali tidak ia duga. Bukan dari pasien yang meninggal, melainkan dari mereka yang masih hidup.
Sang Dokter dan "Ekornya"
Di RS Bhakti Husada, ada seorang dokter gigi muda bernama drg. Adrian. Orangnya tampan, rapi, dengan senyum yang sering membuat para perawat muda mencuri pandang. Adrian adalah tipikal dokter yang ramah dan supel, dan entah sejak kapan, ia mulai sering menampakkan diri di bangsal tempat Rara bertugas, meski poli gigi berada di sayap bangunan yang berbeda.
"Suster Rara, kebetulan ketemu di sini. Ini ada kopi lebih dari kantin, buat kamu," ucap Adrian suatu sore saat Rara sedang sibuk merapikan berkas di nurse station.
Rara mendongak, tersenyum sopan. "Terima kasih, Dok. Tapi repot-repot sekali."
"Nggak repot kok. Oh ya, nanti malam ada acara? Teman-teman mau makan bareng di bawah," lanjut Adrian dengan nada yang jelas-jelas mengarah pada ajakan pribadi.
Rara baru saja akan menjawab ketika ia merasakan hembusan angin kencang yang sangat dingin dari arah belakang Adrian. Pandangan Rara tanpa sengaja bergeser sedikit ke arah bahu sang dokter.
Di sana, menggelayut di punggung Adrian dengan kedua tangan melingkar erat di leher sang dokter, berdiri seorang wanita. Rambutnya hitam panjang, menutupi sebagian wajahnya yang membiru seperti orang yang mati karena tercekik. Gaunnya berwarna merah tua, kontras dengan kulitnya yang pucat kelabu.
Arwah perempuan itu menatap Rara dengan kebencian yang murni. Matanya yang melotot seolah ingin keluar dari kelopak matanya, menatap tajam ke arah tangan Rara yang memegang gelas kopi pemberian Adrian.
Aduh, masalah lagi, batin Rara. Ia segera menurunkan pandangannya ke kertas laporan.
"Maaf, Dok. Nanti malam saya ada janji dengan pacar saya," jawab Rara cepat, sengaja menekankan kata 'pacar' agar makhluk di belakang Adrian mereda.
Mendengar kata 'pacar', arwah wanita itu sedikit mengendurkan cengkeramannya di leher Adrian, tapi ia tetap mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat bulu kuduk Rara berdiri. Adrian, yang tentu saja tidak mendengar dan merasakan apa-apa, hanya menggaruk lehernya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Oh, sudah punya pacar ya? Sayang sekali. Ya sudah, kopinya diminum ya, Ra," Adrian pamit sambil berlalu.
Rara memperhatikan punggung Adrian yang menjauh. Arwah wanita itu menoleh ke belakang, menatap Rara sekali lagi sebelum menghilang di balik tikungan lorong. Wanita itu adalah arwah penasaran yang posesif. Sepertinya ia adalah seseorang dari masa lalu Adrian yang belum bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah berada di dimensi yang berbeda.
Teror Barang yang Hilang
Sejak pertemuan itu, hari-hari Rara di rumah sakit menjadi jauh lebih merepotkan. Rupanya, arwah wanita merah itu tidak terima meskipun Rara sudah mengaku punya pacar. Rasa cemburunya telah berubah menjadi gangguan fisik yang ditujukan untuk menyabotase pekerjaan Rara.
Siang itu, Rara harus menyiapkan alat untuk pemasangan infus pasien baru. Ia sudah meletakkan tourniquet dan plester di atas nampan sterilnya. Namun, saat ia berbalik sejenak untuk mengambil cairan infus dari lemari obat, tourniquet itu hilang.
Rara mengerutkan kening. Ia mencari di bawah meja, di dalam laci, namun benda itu lenyap. Padahal ia yakin baru saja meletakkannya di sana.
Dari sudut matanya, ia melihat sekelebat bayangan merah di atas lemari tinggi. Arwah wanita itu duduk di sana, memutar-mutar tourniquet milik Rara dengan jarinya yang pucat, lalu menjatuhkannya ke dalam tempat sampah medis yang tertutup rapat.
Rara menarik napas panjang. Ia berpura-pura tidak melihat. Ia hanya berjalan tenang mengambil tourniquet baru dari gudang alat.
Sabar, Ra. Sabar, bisiknya dalam hati.
Kejadian serupa terulang berkali-kali. Saat ia harus menyuntikkan obat, tiba-tiba spuit yang sudah ia siapkan bergeser sendiri ke ujung meja hingga nyaris jatuh. Saat ia sedang menulis laporan di komputer, tiba-tiba layar monitornya mati sendiri, atau kursornya bergerak-gerak acak membentuk garis-garis tidak beraturan.
Rara tahu itu adalah perbuatan si wanita merah. Makhluk itu seringkali menampakkan wajahnya tepat di depan layar laptop Rara—mukanya yang membiru ditekan ke kaca monitor sehingga terlihat pipeng dan menjijikkan.
Rara mengalihkan pandangannya ke ponsel, berpura-pura membalas chat dari Dimas, atau sibuk membaca catatan fisik di kertas. Ia tidak ingin memberi kepuasan pada makhluk itu dengan menunjukkan rasa takut atau marah.
Gangguan di Ruang Jaga
Puncaknya terjadi saat jam istirahat di ruang perawat yang sepi. Rara sedang duduk sendirian, mencoba memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan pikirannya. Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Suara tawa melengking yang tertahan terdengar dari arah lemari seragam.
Kriet... Kriet...
Pintu lemari terbuka sendiri. Satu per satu gantungan baju di dalamnya bergoyang hebat. Sepatu cadangan milik Rara yang diletakkan di bawah kursi tiba-tiba terlempar ke arah pintu, nyaris mengenai Suster Wiwin yang baru saja mau masuk.
"Astagfirullah! Siapa yang lempar sepatu?" seru Wiwin kaget.
Rara langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang namun wajahnya tetap datar. "Maaf, Mbak. Kayaknya aku tadi nggak sengaja kesenggol pas lagi mau selonjoran," dalih Rara, meskipun secara logika tidak mungkin tendangan kaki bisa membuat sepatu terbang setinggi itu.
Wiwin menatap Rara dengan heran. "Hati-hati, Ra. Di sini emang sering 'iseng', tapi jangan kamu yang ikut-ikutan jadi aneh."
Rara hanya mengangguk minta maaf. Begitu Wiwin pergi ke dapur, Rara menatap ke arah pojok ruangan. Di sana, arwah wanita merah itu sedang berdiri terbalik di langit-langit, rambutnya menjuntai ke bawah seperti kelambu yang kotor. Matanya yang merah menatap Rara dengan penuh kemenangan.
"Pergi... jauhi... Adrian..." desis arwah itu. Suaranya seperti tiupan angin di liang kubur.
Rara merasa benar-benar jengkel sekarang. Ia ingin sekali berteriak, "Eh, denger ya kuntilanak merah! Aku nggak minat sama dokter gigi itu! Aku punya Dimas! Jadi tolong stop sembunyiin barang-berangku karena aku capek harus bolak-balik ambil stok baru!"
Namun, ia menahan lidahnya. Ia hanya mengambil sepatunya, memakainya kembali dengan tenang, dan keluar dari ruangan tanpa melirik sedikit pun ke arah langit-langit.
Bertahan dalam Kepura-puraan
Malam harinya, gangguan semakin menjadi-jadi. Saat Rara sedang melakukan observasi di bangsal yang gelap, wanita merah itu terus-menerus muncul di setiap cermin yang dilewati Rara. Terkadang ia menampakkan diri di kaca jendela, menempelkan wajahnya yang hancur sambil menjilat kaca dengan lidahnya yang hitam.
Rara mencoba fokus pada layar laptop medisnya. Ia mengetik laporan dengan kecepatan penuh, mengabaikan gumaman bahasa yang tidak jelas di telinga kirinya.
"Adrian... milikku... jangan sentuh..."
Rara menarik napas dalam-dalam. Ia meraih segelas air putih, meminumnya perlahan untuk menenangkan sarafnya yang mulai menegang. Baginya, ini jauh lebih melelahkan daripada menghadapi Noni Belanda yang minta pulang. Ini adalah masalah "asmara" lintas dimensi yang melibatkan kecemburuan buta.
Sepanjang malam itu, Rara harus bekerja ekstra keras. Ia harus mengecek keberadaan alat-alat medisnya setiap lima menit karena si wanita merah terus-menerus berusaha menyembunyikannya. Stetoskopnya sempat hilang dan ditemukan di dalam kantong sampah, pulpennya patah menjadi dua tanpa sebab, hingga papan jalannya tiba-tiba basah kuyup seolah tersiram air, padahal tidak ada bocoran di langit-langit.
Rara tetap pada posisinya. Ia tidak bicara, tidak menoleh, dan tidak melawan. Ia hanya terus bekerja, menjalankan tugasnya sebagai perawat dengan ketelitian yang luar biasa meski diganggu secara mental dan fisik.
Pukul 06.00 pagi akhirnya tiba. Rara bersiap untuk pulang. Saat ia berjalan menuju parkiran, ia melihat drg. Adrian sedang berjalan menuju mobilnya. Adrian melambaikan tangan pada Rara dengan ceria.
"Pagi, Rara! Pulang ya? Hati-hati di jalan!" teriak Adrian.
Rara hanya mengangguk singkat dan memberikan senyum formal. Ia melihat di kursi penumpang mobil Adrian, wanita merah itu sudah duduk manis, menatap Rara melalui kaca mobil dengan tatapan mengancam sambil mengelus-elus dashboard mobil Adrian.
Rara memakai helmnya, menghidupkan motor, dan segera melaju keluar dari area rumah sakit.
Terserah kamu mau ngapain sama dokter itu, yang penting jangan ikut aku pulang, batin Rara lega saat gerbang rumah sakit tertutup di belakangnya.
Matahari Semarang mulai meninggi, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan Rara setelah malam yang panjang dipenuhi teror cemburu dari arwah penasaran. Ia hanya ingin sampai di rumah, mandi air garam, dan melupakan wajah membiru sang wanita merah yang terus-menerus menghantui pekerjaannya selama beberapa hari ini. Ia berharap, rasa bosan akan segera menghinggapi arwah itu, atau setidaknya, drg. Adrian berhenti menyapanya agar keadaan kembali tenang.